Rupiah
( 288 )Penguatan Rupiah Berpotensi Berlanjut
Rupiah Bisa Melemah Hingga Tahun 2025
Rupiah berpotensi melemah hingga tahun depan. Pemerintah memasang asumsi rata-rata kurs rupiah di Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2025 di kisaran Rp 15.300-Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS), atau di bawah rata-rata nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 yang sebesar Rp 15.000 per dolar AS. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Abdurrahman membeberkan beberapa faktor penetapan asumsi nilai tukar rupiah tahun depan yang lebih optimistis di tengah fluktuasi pada saat ini. Pertama, bank sentral AS, The Fed diperkirakan mulai memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada paruh kedua tahun ini dan minimal dua kali pemangkasan pada tahun depan. Kedua, tensi politik dalam negeri melandai lantaran proses pemilihan umum (Pemilu) 2024 telah selesai, dan berlangsung aman. Ketiga, kinerja ekonomi nasional yang relatif kuat, ekspor diproyeksikan mulai membaik, penempatan devisa hasil ekspor (DHE) meningkat, dan juga inflasi yang relatif stabil.
Abdurrahman memastikan, penentuan asumsi dasar ekonomi makro 2025, termasuk nilai tukar rupiah, melalui rapat berbagai kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Bank Indonesia. Hanya, Kepala Ekonom Bank Sentral Asia (BCA) David Sumual menilai, asumsi kurs rupiah yang pemerintah patok dalam rentang Rp 15.300-Rp 16.000 terlalu optimistis. Asumsi ini kurang bersaing. "Dan agak overvalued dibandingkan dengan negara peers, atau negara emerging market dan juga mitra dagang utama," kata David kepada KONTAN kemarin. Sementara Staf Bidang Ekonomi, Industri, dan Global Markets dari Bank Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menyebutkan, asumsi nilai tukar dalam rentang Rp 15.300 hingga Rp 16.000 per dolar AS masih realistis. Ia memperkirakan, tahun depan, posisi cadangan devisa akan kembali meningkat sehingga nilai tukar bisa menguat.
Masih Potensi Fluktuatif
Menaikkan Bunga Saja Tak Cukup Mengobati Rupiah
Langkah Bank Indonesia (BI) mengerek bunga acuan ke level 6,25% belum sepenuhnya manjur menahan pelemahan rupiah. Meski mulai menguat, nilai tukar rupiah masih berada di atas Rp 16.000 per dolar AS. Angka ini jauh melampaui asumsi pemerintah di anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2024 yang senilai Rp 15.000. Tekanan terhadap rupiah diprediksikan masih terus terjadi, terutama berasal dari faktor eksternal. Pasar global masih gonjang ganjing, demikian pula dengan tensi geopolitik di Timur Tengah yang tak kunjung mereda. BI terus mengupayakan agar rupiah bisa kembali menguat di bawah Rp 16.000. Gubernur BI Perry Warjiyo bilang, saat ini pergerakan rupiah cenderung lebih moderat seiring mulai masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, baik ke pasar surat berharga negara (SBN) maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai, tekanan terhadap rupiah berasal dari eksternal. Artinya, sentimen investor global terhadap emerging market di tengah ketidakpastian arah kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) memicu arus modal keluar dari berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. "Inilah yang membuat nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia juga relatif volatil beberapa waktu belakangan," kata dia, Rabu (8/5).
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, untuk meredam gejolak rupiah dibutuhkan pula peran institusi selain BI. "Pemerintah, misalnya mendorong sterilisasi produk ekspor yang punya nilai tambah tinggi," dia. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto bilang, untuk rupiah menuju ke Rp 15.000 sesuai asumsi makro masih berat, mengingat ketidakpastian geopolitik masih tinggi. "Di sisi lain tren bunga acuan The Fed sepertinya tidak segera diturunkan," kata dia.
Ancaman Penurunan Daya Beli dari BI Rate
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi tahunan pada April 2024 mencapai 3%. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Maret 2024, sebesar 3,05% (YoY). Penurunan inflasi tahunan tersebut terkonfirmasi dengan angka bulanan. Sepanjang April 2024 inflasi yang dicatatkan BPS hanya 0,25% (month-to-moth/MtM). Meski pada Maret 2024 mencatatkan deflasi 0,97%, inflasi pada bulan lalu tergolong melandai. Bahkan, BPS mencatat bahwa inflasi pada April 2024 yang bertepatan dengan hari raya Idulfitri 1445 H, terendah dalam 3 tahun terakhir. Tercatat, inflasi saat Lebaran pada April 2023 sebesar 0,33% (MtM), Mei 2022 sebesar 0,40%, serta Mei 2023 0,32%. Tren inflasi yang makin melandai ini terjadi akibat komponen harga bergejolak, sehingga masyarakat cenderung menahan daya beli.
