DEPRESIASI RUPIAH : PRUDENT KELOLA UTANG
Aksi kehati-hatian alias prudent dalam mengelola portofolio utang pemerintah harus menjadi prioritas yang tak bisa ditawar di tengah depresiasi rupiah yang terus berlanjut. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengungkapkan pihaknya terus mengelola portofolio utang dengan baik di tengah pergerakan suku bunga dan nilai tukar yang sangat dinamis. Suminto menjelaskan pembayaran bunga utang pemerintah tetap terjaga meskipun rupiah masih melemah di kisaran Rp16.200 per dolar Amerika Serikat (AS). “Keseluruhan portofolio utang kita sebanyak 72% dalam local currency [rupiah], sehingga dampak dari pergerakan kurs dapat dikelola,” ungkapnya dalam konferensi pers APBN Kita edisi April, Jumat (26/4). Adapun, posisi utang pemerintah tercatat berada di angka Rp8.319,2 triliun hingga 29 Februari 2024. Jumlah ini naik dari posisi akhir Januari, yang senilai Rp8.253,09 triliun atau bertambah Rp66,13 triliun dalam kurun waktu satu bulan. Dari sisi pergerakan suku bunga acuan, keseluruhan portofolio utang pemerintah di luar SKB dengan Bank Indonesia (BI), yang menggunakan floating rate hanya Rp9,7 triliun.
Sementara dari sisi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Suminto mengaku terus adaptif dan menjaga pergerakan agar tidak menyebabkan masalah terkait penerbitan surat utang. Menurutnya, Kementerian Keuangan terus memastikan agar langkah yang diambil tidak menyebabkan penerbitan utang melebihi daya serap pasar yang ada. Apalagi, sepanjang kuartal I/2024, ia mencatat bahwa terjadi outflow di pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp48,21 triliun.
Selain itu, Suminto juga menyampaikan bahwa pada 25 April 2024, terdapat pembelian SBN dengan nilai Rp2,52 triliun, sedangkan pada 24 April terjadi beli SBN senilai Rp1,41 triliun. Pada 23 April, tercatat inflow ke pasar SBN senilai Rp950 miliar, dan hari sebelumnya inflow senilai Rp110 miliar. “Inflow yang sudah mulai masuk kami harapkan akan menstabilkan pasar SBN kita. Pada saat bersamaan pasar yang lebih suportif diharapkan dapat menurunkan level yield.”
Pada perkembangan lain, sejumlah mata uang di negara-negara Asia mengalami pelemahan di kala laporan produk domestik bruto (PDB) AS yang melambat dan inflasi yang melonjak. Data Bloomberg pada Jumat (26/4) pukul 15.10 WIB, terpantau beberapa mata uang Asia telah mengalami pelemahan terhadap mata uang dolar. Mata uang rupiah mengakhiri perdagangan dengan turun 0,14% atau 22 poin ke level Rp16.210 per dolar AS. Yen Jepang juga melemah 0,25% dan berada di level 156,04. Di Negeri Tirai Bambu, mata uang yuan melesu 0,08% di level 7,2455. Mata uang Korea Selatan, won melemah 0,06% dan berada di level 1.375,13. Dolar Hong Kong juga terpantau melemah tipis sebesar 0,01% dan berada di level 7,8288. Tak ketinggalan, dolar Singapura juga melemah 0,02% di level 1,3593 terhadap dolar.
Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa produk domestik bruto Paman Sam tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,6% pada kuartal I/2024, lebih lambat dari tingkat pertumbuhan 2,4% yang diperkirakan oleh para ekonom.
Dilansir Bloomberg, belanja pribadi di Negeri Paman Sam juga meningkat lebih lambat dari perkiraan sebesar 2,5%. Bahkan, Laporan Biro Analisis Ekonomi AS pada Kamis (25/4) juga menuturkan ukuran inflasi yang diawasi ketat dari inflasi yang mendasari meningkat 3,7%, lebih besar dari perkiraan. Angka-angka tersebut dipandang mencerminkan momentum yang menghilang di awal tahun ini. “Jika pertumbuhan terus melambat secara perlahan, namun inflasi kembali melonjak ke arah yang salah, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada 2024 mulai terlihat makin di luar jangkauan,” jelas Kepala penelitian ekonomi AS di Fitch Ratings Olu Sonola, dilansir Bloomberg, Jumat (26/4).
Tags :
#RupiahPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023