Korporasi
( 1584 )PENDANAAN KORPORASI : AMBIL MOMENTUM EMISI SURAT UTANG
Sejumlah korporasi mengeksekusi rencana penggalangan dana dengan menerbitkan surat utang baru pada kuartal IV/2022. Momentum itu dipilih sebelum suku bunga naik dengan lebih agresif pada 2023.n Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penerbitan efek bersifat utang dan sukuk korporasi pada Januari—September 2022 mencapai 102 emisi dengan total penghimpunan dana Rp130,26 triliun. Nilai itu telah melampaui realisasi sepanjang 2021 yang tercatat sebanyak 96 emisi dengan nilai akumulasi Rp104,36 triliun. Tingginya minat korporasi menerbitkan surat utang berlanjut pada Oktober 2022. Pada awal bulan ini, Bursa Efek Indonesia mencatat penerbitan obligasi oleh tiga korporasi. Pertama, Obligasi Berkelanjutan II Sinar Mas Multiartha Tahap III Tahun 2022 yang diterbitkan oleh PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) senilai Rp1,66 triliun. Kedua, Obligasi I Sejahteraraya Anugrahjaya Tahun 2022 yang diterbitkan oleh PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) senilai Rp950 miliar pada 10 Oktober 2022. SRAJ membagikan kupon 9,75% untuk tenor 3 tahun dan 10,5% untuk tenor 5 tahun. Ketiga, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) menggalang dana Rp3,81 triliun dari penerbitan obligasi dan sukuk. Emiten kertas Grup Sinar Mas itu membanderol kupon obligasi sebesar 6% untuk tenor 370 hari, 9,75% tenor 3 tahun, dan 10,25% tenor 5 tahun.
Semua Salim Pada Waktunya
Jejaring dan portofolio bisnis Grup Salim semakin membesar. Tahun ini saja, kelompok usaha yang dipimpin taipan Anthoni Salim yang memiliki kekayaan US$ 8,5 miliar ini merangsek sejumlah sektor usaha, mulai dari properti, finansial, air bersih, infrastruktur hingga komoditas.
Dalam satu-dua tahun terakhir, Grup Salim setidaknya membeli dan mengakumulasi saham di tujuh hingga sembilan perusahaan dari berbagai sektor. Nilai total valuasi kepemilikan Salim di portofolio perusahaan tersebut mencapai Rp 45,22 triliun.
Bisnis batubara adalah daftar belanjaan teranyar Grup Salim. Mereka ikut ambil bagian dalam
private placement
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai Rp 24 triliun, melalui perusahaan cangkang asal Hong Kong. Kelak, transaksi tersebut akan menghadirkan Grup Salim sebagai
ultimate shareholder
BUMI, bersama Grup Bakrie.
Sebelumnya, Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat menilai, masuknya Grup Salim menjadi pemegang saham BUMI didorong ambisi mereka menggarap bisnis batubara, menyusul grup konglomerasi besar lainnya yang telah memiliki tambang batubara.
BISNIS BATU BARA : Babak Baru Kongsi Salim dan Bakrie
Restu pemegang saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) atas aksi korporasi private placement membuka gerbang kongsi Grup Salim dan Grup Bakrie di sektor pertambangan batu bara. Lampu hijau untuk menggelar Penambahan Modal Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) diperoleh BUMI dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dilaksanakan pada Selasa (11/10). Berdasarkan hasil pemungutan suara pemegang saham BUMI, sebanyak 96,22% pemegang saham setuju atas rencana private placement dan hanya 3,07% pemegang saham yang menyatakan tidak setuju. Berbekal persetujuan pemegang saham, BUMI bakal mendapat aliran dana segar senilai Rp24 triliun atau setara dengan US$1,6 miliar. Nilai fantastis yang akan diterima oleh entitas pertambangan batu bara di bawah kendali Grup Bakrie itu bakal diterima dari dua entitas yang terafiliasi dengan Anthoni Salim. Adapun, dua entitas afiliasi Grup Salim yang akan menyerap emisi 200 miliar saham Seri C BUMI yang diterbitkan dengan skema private placement yaitu Mach Energy (Hong Kong) Limited dan Treasure Global Investment Limited. Apabila ditelisik, pemegang saham Mach Energy terdiri atas PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) dengan kepemilikan saham 42,5% di bawah kendali grup Bakrie, Colver Wide Limited dengan kepemilikan saham 15% dan dikendalikan oleh Agoes Projosasmito, dan terakhir 42,5% saham dimiliki oleh Mach Energy Pte.Ltd. yang berbasis di Singapura dan berada di bawah kendali Anthoni Salim alias Grup Salim.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bumi Resources Sri Dharmayanti mengatakan dana superjumbo yang dihimpun akan digunakan untuk pembayaran kewajiban perseroan yang akan jatuh tempo. Dengan kata lain, BUMI kembali lolos dari jurang default alias gagal bayar berkat kucuran dana dari Grup Salim. “Dengan PMTHMETD ini posisi keuangan perseroan akan mengalami perbaikan dengan meningkatnya rasio likuiditas dan solvabilitas perseroan, beban keuangan yang menurun akan meningkatkan profitabilitas,” paparnya.
