;
Tags

Korporasi

( 1557 )

Grup Salim Tancap Gas Membesarkan Bisnis Otomotif

HR1 01 Nov 2022 Kontan (H)

Hasrat ekspansi Grup Salim terus menggebu-gebu. Deretan aksi korporasi tak henti dibentangkan. Kali ini lewat PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS). Perusahaan yang merupakan sayap bisnis otomotif Grup Salim ini siap tancap gas. Lihat saja, dalam sebulan terakhir, Indomobil terus menggelar aksi korporasi. Pertama, menggandeng Citroen, pabrikan mobil asal Prancis, untuk memasarkan dan mendistribusikan mobil tersebut di Indonesia. Kedua, IMAS menggaet investor asal Amerika Serikat dan Jepang untuk memperbesar bisnis penyewaan kendaraan. Terakhir, kabar di pasar yang menyebutkan, Indomobil dalam pembicaraan untuk mengakuisisi agen pemegang otomotif (APM) pabrikan asal Jerman, yaitu PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI). Bukan hanya akan memegang distribusi Mercy di Indonesia, Indomobil juga dikabarkan siap mengambil alih fasilitas perakitan di Wanaherang, Bogor.

Awal Kuartal IV, Telkom Lunasi Utang Rp. 2 T

KT3 31 Oct 2022 Investor daily

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melunasi pinjaman dari beberapa perbankan dengan total Rp 2 triliun di awal kuartal IV-2022. Mengacu pada laporan keuangan konsolidasian perseroan per September 2022, emiten BUMN telekomunikasi tersebut sukses membayar utangnya kepada PT Bank HSBC Indonesia sebesar Rp 500 miliar. “Pada 19 Oktober 2022, perusahaan melakukan pelunasan pinjaman kepada HSBC se[1]besar Rp 500 miliar,” tulis manajemen Telkom dikutip, Minggu (30/10/2022). Selain utang kepada HSBC, Telkom melalui anak usahanya PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) juga melunasi utangnya kepada PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sebesar Rp 1 triliun dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp 500 miliar pada 21 Oktober 2022.

Kemampuan Telkom membayar utang sebesar Rp 2 triliun tersebut tidak lepas dari posisi keuangan perseroan yang solid. Hingga 30 September 2022, ekuitas emiten telekomunikasi pelat merah ini tercatat Rp 145,3 triliun, lebih besar dibandingkan liabilitasnya sebesar Rp 124,5 triliun. Lalu dilihat dari kinerjanya, Telkom juga konsisten mencetak pertumbuhan laba bersih operasi sebesar Rp 19,42 triliun, naik 4,3% secara yoy. Pendapatan konsolidasian juga tumbuh 2,7% menjadi Rp 108,87 triliun dibanding periode sama tahun lalu. “Di tengah tantangan disrupsi, Telkom mampu tumbuh cukup baik dan positif. Kami akan terus melanjutkan implementasi strategi Five Bold Moves demi pertumbuhan perseroan yang kompetitif dan berkelanjutan. Kami meyakini langkah ini akan memberikan value yang optimal bukan hanya bagi perseroan tapi juga bagi stakeholder,” kata Dirut Telkom Ririek Adriansyah dikutip Minggu (30/10). (Yoga)


Unrealiized Loss, Laba Telkom Tergerus 12,14%

KT3 29 Oct 2022 Investor daily

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatatkan laba bersih Rp 16,58 triliun pada kuartal III-2022, tergerus 12,14% dibanding periode sama tahun lalu Rp 18,87 triliun. Penurunan ini disebabkan kerugian yang belum direalisasi (unrealized loss) dari perubahan nilai wajar atas investasi sebesar Rp 3,08 triliun. Berdasarkan laporan keuangan Telkom per September 2022, Jumat (28/10), pada periode sama 2021, perubahan nilai wajar atas investasi tersebut masih berbentuk keuntungan yang belum direalisasi Rp 403 miliar. Menilik laporan keuangannya, investasi pada ekuitas yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi merupakan investasi jangka panjang dalam bentuk saham pada berbagai perusahaan start-up yang bergerak di bidang informasi dan teknologi. Salah satunya adalah investasi Telkomsel pada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB) yang kini berganti nama menjadi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) usai merger dengan PT Tokopedia.

