Rupiah
( 288 )Rupiah Diperkirakan Menguat: Faktor Pendorong yang Muncul
Nilai tukar rupiah menguat pada Rabu (11/9). Rupiah
spot
naik 0,34% ke Rp 15.402 per dolar Amerika Serikat (AS) dan di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) naik 0,20% ke Rp 15.415 per dolar AS.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong mengatakan, secara umum dolar AS cenderung melemah dari mayoritas mata uang. "Dolar terkoreksi setelah debat capres Trump dan Harris," ujarnya, Rabu (11/9).
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menyebutkan, pasar mengekspektasikan inflasi bulanan AS, tetap di 0,2%. Sementara inflasi tahunan diproyeksikan akan turun ke 2,6% dari 2,9%. Sedangkan laju inflasi inti tahunan tetap sebesar 3,2%.
Baik Josua dan Lukman sepakat rupiah hari ini diproyeksikan akan bergerak di kisaran Rp 15.350 hingga Rp 15.450 per dolar AS.
Penguatan Rupiah, Emiten Farmasi Lihat Peluang
Pemerintah dan parlemen belum lama ini menyepakati asumsi dasar ekonomi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2025.Nilai tukar rupiah dipatok di level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini lebih rendah daripada usulan pemerintah sebelumnya Rp 16.100 per dolar AS.
Penetapan asumsi kurs rupiah tersebut diproyeksi bakal menjadi angin segar bagi emiten farmasi. Maklum, emiten di sektor ini memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.
Direktur PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), Kartika Setiabudy mengatakan, kurs rupiah berpengaruh ke harga pokok penjualan perusahaan. Sebab, impor bahan baku obat belum tersedia secara lokal. Dalam kondisi kurs rupiah yang melemah terhadap dolar AS, perusahaan berupaya mengelola tingkat margin dengan strategi bauran produk dan pengelolaan harga.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo melihat, pengaruh dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tergantung pada strategi perusahaan untuk menjaga performanya. Misal, perusahaan bisa saja melakukan hedging. Jadi, pelemahan rupiah tidak berdampak pada naiknya biaya.
Mengamankan Rupiah dengan Uang Lokal
Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mengharapkan penggunaan mata yang lokal atau local currency transaction (LCT) antar negara terus meningkat demi melepas ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Targetnya, rasio penggunaan LCT sebesar 10% pada 2024 dan 2025. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator (Kemko) Perekonomian Ferry Irawan menyampaikan, rasio transaksi LCT sejak penandatanganan nota kesepahaman (NK) antara pemerintah dan BI pada 5 September 2023 telah meningkat signifikan. Hingga semester I-2024, rasio transaksi LCT mencapai 7,89% dari total transaksi perdagangan dengan empat negara mitra utama. "Ke depannya, pemerintah berharap untuk terus memperluas implementasi LCT, baik dengan negara mitra yang sudah berjalan seperti Thailand, Malaysia, Jepang dan Tiongkok, maupun dengan empat mitra baru seperti Singapura, Korea Selatan, India dan Uni Emirat Arab," tutur Ferry kepada KONTAN, Jumat (30/8). Pada Jumat pekan lalu, pemerintah melalui sembilan kementerian dan lembaga (K/L) dan BI juga telah meneken perjanjian kerja sama dan koordinasi terkait pelaksanaan tugas dan fungsi Satgas Nasional Transaksi Mata Uang Lokal.
Penandatanganan itu merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (NK) awal September 2023. Adapun sembilan K/L tersebut antara lain Kemko Perekonomian, Kemko Marves, Kementerian Keuangan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Luar Negeri, Kementerian BUMN, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Analis Senior Departemen Internasional BI Veny Tamarind menyampaikan, langkah pertama yang akan dilakukan Satgas untuk memperkuat mata uang lokal dalam transaksi ekonomi dan keuangan dengan negara mitra adalah menyusun rencana strategis (Strategic Business Plan/SBP), program kerja dan
quick wins
yang akan dimulai dari masing-masing komite kerja.
Chief Economist
Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menilai, target rasio 10% bisa mengurangi volatilitas rupiah, juga menahan pelemahan tajam rupiah. Dia menyebut, sebenarnya ide adanya penggunaan mata uang lokal bukan untuk mengurangi ketergantungan rupiah terhadap dolar AS.