Okupansi Kamar Masih Terjaga, Eastparc Revisi Target Kinerja
Emiten perhotelan PT Eastparc Hotel Tbk merevisi naik target kinerja tahun 2022. Emiten dengan kode saham EAST ini percaya diri mampu mencetak pendapatan Rp 78 miliar-Rp 88 miliar, naik dari target sebelumnya Rp 75 miliar-Rp 85 miliar.
Optimisme itu bercermin pada kinerja perseroan hingga September 2022. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis EAST pada Senin (10/10), Eastparc sudah meraih pendapatan Rp 60,39 miliar pada periode Januari-September 2022. Nilai ini melesat 98,91% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 30,36 miliar.
Wahyudi Eko Sutoro, Direktur Pemasaran Eastparc Hotel bilang, kenaikan kinerja hingga kuartal ketiga tahun ini sejalan dengan rampungnya pembangunan wahana baru.
Alhasil, okupansi kamar EAST terdongkrak dan memicu kenaikan harga. "Okupansi rata-rata mencapai 88,55% sampai September 2022. Ini naik 34,59% secara tahunan," ujar Wahyudi kepada Kontan, Selasa (11/10).
Grup Axiata Kuasai 96% Saham Link
Axiata Group Berhad telah merampungkan penawaran tender wajib alias
mandatory tender offer
atas saham PT Link Net Tbk (LINK).
Penawaran tender ini menyusul rampungnya akuisisi 63,45% saham LINK oleh Axiata Investments (Indonesia) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) dari tangan Grup Lippo dan CVC Capital Partners pada 22 Juni lalu senilai Rp 8,72 triliun.
Usai
tender offer, Axiata Investments kini menguasai 76,42% saham LINK. Ditambah dengan kepemilikan XL Axiata, Grup Axiata kini menguasai 95,64% saham LINK sementara publik mengempit 0,46%.
Garuda Menanti Right Issue dan PMN
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatatkan kinerja keuangan positif pada semester I-2022 ini. Berbekal itu pula, Garuda Indonesia optimistis bisa meraih kinerja keuangan maupun operasional solid hingga akhir tahun.
Mengacu laporan keuangan yang dirilis melalui
website. Bursa Efek Indonesia, GIAA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 3,76 miliar di semester I-2022. Pada semester I-2021, Garuda menderita rugi bersih US$ 898,65 juta.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Irfan Setiaputra menyebutkan, pencapaian laba bersih dipengaruhi oleh rampungnya proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) melalui putusan homologasi Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.
Setelah rampungnya proses PKPU, Garuda kini mempercepat berbagai upaya strategis untuk memaksimalkan proses restrukturisasi yang mulai bergulir. Misalnya, implementasi rencana
rights issue
sebagai tindak lanjut persetujuan proposal perdamaian PKPU, serta rencana penambahan struktur permodalan melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).
RENCANA UJI COBA TRANSAKSI NIRSENTUH
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menargetkan memulai uji coba teknologi sistem transaksi tol non-tunai nirsentuh atau Multi Lane Free Flow (MLFF) pada akhir tahun ini. PT Roatex Indonesia Toll System (PT RITS) yang ditunjuk sebagai pelaksana sistem MLFF siap menginvestasikan dana sebesar Rp4,4 triliun untuk proyek tersebut.
OneMed Incar Dana Ipo Rp 1,25 triliun
PT Jayamas
Medica Industri Tbk (OMED)
atau OneMed
bersiap menggelar penawaran
umum perdana (IPO) sebanyak-banyaknya
4.058.850.000 saham dengan nilai
nominal Rp 25 per saham. Dari
aksi korporasi ini, perusahaan alat
kesehatan tersebut mengincar dana
segar hingga Rp 1,25 triliun.