Jumlah kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar investasi Telkomsel pada GoTo pada tanggal 30 September 2022 adalah sebesar Rp 3,06 triliun. Telkomsel menilai nilai wajar investasi di GoTo menggunakan nilai pasar saham GoTo per 30 September 2022 sebesar Rp 246 per saham. Pada 16 November 2020, Telkomsel berinvestasi pada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa alias Gojek dalam bentuk Obligasi Konversi tanpa bunga sebesar US$ 150 juta (setara Rp 2,11 triliun per 31 Desember 2020). Obligasi Konversi tersebut jatuh tempo pada 16 November 2023 dan dapat dikonversi menjadi saham. Pada 17 Mei 2021, Gojek dan PT Tokopedia merger menjadi PT GoTo Gojek Tokopedia. Merger ini membuat Telkomsel mengeksekusi Obligasi Konversi. (Yoga)


Efek Merger, Laba Bersih ISAT Turun 36,4%

HR1 29 Oct 2022 Kontan

Emiten telekomunikasi PT Indosat Tbk (ISAT) alias Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mencetak kinerja negatif pada kuartal III-2022.Laba bersih ISAT hanya sebesar Rp 3,69 triliun, turun 36,4% secara tahunan dari Rp 5,8 triliun di kuartal III-2021. Penurunan laba bersih dipicu membengkaknya beban operasional, beban depresiasi dan amortisasi. Selain itu, biaya finansial juga melonjak, sebagai dampak dari merger ISAT dan PT Hutchison 3 Indonesia. Meski laba bersih terpapar efek merger ISAT dan Hutchison 3, aksi korporasi ini berhasil mendorong pertumbuhan jumlah pelanggan ISAT sebesar 58,3% menjadi 98,6 juta di kuartal III-2022.

BERBURU MODAL DI UJUNG TAHUN

HR1 26 Oct 2022 Bisnis Indonesia (H)

Tren kenaikan suku bunga yang kini terjadi rupanya tak menyurutkan niat korporasi untuk berburu dana melalui emisi surat utang. Bahkan menuju pengujung tahun, antrean penerbitan obligasi korporasi masih padat lantaran dinaungi beragam sentimen positif. Data termutakhir PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan bahwa realisasi penggalangan dana korporasi melalui emisi obligasi sejauh ini telah mencapai Rp131,29 triliun oleh 29 perusahaan.Tren positif pemulihan ekonomi diyakini mendorong aksi korporasi tersebut. “Kami prediksi sekitar Rp21 triliun [obligasi korporasi] masih bisa terbit di kuartal IV/2022,” ujar Kepala Divisi Pemeringkatan Nonjasa Keuangan I Pefindo Niken Indriarsih, Selasa (25/10). Dari potensi tersebut, penggalangan dana terbesar berasal dari industri bubur kertas dan konstruksi. Dengan begitu, dia memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi bakal menembus Rp153,24 triliun hingga akhir 2022. Menurutnya, sektor yang selama ini mendominasi penerbitan surat utang, seperti multifinance, mulai mengerem emisi pada pengujung tahun karena telah mengandalkan pencarian modal pada awal tahun saat suku bunga masih murah.

Korporasi dengan Utang Valas Harus Mitigasi Risiko

HR1 22 Oct 2022 Kontan

Korporasi dengan utang valas, perlu hati-hati. Bank Indonesia (BI) mengingatkan agar mereka menyiapkan mitigasi lantaran pelemahan rupiah terus berlanjut. "Korporasi yang memiliki utang luar negeri, kewajiban untuk pemenuhan utang valas, harus melakukan mitigasi risiko valas. Baik berkaitan dengan hedging (lindung nilai) ataupun ketentuan lainnya," tandas Perry, Kamis (20/10).

Aksi Korporasi : PGAS Rambah Bangladesh

HR1 21 Oct 2022 Bisnis Indonesia

Ekspansi bisnis itu tertuang lewat penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan oleh Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Heru Setiawan dengan Managing Director Intraco Refueling Station Ltd. Mohammed Riyadh Ali serta disaksikan Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh dan Nepal, Heru Subolo, (19/10). Melalui kerja sama ini, Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Heru Setiawan berharap mampu merambah segmen lainnya. “Kolaborasi juga dilakukan untuk potensi pengembangan bisnis gas bumi lainnya di sektor transportasi gas, rumah tangga dan lainnya,” katanya melalui siaran pers, Kamis (20/10). Sebagai gambaran, mengacu pada laporan keuangan PGAS pada kuartal II/2022, pendapatan perusahaan berasal dari niaga dan transmisi gas senilai US$1,42 miliar atau tumbuh 5,52% secara tahunan dari US$1,34 miliar. Adapun, pertumbuhan tertinggi justru berasal dari eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi dengan US$308,29 juta atau tumbuh signifikan secara tahunan dari US$140,91 juta. Bagi Bangladesh, kerja sama ini akan mendukung ketahanan energi negara sebagai salah satu sumber kekuatan ekonomi di Asia Selatan. Adapun, gas bumi menjadi salah satu sumber energi utama yang digunakan lebih dari 60% di Bangladesh.


