Rupiah
( 288 )Ketahanan Valas Diuji oleh Melemahnya Rupiah
Saham Masih Atraktif, Saatnya untuk Cicil Beli
Anjloknya Pasar Saham dan Rupiah di Perdagangan Perdana Pasca-Lebaran
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 7,9 % ke level 5.996,14 pada perdagangan perdana pasca libur panjang, Selasa (8/4) seiring tekanan sentimen global yang menggoyahkan kepercayaan investor asing. Di sisi lain, langkah intervensi agresif BI belum cukup meredam gejolak di pasar valuta asing. Pelemahan IHSG sejalan dengan harga saham di seluruh sektor yang bergerak di zona merah. Saham dari perusahaan di sektor material dasar mengalami pelemahan terdalam sebesar 10,54 %, menyusul sektor teknologi yang minus 10,23 % dan sektor konsumsi siklikal yang minus 8,82 %. Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan seusai libur panjang Lebaran, Selasa pagi, IHSG langsung jeblok hingga 9,12 % dari level 6.510,62 ke level 5.912.
Faktor kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump yang mendunia masih menjadi pemberat IHSG. Head Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi berpandangan bahwa tekanan yang masih cukup kuat mendorong IHSG stagnan di zona negatif dan gagal bertahan di atas level psikologis 6.000 pada penutupan perdagangan. Investor asing pada Selasa tercatat melakukan penjualan saham Rp 3,87 triliun. Di satu sisi, pergerakan IHSG relatif stagnan disebabkan perubahan kebijakan oleh BEI, berupa perubahan batas persentase penurunan harga saham atau auto rejection bawah (ARB) menjadi 15 % dari sebelumnya 35 %. ”Sementara itu, kami melihat pasar juga belum sepenuhnya merespons positif seiring penyampaian sikap pernyataan pemerintah terkait tarif AS karena panic selling yang masih tinggi,” ujarnya.
Tekanan tersebut masih akan berlangsung dalam jangka waktu pendek dan menengah. Tekanan itu akan berkurang jika ada intervensi dari BI untuk menguatkan nilai tukar rupiah, strategi dan implementasi kebijakan pemerintah yang propasar, termasuk relaksasi suku bunga, serta rilis kinerja perusahaan di bursa yang masih resilien. Langkah intervensi secara agresif yang ditempuh BI belum cukup mampu meredam gejolak saat pasar valuta asing (valas) kembali dibuka pada Selasa. Nilai tukar rupiah dalam perdagangan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pun ditutup Rp 16.849 per dollar AS atau melemah 1,7 % dibanding perdagangan 27 Maret 2025. (Yoga)
BI Berupaya Menstabilkan Rupiah di Tengah Tekanan Global
Risiko Pelemahan Rupiah Perbankan Harus Waspada
OJK menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak akan banyak berpengaruh secara langsung terhadap neraca bank. Namun, perbankan diimbau untuk tetap mewaspadai risiko pelemahan nilai tukar terhadap kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Mengacu data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp16.821,5 pada posisi Senin (7/4/2025) nyaris menuju Rp 17.000. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, pada Januari 2025 risiko pasar terkait dengan nilai tukar tergolong sangat rendah, tercermin dari Posisi Devisa Neto (PDN) bank sebesar 1,24%, jauh di bawah threshold 20%. "Ini dapat diterjemahkan bahwa eksposur langsung bank terhadap risiko nilai tukar relatif kecil.
Sehingga pelemahan nilai tukar tidak akan banyak berpengaruh secara langsung terhadap neraca bank," tutur Dian. Merujuk data OJK, per Januari 2025 kredit yang disalurkan perbankan nasional kepada debitur mencapai Rp 7.782,22 triliun, tumbuh 10,27% secara tahunan (year on year/yoy). Dari nilai tersebut, kredit valas yang disalurkan sebesar Rp1.155,76 triliun, tumbuh 13,38% (yoy) per Januari 2025. Sementara itu, kredit rupiah masih mendominasi dengan penyaluran Rp6.626,45 triliun, tumbuh 9,74% (yoy). Apabila dilihat dari nominal penyalurannya, kredit valas hanya memiliki porsi 14,85% dari total kredit yang disalurkan perbankan per januari 2025. Mayoritas perbankan menyalurkan kredit berdenominasi rupiah. (Yetede)
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Saat BI Libur 11 Hari
Pergerakan nilai tukar rupiah
tengah menjadi sorotan publik. Rupiah yang sempat tembus Rp 16.600 per USD
dikaitkan dengan situasi krisis moneter pada 1998. Meski dilihat dari berbagai
aspek situasinya berbeda, depresiasi rupiah yang diperkirakan berlangsung dalam
jangka waktu pendek patut diwaspadai. Sebab, nilai tukar yang tidak stabil, apalagi
cenderung melemah, akan memengaruhi persepsi pasar serta berdampak pada sektor
riil. Di tengah upaya stabilisasi nilai tukar rupiah, seluruh kegiatan operasi
moneter BI libur, seiring hari libur nasional dan cuti bersama hari raya Idul
Fitri 2025. BI menyatakan, seluruh kegiatan operasional, termasuk operasi
moneter rupiah dan valuta asing (valas) per 28 Maret-7 April 2025, ditiadakan.
