Rupiah
( 288 )Faktor Pemicu Pelemahan Kurs Rupiah
Antisipasi Dampak Rupiah dan Minyak
Perekonomian dalam negeri kembali menghadapi tekanan akibat
terus melemahnya nilai tukar rupiah, menembus Rp 16.000 per USD, dan naiknya
harga minyak mentah. Pelemahan nilai tukar juga dialami mata uang banyak negara
lain, hal ini terkait erat dengan kebijakan suku bunga ditingkat global. Langkah
bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50 %,
sejalan dengan kondisi ekonominya. Komite Pasar Terbuka Federal menyatakan
pihaknya akan melakukan tiga kali penurunan bunga acuan tahun ini, masing-masing
25 basis poin dalam rangka menekan inflasi ke 2 %. Ketua The Fed tak menutup
kemungkinan bunga acuan akan dipertahankan selama mungkin. Ketidakpastian kapan
The Fed memangkas bunga acuan membuat tekanan pelemahan rupiah belum berakhir
Melemahnya rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan Dollar
AS, untuk pembayaran dividen maupun impor BBM dan pangan, yang sifatnya
musiman. Dibanding negara Asia lain, pelemahan rupiah relatif terkendali. Kurs
rupiah saat ini juga dinilai sesuai nilai fundamentalnya. Cadangan devisa 140
miliar USD cukup solid, memadai untuk menutup 6,4 bulan impor. Namun, pelemahan
rupiah yang menembus level psikologis baru bisa memicu sentimen negatif yang
dapat kian menekan rupiah. Pelemahan rupiah membuat beban utang dalam dollar AS
pun meningkat. Kurs rupiah juga memengaruhi inflasi dalam negeri melalui barang
yang diimpor sehingga berdampak ke daya beli masyarakat, fiskal, dan
perekonomian secara keseluruhan.
Karena itu, kalangan pengamat mengingatkan pentingnya mengantisipasi
dampak ini. Apalagi, melemahnya rupiah terjadi berbarengan dengan terus naiknya
harga minyak mentah dan masih tingginya harga pangan dunia. Ini pukulan ganda bagi Indonesia sebagai importir neto minyak
dan negara yangmasih sangat tergantung pada energi fosil dan pangan impor. Harga
Brent dan WTI mendekati 100 dollar AS per barel, dan bukan tidak mungkin
kembali menyentuh 120-130 dollar AS per barel jika eskalasi konflik di Timur
Tengah sampai mengganggu jalur logistik penting minyak. Pemerintah menyatakan
harga BBM tak akan naik sampai Juni 2024.
Jika kenaikan harga minyak mentah global berlanjut, bukan tidak
mungkin Indonesia dipaksa melakukan penyesuaian harga BBM dalam negeri, dengan
konsekuensi pembengkakan subsidi energi apabila harga BBM bersubsidi
dipertahankan. Pemerintah kemungkinan harus menambah belanja sosial guna
melindungi kelompok rentan dari imbas kenaikan harga dan menerapkan kebijakan
pengendalian konsumsi BBM. Mengakhiri ketergantungan yang terlalu besar pada
komponen, barang jadi, dan pangan impor, serta mempercepat transisi energi
fosil ke energi baru terbarukan yang potensinya melimpah di dalam negeri akan
memperkuat resiliensi Indonesia menghadapi tekanan serupa di masa mendatang (Yoga)
INIDIKATOR MONETER : PELEMAHAN RUPIAH KURAS CADANGAN DEVISA
Kebutuhan dolar Amerika Serikat yang tinggi dan intervensi Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah telah menguras US$3,6 miliar cadangan devisa bulan lalu. Cadangan devisa turun menjadi US$140,4 miliar pada Maret karena antisipasi kebutuhan likuiditas valas korporasi, pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, menurut data Bank Indonesia pada Jumat (5/4). Kebutuhan dolar AS cukup tinggi untuk membayar surat utang valas korporasi dan pemerintah yang jatuh tempo pada April senilai US$3,7 miliar dan meningkat lagi menjadi US$4,67 miliar pada Mei, menurut data Bahana Sekuritas. Belum lagi kebutuhan untuk repatriasi dividen ke luar negeri dan impor barang-barang konsumsi yang tinggi menjelang Lebaran.
