;
Tags

Rupiah

( 288 )

Faktor Pemicu Pelemahan Kurs Rupiah

KT1 17 Apr 2024 Tempo
POTENSI eskalasi konfik Iran-Israel hingga pelemahan nilai tukar rupiah dipastikan berdampak pada perekonomian Indonesia. Berdasarkan kurs Jisdor (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) kemarin, nilai tukar rupiah merosot dari level 15.873 pada 5 April ke level 16.176 per dolar AS. Kurs rupiah saat ini mendekati nilai  terendah pada 6 April 2020 yang sebesar 16.556 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan melemahnya kurs rupiah dipengaruhi oleh pergerakan inflasi Amerika Serikat dan kebijakan moneter ketat bank sentral negara itu alias The Fed. Sejak pengetatan moneter pertama pada Maret 2022, suku bunga The Fed sudah naik 11 kali dengan total kenaikan 525 basis point.

Josua mengimbuhkan, perang Iran-Israel diperkirakan semakin merontokkan rupiah. “Rupiah bakal terus terdepresiasi jika konflik Timur Tengah memanas dan berlanjut,” katanya kepada Tempo. Berikut ini data pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS, dinamika suku bunga The Fed dan Bank Indonesia, surplus neraca dagang Indonesia yang terus menipis, serta nilai cadangan devisa yang sebagian dipakai untuk menstabilkan rupiah. (Yetede)

Antisipasi Dampak Rupiah dan Minyak

KT3 15 Apr 2024 Kompas

Perekonomian dalam negeri kembali menghadapi tekanan akibat terus melemahnya nilai tukar rupiah, menembus Rp 16.000 per USD, dan naiknya harga minyak mentah. Pelemahan nilai tukar juga dialami mata uang banyak negara lain, hal ini terkait erat dengan kebijakan suku bunga ditingkat global. Langkah bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50 %, sejalan dengan kondisi ekonominya. Komite Pasar Terbuka Federal menyatakan pihaknya akan melakukan tiga kali penurunan bunga acuan tahun ini, masing-masing 25 basis poin dalam rangka menekan inflasi ke 2 %. Ketua The Fed tak menutup kemungkinan bunga acuan akan dipertahankan selama mungkin. Ketidakpastian kapan The Fed memangkas bunga acuan membuat tekanan pelemahan rupiah belum berakhir

Melemahnya rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan Dollar AS, untuk pembayaran dividen maupun impor BBM dan pangan, yang sifatnya musiman. Dibanding negara Asia lain, pelemahan rupiah relatif terkendali. Kurs rupiah saat ini juga dinilai sesuai nilai fundamentalnya. Cadangan devisa 140 miliar USD cukup solid, memadai untuk menutup 6,4 bulan impor. Namun, pelemahan rupiah yang menembus level psikologis baru bisa memicu sentimen negatif yang dapat kian menekan rupiah. Pelemahan rupiah membuat beban utang dalam dollar AS pun meningkat. Kurs rupiah juga memengaruhi inflasi dalam negeri melalui barang yang diimpor sehingga berdampak ke daya beli masyarakat, fiskal, dan perekonomian secara keseluruhan.

Karena itu, kalangan pengamat mengingatkan pentingnya mengantisipasi dampak ini. Apalagi, melemahnya rupiah terjadi berbarengan dengan terus naiknya harga minyak mentah dan masih tingginya harga pangan dunia. Ini pukulan ganda  bagi Indonesia sebagai importir neto minyak dan negara yangmasih sangat tergantung pada energi fosil dan pangan impor. Harga Brent dan WTI mendekati 100 dollar AS per barel, dan bukan tidak mungkin kembali menyentuh 120-130 dollar AS per barel jika eskalasi konflik di Timur Tengah sampai mengganggu jalur logistik penting minyak. Pemerintah menyatakan harga BBM tak akan naik sampai Juni 2024.

