Internasional
( 1352 )G20 Suarakan Pelonggaran Restriksi Ekspor Pangan
Ketahanan pangan global sedang terganggu di tengah krisis rantai pasok, ketegangan geopolitik, dan menguatnya tren proteksi pangan. Pertemuan Kedua Tingkat Sherpa G20 menyuarakan perlunya pelonggaran restriksi ekspor serta mendorong perdagangan pangan yang transparan dan dapat diprediksi demi mencegah krisis pangan berkelanjutan. Per Juni 2022, berdasarkan data Food and Fertilizer Export Restrictions Tracker, ada 20 negara yang masih aktif membatasi ekspor komoditas pangan, lima negara menerapkan perizinan khusus ekspor, dan tiga negara menaikkan pajak atau pungutan ekspor.
Dalam hari pertama Pertemuan Kedua Tingkat Sherpa G20 (The 2nd G20 Sherpa Meeting), Minggu (10/7) di Labuan Bajo, NTT, persoalan krisis pangan yang kini melanda banyak negara pun menjadi salah satu isu yang mengemuka saat membahas kemajuan pembahasan Kelompok Kerja Agrikultur (Agriculture Working Group). Ketua Kelompok Kerja Agrikultur Kasdi Subagyono mengatakan, “Indonesia mengharapkan perdagangan yang bisa diprediksi dan transparan. Banyak yang menyuarakan agar “blokir” atau restriksi pangan tidak perlu dilakukan, terutama ke negara berkembang yang daya tahan pangannya masih lemah, mereka justru harus didukung,” kata Kasdi, yang juga menjabat Sekjen Kementan. (Yoga)
Menlu Tiongkok-Rusia Bertemu di Bali
Menteri Luar Negeri (Menlu)) Tiongkok Wang Yi dan Menlu Rusia Sergei Lavrov bertemu di Bali pada Kamis (7/7) untuk membahas perang di Ukraina, yang sudah memasuki bulan kelima. Pertemuan berlangsung jelang pertemuan singkat Menlu kelompok negara G-20 di resor Nusa Dua, Bali pada Jumat (8/7). Kedua Menlu tersebut tertangkap kamera sedang menggelar pertemuan bilateral di Bali. Pertemuan tingkat Menlu itu rencananya membahas isu-isu dunia paling menyita perhatian dan kekhawatiran dunia saat ini. Walau dikritik, Tiongkok menjadi negara yang salah satu tidak mau mengecam invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022 itu. Tiongkok tetap bersahabat dengan Rusia, pada saat negara-negara Barat mengucilkan pemerintahan Presiden Vladimir Putin dari tatanan diplomasi dan finansial global. "Dan menegaskan lagi alasan kami bahwa tujuannya untuk me-Nazi-kan Ukraina, kedua belah pihak menggaris bawahi sanksi-sanksi sepihak dan tidak dapat diterima dengan melangkahi PBB," kata Kemlu Rusia. (Yetede)
Negara-Negara Besar Menuju Resesi
Banyak negara dengan kekuatan ekonomi besar dunia akan terjun ke resesi dalam 12 bulan ke depan. Dikarenakan bank sentral masing-masing mengambil langkah agresif untuk memperketat kebijakan moneter guna memerangi lonjakan inflasi. Dalam catatan penelitian Nomura Holdings yang dirilis Selasa (5/7), selain Amerika Serikat (AS), resesi diprediksi terjadi di zona euro, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Kanada tahun depan. "Satu hal lagi yang saya tunjukkan ketika Anda memiliki banyak ekonomi yang lemah, Anda tidak dapat mengandalkan ekspor untuk pertumbuhan. Itulah alasan mengapa kami menganggap risiko resesi ini sangat nyata dan kemungkinan akan terjadi," kata Kepala Ekonom Nomura Holdings Rob Subbaraman kepada CNBC. Untuk AS, Nomura memperkirakan resesi yang dangkal tetapi panjang di negeri Paman Sam itu selama lima kuartal, mulai dari kuartal terakhir 2022. (Yetede)
Mulai Dibahas, ”Marshall Plan” untuk Ukraina
Belasan negara, organisasi internasional, dan perusahaan swasta berkumpul dalam konferensi, Senin (4/7) di Lugano, Swiss, untuk menyusun rencana rekonstruksi semacam ”Rencana Marshall (Marshall Plan)” guna membangun kembali Ukraina yang dilanda perang. Istilah Marshall Plan merujuk langkah yang pernah dilakukan AS untuk memulihkan kembali Eropa seusai Perang Dunia II. Awalnya, pertemuan itu direncanakan membahas reformasi di Ukraina. Namun, setelah invasi Rusia ke Ukraina, agenda pertemuan dialihkan untuk fokus pada rekonstruksi negara tersebut. Salah satu hal yang menjadi perhatian, karena dana bantuan miliaran dollar akan mengalir ke Ukraina, adalah kekhawatiran tentang korupsi yang meluas di negara itu. Ini berarti, reformasi luas tetap menjadi fokus utama dan akan menjadi syarat bagi setiap rencana pemulihan yang akan dibuat.
