Minyak Mentah
( 38 )Pasar Energi Global Tetap Tertekan
Kebuntuan perundingan Rusia-Ukraina yang difasilitasi Turki, Kamis (10/3) membuat pasar energi tetap tertekan. Tekanan juga timbul dari ketidakjelasan perundingan AS dengan Iran dan Venezuela. Setelah sempat menyentuh level 130 USD per barel, harga minyak mentah jenis Brent pada Kamis malam, berdasar Bloomberg dan Trading Economics, di level 115 dollar AS per barel. Merespons tingginya harga minyak mentah, Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan akan melepaskan sebagian cadangan strategisnya untuk meringankan tekanan. Gairah pasar semakin meningkat karena UEA mengumumkan siap memacu produksi di atas kesepakatan OPEC, melebihi 800.000 barel per hari. Padahal, OPEC bersama Rusia sepakat, kenaikan tidak melebihi 400.000 barel per hari. ”Kami mendukung kenaikan produksi dan mendorong OPEC meningkatkan produksi,” kata Duta Besar UEA untuk AS Yousuf Al
Sekjen OPEC Mohammed Barkindo meragukan produsen lain bisa menggantikan pasokan dari Rusia. Ia berkeras kenaikan harga saat ini dipicu masalah geopolitik, bukan masalah pasokan. Sanksi membuat transaksi apa pun dengan Rusia, termasuk untuk pembayaran komoditas energi, sulit dilakukan. Hal serupa sudah terjadi bertahun-tahun pada Venezuela dan Iran, pemilik cadangan minyak terbesar pertama dan ketiga di dunia. (Yoga)
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
Krisis Ukraina yang berkelindan dengan puluhan sanksi ekonomi dari negara-negara Barat kepada Rusia berkembang menjadi ”perang energi”. Presiden AS Joe Biden (9/3) mengumumkan penghentian impor minyak, gas, dan batubara dari Rusia ke negaranya, sebagai tekanan agar Rusia menghentikan serangan ke Ukraina. Langkah serupa tengah direncanakan BP dan Shell. Langkah itu direspons Presiden Rusia Vladimir Putin dengan dekrit pelarangan ekspor dan impor bahan mentah untuk memastikan keselamatan dan keberlangsungan industri di Rusia, yang diterapkan hingga 31 Desember 2022. Pemerintah dan parlemen Rusia segera memutuskan komoditas yang masuk daftar larangan itu. Larangan hanya berlaku untuk konsumsi industri.
Sebelum dekrit itu diumumkan, Wakil PM Rusia Alexander Novak memperingatkan bahwa Rusia berhak menghentikan pengiriman gas ke Eropa. Meski demikian, ia menyebut penghentian tersebut akan merugikan semua pihak. Krisis Ukraina telah menerbangkan harga minyak di atas 100 USD per barel, dengan pengumuman dari Washington dan Moskwa tersebut, harga minyak mentah jenis Brent sempat menembus level 130,38 USD per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate mencapai 125,58 USD per barel. 40 % pasokan dunia berasal dari Rusia. Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyatakan, IEA dapat melepaskan lebih banyak stok minyak guna meredakan lonjakan harga bahan bakar. IEA mewakili 31 negara industry, Rusia tidak termasuk. (Yoga)
Darurat Kompensasi Penambal Harga BBM
Wacana pemerintah memberikan kompensasi khusus untuk PT Pertamina (Persero) untuk menambal selisih biaya produksi dan harga jual bahan bakar minyak kembali ditagih sejumlah kalangan. Wakil Ketua Komisi Energi DPR, Eddy Soeparno, mengatakan beban perseroan minyak dan gas itu bertambah demi menahan harga BBM yang dominan dipakai masyarakat, seperti Pertalite dan Pertamax. Harga minyak dunia yang bergejolak sejak pertengahan 2020 terus meningkat akibat konflik perang Rusia dan Ukraina. Nilainya pun sempat menyentuh level tertinggi selama satu dekade terakhir. Saat harga minyak dunia menyentuh level US$ 110 per barel, harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada bulan lalu ikut bergerak ke US$ 95,72 per barel, jauh diatas asumsi APBN 2022 yang hanya US$ 63 per barel. Loncatan harga itu memaksa Pertamina menaikkan harga BBM non-subsidi, seperti Pertamax Turbo yang naik dari Rp13.500 menjadi Rp 14.500 per liter, Pertamina Dex dari Rp13.200 menjadi Rp13.700 per liter, serta Dexlite dari Rp12.150 menjadi Rp12.950 per liter. (Yetede)
Krisis Ukraina, Lonjakan Harga Minyak Perlu Respons Tepat
Kamis (24/2), menyusul operasi militer Rusia ke Ukraina. Pemerintah Indonesia diharapkan memiliki strategi tepat sebagai respons atas lonjakan harga minyak mentah dan dampaknya pada harga BBM di dalam negeri. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, sebelum krisis Rusia-Ukraina memanas, pasar minyak mentah dunia sudah ketat, terlihat dari tren kenaikan harga sejak 2021. Tren berlanjut atau tidak tergantung pada perkembangan relasi Rusia-Ukraina. Intensitas konflik yang lebih masif antara Rusia dan Ukraina bakal menyebabkan harga minyak mentah di level lebih tinggi, karena Rusia memasok 10 % kebutuhan minyak dunia sehingga produksinya menentukan keseimbangan pasokan serta permintaan minyak global. Pemerintah Indonesia, ujar Fabby, harus memastikan pasokan BBM dan minyak mentah tidak terganggu.
