Korporasi
( 1557 )Mitratel Tambah Capex Jadi Rp 14 Triliun
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel menambah alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini menjadi Rp 14 triliun, dari rencana awal sekitar Rp 10 triliun. Peningkatan capex dilakukan seiring realisasi ekspansi yang berjalan lebih cepat, terutama terkait akuisisi 6.000 menara telekomunikasi (tower) Telkomsel. Capex bertambah karena akuisisi tower yang tadinya ditargetkan 3.000 menjadi 6.000. Jadi capex meningkat dari sekitar Rp 10 triliun menjadi Rp 14 triliun,” kata Direktur Investasi sekaligus Sekretaris Perusahaan Mitratel Hendra Purnama dalam media gathering di Jakarta, Selasa (8/2). Sementara itu dari sisi kolokasi, lanjut Hendra, ada penurunan dari 3.000 ke 2.500 karena kondisi mobile network operator (MNO) yang sedang melakukan
konsolidasi bisnis. Konsolidasi yang dilakukan PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) berdampak pada adanya perlambatan order ke perseroan. Revisi tersebut dilakukan seiring dengan keberhasilan perseroan order serat optik sepanjang 8.000 km. “Jadi, akhir tahun ini kami yakin bisa menyelesaikan serat optik sepanjang 9.000 km. Kami bukan hanya mendapatkan order, tetapi juga
menyelesaikan pembangunan serat optik,” tutur Hendra. (Yetede)
SEMARAK AKUISISI EMITEN
Prospek pemulihan ekonomi yang positif rupanya membuat emiten tak ragu menggenjot ekspansi anorganik melalui aksi akuisisi. Portofolio yang makin gemuk menjadi amunisi untuk mendongkrak kinerja di masa depan. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sedikitnya ada 23 aksi akuisisi yang dilakukan oleh 21 emiten sepanjang tahun berjalan 2022. Emiten di sektor pertambangan, telekomunikasi, dan farmasi tampak mendominasi aksi korporasi tersebut. Teranyar, emiten menara Grup Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel mengumumkan akuisisi 6.000 menara milik PT Telekomunikasi Selular. Bersamaan dengan itu, MTEL juga akan menyewakan kembali 6.000 menara tersebut ke Telkomsel. MTEL juga menggenggam janji serta komitmen dari Telkomsel untuk memesan 1.000 menara BTS dari perseroan dalam waktu 3 tahun mendatang. Ditambah lagi dengan sewa menyewa atas 712 lahan milik Telkomsel oleh perseroan di mana menara didirikan. Total nilai sederet aksi korporasi itu mencapai Rp10,28 triliun. Berbarengan dengan MTEL, PT Astrindo Nusantara Infrastuktur Tbk. (BIPI) yang terafiliasi dengan Grup Sinar Mas baru saja mengakuisisi PTT Mining Ltd Hongkong senilai US$471 juta dari PT Sintesa Bara Gemilang dan PTT International Holdings Limited. Perusahaan yang dicaplok BIPI memiliki konsesi tambang batu bara di Brunei Darussalam, Madagaskar, dan tiga konsesi di Kalimantan. Menurut Direktur Utama Astrindo Ray Anthony Gerungan, akuisisi PTTML membuka peluang baik karena harga batu bara sedang bagus.
Agresivitas untuk menggulirkan akuisisi juga ditempuh oleh emiten sektor farmasi. PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), misalnya, sedang mematangkan pengambilalihan 80% saham mayoritas PT Aventis Pharma dari Sanofi Aventis Participations dan Hoechst GMBH (Sanofi). Langkah serupa ditempuh oleh PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA) yang akan mengakuisisi PT Ethica Industri Farmasi dengan estimasi nilai objek transaksi sebesar Rp163,4 miliar. Aksi lincah emiten menambah portofolio asetnya lewat akuisisi dinilai sebagai strategi taktis untuk mendorong kinerja di kemudian hari. Kendati begitu, risiko pendanaan perlu diperhatikan agar tidak membebani neraca keuangan. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menerangkan para emiten benar-benar memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi melalui aksi akuisisi tersebut.
Astrindo Nusantara Akuisisi Tambang Batu Bara Rp 7 Triliun
Emiten infrastruktur tambang, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), mengakuisisi PTT Mining Ltd Hongkong (PTTML) senilai US$ 471 juta atau setara Rp 7 triliun. PTTML saat ini memiliki beberapa konsesi tambang batu bara, antara lain di Brunei Darussalam, Madagaskar, dan tiga tambang batu bara di Kalimantan, Indonesia. “Akuisisi PTTML memiliki peluang yang sangat baik melihat harga batu bara saat ini. Namun, niat kami membeli tambang batu bara dimulai jauh sebelum lonjakan harga baru-baru ini,” kata Direktur Utama Astrindo Ray Anthony Gerungan, dalam keterangan resmi, Selasa (2/8/2022). Direktur Astrindo Michael Wong menegaskan, dampak langsung dari akuisisi PTT Mining ke BIPI sangat besar. Kinerja keuangan BIPI tahun ini diyakini akan menunjukkan peningkatan yang tajam seiring dengan kenaikan harga batu bara global. Michael mengungkapkan, BIPI telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kinerja keuangan dan operasional di tahun ini, dengan terus meningkatkan keunggulan. (Yetede)
Semester I, Laba BNI Tumbuh 75%
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 13,31 triliun pada semester I-2022, tumbuh 6,89% dibanding periode sama tahun lalu Rp 12,45 triliun. Kenaikan laba bersih tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan dari Rp 69,48 triliun menjadi Rp 71,98 triliun. Manajemen mengharapkan bahwa sebagian besar transaksi yang dialokasikan untuk kontrak yang belum diselesaikan pada tanggal 30 Juni 2022 akan diakui
sebagai pendapatan selama periode- periode pelaporan berikutnya. Kewajiban pelaksanaan yang belum terpenuhi pada tanggal 30 Juni 2022, bagian yang diharapkan dapat direalisasi dalam satu tahun adalah sebesar Rp 7,37 triliun dan bagian yang lebih dari satu tahun. Sepanjang Januari-Juni 2022, pendapatan TLKM dari bisnis data, internet, dan jasa teknologi informatika tumbuh 4,92% menjadi Rp 41,52 triliun dari semester I-2021 yang sebesar Rp 39,57 triliun. Pertumbuhan pendapatan juga dicatatkan dari bisnis indihome yakni sebanyak 7,39% dari Rp 12,88 triliun menjadi Rp 13,83 triliun. (Yetede)
Kinerja Grup Astra Naik Dua Kali Lipat
Hampir semua lini bisnis PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan kinerja kinclong di semester I-2022. Bahkan, investasi di PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) turut mendongkrak laba.