Ketua Komisi Eropa Ursula von derLeyen mengungkapkan, Uni Eropa akan membuat platform rekonstruksi untuk kerja sama dalam membangun kembali Ukraina setelah perang. Rencana kerja itu akan digunakan untuk memetakan kebutuhan investasi, koordinasi aksi, dan penyaluran sumber daya. ”Sejak awal perang, Uni Eropa telah memobilisasi 6,2 miliar euro dalam bentuk dukungan finansial dan akan memobilisasi dana lebih banyak lagi. Kami akan terlibat secara substansial dalam rekonstruksi itu dalam jangka menengah dan jangka panjang,” kata Von der Leyen. Bank Investasi Eropa telah menawarkan struktur pendanaan yang sebelumnya digunakan selama pandemi Covid-19 untuk membangun kembali Ukraina dengan investasi lebih dari 100 miliar euro (104,3 miliar USD). (Yoga)
Jerman Akan Menjatah Air Panas untuk Warga
Badan Jaringan Federal Jerman meminta warga dan perusahaan untuk hemat energi dan bersiap menghadapi musim dingin di tengah kekhawatiran Rusia akan menghentikan suplai gas. Senator Jens Kerstan, seperti dikutip koran Welt am Sonntag, Sabtu (2/7) mengatakan, Pemerintah Kota Hamburg akan menjatah air panas untuk rumah tangga jika terjadi kekurangan gas akut. (Yoga)
Putin Menasionalisasi Proyek Migas Asing
Presiden Rusia Vladimir Putin menasionalisasi proyek minyak dan gas asing yang sebagian sahamnya milik investor Jepang dan Inggris. Keputusan itu dikeluarkan Putin, Kamis (30//6) malam. Putin memerintahkan pembentukan perusahaan nasional baru yang akan mengambil alih kepemilikan pada Sakhalin Energy Investment Co, yang hampir 50 % dimiliki perusahaan Inggris, Shell, serta dua perusahaan Jepang, Mitsui dan Mitsubishi. (Yoga)
Perbaikan Sistem Pertahanan Kolektif Dorong Anggota Beli Senjata Baru
Rencana perkuatan sistem pertahanan NATO di sisi timur Eropa, yang akan menjadi tembok tebal pemisah kekuatan negara-negara Barat dan Rusia, telah memancing sejumlah negara untuk bersikap waspada. Pemerintah Yunani telah mengirim surat permintaan (LoR) kepada Pemerintah AS untuk membeli satu skuadron jet tempur siluman tercanggih, F-35. Pemerintah Yunani juga berharap bisa memperoleh opsi pembelian satu skuadron pesawat yang sama seusai paket pertama selesai. PM Yunani Kyriakos Mitsotakis, di sela-sela KTT NATO di Madrid, Kamis (30/6) mengonfirmasi rencana tahap pertama pembelian satu skuadron jet tempur F-35 produksi Lockheed Martin itu.