Melonjak 140 %, Laba Matahari Tembus Rp 1 Triliun

KT3 21 Oct 2022 Investor Daily

PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mencatatkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,05 triliun pada Januari-September 2022, melonjak 140,64% dibanding periode sama tahun lalu Rp 438,69 miliar. Kenaikan laba bersih tersebut sejalan dengan peningkatan penjualan kotor sebanyak 26,5% menjadi Rp 9,5 triliun. “Dengan kuartal III-2022 dan momentum pertumbuhan yang kuat di tahun ini, perseroan berada di jalur yang tepat untuk panduan EBITDA tahun penuh 2022 sebesar Rp 2,1 triliun dan laba bersih sebesar Rp 1,4 triliun,” kata CEO Matahari Terry O’Connor dalam keterangan resminya, Kamis (20/10). Terry mengungkapkan, pencapaian tersebut menunjukkan pemulihan yang kuat dari perseroan. “Menjelang 2023, anggaran awal tahun depan kami berada pada level EBITDA Rp 2,4-2,5 triliun.

Namun, mengingat ketidakpastian global yang dapat berdampak secara nasional, kami memutuskan untuk mengeluarkan panduan anggaran yang berhati-hati sebesar Rp 2,3-2,4 triliun,” ujar dia. Matahari, kata Terry, berkomitmen atas dividen tahun buku 2022 sebesar Rp 525 per saham, yang merupakan pembayaran tertinggi hingga saat ini. Dividen tersebut akan dibayarkan pada 2023, bergantung pada persetujuan yang diwajibkan, yang mempertajam komitmen kuat kami terhadap peningkatan pengembalian nilai pemegang saham secara keseluruhan. Dia menyebut, perseroan baru-baru ini meluncurkan kembali pemosisian merek, identitas, dan logo baru yang mewakili Matahari baru sebagai House of Specialists yang berpusat pada pelanggan, omni-channel untuk melayani kebutuhan fesyen spesialis dari kelompok pelanggan terbesar di seluruh Indonesia. (Yoga)


Aksi Korporasi Jadi Bahan Bakar Penggerak Bursa

HR1 19 Oct 2022 Kontan (H)

Bursa saham di Tanah Air ibarat tengah lesu darah. Dalam sebulan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak melemah hingga kembali ke posisi di bawah 7.000. Dalam sebulan terakhir, IHSG sudah terkoreksi 5,04%. Pelaku pasar makin cemas menanti keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dimulai hari ini, Rabu (19/10). Maklum, bank sentral diperkirakan bakal kembali mengerek suku bunga acuan ke posisi 4,5% hingga 4,75%. Beruntung, aksi korporasi sejumlah korporasi di dalam negeri mampu menahan pelemahan IHSG. Dua hari berturut-turut di awal pekan ini, IHSG ditutup di zona hijau. Tentu, optimisme itu bukan tanpa alasan. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menyedua faktor katalis positif pendorong IHSG. Pertama, musim rilis laporan keuangan kuartal ketiga. Diperkirakan, mayoritas emiten masih akan mencatatkan kinerja apik. Kedua, maraknya aksi korporasi di bursa saham. Selain rencana rights issue beberapa emiten, termasuk emiten BUMN, beberapa calon emiten masih mengantre untuk menggelar penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO)

Emiten Pelat Merah Haus Dana Segar

HR1 19 Oct 2022 Kontan

Emiten perusahaan milik negara atau BUMN haus dana segar. Sedikitnya ada lima perusahaan pelat merah yang akan menghimpun dana publik dengan menggelar penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue dalam waktu dekat. Kelima BUMN itu adalah PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, (BBTN), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Analis Investindo Nusantara Pandhu Dewanto menilai, struktur permodalan yang kurang sehat jadi alasan emiten BUMN menggelar rights issue. "Beban utang yang besar telah menggerus laba emiten BUMN," kata Pandhu.

Pilihan Editor