Staf Bidang Ekonomi, Industri, dan
Global Markets
Maybank Indonesia Myrdal Gunarto bilang, target penggunaan mata uang lokal sebesar 10% belum berdampak signifikan terhadap rupiah.
Batas Kenaikan Mulai Terlihat
Rupiah berbalik menguat terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (28/8). Berdasarkan data
Bloomberg,
rupiah
spot
menguat 0,47% secara harian ke Rp 15.422 per dolar AS. Rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) juga naik 0,21% ke Rp 15.476 per dolar AS.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, dolar AS masih tertekan sejak Juli. Ini masih terkait dengan data-data ekonomi AS yang cenderung melemah, sehingga memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga. Sutopo menjelaskan, indeks dolar diperdagangkan di sekitar 100,6 Rabu (28/8), mendekati level terendah sejak Juli 2023.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksi, rupiah akan bergerak datar pada Kamis (29/8). Mengingat investor masih menunggu data PDB dan
price consumption expenditure
(PCE) AS pada Jumat ini.
Perubahan pada Asumsi Rupiah dan Bunga SBN
Pemerintah, Bank Indonesia (BI) dan Komisi XI DPR menyepakati asumsi rerata nilai tukar rupiah sebesar Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dan tingkat bunga surat berharga negara (SBN) 10 tahun sebesar 7% pada tahun depan. Angka ini berbeda dari target yang dipatok dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025. Di RAPBN 2025, pemerintah menargetkan rerata kurs rupiah sebesar Rp 16.100 per dolar AS, melemah dibandingkan outlook 2024 yang sebesar Rp 16.000 per dolar AS. Sementara tingkat bunga SBN 10 tahun ditargetkan 7,1%, lebih tinggi dari outlook tahun ini yang sebesar 6,9%. Anggota Komisi XI DPR Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Andreas Eddy Susetyo menilai, asumsi rerata rupiah Rp 16.100 per dolar AS di RAPBN 2025 jauh dari estimasi Bank Indonesia (BI). Bank sentral melihat rupiah bergerak di rentang lebih kuat, yakni Rp 15.300 hingga Rp 15.700 per dolar AS pada tahun depan. Pemerintah memang bakal membayar utang jatuh tempo jumbo pada tahun depan, yakni mencapai Rp 800,33 triliun.
Dari jumlah itu, Rp 705,5 triliun adalah SBN jatuh tempo.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, rupiah yang dipatok Rp 16.100 dan tingkat bunga SBN 7,1% pada tahun depan adalah bentuk kehati-hatian pemerintah yang akan berefek pada postur penerimaan, belanja, hingga pembiayaan.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, rerata rupiah yang disepakati masih logis. Namun, ia melihat bunga SBN 10 tahun di 2025 berpotensi meleset dari target yang disepakati.
Rupiah Masih dalam Tekanan
Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Selasa (27/8). Rupiah
spot
turun 0,37% ke Rp 15.459 per dolar Amerika Serikat (AS) dan kurs rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) turun 0,83% ke Rp 15.509 per dolar AS.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong mengatakan, dolar AS
rebound
karena kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkat. "Dolar AS juga didukung data barang tahan lama yang lebih tinggi dari perkiraan," ujarnya, Selasa (27/8).
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede berpandangan rupiah akan melanjutkan pelemahan hari ini. Ketegangan geopolitik mengkhawatirkan investor, terutama akibat ancaman pemberhentian produksi minyak oleh Libia. Josua memperkirakan, rupiah di kisaran Rp 15.475 hingga Rp 15.575 pada hari ini. Lukman memprediksi, rupiah di rentang Rp 15.450–Rp 15.550.
Ketangguhan di Tengah Ketidakpastian Global
Makin ke sini mata uang garuda kian bertaji. Awal pekan ini, rupiah ditutup menguat 0,35% menjadi Rp 15.439 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada awal pembukaan perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp 15.298 per dolar AS. Ini artinya, dalam sebulan rupiah sudah menguat 5,58%. Selain rupiah, yen Jepang juga menjadi salah satu mata uang di Asia yang cukup perkasa. Dalam sebulan terakhir nilai tukar mata uang tersebut telah menguat 6,6%. Sementara baht Thailand menanjak 5,71%. Sementara dolar Singapura naik 3,06%. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, arah yang semakin jelas mengenai suku bunga Federal Reserve menjadi pendorong nilai tukar rupiah. Ini juga nampak dari aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia. Selain ke pasar saham, asing juga masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Karenanya, ia berpandangan kenaikan rupiah saat ini terbilang overshoot. Perhitungannya, nilai wajar rupiah ada di Rp 15.500 hingga Rp 16.000 per USD.