Turki mendapat angin segar setelah keputusan Presiden Recep Tayyip Erdogan memberikan lampu hijau keanggotaan Finlandia dan Swedia di NATO. Presiden AS Joe Biden menyatakan, AS harus melanjutkan penjualan pesawat tempur F-16 kepada Turki. Terrence Guay, profesor bidang bisnis internasional dan Direktur Pusat Studi Bisnis Global Universitas Penn State, AS, dikutip dari laman The Conversation, mengatakan, industri persenjataan AS dipastikan akan mendominasi industri persenjataan dan perlengkapan militer global pascaperang Ukraina setidaknya selama beberapa tahun ke depan. (Yoga)
Lanjutkan Misi di Rusia- Ukraina dalam G20
Indonesia selaku Ketua G20 diharapkan terus mendorong upaya perdamaian Ukraina dan Rusia sambil meredam dampak perang antara dua negara itu pada krisis pangan dan disrupsi rantai pasok global. Setelah kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia, upaya itu perlu dilanjutkan lewat G20. Presiden Jokowi telah menyelesaikan lawatan ke dua negara yang tengah berperang itu dalam dua hari beruntun, 29-30 Juni 2022. Kunjungan, seperti terpantau dari laporan berbagai media internasional, mendapat perhatian dunia. ”Sebagai pemegang Presidensi G20, upaya Indonesia diharapkan tak berhenti pada kunjungan ini, tetapi juga melakukan terobosan konkret untuk mengatasi dampak perang melalui G20,” kata Andrew Matong, peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
Laman media The Wall Street Journal, menyebutkan kunjungan pertama pemimpin Asia ke Ukraina-Rusia sejak invasi Rusia, 24 Februari 2022, itu sebagai ”simbol upaya dari kelompok luas negara-negara berkembang guna menghindari mengkritik Rusia terang-terangan atau memihak salah satu kubu”. Kantor berita AFP, dalam laporan, Jumat(1/7) menggambarkan peran Presiden Jokowi yang menjadi penyambung pesan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kepada Presiden Rusia Vladimir Putin membuka kemungkinan cairnya hubungan Barat-Rusia. Hal ini berlangsung di tengah kondisi hubungan Barat-Rusia, yang menurut deskripsi Menlu Rusia Sergey Lavrov, menyerupai ”kembali tertutupnya Tirai Besi”. (Yoga)
RI Jembatani Komunikasi Rusia-Ukraina
Sebagai mitra bagi Rusia dan Ukraina, Indonesia hendak menjadi jembatan komunikasi bagi kedua negara yang tengah berperang, hal ini disampaikan Presiden Jokowi dalam jumpa pers bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (30/6) di Moskwa. Menurut Presiden Jokowi, meskipun situasi saat ini sangat sulit, penyelesaian damai tetap penting untuk terus dikedepankan dan ruang-ruang dialog terus dibuka. ”Saya telah menyampaikan pesan Presiden Zelensky untuk Presiden Putin dan saya sampaikan kesiapan saya untuk menjadi jembatan komunikasi di antara kedua pemimpin tersebut,” kata Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi juga menyampaikan bahwa Presiden Putin memberi jaminan pada kelancaran pasokan bahan makanan dan pupuk. Kedua komoditas sangat penting bagi ketahanan pangan global. Tanpa pasokan gandum dan pupuk, baik dari Ukraina maupun Rusia, rantai pasok global terganggu dan berdampak serius pada kecukupan pangan. Presiden Jokowi menegaskan, apabila pasokan terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan ratusan juta warga, tetapi juga miliaran penduduk Bumi. (Yoga)
G7 Janji Bantu Atasi Krisis Pangan Global
Kelompok tujuh negara terkaya di
dunia atau G7 menjanjikan tambahan dana 4,5 miliar USD untuk mengatasi risiko
krisis pangan global. Mereka juga meminta agar tidak ada negara ataupun
korporasi yang menumpuk pasokan pangan. Pada saat yang sama harus ada solusi untuk
perkara ditutupnya Laut Hitam sehingga ekspor komoditas pangan dari Rusia dan
Ukraina terhalang. Hal itu dibahas dalam KTT G7 di Elmau, Jerman, Selasa (28/6),
dimana Presiden Indonesia Jokowi turut hadir sebagai tamu dalam KTT itu.
Uni Eropa mengemukakan usulan untuk meningkatkan produksi pupuk di Afrika agar tidak tergantung impor dari wilayah lain. Usulan ini diterima oleh G7, yang juga menambahkan agar ada bantuan untuk menaikkan produksi pangan di negara-negara yang berisiko terdampak krisis. (Yoga)