Dalam prospektus awal
perseroan yang dipublikasi Kamis
(6/10) dijelaskan, jumlah
saham yang ditawarkan setara
15% modal ditempatkan dan
disetor penuh perseroan setelah
penawaran umum perdana saham,
dengan harga penawaran berkisar
Rp 204 hingga Rp 310 per saham.
Dengan demikian, perseroan berpotensi meraih dana IPO Rp 828 miliar hingga Rp 1,25
triliun.
Dana yang diperoleh dari IPO
saham ini setelah dikurangi seluruh
biaya-biaya emisi saham, akan
dialokasikan 72,19% untuk
pengembangan usaha dalam bentuk
belanja modal (capital expenditure)
dan modal kerja (working capital),
lalu 22,87% diberikan kepada perusahaan anak, yaitu PT
Intisumber Hasil Sempurna Global
(IHSG) untuk belanja modal dan
modal kerja, 4,94%
diberikan kepada IHSG dalam
bentuk setoran modal, kemudian IHSG akan memberikan kepada anak usaha PT Inti Medicom
Retailindo (IMR) dalam bentuk
setoran modal untuk belanja modal
dan modal kerja. (Yoga)
DIVIDEN INTERIM BANJIRI BURSA
Kucuran dividen interim dari sejumlah emiten berkantong tebal bakal meramaikan pasar saham menjelang akhir tahun ini. Aksi korporasi itu diyakini bakal menjadi daya tarik bagi investor sekaligus katalis positif terhadap prospek saham emiten di lantai bursa. Pada bulan ini, sedikitnya ada tujuh emiten yang bersiap menebar dividen interim kepada para pemegang sahamnya. Teranyar, dua entitas Grup Astra bakal menempuh aksi serupa. PT Astra International Tbk. (ASII) mengumumkan nilai dividen interim tahun buku 2022 sebesar Rp3,56 triliun atau Rp88 per saham. Total dividen interim itu setara dengan 19,56% dari laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ASII pada semester I/2022 yang mencapai Rp18,17 triliun. Sebesar 50,11% dari dividen interim emiten otomotif itu bakal masuk ke kantong Jardine Cycle & Carriage Limited yang tercatat sebagai pemegang saham pengendali ASII. Dengan porsi saham tersebut, Jardine yang melantai di bursa efek Singapura itu berpotensi mengantongi dividen interim sekitar Rp1,78 triliun. Selain ASII, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) bakal membagikan dividen interim tunai sebesar Rp85 per saham atau senilai total Rp163,59 miliar. Dividen itu setara dengan 20,21% dari laba bersih AALI senilai Rp809,31 miliar pada paruh pertama tahun ini.
KEMBANG KEMPIS PAJAK KORPORASI
Penerimaan pajak sedang moncer. Realisasi sepanjang tahun berjalan 2022 yang berakhir Agustus tembus 78% dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 Perubahan. Malah secara historis, capaian tersebut melampaui torehan penerimaan pajak selama prapandemi Covid-19, yang rata-rata di kisaran 50%—60% dari target selama periode Januari—Agustus. Akan tetapi, pemerintah perlu mewaspadai adanya batu ganjalan yang mengadang langkah menuju puncak penerimaan negara, yakni setoran Pajak Penghasilan (PPh) Badan alias pajak korporasi yang melandai belakangan ini. Padahal, setoran korporasi memiliki kontribusi terbesar dalam struktur pajak di Tanah Air, yakni hingga 22%. Tren perlambatan pertumbuhan penerimaan pajak korporasi terjadi tepat saat ekonomi nasional memasuki kuartal III/2022, yang beriringan dengan kenaikan inflasi, baik di dalam maupun luar negeri. Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani, menjelaskan pembengkakan biaya bagi pelaku usaha mendorong adanya kenaikan harga pokok produksi.
Senada, Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Mudah Indonesia (Hipmi) Anggawira, menambahkan ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang belum tuntas juga menekan pelaku usaha. Hal itu pula yang kemudian menyebabkan distribusi barang lintas negara terhambat sehingga menambah tekanan pada inflasi. “Ada pengaruh perang, kemudian inflasi, dan daya beli masyarakat,” ujarnya. Secara umum, kalangan pebisnis cukup optimistis pemerintah dapat mencapai target penerimaan pajak yang ditetapkan senilai Rp1.485 triliun dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 98/2022 tentang Perubahan Atas Perpres No. 104/2021 tentang Rincian APBN Tahun Anggaran 2022.