Jika kenaikan harga minyak mentah global berlanjut, bukan tidak mungkin Indonesia dipaksa melakukan penyesuaian harga BBM dalam negeri, dengan konsekuensi pembengkakan subsidi energi apabila harga BBM bersubsidi dipertahankan. Pemerintah kemungkinan harus menambah belanja sosial guna melindungi kelompok rentan dari imbas kenaikan harga dan menerapkan kebijakan pengendalian konsumsi BBM. Mengakhiri ketergantungan yang terlalu besar pada komponen, barang jadi, dan pangan impor, serta mempercepat transisi energi fosil ke energi baru terbarukan yang potensinya melimpah di dalam negeri akan memperkuat resiliensi Indonesia menghadapi tekanan serupa di masa mendatang (Yoga)

INIDIKATOR MONETER : PELEMAHAN RUPIAH KURAS CADANGAN DEVISA

HR1 06 Apr 2024 Bisnis Indonesia

Kebutuhan dolar Amerika Serikat yang tinggi dan intervensi Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah telah menguras US$3,6 miliar cadangan devisa bulan lalu. Cadangan devisa turun menjadi US$140,4 miliar pada Maret karena antisipasi kebutuhan likuiditas valas korporasi, pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, menurut data Bank Indonesia pada Jumat (5/4). Kebutuhan dolar AS cukup tinggi untuk membayar surat utang valas korporasi dan pemerintah yang jatuh tempo pada April senilai US$3,7 miliar dan meningkat lagi menjadi US$4,67 miliar pada Mei, menurut data Bahana Sekuritas. Belum lagi kebutuhan untuk repatriasi dividen ke luar negeri dan impor barang-barang konsumsi yang tinggi menjelang Lebaran. 

Penurunan cadangan devisa pada Maret paling drastis secara bulanan dalam tiga bulan terakhir dan terus menempatkan cadangan devisa di jalur penurunan yang berlangsung sejak Januari. Secara total, cadangan telah menyusut US$6 miliar pada kuartal I/2024 (Lihat infografis). Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro melihat cadangan devisa masih berisiko berkurang lagi pada kuartal II/2024 dengan penurunan yang tidak jauh berbeda dengan kuartal lalu, mengingat kebutuhan intervensi BI akan tetap tinggi. Depresiasi rupiah telah mendorong mata uang itu lebih lemah sekitar 11% dari mata uang negara berkembang lainnya yang juga melemah di tengah penguatan greenback. Depresiasi mata uang menuju level psikologis Rp16.000 per dolar AS memicu spekulasi bahwa kenaikan suku bunga mungkin akan kembali dibahas pada pertemuan Bank Indonesia pada 23-24 April mendatang. Mengutip Bloomberg, 

Ekonom Barclays Plc Brian Tan mengatakan ika nilai tukar rupiah tetap berada di sekitar level psikologis 16.000 dalam waktu dekat, BI mungkin mempertimbangkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,25% pada pertemuan bulan ini. Bank Indonesia berjanji bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi fokus kebijakan moneternya untuk menjaga inflasi tetap rendah. Bank sentral telah menstabilkan nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi di pasar spot, non-deliverable forward, dan obligasi domestik, sembari mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil pada 6% sejak November. BI juga menerbitkan surat berharga dengan imbal hasil tinggi untuk menarik lebih banyak arus masuk asing.

Menjaga Supply and Demand di Tengah Pelemahan Rupiah

KT1 04 Apr 2024 Investor Daily
Bank Indonesia (BI) secara konsisten menjaga stabilitas mata uang di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Ikhtiar tersebut dilakukan dengan menjaga keseimbangan valuta asing (Valas) di pasar keuangan domestik. Sementara itu, pemerintah terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah dan pengaruhnya ke kondisi perekonomian dalam negeri.  Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (3/4/2024) melemah di tengah  data PMI Manufaktur ISM Amerika Serikat yang meningkat. Data PMI Manufaktur ISM AS tersebut menunjukkan ekspansi pertama di sektor manufaktur setelah kontraksi selama 16 bulan. Kurs rupiah ditutup merosot 23 poin atau 0,14% menjadi Rp15.920 per dolar AS dari sebelumnya Rp 15.897 per dolar AS. (Yetede)

Meredam Gejolak Rupiah

KT1 01 Apr 2024 Investor Daily (H)

Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS, seiring masih tingginya ketidapastian global dan merosotnya surplus neraca perdagangan nasional. Pemerintah dan BI diminta segera bertindak untuk meredam gejolak rupiah. Berdasarkan kurs Jisdor BI, Kamis pekan lalu, rupiah melemah 0,12 % ke level Rp 15.873 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya. Sepanjang 2024, rupiah melemah 2,3 %.

