;
Tags

Rupiah

( 288 )

Ketahanan Valas Diuji oleh Melemahnya Rupiah

HR1 09 Apr 2025 Kontan
Kebijakan agresif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam mengenakan tarif impor ke banyak negara menyebabkan pelemahan nilai tukar dolar AS, yang kemudian mendorong penguatan sejumlah mata uang utama dunia. Indeks dolar AS sempat naik ke 103,26 di awal pekan, namun secara mingguan tetap mengalami pelemahan.

Menurut Sutopo Widodo, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, pelemahan dolar AS berkaitan erat dengan kekhawatiran akan potensi resesi ekonomi di AS akibat kebijakan perdagangan Trump. Ia menjelaskan bahwa penguatan mayoritas mata uang utama seperti euro (EUR), franc Swiss (CHF), poundsterling (GBP), dan yen Jepang (JPY) merupakan respons alami atas tekanan terhadap dolar.

Sutopo juga menyoroti potensi rebound mata uang Inggris (GBP) jika negara tersebut mampu memperbaiki ketidakstabilan fiskal dan prospek ekonominya. Di sisi lain, yen Jepang dan CHF tetap menjadi incaran investor karena statusnya sebagai mata uang safe haven.

Lukman Leong, Analis dari Doo Financial Futures, merekomendasikan investasi di CHF dan JPY karena keduanya masih mendapat dukungan sebagai mata uang aman meskipun menghadapi tekanan. Ia menyarankan strategi swing trading untuk investor agresif yang siap menavigasi volatilitas tinggi pasar global, sementara investor jangka panjang sebaiknya menunggu situasi lebih stabil.

Gejolak kebijakan perdagangan AS telah menciptakan ketidakpastian pasar global dan mendorong fluktuasi tajam di pasar mata uang, dengan peluang bagi investor jangka pendek namun risiko tinggi bagi investor jangka panjang.

Saham Masih Atraktif, Saatnya untuk Cicil Beli

KT1 09 Apr 2025 Investor Daily (H)
Pasar saham nasional masih atraktif dalam jangka menengah dan panjang, mengingat valuasinya kini sudah terdiskon dalam akibat koreksi masif pada perdagangan pertama setelah Lebaran. Investor disarankan mulai mencicil beli saham-saham unggulan berfundamental bagus yang sedang murah. Kemarin IHSG BEI tutup 7,9% ke level 5.996,14. Ini menjadi penurunan harian terdalam dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menempatkan indeks di bawah level psikologis 6.000. Pelemahan tajam terjadi sejak pembukaan pasar pagi, dimana IHSG sempat terkoreksi hingga 9,19% dan level menyentuh level terendah di 5.912. Kondisi tersebut memicu penghentian seiring tekanan jual yang kian besar di tengah sentimen global yang memburuk. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga melemah. Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp16.8921 per dolar AS, melemah 69,5 poin atau 0,41% dibandingkan hari  perdagangan sebelumnya. Penurunan indeks dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi kebijakan proteksionis AS. Keputusan Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor, termasuk ke Indonesia menjadi 32%, mendorong aksi jual besar-besaran di pasar saham domestik. (Yetede)

Anjloknya Pasar Saham dan Rupiah di Perdagangan Perdana Pasca-Lebaran

KT3 09 Apr 2025 Kompas (H)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 7,9 % ke level 5.996,14 pada perdagangan perdana pasca libur panjang, Selasa (8/4) seiring tekanan sentimen global yang menggoyahkan kepercayaan investor asing. Di sisi lain, langkah intervensi agresif BI belum cukup meredam gejolak di pasar valuta asing. Pelemahan IHSG sejalan dengan harga saham di seluruh sektor yang bergerak di zona merah. Saham dari perusahaan di sektor material dasar mengalami pelemahan terdalam sebesar 10,54 %, menyusul sektor teknologi yang minus 10,23 % dan sektor konsumsi siklikal yang minus 8,82 %. Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan seusai libur panjang Lebaran, Selasa pagi, IHSG langsung jeblok hingga 9,12 % dari level 6.510,62 ke level 5.912.

