Menjinakkan Gejolak Nilai Tukar Rupiah
Rapat Dewan Gubernur BI April 2024 menaikkan bunga acuan BI
Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25 %. Pertama kalinya sejak BI Rate dipertahankan
pada level 6 % selama enam bulan berturut-turut sejak Oktober 2023. Dinamika
global mendorong keputusan BI menaikkan BI Rate dan ini masih konsisten dengan
stance kebijakan moneter pro-stability. Tak dapat dimungkiri, dunia masih
bertaut pada hegemoni USD sebagai mata uang global (reserve currency). Inflasi AS
pada tiga bulan pertama 2024 justru lebih tinggi dari prakiraan dengan tren
peningkatan ke level 3,5 % pada Maret 2024. Ditambah lagi, performa ekonomi AS
tetap resilien. Alhasil, USD tetap kuat akibat imbal hasil (yield) yang menarik
dari suku bunga tinggi di AS. Dampak penguatan USD dirasakan banyak negara di kawasan
Asia.
Kenaikan BI Rate kali ini terbaca lebih mengantisipasi
stabilitas nilai tukar di tengah risiko global yang meningkat. Bunga acuan
merupakan instrumen penting kebijakan moneter dalam meredam gejolak nilai
tukar. Pasar keuangan secara natural memiliki kecenderungan mengarahkan modal
menuju imbal hasil yang lebih tinggi (flight to quality). Bank sentral
menaikkan bunga acuan guna menjaga daya tarik imbal hasil dan aliran masuk
portofolio asing ke aset keuangan domestik. Efek bunga acuan di pasar harus
didukung dengan jalur transmisi yang efektif. BI tetap berada di pasar melalui
intervensi pasar valas dan surat berharga negara dipasar sekunder.
BI terus mendorong pendalaman pasar uang yang berorientasi pada
mekanisme pasar (pro-market) guna mendukung efektivitas kebijakan moneter. Instrumen
sekuritas valas BI dan sukuk valas BI memungkinkan pelaku pasar bertransaksi
dengan BI untuk mengelola risiko valas. Inovasi ini juga dapat menarik arus modal
masuk (inflows) yang makin besar karena instrument valas itu bisa
diperdagangkan di pasar sekunder dan boleh dimiliki oleh investor asing. Selain
itu, transaksi dengan menggunakan mata uang lokal (local currency transactions)
yang diinisiasi BI saat ini makin luas terjalin dengan tujuh negara mitra, bermanfaat
mengurangi dependensi ekonomi domestik terhadap penggunaan USD dalam transaksi
antarnegara.
Diperlukan dobrakan inovatif pelaku pasar serta sinergi bersama
otoritas guna membentuk disiplin pasar (market discipline) yang resilien dalam mendukung
perkembangan pasar derivatif. Respons tepat BI Seiring meningkatnya yield di AS
dan premi risiko global, kenaikan BI Rate kali ini dapat dipandang sebagai
langkah tepat dalam upaya menjaga stabilitas nilaitukar rupiah dari tekanan
global. Indonesia telah memiliki kerangka kebijakan moneter yang kokoh dan
resilien serta transparan dan jelas. Fakta ini pun memberikan dorongan positif
bahwa salah satu prasyarat perkembangan pasar keuangan domestik telah terpenuhi.
Tugas selanjutnya menggarap struktur pasar yang efisien dan merangsang permintaan
sehingga pada akhirnya pasar keuangan bisa mendukung penguatan transmisi
kebijakan (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023