Karena itu, untuk meredam gejolak rupiah, BI perlu menggencarkan intervensi di pasar keuangan, seperti triple intervention serta mengoptimalkan beberapa instrument yang sudah rilis,, antara lain penguatan pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) melalui implementasi term deposit (TD) DHE valas BI dan penerbitan Sertifikat Rupiah BI (SRBI) serta Sekuritas Valas BI (BEI).

Pemerintah juga harus tegas ke eksportir sumber daya alam yang belum menempatkan DHE di dalam negeri, yang bisa menambah pasokan valas dan menjaga stabilisasi rupiah. Iklim investasi juga harus diperbaiki agar pemodal asing tertarik menanam modal di Indonesia, sehingga bisa mengurangi impor. (Yetede)

Menjaga Rupiah

KT1 01 Apr 2024 Investor Daily

Ketika The Federal Reserve (The Fed) menyatakan rencana penurunan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada semester II-2024, banyak yang memprediksi rupiah akan menguat. Kapital inflow diperkirakan mengalir deras ke Indonesia. Selain itu hajatan politik yang berlangsung damai serta fundamental politik yang kuat akan membantu penguatan rupiah terhadap dolar AS. Namun dinamika isu moneter dalam sepekan justru membuat pelemahan rupiah.

Berdasar kurs Jisdor BI, kamis pecan lalu, rupiah melemah 0,12 % ke level Rp 15.873 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya. Sementara sepanjang 2024, rupiah melemah 2,3 %. Nilai tukar rupiah terus turun terimbas kondisi pasar keuangan global, terutama di AS, dimana perekonomian global terutama AS membaik, berpeluang menurunkan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Sebenarnya sejak 2023 pemerintah sejak 2023 sudah memiliki jurus untuk menjaga rupiah tetap kokoh. Per 1 Desember 2023, pemerintah mewajibkan penempatan devisa hasil ekspor (DHE) di Indonesia, namun implementasi kebijakan ini masih belum optimal, apalagi neraca perdagangan Indonesia belum membaik. Harapannya implementasi kebijakan DHE optimal sehingga dana ratusan triliun rupiah di luar negeri bisa masuk Indonesia. Hal lain adalah menggenjot investasi asing, dengan memberi karpet merah pada investor asing. Semuanya harus dilakukan agar nilai tukar rupiah stabil dan terjaga. (Yetede)

Ketidakpastian The Fed dan Aksi Jual SBN Picu Pelemahan Rupiah

KT3 30 Mar 2024 Kompas

Sepanjang triwulan pertama 2024, rupiah terus mengalami tekanan hingga terdepresiasi 2,6 %. Pelemahan diprediksi berlanjut pada awal April. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah terhadap USD pada penutupan perdagangan Kamis (28/3) sebesar Rp 15.873,00 per USD, melemah ketimbang penutupan sehari sebelumnya di Rp 15.853 per USD. Sepanjang tiga bulan pertama 2024, penurunan nilai atau depresiasi rupiah telah mencapai 2,6 % dari Rp 15.473 pada awal tahun. Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam laporan analisisnya memperkirakan, rupiah masih akan berfluktuasi di ruang pelemahan pada pekan depan atau awal April 2024.

”Untuk perdagangan Senin (1/4) depan, mata uang rupiah fluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp 15.840-Rp 15.910,” katanya dalam laporan yang dikutip Jumat (29/3). Tren pelemahan rupiah dipicu ketidak pastian turunnya suku bunga bank sentral AS, The Fed, akibat inflasi yang belum sesuai target. Pasar masih menanti sejumlah data ekonomi AS. Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell dan anggota Federal Open Market Committee (FOMC), Mary Daly, juga akan menyampaikan pidato terkait arah kebijakan The Fed. Ekonom senior Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto, dalam pemaparannya dengan media, Rabu (27/3), menjelaskan bahwa meski ada konsensus penurunan suku bunga AS pada bulan Juli, frekuensi penurunan diperkirakan tak sesuai harapan, menjadi hanya tiga kali dari perkiraan awal 6-7 kali tahun ini.

