Internasional
( 1352 )Dunia Serukan Israel-Palestina Menahan Diri
Konflik Israel dan Palestina memanas setelah Hamas di
Palestina menyerang Israel dengan sedikitnya 5.000 roket hanya dalam waktu 20
menit. Hamas yang saat ini menguasai Jalur Gaza juga mengirimkan gerilyawannya
menyusup ke sejumlah kota di Israel, baik melalui darat, laut, maupun udara.
Membalas serangan itu, Israel menyatakan perang terhadap Hamas dan akan
membalas dengan mengerahkan segala kekuatan. Serangan dari arah Gaza terjadi
sejak Sabtu (7/10) pagi. Hingga berita ini ditulis, dikabarkan baku tembak
antara tentara Israel dan anggota Hamas masih terjadi. Sedikitnya 40 warga
Israel dilaporkan tewas dan ratusan orang lainnya terluka. Selain itu, beberapa
warga Israel ditangkap gerilyawan Palestina dan dibawa ke Gaza. Menyikapi
eskalasi konflik tersebut, sejumlah negara, seperti Mesir, Turki, Arab Saudi,
Oman, dan Rusia, meminta Israel dan Palestina menahan diri semaksimal mungkin
agar situasi tidak memburuk dan mengancam hidup warga sipil.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta Israel dan Palestina
menahan diri dari tindakan permusuhan yang bisa memperburuk situasi. Sementara
Menlu Mesir Sameh Shukri telah menghubungi Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni
Eropa Josep Borrell untuk membicarakan perkembangan situasi di Israel dan
Palestina. Kantor berita Rusia, Interfax, menyebutkan, Pemerintah Rusia juga
buru-buru mengontak Israel, Palestina, dan negara-negara Arab terkait isu ini.
Rusia meminta Israel dan Palestina segera melakukan gencatan senjata. ”Tentu
saja kami selalu menyerukan mereka untuk menahan diri,” kata Wakil Menlu Rusia
Mikhail Bogdanov. Washington juga meminta para pihak untuk menahan diri.
Meskipun demikian, AS mengecam serangan Hamas. Sebaliknya, Presiden Palestina
Mahmoud Abbas, dikutip kantor berita resmi Palestina, WAFA, menegaskan, rakyat
Palestina memiliki hak untuk membela diri terhadap terror yang dilakukan
Israel. (Yoga)
Perdagangan Dunia Tumbuh 0,8 Persen
Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO memperkirakan volume
perdagangan barang dunia pada 2023 hanya tumbuh 0,8 %. Untuk meredam dampak rembetan
perlambatan perdagangan dunia itu, Kemendag menggulirkan sejumlah strategi. Pada
5 Oktober 2023, WTO merevisi turun pertumbuhan volume perdagangan barang dunia
menjadi 0,8 % dari proyeksi April 2023 yang sebesar 1,7 %. Perlambatan perdagangan dunia itu merupakan
imbas dari rentetan berbagai persoalan.
Persoalan itu mulai dari inflasi tinggi dan kebijakan
moneter yang ketat di AS dan Uni Eropa serta sejumlah negara lain, hingga masih
berlanjutnya konflik Rusia-Ukraina. Faktor lainnya adalah terhambatnya
pemulihan ekonomi China pascapandemi Covid-19 akibat tekanan pada pasar
properti di negara tersebut. Kendati begitu, WTO melihat prospek perdagangan dunia
pada 2024 relatif lebih positif. Volume perdagangan dunia tahun depan diperkirakan
tumbuh 3,3 persen. Namun, prospek positif itu dapat terancam rantai pasok dunia
yang mulai terfragmentasi akibat ketegangan geopolitik, termasuk konflik
Rusia-Ukraina. (Yoga)
Harga Tinggi, OPEC+ Tetap Pangkas Produksi
Dampak Fragmentasi Pasar Komoditas Dunia
Pasar komoditas dunia terfragmentasi pasca perang
Rusia-Ukraina. Banyak negara yang membatasi perdagangan komoditas, terutama
pangan dan mineral sehingga harganya melonjak tinggi. Jika tidak segera
diatasi, ketahanan pangan dan transisi hijau bisa terancam. Ketahanan pangan
bahkan semakin tertekan akibat dampak cuaca ekstrem. Hal itu mengemuka dalam laporan
Dana Moneter Internasional (IMF) tentang Fragmentasi Geoekonomi Mengancam
Ketahanan Pangan dan Transisi Energi Bersih. Laporan itu merupakan salah satu bagian
dari Tinjauan Ekonomi Dunia IMF Oktober 2023 yang dirilis, Selasa (3/10) di Washington,
AS, waktu setempat. IMF menyebutkan, pada 2022, kerugian ekonomi dunia akibat
fragmentasi komoditas sebesar 0,3 % dari PDB global yang senilai 101,003
triliun USD.