Faktor kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump yang mendunia masih menjadi pemberat IHSG. Head Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi berpandangan bahwa tekanan yang masih cukup kuat mendorong IHSG stagnan di zona negatif dan gagal bertahan di atas level psikologis 6.000 pada penutupan perdagangan. Investor asing pada Selasa tercatat melakukan penjualan saham Rp 3,87 triliun. Di satu sisi, pergerakan IHSG relatif stagnan disebabkan perubahan kebijakan oleh BEI, berupa perubahan batas persentase penurunan harga saham atau auto rejection bawah (ARB) menjadi 15 % dari sebelumnya 35 %. ”Sementara itu, kami melihat pasar juga belum sepenuhnya merespons positif seiring penyampaian sikap pernyataan pemerintah  terkait tarif AS karena panic selling yang masih tinggi,” ujarnya.

Tekanan tersebut masih akan berlangsung dalam jangka waktu pendek dan menengah. Tekanan itu akan berkurang jika ada intervensi dari BI untuk menguatkan nilai tukar rupiah, strategi dan implementasi kebijakan pemerintah yang propasar, termasuk relaksasi suku bunga, serta rilis kinerja perusahaan di bursa yang masih resilien. Langkah intervensi secara agresif yang ditempuh BI belum cukup mampu meredam gejolak saat pasar valuta asing (valas) kembali dibuka pada Selasa. Nilai tukar rupiah dalam perdagangan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pun ditutup Rp 16.849 per dollar AS atau melemah 1,7 % dibanding perdagangan 27 Maret 2025. (Yoga)


BI Berupaya Menstabilkan Rupiah di Tengah Tekanan Global

KT1 08 Apr 2025 Investor Daily (H)
BI berupaya menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tingginya tekanan global saat ini. Berkaitan itu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 7 April 2025 memutuskan untuk melakukan intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Farward/NDF). Sementara itu, nilai tukar rupiah dipenutupan perdagangan Senin (7/4/2025) di Jakarta melemah sebesar 169 poin atau 1,01% menjadi Rp16.822 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.53 per dolar AS. Adapun kebijaan tarif resiprokal yang diumumkan pemerintahan AS tanggal 2April 2025 dan respon kebijakan retaliasi tarif oleh pemerintah China tanggal 4 April 2025 telah menimbulkan gejolak pasar keuangan global, termasuk arus modal keluar dan tingginya tekanan pelemahan nilai tukar di banyak negara khususnya negara emerging market. Tekanan terhadap nilai tular rupiah telah terjadi di pasar off-shore (NDF) ditengah libur panjang pasar domestik dalam rangka Idulfitri 1446 H. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, intervensi BI di pasar off-shore (NDF) dilakukan secara berkesinambungan di pasar Asia, Eropa, dan New York. "BI juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak awal pembukaan 8 April 2025, dengan intervensi di pasar valas (Spot dan DNDF) serta pembelian SBN di pasar sekunder," jelas dia. (Yetede)

Risiko Pelemahan Rupiah Perbankan Harus Waspada

KT1 08 Apr 2025 Investor Daily

OJK menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak akan banyak berpengaruh secara langsung terhadap neraca bank. Namun, perbankan diimbau untuk tetap mewaspadai risiko pelemahan nilai tukar terhadap kenaikan  rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Mengacu data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp16.821,5 pada posisi Senin (7/4/2025) nyaris menuju Rp 17.000. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, pada Januari 2025 risiko pasar terkait dengan nilai tukar tergolong sangat rendah, tercermin dari Posisi Devisa Neto (PDN) bank sebesar 1,24%, jauh di bawah threshold 20%. "Ini dapat diterjemahkan bahwa eksposur langsung bank terhadap risiko nilai tukar relatif kecil.

Sehingga pelemahan nilai tukar tidak akan banyak berpengaruh  secara langsung terhadap neraca bank," tutur Dian. Merujuk data OJK, per Januari 2025 kredit yang disalurkan perbankan nasional kepada debitur  mencapai Rp 7.782,22 triliun, tumbuh 10,27% secara tahunan (year on year/yoy). Dari nilai tersebut, kredit valas yang disalurkan sebesar Rp1.155,76 triliun, tumbuh 13,38% (yoy) per Januari 2025. Sementara itu, kredit rupiah masih mendominasi dengan penyaluran Rp6.626,45 triliun, tumbuh 9,74% (yoy). Apabila dilihat dari nominal penyalurannya, kredit valas hanya memiliki porsi 14,85% dari total kredit yang disalurkan perbankan per januari 2025. Mayoritas perbankan menyalurkan kredit berdenominasi rupiah. (Yetede)