Beberapa harga bahan pangan justru mencatatkan deflasi karena koreksi daya beli tersebut. Sementara itu, komponen yang memberikan andil inflasi besar pada masa mudik ini adalah transportasi, yakni 0,12%. Bahkan, BPS mencatat transportasi merupakan kelompok yang memberikan andil inflasi terbesar pada momen Lebaran dalam 5 tahun terakhir. Beberapa hari lalu, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps ke posisi 6,25%. Alasan bank sentral menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Namun, tujuan utama kenaikan BI Rate itu untuk meredam inflasi dari ketidakstabilan nilai tukar. Bank sentral sebelumnya pada 19 Oktober 2023 telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 6% setelah hampir 10 bulan bertahan di level 5,75%. BI secara persisten mengerek suku bunga acuan sejak 23 Agustus 2022 menjadi 3,75% setelah hampir 2 tahun bertahan di 3,50%.
Terakhir The Fed mengerek bunga acuan pada Juli 2023. Terparah suku bunga dikerek sebesar 3,0% dalam tempo 6 bulan. Agresivitas bank sentral AS mengerek suku bunga itu membuat geger seluruh dunia. Dolar AS kembali ke negara Paman Sam. Akibatnya terjadi gejolak nilai tukar sangat dalam. Pun dengan Indonesia. Pasca-Lebaran, nilai tukar rupiah sempat terjerembab ke level Rp16.200, terendah dalam 4 tahun terakhir.Pelemahan nilai tukar disebabkan oleh bayang-bayang kebijakan The Fed yang disertai dengan perang Iran-Israel. Situasi politik dan kebijakan bank sentral AS saat ini dalam situasi dinamis.
Buktinya, pascakenaikan suku bunga acuan, nilai tukar rupiah masih berkutat di level Rp16.100—Rp16.200 per dolar AS. Pemodal asing tidak tergiur dengan iming-iming imbal hasil yang ditawarkan BI.
Tekanan pada Perekonomian
Tekanan dari luar pada perekonomian Indonesia menguat belakangan ini. Relatif tingginya inflasi di AS membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama lagi. Akibatnya, dana kembali ke AS dan USD mengalami penguatan cukup tinggi, sehingga, mata uang lain, termasuk rupiah, mengalami tekanan dan melemah secara berarti. Aliran modal keluar cukup besar dari pasar modal dan obligasi Indonesia. Indeks pasar modal tertekan dan imbal hasil (yield) obligasi naik lagi di atas 7 %, peningkatan yang cukup tinggi. Nilai rupiah melewati Rp 16.000 per USD dan kemungkinan akan tetap tertekan untuk waktu yang cukup lama, sampai inflasi di AS menurun dan The Fed menurunkan suku bunga lagi di pertengahan tahun ini atau bisa lebih lama lagi.
BI sebagai penjaga stabilitas mata uang melakukan intervensi di pasar spot dan non-deliverable (tanpa penyerahan). Namun, kemampuan intervensi ini terbatas. BI harus menaikkan suku bunga acuan karena rupiah terus terdepresiasi mendekati level Rp 16.500 per USD. Tekanan juga bertambah dengan ketegangan Israel-Iran. Harga minyak mentah meningkat. Akibatnya, subsidi kemungkinan juga harus disesuaikan. Pelemahan rupiah menaikkan biaya produksi karena kandungan impor yang tinggi. Suku bunga kredit yang tadinya diharapkan mulai menurun tetap bertahan dan bagi debitor ini memperlama permasalahan biaya tinggi.
