Rupiah
( 288 )BI Memastikan Stabilitas Rupiah Terjaga Di Tengah Tekanan Global
Mencari Peluang Pertumbuhan yang Sehat
Laju perekonomian nasional tahun 2025 diyakini masih akan lebih baik dari tahun 2024, walaupun banyak tantangan yang terjadi, baik dari dalam negeri maupun global. Karenanya, pemerintah harus bisa menjalankan iklim investasi dan memberikan kepastian dalam kebijakan terkait investasi, khususnya melalui sejumlah sektor unggulan. Tercatat pertumbuhan ekonomi pada 2024 sebesar 5,03% pada 2024, melambat dibandingkan 2023 sebesar 5,05% dan 2022, risiko eksternal menjadi ancaman serius ekonomi, terutama setelah Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat. Kemenangan Trump bakal memicu era perang dagang, yang memiliki risiko tinggi terhadap stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Trump bukan hanya mengobarkan perang dagang, tetapi juga memanaskan kondisi geopolitik, setelah berencana mengambil Jalur Gaza di palestina. Ini diperparah oleh belum jelasnya penurunan suku bunga acuan global, terutama di AS. Sementara IHSG pada Kamis (06/02/2025) sejak awal perdagangan bergerak di zona merah. IHSG ditutup melemah 2,12% atau 148,6 poin ke level 6.875,5. Perdagangan IHSG mencatatkan 20,1 miliar lembar saham senilai Rp 13,5 triliun dari 1,4 juta kali transaksi. Pada saat IHSG berada di zona merah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih juga melemah. dari data Bloomberg pada pukul 14.59 WIB di pasar spot exchange, rupiah berada pada level Rp 16.341 per dolar AS atau melemah 48,5 poin (0,30%). (Yetede)
IHSG Terkoreksi Tajam Hingga 2,12% ke Level 6.875,54
Rupiah Melemah, Transaksi Valas Meningkat
Rupiah Melemah, Transaksi Valas Meningkat
Dilema Suku Bunga: Antara Stimulus dan Stabilitas
Tren inflasi yang rendah memberikan peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga, BI menghadapi dilema karena faktor-faktor eksternal, terutama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dipengaruhi oleh ketegangan perang dagang global. Meskipun Indonesia mencatatkan deflasi 0,76% pada Januari 2025, yang sebagian besar dipengaruhi oleh diskon tarif listrik, kondisi global yang tidak stabil membuat BI sulit untuk segera menurunkan suku bunga.
Ekonom seperti Hosianna Evalita Situmorang dan Josua Pardede memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan 5,75% untuk saat ini, dengan fokus pada perbaikan nilai tukar rupiah dan stabilitas ekonomi. Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya menyatakan bahwa meskipun ruang untuk penurunan suku bunga masih terbuka, keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada dinamika ekonomi global dan nasional.
Selain itu, kalangan pengusaha seperti Shinta Widjaja Kamdani dari Apindo menganggap deflasi pada Januari sebagai fenomena sementara yang disebabkan oleh intervensi pemerintah, dan memperkirakan inflasi akan kembali naik ke level target pemerintah 1,5%-3,5% pada Februari dan bulan-bulan berikutnya, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran.
Google Perbaiki Kesalahan, Data Kurs Tidak Akurat
Keseimbangan Nilai Tukar Rupiah
Antara Stabilitas Rupiah dan Beban Perusahaan SDA hingga Setahun dari Sekarang
Rencana pemerintah memperpanjang kewajiban penempatan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) hingga satu tahun dari saat ini tiga bulan diyakini bisa meredam tekanan eksternal terhadap rupiah. Dengan begini, stabilitas rupiah dapat terjaga. Akan tetapi, kebijkan yang dalam waktu dekat dirilis ini dikhawatirkan membebani perusahan SDA. Mereka akan kesulitan mengelola arus kas yang bisa berujung pada terganggunya ekspor. Imbasnya, perolehan devisa yang ditargetkan malah tidak maksimal. Itu sebabnya, pemerintah harus mempertimbangkan betul penerapan kebijakan tersebut. Jangan sampai kebijakan ini malah kontraproduktif dalam upaya menambah pundi-pundi devisa.
Di sisi lain, perpanjangan penempatan DHE dinilai bisa mengompensasi efek negatif penurunan suku bunga acuan BI Rate sebear 25 basis points (bps) menjadi 5,75% terhadap rupiah. Sebelumnya, sejumlah kalangan menilai, sikap dovish Bank Indonesia yang memangkas suku bunga dinilai terlalu cepat dan mengejutkan pasar. Soalnya, ketidakpastian global masih tinggi, terutama terkait kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS. Trump disebut bakal kembali mengorbankan perang dagang dengan China, yang bisa membuat dolar AS makin perkasa. (Yetede)
Risiko Nilai Tukar dan Bunga Acuan BI
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023








