Ancaman Penurunan Daya Beli dari BI Rate
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi tahunan pada April 2024 mencapai 3%. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Maret 2024, sebesar 3,05% (YoY). Penurunan inflasi tahunan tersebut terkonfirmasi dengan angka bulanan. Sepanjang April 2024 inflasi yang dicatatkan BPS hanya 0,25% (month-to-moth/MtM). Meski pada Maret 2024 mencatatkan deflasi 0,97%, inflasi pada bulan lalu tergolong melandai. Bahkan, BPS mencatat bahwa inflasi pada April 2024 yang bertepatan dengan hari raya Idulfitri 1445 H, terendah dalam 3 tahun terakhir. Tercatat, inflasi saat Lebaran pada April 2023 sebesar 0,33% (MtM), Mei 2022 sebesar 0,40%, serta Mei 2023 0,32%. Tren inflasi yang makin melandai ini terjadi akibat komponen harga bergejolak, sehingga masyarakat cenderung menahan daya beli.
Beberapa harga bahan pangan justru mencatatkan deflasi karena koreksi daya beli tersebut. Sementara itu, komponen yang memberikan andil inflasi besar pada masa mudik ini adalah transportasi, yakni 0,12%. Bahkan, BPS mencatat transportasi merupakan kelompok yang memberikan andil inflasi terbesar pada momen Lebaran dalam 5 tahun terakhir. Beberapa hari lalu, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps ke posisi 6,25%. Alasan bank sentral menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Namun, tujuan utama kenaikan BI Rate itu untuk meredam inflasi dari ketidakstabilan nilai tukar. Bank sentral sebelumnya pada 19 Oktober 2023 telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 6% setelah hampir 10 bulan bertahan di level 5,75%. BI secara persisten mengerek suku bunga acuan sejak 23 Agustus 2022 menjadi 3,75% setelah hampir 2 tahun bertahan di 3,50%.
Terakhir The Fed mengerek bunga acuan pada Juli 2023. Terparah suku bunga dikerek sebesar 3,0% dalam tempo 6 bulan. Agresivitas bank sentral AS mengerek suku bunga itu membuat geger seluruh dunia. Dolar AS kembali ke negara Paman Sam. Akibatnya terjadi gejolak nilai tukar sangat dalam. Pun dengan Indonesia. Pasca-Lebaran, nilai tukar rupiah sempat terjerembab ke level Rp16.200, terendah dalam 4 tahun terakhir.Pelemahan nilai tukar disebabkan oleh bayang-bayang kebijakan The Fed yang disertai dengan perang Iran-Israel. Situasi politik dan kebijakan bank sentral AS saat ini dalam situasi dinamis.
Buktinya, pascakenaikan suku bunga acuan, nilai tukar rupiah masih berkutat di level Rp16.100—Rp16.200 per dolar AS. Pemodal asing tidak tergiur dengan iming-iming imbal hasil yang ditawarkan BI.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023