Sejauh ini, pertumbuhan kredit masih cukup tinggi, 1 %, dan sektor manufaktur masih ekspansi. Namun, jika pelemahan rupiah berlangsung lama atau permanen, pengaruh negatif pada perekonomian juga semakin tinggi. Dengan perekonomian yang terbuka, perekonomian Indonesia sensitif terhadap perubahan di tingkat dunia. Permasalahan pelemahan nilai rupiah justru mengancam stabilitas perekonomian. Dengan tingkat inflasi 3 %, sebenarnya BI tidak harus menunggu The Fed menurunkan suku bunga kebijakan. Namun, risikonya terlalu tinggi karena penurunan suku bunga akan kian melemahkan rupiah. (Yoga)
Menjinakkan Gejolak Nilai Tukar Rupiah
Rapat Dewan Gubernur BI April 2024 menaikkan bunga acuan BI
Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25 %. Pertama kalinya sejak BI Rate dipertahankan
pada level 6 % selama enam bulan berturut-turut sejak Oktober 2023. Dinamika
global mendorong keputusan BI menaikkan BI Rate dan ini masih konsisten dengan
stance kebijakan moneter pro-stability. Tak dapat dimungkiri, dunia masih
bertaut pada hegemoni USD sebagai mata uang global (reserve currency). Inflasi AS
pada tiga bulan pertama 2024 justru lebih tinggi dari prakiraan dengan tren
peningkatan ke level 3,5 % pada Maret 2024. Ditambah lagi, performa ekonomi AS
tetap resilien. Alhasil, USD tetap kuat akibat imbal hasil (yield) yang menarik
dari suku bunga tinggi di AS. Dampak penguatan USD dirasakan banyak negara di kawasan
Asia.
Kenaikan BI Rate kali ini terbaca lebih mengantisipasi
stabilitas nilai tukar di tengah risiko global yang meningkat. Bunga acuan
merupakan instrumen penting kebijakan moneter dalam meredam gejolak nilai
tukar. Pasar keuangan secara natural memiliki kecenderungan mengarahkan modal
menuju imbal hasil yang lebih tinggi (flight to quality). Bank sentral
menaikkan bunga acuan guna menjaga daya tarik imbal hasil dan aliran masuk
portofolio asing ke aset keuangan domestik. Efek bunga acuan di pasar harus
didukung dengan jalur transmisi yang efektif. BI tetap berada di pasar melalui
intervensi pasar valas dan surat berharga negara dipasar sekunder.
BI terus mendorong pendalaman pasar uang yang berorientasi pada
mekanisme pasar (pro-market) guna mendukung efektivitas kebijakan moneter. Instrumen
sekuritas valas BI dan sukuk valas BI memungkinkan pelaku pasar bertransaksi
dengan BI untuk mengelola risiko valas. Inovasi ini juga dapat menarik arus modal
masuk (inflows) yang makin besar karena instrument valas itu bisa
diperdagangkan di pasar sekunder dan boleh dimiliki oleh investor asing. Selain
itu, transaksi dengan menggunakan mata uang lokal (local currency transactions)
yang diinisiasi BI saat ini makin luas terjalin dengan tujuh negara mitra, bermanfaat
mengurangi dependensi ekonomi domestik terhadap penggunaan USD dalam transaksi
antarnegara.
Diperlukan dobrakan inovatif pelaku pasar serta sinergi bersama
otoritas guna membentuk disiplin pasar (market discipline) yang resilien dalam mendukung
perkembangan pasar derivatif. Respons tepat BI Seiring meningkatnya yield di AS
dan premi risiko global, kenaikan BI Rate kali ini dapat dipandang sebagai
langkah tepat dalam upaya menjaga stabilitas nilaitukar rupiah dari tekanan
global. Indonesia telah memiliki kerangka kebijakan moneter yang kokoh dan
resilien serta transparan dan jelas. Fakta ini pun memberikan dorongan positif
bahwa salah satu prasyarat perkembangan pasar keuangan domestik telah terpenuhi.
Tugas selanjutnya menggarap struktur pasar yang efisien dan merangsang permintaan
sehingga pada akhirnya pasar keuangan bisa mendukung penguatan transmisi
kebijakan (Yoga)
DEPRESIASI RUPIAH : PRUDENT KELOLA UTANG
Aksi kehati-hatian alias prudent dalam mengelola portofolio utang pemerintah harus menjadi prioritas yang tak bisa ditawar di tengah depresiasi rupiah yang terus berlanjut. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengungkapkan pihaknya terus mengelola portofolio utang dengan baik di tengah pergerakan suku bunga dan nilai tukar yang sangat dinamis. Suminto menjelaskan pembayaran bunga utang pemerintah tetap terjaga meskipun rupiah masih melemah di kisaran Rp16.200 per dolar Amerika Serikat (AS). “Keseluruhan portofolio utang kita sebanyak 72% dalam local currency [rupiah], sehingga dampak dari pergerakan kurs dapat dikelola,” ungkapnya dalam konferensi pers APBN Kita edisi April, Jumat (26/4). Adapun, posisi utang pemerintah tercatat berada di angka Rp8.319,2 triliun hingga 29 Februari 2024. Jumlah ini naik dari posisi akhir Januari, yang senilai Rp8.253,09 triliun atau bertambah Rp66,13 triliun dalam kurun waktu satu bulan. Dari sisi pergerakan suku bunga acuan, keseluruhan portofolio utang pemerintah di luar SKB dengan Bank Indonesia (BI), yang menggunakan floating rate hanya Rp9,7 triliun.