Indonesia, sejak 2004 tercatat sebagai negara pengimpor bersih minyak, masih bergantung pada impor BBM dan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri. Dari konsumsi BBM nasional 1,4 juta-1,5 juta barel per hari, kemampuan produksi minyak Indonesia kurang dari 700.000 barel per hari. Sebelumnya, Menkeu Sri Mulyani mengakui, lonjakan harga minyak mentah menekan struktur fiskal APBN. Lonjakan turut menaikkan besaran subsidi energi, yang pada Januari 2022 mencapai Rp 10,2 triliun, naik dari Januari 2021 yang Rp 2,3 triliun. (Yoga)
Pertamina Hulu Kalimantan Timur Peroleh Insentif dari Pemerintah
PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), Kontraktor Kontrak Kerja Sama dibawah pengawasan SKK Migas sekaligus bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional Kalimantan Zona 10, resmi mendapatkan persetujuan insentif fiskal dari Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 12 Januari 2022. Berdasarkan surat Persetujuan dari Menteri ESDM No. T-24/MG.04/MEM.M/2022 tanggal 12 Januari 2022 perihal Persetujuan Penambahan Split pada Kontrak Kerja Sama Wilayah Kerja East Kalimantan & Attaka, PHKT mendapatakan insentif berupa tambahan bagi hasil/split. "Dengan adanya insentif ini, rencana pengembangan lapangan eksisting dan baru bisa dilanjutkan. Insentif ini dapat mendukung peningkatan cadangan dan pemeliharaan tingkat produksi PHKT sehingga PHKT dapat terus memberikan kontribusi dalam penyediaan energi bagi Indonesia," katanya. (Yetede)
OPEC+ Sepakat Menaikkan Produksi Pada Maret
Kelompok produsen minyak dunia yang tergabung dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) pada Rabu (2/2) sepakat untuk menaikkan lagi kapasitas produksi. Walau harga minyak mentah diperdagangkan mendekati level luar biasa di tengah ketegangan geopolitik. Langkah yang sudah diperkirakan luas oleh para analis energi tersebut sekaligus menandai kelanjutan dari strategi kelompok OPEC untuk secara bertahap membuka kembali keran produksi minyaknya. Arab Saudi yang memimpin OPEC dan Rusia yang memimpin OPEC+ sedang dalam proses melepaskan pengurangan pasokan sekitar 10 juta barel per hari (bph). Menteri Energi Rusia Alexander Novak sebelumnya mengatakan, kelompok yang lebih luas tidak ingin meningkatkan level produksi terlalu banyak karena masih mewaspadai potensi perubahan permintaan.(Yetede)
Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga Mulai Berlaku
Pemerintah mulai hari ini memberlakukan kebijakan satu harga minyak goreng senilai Rp 14 ribu per liter. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan pemerintah, melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, menyiapkan dana sebesar Rp 7 triliun untuk membiayai penyediaan minyak goreng kemasan bagi masyarakat. "Harga Rp 14 ribu per liter untuk semua jenis kemasan, baik kemasan premiun maupun sederhana, dengan ukuran 1-25 liter bagi rumah tangga serta usaha mikro dan kecil," ujar Lutfi, kemarin. Kebijakan minyak goreng satu harga berlaku selama enam bulan kedepan. Adapun jumlah minyak goreng yang akan digelontorkan sebanyak 250 juta liter per bulan. Angka itu setara dengan 1,5 miliar liter selama enam bulan kedepan. Sebanyak 34 produsen minyak goreng telah berkomitmen untuk berpartisipasi dalam penyediaan minyak goreng satu harga. (yetede)
Harga Minyak Naik di Level Tertinggi
Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) telah berjanji untuk membalas serangan mematikan yang dilancarkan kelompok gerilyawan Houthi di Abu Dhabi pada Senin (17/1). Serangan yang menewaskan tiga orang itu memicu ketegangan baru di kawasan ini, sekaligus mendorong harga kenaikan minyak ke level tertinggi dalam lima tahun. "Kami mengecam penargetan milisi Houthi terhadap wilayah dan fasilitas sipil di tanah UEA hari ini. Kami menegaskan kembali bahwa mereka yang bertanggung jawab atas penargetan yang melanggar hukum di negara kami akan dimintai pertanggungjawaban," demikian isi pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri UEA,yang dilansir CNBC. Kelompok pemberontak Houthi Yaman telah mengaku bertanggungjawab atas serangan yang terjadi pada Senin pagi, dan menyebabkan kebakaran hingga meledakkan tiga kapal tanker minyak didekat fasilitas penyimpanan milik perusahaan minyak Abu Dhabi atau Abu Dhabi National Oil Company. (Yetede)
Harga Minyak Indonesia Kembali Naik Jadi US$ 72,2 Per Barel
Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada September kemarin kembali menanjak menjadi US$ 72,2 per barel, naik dari posisi Agustus lalu yang sebesar US$ 67,8 per barel. Kenaikan harga dipicu oleh turunnya pasokan minyak global. Sejalan, harga rata-rata ICP Sumatran Light Crude (SLC) juga naik menjadi US$ 72,25 per barel dari bulan sebelumnya US$ 67,99 per barel. Tim Harga Minyak Indonesia menuturkan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi harga minyak mentah utama di pasar internasional, antara lain turunnya pasokan minyak.
"Peningkatan drastis harga gas alam global menjelang musim dingin akibat kurangnya pasokan, membuat minyak mentah menjadi energi subtitusi dan diperkirakan dapat meningkatkan permintaan minyak mentah sebesar 550 ribu bph," kata Tim Harga Minyak Indonesia dalam keterangan resminya, Rabu (6/10). Terkait anjloknya pasokan, jelas Tim Harga Minyak Indonesia, terdapat beberapa penyebab. Pertama, berhentinya aktivitas produksi minyak mentah dikawasan Teluk Meksiko, Amerika Serikat akibat badai Ida dan Badai Tropis Nicholas dengan potensi kehilangan pasokan minyak mentah mencapai 30 juta barel.
"Faktor lainnya adalah nilai tukar Dollar terhadap beberapa mata uang terutama Euro cenderung melemah," tutur Tim Harga Minyak Indonesia. Sedangkan untuk kawasan Asia Pasifik, lanjut Tim Harga Minyak Indonesia, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh terus bertumbuhnya permintaan bensin di Tiongkok, dimana pada September 2021, diperkirakan mencapai tingkat sebelum pandemi Covid-19 telah meningkatkan permintaan di negara tersebut," Tambah Tim Harga Minyak Indonesia. (yetede)
Harga Minyak Berpotensi Terus Meningkat
Harga minyak jenis west texas intermediate (WTI) sempat menyentuh level tertingginya di tahun ini pada level US$ 75,25 per barel pada penutupan pasar Selasa (13/7). Akan tetapi, harga minyak ini terkoreksi tipis, pada Rabu (14/7) pukul 17.00 WIB harga minyak kembali turun ke angka US$ 74,62 per barel.
Mengenai tren kenaikan harga minyak mentah, salah satunya didorong oleh musim panas di AS yang membuat permintaan minyak naik, karena banyak orang yang mobilitas dan jalan-jalan, sehingga kebutuhan bensin menjadi lebih tinggi. Jika ada koreksi pada harga minyak mentah, kata Ibrahim, secara teknikal harga minyak akan berada di angka US$ 73,50 per barel. Setelahnya harga akan naik kembali ke angka US$ 76,00 per barel.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