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Saat BI Libur 11 Hari

KT3 02 Apr 2025 Kompas

Pergerakan nilai tukar rupiah tengah menjadi sorotan publik. Rupiah yang sempat tembus Rp 16.600 per USD dikaitkan dengan situasi krisis moneter pada 1998. Meski dilihat dari berbagai aspek situasinya berbeda, depresiasi rupiah yang diperkirakan berlangsung dalam jangka waktu pendek patut diwaspadai. Sebab, nilai tukar yang tidak stabil, apalagi cenderung melemah, akan memengaruhi persepsi pasar serta berdampak pada sektor riil. Di tengah upaya stabilisasi nilai tukar rupiah, seluruh kegiatan operasi moneter BI libur, seiring hari libur nasional dan cuti bersama hari raya Idul Fitri 2025. BI menyatakan, seluruh kegiatan operasional, termasuk operasi moneter rupiah dan valuta asing (valas) per 28 Maret-7 April 2025, ditiadakan. BI baru akan kembali beroperasi mulai Selasa (8/4). Berkaca dari pengalaman 2024, nilai tukar rupiah selama musim libur Lebaran tertekan.

Pada perdagangan terakhir per 5 April 2024, sehari sebelum BI libur, rupiah di level Rp 15.873 per USD, lebih rendah 2,81 % dibanding akhir 2023. Pada saat BI kembali ke pasar pada 16 April 2024, rupiah sudah terperosok hingga Rp 16.176 per USD atau melemah 4,77 % dibanding akhir 2023. Rupiah terdepresiasi 1,9 % hanya sepekan BI absen dari pasar keuangan. Di sisi lain, depresiasi rupiah kali ini terjadi seminggu setelah pasar saham terpuruk. Bukan kali pertama kondisi pelemahan nilai tukar berlangsung menjelang dan selama periode libur nasional. Oleh sebab itu, BI mengklaim telah mempersiapkan beberapa antisipasi dan mitigasi risiko ketika absen dari pasar. ”Setiap menghadapi libur panjang, BI sudah menyiapkan berbagai langkah antisipasi dan mitigasi terkait kondisi moneter, termasuk nilai tukar rupiah,” kata Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Fitra Jusdiman, Kamis (27/3).

Selama libur panjang di Indonesia, pasar keuangan global tetap beroperasi dan bergerak normal. Berdasarkan data historis, pergerakan nilai tukar rupiah saat pasar kembali dibuka relatif sejalan dengan pergerakan pasar global. Artinya, apabila kurs USD secara global melemah, biasanya rupiah akan menguat. Demikian pula sebaliknya. Dalam lima tahun terakhir, nilai tukar rupiah tercatat dua kali menguat pada tahun 2020 dan 2023 saat pasar buka kembali setelah libur panjang Lebaran. Sebaliknya, rupiah dalam periode yang sama tercatat tiga kali melemah, yakni pada 2021, 2022, dan 2024. Kondisi rupiah yang bergejolak hingga menyentuh level Rp 16.600-an per USD belakangan disebabkan faktor eksternal dan domestik. Tekanan eksternal dibentuk oleh sentimen pasar keuangan merespons kebijakan Presiden AS Donald Trump serta ketatnya kebijakan The Fed. Sementara dari sisi domestik, kebutuhan valas meningkat seiring dengan pembayaran dividen menjelang Lebaran. (Yoga)

Ancaman Stagflasi dan Dampaknya bagi Ekonomi RI

HR1 27 Mar 2025 Kontan
Ancaman stagflasi global dalam 12 bulan ke depan kian nyata, berdasarkan survei Bank of America yang menunjukkan 71% fund manager memperkirakan terjadinya kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi. Tokoh seperti Joe Brusuelas dari RSM menyoroti bahwa kebijakan tarif Trump dan potensi pemangkasan suku bunga The Fed justru bisa memicu inflasi lebih lanjut, yang akan berdampak ke banyak negara, termasuk Indonesia.