Sementara dari sisi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Suminto mengaku terus adaptif dan menjaga pergerakan agar tidak menyebabkan masalah terkait penerbitan surat utang. Menurutnya, Kementerian Keuangan terus memastikan agar langkah yang diambil tidak menyebabkan penerbitan utang melebihi daya serap pasar yang ada. Apalagi, sepanjang kuartal I/2024, ia mencatat bahwa terjadi outflow di pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp48,21 triliun.
Selain itu, Suminto juga menyampaikan bahwa pada 25 April 2024, terdapat pembelian SBN dengan nilai Rp2,52 triliun, sedangkan pada 24 April terjadi beli SBN senilai Rp1,41 triliun. Pada 23 April, tercatat inflow ke pasar SBN senilai Rp950 miliar, dan hari sebelumnya inflow senilai Rp110 miliar. “Inflow yang sudah mulai masuk kami harapkan akan menstabilkan pasar SBN kita. Pada saat bersamaan pasar yang lebih suportif diharapkan dapat menurunkan level yield.”
Pada perkembangan lain, sejumlah mata uang di negara-negara Asia mengalami pelemahan di kala laporan produk domestik bruto (PDB) AS yang melambat dan inflasi yang melonjak. Data Bloomberg pada Jumat (26/4) pukul 15.10 WIB, terpantau beberapa mata uang Asia telah mengalami pelemahan terhadap mata uang dolar. Mata uang rupiah mengakhiri perdagangan dengan turun 0,14% atau 22 poin ke level Rp16.210 per dolar AS. Yen Jepang juga melemah 0,25% dan berada di level 156,04. Di Negeri Tirai Bambu, mata uang yuan melesu 0,08% di level 7,2455. Mata uang Korea Selatan, won melemah 0,06% dan berada di level 1.375,13. Dolar Hong Kong juga terpantau melemah tipis sebesar 0,01% dan berada di level 7,8288. Tak ketinggalan, dolar Singapura juga melemah 0,02% di level 1,3593 terhadap dolar.
Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa produk domestik bruto Paman Sam tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,6% pada kuartal I/2024, lebih lambat dari tingkat pertumbuhan 2,4% yang diperkirakan oleh para ekonom.
Dilansir Bloomberg, belanja pribadi di Negeri Paman Sam juga meningkat lebih lambat dari perkiraan sebesar 2,5%. Bahkan, Laporan Biro Analisis Ekonomi AS pada Kamis (25/4) juga menuturkan ukuran inflasi yang diawasi ketat dari inflasi yang mendasari meningkat 3,7%, lebih besar dari perkiraan. Angka-angka tersebut dipandang mencerminkan momentum yang menghilang di awal tahun ini. “Jika pertumbuhan terus melambat secara perlahan, namun inflasi kembali melonjak ke arah yang salah, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada 2024 mulai terlihat makin di luar jangkauan,” jelas Kepala penelitian ekonomi AS di Fitch Ratings Olu Sonola, dilansir Bloomberg, Jumat (26/4).
Pelemahan Rupiah Lebih Baik Dibandingkan Negara Lain
Pelemahan atau depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain, terutama di kawasan Asia Tenggara. Adapun nilai tuker rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (26/4/2024), ditutup turun ditengah rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2024 Amerika Serikat (AS), yang lebih rendah dari ekspektasi. Pada akhir perdagangan Jumat, kurs rupiah merosot 22 poin atau 0,14% menjadi Rp16.210 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.188 per dolar AS. "Indonesia dalam hal ini nilai tukarnya year to date 5,3% depresiasinya, negara-negara sekitar kita dan emerging G20 kira-kira dalam situasi yang mirip, ada yang lebih parah, tentu tergantung dari pondasi dan kondisi ekonomi masing-masing," kata Menteri keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. Sri Mulyani memaparkan dalam kurun waktu yang sama, nilai tukar bath Thailand tercatat terkoreksi 8,56%, won Korea melemah 6,31%, Lira Turki juga mengalami pelemahan 10,4%. "Untuk Brasil dekat dengan kita di 5,06% terus, kita lihat Vietnam 4,7% Afrika Selatan 4,7% dan Filipina 3,9%," imbuh dia. (Yetede)
Resep Suku Bunga untuk Rupiah
Pilihan Editor
-
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