"Pada semester pertama tahun 2022, Grup Astra mencatatkan kinerja yang baik pada hampir semua divisi bisnis, didukung membaiknya kondisi ekonomi dan meningkatnya harga komoditas secara signifikan," tulis Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur ASII, dalam rilisnya, Kamis (28/7).
Group Sinar Mas Jual Saham Smartfren Rp 1,5 Triliun
Grup Sinar Mas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjual kepemilikan saham di PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) senilai Rp 1,5 triliun. Penjualan 6% saham emiten telekomunikasi tersebut dilakukan pada Selasa (26/7/2022). “Jumlah saham yang dijual sebanyak 19.604.974.800 saham dengan harga penjualan Rp 77 per saham, ”kata Corporate Secretary Dian Swastatika Sentosa Susan Chandra dalam keterangan resminya, Rabu (27/7/2022). “PT DSSE Energi Mas Utama(EMU), entitas anak perseroan, telah mengkonversi obligasi wajib konversi PT Smartfren Telecom Tbk (Smartfren) yang dimilikinya menjadi saham. Saham hasil konversi ini telah tercatat pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 11 Juli 2022,” jelas Susan. Smartfren meraih keuntungan dalam tiga bulan pertama tahun 2022 ditopang oleh pendapatan yang lebih tinggi. Operator telekomunikasi tersebut mencatatkan laba sebesar Rp 24,98 miliar (US$ 1,7 juta) pada periode Januari-Maret 2022, dibandingkan dengan kerugian Rp 396,83 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. (Yetede)
XL Axiata Terbitkan Obligasi dan Sukuk Rp 3 T
T XL Axiata Tbk (EXCL) akan menerbitkan obligasi dan sukuk senilai Rp 3 triliun untuk membiayai rencana ekspansi perseroan.
Emiten telekomunikasi papan atas di Indonesia tersebut akan menawarkan Obligasi Berkelanjutan II XL Axiata Tahap I Tahun 2022 senilai Rp 1,5 triliun dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan III XL Axiata Tahap I Tahun 2022 sebesar Rp 1,5 triliun. Penerbitan ini merupakan
bagian dari Program Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi dan Sukuk dengan target masing-masing senilai Rp 5 triliun. Program Sukuk Ijarah ini merupakan penawaran dengan nilai terbesar yang pernah diterbitkan oleh korporasi. Budi mengungkapkan, penerbitan ini akan memungkinkan eksibilitas keuangan yang lebih besar bagi perseroan untuk lebih meningkatkan customer experience dan pelaksanaan lebih lanjut dari agenda transformasi terhadap tiga growth engines (Mobile,Enterpise, dan Home & Convergence), dengan tujuan mencapai visi EXCL untuk menjadi the no 1 Converged Operator in Indonesia. (Yetede)
Ciputra Genjot Proyek di Luar Jawa
PT Ciputra Development Tbk (CTRA) telah mengantongi pra penjualan atau marketing sales senilai Rp 3,99 triliun hingga akhir Juni 2022. Grup Ciputra optimistis bisa memenuhi target penjualan pada tahun ini.
"Kami masih optimistis target Rp 8,2 triliun bisa tercapai di tahun 2022 dan belum ada perubahan target saat ini," ungkap Direktur CTRA, Tulus Santoso dalam paparan publik, Rabu (27/7). Tulus menambahkan, pada tahun 2022, CTRA juga telah menambah beberapa proyek baru diantaranya proyek CitraLand Tanjung Morawa di Sumatera Utara. Proyek CTRA selanjutnya adalah CitraLand Sampali Kota Deli Megapolitan di Sumatera Utara.
Masuk Bursa, Habco Beli Armada Kapal
Perusahaan logistik dan pengangkutan PT Habco Trans Maritima Tbk mendapatkan dana segar Rp 179 miliar dari penawaran perdana saham kepada publik. Semua dana itu akan digunakan untuk membeli armada kapal bulk carrier baru. ”Kami cukup senang dengan hasil penawaran umum yang telah dicapai,” kata Dirut Habco Trans Maritima Andrew Kam seusai pencatatan saham Habco Trans Maritima di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (26/7). (Yoga)
Laba Bersih UNVR Tumbuh 12,61%
Di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku, kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) masih tumbuh positif. Emiten barang konsumsi ini mencetak penjualan bersih sebesar Rp 21,46 triliun sepanjang paruh pertama 2022. Angka ini tumbuh 6,38% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berkat penjualan yang masih naik, UNVR mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 12,61% secara tahunan menjadi Rp 3,42 triliun. Tapi, tak dipungkiri kalau kenaikan harga bahan baku juga mengancam margin laba UNVR.