David menilai, sebaiknya BI melakukan
active intervention
seperti yang dilakukan bank sentral Jepang. Ini untuk menjaga sektor riil yang mengutamakan stabilitas. Dengan kondisi saat ini, sektor riil tidak bisa mengambil keputusan. "Namun memang, untuk investor portofolio sangat menyukai pergerakan seperti ini," sebutnya.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong menyebutkan, dolar AS diperkirakan masih akan melanjutkan pelemahan. "Ini seiring dengan perkembangan data ekonomi AS, beberapa pekan terakhir dan pernyataan
dovish
dari Powell," terangnya.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, fundamental ekonomi dan prospek ekonomi dalam negeri menjadi katalis positif. Ia menjelaskan, neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II masih terkendali.
BI Prioritaskan Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 6,25%, tertinggi dalam 7 tahun terakhir, untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global dan penantian penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai menguat, BI memilih langkah hati-hati untuk mencegah volatilitas yang berlebihan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, mendukung keputusan BI karena dianggap lebih baik dibanding spekulasi penurunan suku bunga di tengah kondisi ekonomi AS yang masih tidak stabil. Chandra Wahjudi, Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), juga mengakui bahwa pelaku usaha menginginkan penurunan BI Rate, namun memahami alasan BI mempertahankannya untuk mengantisipasi ketidakpastian global.
Ryan Kiryanto, ekonom Associate Faculty LPPI, menyebut keputusan BI sebagai langkah tepat dan taktis dalam menjaga stabilitas moneter, khususnya dalam memperkuat nilai tukar rupiah. BI diperkirakan akan menurunkan suku bunga pada kuartal IV/2024, setelah The Fed menurunkan suku bunganya pada bulan September mendatang.
Posisi Nyaman Rupiah Bagi Pelaku Usaha
Rupiah semakin berotot terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Faktor eksternal yang mendukung dan optimisme terhadap perekonomian Indonesia menjadi penopang penguatan rupiah. Menurut data Bloomberg, rupiah spot berada di Rp 15.436 per dolar AS. Mata uang garuda menguat 0,74% secara harian. Sudah sembilan hari terakhir rupiah konsisten di bawah Rp 16.000 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, secara umum mata uang emerging market menguat terhadap dolar AS. Ini didorong dari rentetan data ekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Sejak awal tahun, rupiah masih turun tipis dibandingkan akhir tahun 2023. Namun, penguatan ini menyiratkan mendinginnya efek ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan memudarnya ketidakpastian suku bunga The Fed. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual juga melihat positif fundamental rupiah.
Tapi, untuk sektor riil stabilitas rupiah lebih penting. "Penguatan dan pelemahan yang terlalu signifikan mengganggu kepercayaan pelaku usaha," sebutnya. Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana mengatakan, sejatinya, secara fundamental bukan rupiah yang menguat. Apresiasi rupiah lebih disebabkan indeks dolar melemah.Fikri juga mengingatkan, hasil pemilu AS dan arah kebijakannya nanti, dapat membuat rupiah kembali fluktuatif. Jika pemulihan AS lebih baik pada saat suku bunga diturunkan, rupiah bisa terdepresiasi. Yang jelas, penguatan rupiah menguntungkan bagi emiten berorientasi impor. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai, angin segar dari penguatan rupiah ini menguntungkan sektor konsumer primer, industri dan bank.
Festival Rupiah Berdaulat Indonesia 2024
Petugas terlihat sedang menunjukkan uang koin yang ditukarkan warga pada Festival Rupiah Berdaulat Indonesia 2024 yang diadakan di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (18/8/2024). Festival itu adalah upaya Bank Indonesia meningkatkan literasi masyarakat tentang pentingnya rupiah dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai alat pembayaran yang sah maupun sebagai simbol kedaulatan negara. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Evaluasi Bantuan Langsung Tunai BBM
11 Oct 2022 -
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