Penurunan cadangan devisa pada Maret paling drastis secara bulanan dalam tiga bulan terakhir dan terus menempatkan cadangan devisa di jalur penurunan yang berlangsung sejak Januari. Secara total, cadangan telah menyusut US$6 miliar pada kuartal I/2024 (Lihat infografis). Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro melihat cadangan devisa masih berisiko berkurang lagi pada kuartal II/2024 dengan penurunan yang tidak jauh berbeda dengan kuartal lalu, mengingat kebutuhan intervensi BI akan tetap tinggi. Depresiasi rupiah telah mendorong mata uang itu lebih lemah sekitar 11% dari mata uang negara berkembang lainnya yang juga melemah di tengah penguatan greenback. Depresiasi mata uang menuju level psikologis Rp16.000 per dolar AS memicu spekulasi bahwa kenaikan suku bunga mungkin akan kembali dibahas pada pertemuan Bank Indonesia pada 23-24 April mendatang. Mengutip Bloomberg,
Ekonom Barclays Plc Brian Tan mengatakan ika nilai tukar rupiah tetap berada di sekitar level psikologis 16.000 dalam waktu dekat, BI mungkin mempertimbangkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,25% pada pertemuan bulan ini. Bank Indonesia berjanji bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi fokus kebijakan moneternya untuk menjaga inflasi tetap rendah. Bank sentral telah menstabilkan nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi di pasar spot, non-deliverable forward, dan obligasi domestik, sembari mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil pada 6% sejak November. BI juga menerbitkan surat berharga dengan imbal hasil tinggi untuk menarik lebih banyak arus masuk asing.
Menjaga Supply and Demand di Tengah Pelemahan Rupiah
Meredam Gejolak Rupiah
Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS, seiring
masih tingginya ketidapastian global dan merosotnya surplus neraca perdagangan
nasional. Pemerintah dan BI diminta segera bertindak untuk meredam gejolak rupiah.
Berdasarkan kurs Jisdor BI, Kamis pekan lalu, rupiah melemah 0,12 % ke level Rp
15.873 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya. Sepanjang 2024, rupiah
melemah 2,3 %.
Karena itu, untuk meredam gejolak rupiah, BI perlu menggencarkan intervensi di pasar
keuangan, seperti triple intervention serta mengoptimalkan beberapa instrument yang
sudah rilis,, antara lain penguatan pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE)
melalui implementasi term deposit (TD) DHE valas BI dan penerbitan Sertifikat
Rupiah BI (SRBI) serta Sekuritas Valas BI (BEI).
Pemerintah juga harus tegas ke eksportir sumber daya alam
yang belum menempatkan DHE di dalam negeri, yang bisa menambah pasokan valas
dan menjaga stabilisasi rupiah. Iklim investasi juga harus diperbaiki agar
pemodal asing tertarik menanam modal di Indonesia, sehingga bisa mengurangi
impor. (Yetede)
Menjaga Rupiah
Ketika The Federal Reserve (The Fed) menyatakan rencana
penurunan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada semester II-2024, banyak
yang memprediksi rupiah akan menguat. Kapital inflow diperkirakan mengalir
deras ke Indonesia. Selain itu hajatan politik yang berlangsung damai serta
fundamental politik yang kuat akan membantu penguatan rupiah terhadap dolar AS.
Namun dinamika isu moneter dalam sepekan justru membuat pelemahan rupiah.
Berdasar kurs Jisdor BI, kamis pecan lalu, rupiah melemah
0,12 % ke level Rp 15.873 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya. Sementara
sepanjang 2024, rupiah melemah 2,3 %. Nilai tukar rupiah terus turun terimbas
kondisi pasar keuangan global, terutama di AS, dimana perekonomian global
terutama AS membaik, berpeluang menurunkan suku bunga bank sentral AS (The
Fed).