Nilai kerugian itu masih relatif kecil karena ada efek
penyeimbang di negara-negara produsen dan konsumen kendati beban terbesarnya
ditanggung negara-negara berpenghasilan rendah dan rentan. Namun, negara-negara
berpenghasilan rendah dan rentan dapat mengalami kerugian ekonomi jangka
panjang rata-rata 1,2 % PDB. Bagi beberapa negara, kerugiannya bisa mencapai 2
% PDB. Faktor penyebab yang paling dominan adalah gangguan impor pangan karena
negara-negara tersebut sangat bergantung pada pangan yang didatangkan dari
negara lain. Fragmentasi pasar komoditas global menjadi dua blok geopolitik itu
mencuat sejak perang Rusia-Ukraina. Hal itu dapat menyebabkan perbedaan harga
yang besar antar blok pendukung Rusia, termasuk China, dan pendukung Ukraina,
seperti AS dan Uni Eropa, khususnya komoditas pertanian dan mineral. (Yoga)
Stok Berlimpah, India Pangkas Impor CPO
Dengan stok yang masih berlimpah, pada September lalu India
memangkas impor minyak nabati hingga 19 % dibandingkan impor pada Agustus. ”Persediaan
minyak nabati telah mencapai tingkat tertinggi sepanjang masa karena rekor impor
pada bulan Juli dan Agustus,” kata Rajesh Patel dari GGN Research, sebuah
lembaga penelitian di bidang industri pertanian di India, Rabu (4/10). ”Itulah
alasan mengapa importir minyak nabati melakukan jeda pembelian saat ini”.
Menurut Solvent Extractors’ Association of India (SEA),
sebuah asosiasi perdagangan minyak nabati India, stok minyak nabati India saat
ini mencapai lebih dari 3,7 juta ton. Pada September tahun lalu, stok minyak
nabati India hanya 2,4 juta ton. Pemangkasan volume impor itu diduga bakal
memengaruhi pasokan minyak nabati global dan berdampak pada harga komoditas
tersebut. Yang patut diperhatikan adalah sebagian besar minyak nabati yang diimpor
India merupakan CPO. Apabila dibandingkan dengan pembelian pada Agustus, impor
minyak sawit India pada September pun terpangkas hingga 26 % menjadi 830.000
ton. Saat ini India mengimpor CPO asal Indonesia, Malaysia, dan Thailand. (Yoga)
Beban Ganda Perdagangan Maritim Dunia
Industri perdagangan maritim global tengah menghadapi dua tantangan
besar. Di satu sisi, pertumbuhannya masih lambat kendati berangsur pulih. Di sisi
lain, sektor tersebut perlu mewujudkan pelayaran hijau bebas karbon. Kedua poin
itu menjadi bahasan pokok Ulasan Perdagangan Maritim 2023 Konferensi
Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD). Laporan
bertajuk ”Menuju Transisi Hijau dan Adil” tersebut dirilis UNCTAD pada 27 September
2023, di Geneva, Swiss, waktu setempat. Pada 2022, volume perdagangan maritim
terkontraksi atau tumbuh minus 0,4 %. Namun, tahun ini, perdagangan tersebut
dapat tumbuh lebih baik meski masih lambat. UNCTAD memperkirakan pertumbuhan volume
perdagangan maritim global pada 2023 sebesar 2,4 %. Untuk jangka menengah,
2024-2028, perdagangan maritim diperkirakan tumbuh lebih dari 3 %. Angka itu
masih di bawah rata-rata pertumbuhan perdagangan maritim tiga dekade sebelumnya,
di 7 %. Hal itu terjadi lantaran pasokan dan permintaan global belum seimbang.
Perang Rusia dan Ukraina menjadi hambatan pelayaran barang. Sebagian alur
perdagangan maritim berubah dan bertambah panjang.
Industri pelayaran global dituntut pula berkontribusi mengatasi
perubahan iklim dengan mempercepat dekarbonisasi. Industri tersebut menyumbang
3 % dari total emisi global. UNCTAD mencatat, pada periode 2012-2022, kontribusi
kapal-kapal angkutan barang milik 29 negara terhadap emisi karbon meningkat. ”Transportasi
laut perlu mempercepat dekarbonisasi sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi.