Situasi ini akan membuat BI sulit menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Kejatuhan rupiah juga dipicu aksi jual surat berharga negara (SBN) yang cukup masif oleh investor asing. Berdasarkan data settlement dari awal tahun hingga 27 Maret 2024, investor asing melakukan jual neto sebesar Rp 33,31 triliun di pasar SBN. Kondisi ini membuat imbal hasil (yield) SBN 10 tahun naik menjadi 6,73 %. Adapun premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 27 Maret 2024 sebesar 71,39 bps, naik ketimbang 22 Maret 2024 sebesar 70,90 bps. (Yoga)

Rupiah Kian Kuat, Biaya Dana Lebih Murah

KT1 25 Mar 2024 Investor Daily (H)
Penegasan kepastian soal tiga kali penurunan suku bunga acuan The Fed, Fed fund rate (FFR), pada tahun ini diyakini bakal berdampak positif ke perekonomian Indonesia. Dari sisi moneter, hal itu bisa membuat nilai tukar rupiah  makin kuat dan arus modal masuk (capital inflow) ke Tanah Air kian deras. Sedangkan dari sisi fiskal, biaya dana (cost of fund) untuk pembiayaan defisit APBN, bisa menjadi lebih murah. Bahkan, pada tahap berikutnya, penegasan The Fed tersebut  akan berdampak pada suku bunga di perbankan, baik simpanan maupun kredit. Meski demikian, transisi untuk sampai ke tahap itu membutuhkan waktu yang tidak singkat yaitu 3-4 bulan setelah Bank Indonesia (BI) merespon penurunan  FFR dengan memangkas BI rate. Sementara respons BI itu baru akan diberikan dalam 1-2 bulan kemudian. (Yetede)

Pasar Waspadai Gejolak Rupiah

HR1 21 Mar 2024 Kontan

Investor mengkhawatirkan nada hawkish pertemuan The Fed, Kamis (21/3). Mengutip Bloomberg, Rabu (20/3), kurs rupiah spot melemah 0,03% ke Rp 15.723 per dolar AS. Sementara di Jisdor Bank Indonesia (BI) kurs rupiah melemah 0,09% ke Rp 15.727 per dolar AS. Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengataka,, fokus pernyataan Gubernur Fed, Jerome Powell. The Fed berpotensi hawkish dan memangkas prospek penurunan bunga tahun ini. Dari Asia, pasar nilai tukar dipengaruhi langkah Bank of Japan (BoJ) menjauh dari suku bunga negatif. Sentimen internal, langkah Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 6%. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mencermati, sebagian besar mata uang Asia cenderung bergerak dalam rentang yang terbatas. Ia memproyeksi rupiah di Rp15.650–Rp 15.750 , Kamis (21/3). Sedangkan, Ibrahim memprediksi Rp15.710–Rp15.780.

Koreksi Rupiah Mengusik Ruang Fiskal Tahun Ini

HR1 07 Mar 2024 Kontan (H)
Posisi rupiah tersudut dan semakin mejauhi asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024. Jika pelemahan rupiah terus berlanjut, ruang fiskal pemerintah bakal semakin sempit, sekalipun defisit anggaran diperlebar. Pada Rabu (6/3), rupiah memang ditutup menguat 0,21% ke level Rp 15.723 per dolar AS. Namun angka itu sudah jauh di bawah target pemerintah di APBN 2024, yakni Rp 15.000 per dolar AS. 

Diukur dari sensitivitas APBN 2024 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro, setiap koreksi rupiah Rp 100 per dolar AS, maka ada tambahan pendapatan negara Rp 4 triliun, baik dari penerimaan perpajakan maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Hanya saja, pelemahan rupiah juga mengerek belanja negara Rp 10,2 triliun. Terutama yang berasal dari subsidi energi, pembayaran bunga utang pemerintah, hingga dana bagi hasil (DBH) migas. Padahal, anggaran subsidi energi tahun ini bakal melonjak dari target awal Rp 189,1 triliun lantaran pemerintah memastikan akan menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik hingga Juni 2024. Adapun alokasi pembayaran bunga utang tahun ini Rp 497,3 triliun, tertinggi lima tahun terakhir. 

Kendati begitu, Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Wahyu Utomo mengatakan, secara umum nilai tukar yang ditetapkan di APBN Rp 15.000 per dolar AS adalah rata-rata setahun. Adapun saat ini perkembangan nilai tukar belum merefleksikan nilai rata-rata setahun. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mewanti-wanti, jika koreksi rupiah terjadi bersamaan kenaikan harga minyak global, maka akan mengerek anggaran subsidi energi, baik untuk BBM subsidi maupun nonsubsidi.