BI baru akan kembali beroperasi mulai Selasa (8/4). Berkaca dari pengalaman
2024, nilai tukar rupiah selama musim libur Lebaran tertekan.
Pada perdagangan terakhir per 5
April 2024, sehari sebelum BI libur, rupiah di level Rp 15.873 per USD, lebih
rendah 2,81 % dibanding akhir 2023. Pada saat BI kembali ke pasar pada 16 April
2024, rupiah sudah terperosok hingga Rp 16.176 per USD atau melemah 4,77 %
dibanding akhir 2023. Rupiah terdepresiasi 1,9 % hanya sepekan BI absen dari
pasar keuangan. Di sisi lain, depresiasi rupiah kali ini terjadi seminggu setelah
pasar saham terpuruk. Bukan kali pertama kondisi pelemahan nilai tukar
berlangsung menjelang dan selama periode libur nasional. Oleh sebab itu, BI
mengklaim telah mempersiapkan beberapa antisipasi dan mitigasi risiko ketika absen
dari pasar. ”Setiap menghadapi libur panjang, BI sudah menyiapkan berbagai
langkah antisipasi dan mitigasi terkait kondisi moneter, termasuk nilai tukar
rupiah,” kata Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI,
Fitra Jusdiman, Kamis (27/3).
Selama libur panjang di
Indonesia, pasar keuangan global tetap beroperasi dan bergerak normal.
Berdasarkan data historis, pergerakan nilai tukar rupiah saat pasar kembali
dibuka relatif sejalan dengan pergerakan pasar global. Artinya, apabila kurs
USD secara global melemah, biasanya rupiah akan menguat. Demikian pula
sebaliknya. Dalam lima tahun terakhir, nilai tukar rupiah tercatat dua kali
menguat pada tahun 2020 dan 2023 saat pasar buka kembali setelah libur panjang Lebaran.
Sebaliknya, rupiah dalam periode yang sama tercatat tiga kali melemah, yakni pada
2021, 2022, dan 2024. Kondisi rupiah yang bergejolak hingga menyentuh level Rp
16.600-an per USD belakangan disebabkan faktor eksternal dan domestik. Tekanan
eksternal dibentuk oleh sentimen pasar keuangan merespons kebijakan Presiden AS
Donald Trump serta ketatnya kebijakan The Fed. Sementara dari sisi domestik, kebutuhan
valas meningkat seiring dengan pembayaran dividen menjelang Lebaran. (Yoga)
Ancaman Stagflasi dan Dampaknya bagi Ekonomi RI
Rupiah Melemah, Defisit Diprediksi Melebar
Menjaga Kepercayaan Pasar agar Rupiah Tidak Anjlok
Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada perdagangan Selasa (25/3) nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 16.622 per USD, membuat rupiah mencatatkan level terendahnya sepanjang tahun 2025, dengan koreksi sebesar 2,79 % dibandingkan akhir 2024. Bahkan, nilai tukar rupiah mendekati level terendahnya dalam lima tahun terakhir, sejak 2 April 2020 pada level Rp 16.741 per USD. Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Fitra Jusdiman mengklaim, pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan kondisi pada 1998. ”Secara fundamental, kondisi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibanding krisis moneter 1998.
Sejak pertengahan 2024, rupiah hanya melemah 1,33 %, lebih rendah dari won Korea yang melemah 6,3 % dan rupee India yang melemah 2,74 %,” katanya. Setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS pada November 2024, hampir semua nilai tukar negara di dunia melemah. Tekanan terhadap rupiah saat ini terjadi lantaran faktor global yang masih penuh dengan ketidakpastian, dipicu dampak penerapan kebijakan tarif oleh Trump, arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang cenderung lebih ketat (hawkish) dan gejolak geopolitik. Juga, kebutuhan valas korporasi yang meningkat untuk pembayaran dividen menjelang Lebaran juga berpengaruh pada pergerakan nilai tukar rupiah.
Maka, BI berkomitmen untuk terus menempuh berbagai langkah stabilisasi nilai tukar agar kepercayaan pasar tetap terjaga. Dalam hal ini, BI akan memantau pergerakan rupiah sembari memastikannya, yaitu dengan tetap berada di pasar sembari menempuh triple intervention. Intervensi itu dilakukan baik di pasar spot, pasar domestik non-deliverable forward (DNDF), maupun dengan membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder secara bold dan terukur. ”Langkah ini untuk memastikan stabilitas nilai tukar dan keseimbangan demand-supply valas sehingga dapat menjaga market confidence,” ujarnya. (Yoga)
Melemahnya Kurs Rupiah
Seorang petugas bank (teller), terlihat sedang menghitung
dollar AS di Banking Hall, Bank Mandiri Gatot Subroto, Jakarta, Jumat
(21/3/2025). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate per
hari Jumat, nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp 16.501 per dollar AS atau
melemah 20 poin dibandingkan dengan nilai tukar sehari sebelumnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