Meski Indonesia masih mencatat deflasi dalam dua bulan terakhir, pertumbuhan ekonominya stagnan, dan nilai tukar rupiah terus melemah. Ekonom Budi Frensidy menilai keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi Indonesia memperkuat tekanan terhadap rupiah. Sementara itu, Yanuar Rizky dari Bright Institute menandai gejala stagflasi dari tren kenaikan harga emas dan tembaga, serta menyarankan pemerintah agar serius menegakkan hukum dan memperkuat kepercayaan investor.

Menanggapi hal tersebut, Noor Faisal Achmad dari Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat agar tidak terpengaruh dampak stagflasi global, karena jika tidak, risiko terhadap ekspor, impor, dan pengangguran akan meningkat tajam.

Rupiah Melemah, Defisit Diprediksi Melebar

HR1 26 Mar 2025 Kontan
Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp 16.652 per dolar AS berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025, terutama karena asumsi kurs dalam APBN dipatok di level Rp 16.100. Bhima Yudhistira, Direktur Celios, menilai depresiasi rupiah ini akan berdampak besar pada belanja pemerintah, terutama subsidi energi seperti BBM, elpiji, dan listrik, serta beban bunga utang yang bisa membengkak. Hal ini dapat memperlebar defisit anggaran dari target 2,53% PDB, mengingat setiap pelemahan Rp 100 terhadap dolar AS dapat meningkatkan defisit hingga Rp 3,4 triliun.

Bhima juga mengingatkan potensi inflasi impor akibat naiknya harga bahan baku dan barang impor yang akhirnya bisa menurunkan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, Fitra Jusdiman, Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), menekankan bahwa kondisi saat ini jauh lebih stabil dibanding krisis 1998. Ia menegaskan bahwa BI terus menjaga kestabilan nilai tukar melalui strategi triple intervention di pasar spot, DNDF, dan pembelian SBN. Fitra juga menyatakan bahwa BI dan otoritas terkait berkomitmen menjaga kepercayaan pasar di tengah volatilitas global.

Menjaga Kepercayaan Pasar agar Rupiah Tidak Anjlok

KT3 26 Mar 2025 Kompas (H)

Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada perdagangan Selasa (25/3) nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 16.622 per USD, membuat rupiah mencatatkan level terendahnya sepanjang tahun 2025, dengan koreksi sebesar 2,79 % dibandingkan akhir 2024. Bahkan, nilai tukar rupiah mendekati level terendahnya dalam lima tahun terakhir, sejak 2 April 2020 pada level Rp 16.741 per USD. Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Fitra Jusdiman mengklaim, pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan kondisi pada 1998. ”Secara fundamental, kondisi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibanding krisis moneter 1998.

Sejak pertengahan 2024, rupiah hanya melemah 1,33 %, lebih rendah dari won Korea yang melemah 6,3 % dan rupee India yang melemah 2,74 %,” katanya. Setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS pada November 2024, hampir semua nilai tukar negara di dunia melemah. Tekanan terhadap rupiah saat ini terjadi lantaran faktor global yang masih penuh dengan ketidakpastian, dipicu dampak penerapan kebijakan tarif oleh Trump, arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang cenderung lebih ketat (hawkish) dan gejolak geopolitik. Juga, kebutuhan valas korporasi yang meningkat untuk pembayaran dividen menjelang Lebaran juga berpengaruh pada pergerakan nilai tukar rupiah.

Maka, BI berkomitmen untuk terus menempuh berbagai langkah stabilisasi nilai tukar agar kepercayaan pasar tetap terjaga. Dalam hal ini, BI akan memantau pergerakan rupiah sembari memastikannya, yaitu dengan tetap berada di pasar sembari menempuh triple intervention. Intervensi itu dilakukan baik di pasar spot, pasar domestik non-deliverable forward (DNDF), maupun dengan membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder secara bold dan terukur. ”Langkah ini untuk memastikan stabilitas nilai tukar dan keseimbangan demand-supply valas sehingga dapat menjaga market confidence,” ujarnya. (Yoga)


Melemahnya Kurs Rupiah

KT3 22 Mar 2025 Kompas

Seorang petugas bank (teller), terlihat sedang menghitung dollar AS di Banking Hall, Bank Mandiri Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (21/3/2025). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate per hari Jumat, nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp 16.501 per dollar AS atau melemah 20 poin dibandingkan dengan nilai tukar sehari sebelumnya. (Yoga)