Krisis Ukraina, Lonjakan Harga Minyak Perlu Respons Tepat
Kamis (24/2), menyusul operasi militer Rusia ke Ukraina. Pemerintah Indonesia diharapkan memiliki strategi tepat sebagai respons atas lonjakan harga minyak mentah dan dampaknya pada harga BBM di dalam negeri. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, sebelum krisis Rusia-Ukraina memanas, pasar minyak mentah dunia sudah ketat, terlihat dari tren kenaikan harga sejak 2021. Tren berlanjut atau tidak tergantung pada perkembangan relasi Rusia-Ukraina. Intensitas konflik yang lebih masif antara Rusia dan Ukraina bakal menyebabkan harga minyak mentah di level lebih tinggi, karena Rusia memasok 10 % kebutuhan minyak dunia sehingga produksinya menentukan keseimbangan pasokan serta permintaan minyak global. Pemerintah Indonesia, ujar Fabby, harus memastikan pasokan BBM dan minyak mentah tidak terganggu.
Indonesia, sejak 2004 tercatat sebagai negara pengimpor bersih minyak, masih bergantung pada impor BBM dan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri. Dari konsumsi BBM nasional 1,4 juta-1,5 juta barel per hari, kemampuan produksi minyak Indonesia kurang dari 700.000 barel per hari. Sebelumnya, Menkeu Sri Mulyani mengakui, lonjakan harga minyak mentah menekan struktur fiskal APBN. Lonjakan turut menaikkan besaran subsidi energi, yang pada Januari 2022 mencapai Rp 10,2 triliun, naik dari Januari 2021 yang Rp 2,3 triliun. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023