Langkah itu penting guna menyeimbangkan kelestarian lingkungan, kepatuhan
terhadap peraturan, dan tuntutan ekonomi untuk masa depan transportasi laut
yang adil dan berkelanjutan,” kata Sekjen UNCTAD Rebeca Grynspan. UNCTAD
menyebutkan, dekarbonisasi sektor itu membutuhkan biaya besar karena banyak
kapal yang terlalu tua untuk diperbaiki atau terlalu muda untuk dibongkar. Pada
awal Januari 2023, rata-rata usia kapal-kapal tersebut 22,2 tahun dengan
separuhnya berusia lebih dari 15 tahun. Sebanyak 98,8 % armada itu masih menggunakan
bahan bakar fosil kendati bahan bakar alternatif sangat menjanjikan. UNCTAD
mencatat, diperlukan tambahan 8-28 miliar USD per tahun untuk mendekarbonisasi
kapal-kapal di dunia hingga 2050. (Yoga)
Inflasi, Inggris Pangkas Rute Kereta Cepat
MUSIK, Meretas Asa Menembus Pasar Global
Kirill Kuzmin dengan mata berbinar menyimak penjelasan Ketua Sora, Yadi Mulyadi, soal angklung. Rentetan pertanyaan lantas meluncur deras. ”Asalnya dari budaya apa? Mungkin lagu- lagumu terhubung dengan puisi? Apakah kamu memainkan musik spiritual?” tanyanya, Sabtu (23/9). Koordinator Proyek Musik Bactria Cultural Centre, Tajikistan, itu bahkan meminta buku yang ditulis Yadi dan menanyakan latar belakang pendidikan personel-personel Sora. Kuzmin tengah mengurasi 13 peserta Indonesian Music Expo (Imex) 2023. Di sela kesejukan Ubud, Bali, empat delegasi terlihat antusias bertanya kepada para musisi, satu per satu. Pakar musik, produser, dan perwakilan asosiasi musik dunia tersebut didampingi penerjemah. Setelah 10 menit, setiap delegasi bertukar peserta untuk bertatap muka. Para peserta tersebut bertekad merebut kemungkinan diundang berkonser di mancanegara, menempuh pelatihan, atau digandeng produser untuk rekaman. Mereka juga berkesempatan unjuk kebolehan di hadapan tim delegasi sekaligus meramaikan Imex yang berlangsung pada 21-24 September 2023.
Setelah masing-masing peserta menuntaskan giliran berinteraksi dengan calon buyers atau pengguna karyanya, mereka dievaluasi. Ternyata belum satu pun kemitraan untuk menembus pasar global terealisasi, tetapi bukan tak mungkin kelak tawaran disorongkan. ”Belum terjadi deal (kesepakatan). Sebenarnya, Sora sudah beberapa kali ke luar negeri, tapi kami tetap senang soalnya menambah jaringan,” kata Yadi. Sora yang memainkan jaz progresif etnik sudah melanglang ke Korsel, Belanda, Singapura, Romania, Inggris, dan Selandia Baru. ”Kami mendiskusikan manajemen musik, termasuk finansial. Dukungan dari dalam negeri ikut dibahas,” ucap gitaris Sora, Whayan Christiana. Semua delegasi juga tertarik menelaah musikalitas kawanan asal Bandung, Jabar, itu, tetapi tetap mengacu kepada pertunjukan untuk menilai performanya. (Yoga)
Perdagangan Intra-Asia Perluas Kesempatan Bisnis
Nilai perdagangan dunia
pada 2022 mencapai 32 triliun USD. Nilai perdagangan barang global, tak
termasuk jasa, sebesar 25 triliun USD. Kontribusi Asia sebesar 39,4 % terhadap
total ekspor barang global dan 35,8 % terhadap impor global. Dari sisi tujuan
ekspor dan asal impor, perdagangan Asia mengarah ke sesama Asia. Faktor geopolitik
turut meningkatkan pola perdagangan intra-Asia. Sebanyak 59 % ekspor-impor Asia
tertuju ke Asia dibandingkan dengan total ekspor-impor Asia ke seluruh dunia
berdasarkan data tahun 2021. Fenomena ini melanjutkan prospek abad Asia. Mesin
pertumbuhan global juga berpusat di Asia. Kontribusi Asia terhadap pertumbuhan
global sebesar 67,4 % pada 2023, dengan kontribusi China 34,9 %.
Kenaikan jumlah kelas menengah Asia akan menopang prospek
Asia dari sisi permintaan. Seperti dilansir World Economic Forum, diperkirakan
jumlah warga kelas menengah Asia menjadi 3,5 miliar jiwa pada 2030, naik dari 2
miliar jiwa pada 2020. Pertumbuhan Asia juga didorong reformasi yang dilakukan
pemerintahan, kemajuan teknologi digital, serta kolaborasi ekonomi di kawasan dalam
kerja sama ekonomi. Perdagangan intra-Asia akan melejit dari 6 triliun USD pada
2020 menjadi 13 triliun USD pada 2030, melebihi nilai perdagangan intrakawasan
mana pun di dunia. Para pebisnis hingga perusahaan kaliber raksasa
multinasional semakin menancapkan kuku bisnis di Asia. ”Perusahaan perkapalan
dan logistik melihat perdagangan intra-Asia yang meningkat sebagai kesempatan
besar,” tulis situs TAPA, forum perusahaan manufaktur, penyedia jasa logistik,
jasa angkutan barang global, dan jasa terkait, pada 27 April 2023. (Yoga)
Asean Sepakati Pedoman Pemberantasan Hoaks
Pilihan Editor
-
Bank Sentral Waspadai Kepanikan di Pasar Uang
09 Mar 2020