Sebenarnya sejak 2023 pemerintah sejak 2023 sudah memiliki
jurus untuk menjaga rupiah tetap kokoh. Per 1 Desember 2023, pemerintah
mewajibkan penempatan devisa hasil ekspor (DHE) di Indonesia, namun
implementasi kebijakan ini masih belum optimal, apalagi neraca perdagangan
Indonesia belum membaik. Harapannya implementasi kebijakan DHE optimal sehingga
dana ratusan triliun rupiah di luar negeri bisa masuk Indonesia. Hal lain
adalah menggenjot investasi asing, dengan memberi karpet merah pada investor
asing. Semuanya harus dilakukan agar nilai tukar rupiah stabil dan terjaga. (Yetede)
Ketidakpastian The Fed dan Aksi Jual SBN Picu Pelemahan Rupiah
Sepanjang triwulan pertama 2024, rupiah terus mengalami tekanan
hingga terdepresiasi 2,6 %. Pelemahan diprediksi berlanjut pada awal April. Berdasarkan
data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah terhadap USD
pada penutupan perdagangan Kamis (28/3) sebesar Rp 15.873,00 per USD, melemah
ketimbang penutupan sehari sebelumnya di Rp 15.853 per USD. Sepanjang tiga
bulan pertama 2024, penurunan nilai atau depresiasi rupiah telah mencapai 2,6 %
dari Rp 15.473 pada awal tahun. Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim
Assuaibi dalam laporan analisisnya memperkirakan, rupiah masih akan
berfluktuasi di ruang pelemahan pada pekan depan atau awal April 2024.
”Untuk perdagangan Senin (1/4) depan, mata uang rupiah
fluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp 15.840-Rp 15.910,” katanya dalam
laporan yang dikutip Jumat (29/3). Tren pelemahan rupiah dipicu ketidak pastian
turunnya suku bunga bank sentral AS, The Fed, akibat inflasi yang belum sesuai
target. Pasar masih menanti sejumlah data ekonomi AS. Gubernur Bank Sentral AS
Jerome Powell dan anggota Federal Open Market Committee (FOMC), Mary Daly, juga
akan menyampaikan pidato terkait arah kebijakan The Fed. Ekonom senior Mirae
Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto, dalam pemaparannya dengan media, Rabu
(27/3), menjelaskan bahwa meski ada konsensus penurunan suku bunga AS pada
bulan Juli, frekuensi penurunan diperkirakan tak sesuai harapan, menjadi hanya
tiga kali dari perkiraan awal 6-7 kali tahun ini.
Situasi ini akan membuat BI sulit menurunkan suku bunga dalam
waktu dekat. Kejatuhan rupiah juga dipicu aksi jual surat berharga negara (SBN)
yang cukup masif oleh investor asing. Berdasarkan data settlement dari awal
tahun hingga 27 Maret 2024, investor asing melakukan jual neto sebesar Rp 33,31
triliun di pasar SBN. Kondisi ini membuat imbal hasil (yield) SBN 10 tahun naik
menjadi 6,73 %. Adapun premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 27
Maret 2024 sebesar 71,39 bps, naik ketimbang 22 Maret 2024 sebesar 70,90 bps. (Yoga)
Rupiah Kian Kuat, Biaya Dana Lebih Murah
Pasar Waspadai Gejolak Rupiah
Investor mengkhawatirkan nada hawkish pertemuan The Fed, Kamis (21/3). Mengutip Bloomberg, Rabu (20/3), kurs rupiah spot melemah 0,03% ke Rp 15.723 per dolar AS. Sementara di Jisdor Bank Indonesia (BI) kurs rupiah melemah 0,09% ke Rp 15.727 per dolar AS. Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengataka,, fokus pernyataan Gubernur Fed, Jerome Powell. The Fed berpotensi hawkish dan memangkas prospek penurunan bunga tahun ini. Dari Asia, pasar nilai tukar dipengaruhi langkah Bank of Japan (BoJ) menjauh dari suku bunga negatif. Sentimen internal, langkah Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 6%. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mencermati, sebagian besar mata uang Asia cenderung bergerak dalam rentang yang terbatas. Ia memproyeksi rupiah di Rp15.650–Rp 15.750 , Kamis (21/3). Sedangkan, Ibrahim memprediksi Rp15.710–Rp15.780.
Koreksi Rupiah Mengusik Ruang Fiskal Tahun Ini
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









