Ketangguhan di Tengah Ketidakpastian Global
Makin ke sini mata uang garuda kian bertaji. Awal pekan ini, rupiah ditutup menguat 0,35% menjadi Rp 15.439 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada awal pembukaan perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp 15.298 per dolar AS. Ini artinya, dalam sebulan rupiah sudah menguat 5,58%. Selain rupiah, yen Jepang juga menjadi salah satu mata uang di Asia yang cukup perkasa. Dalam sebulan terakhir nilai tukar mata uang tersebut telah menguat 6,6%. Sementara baht Thailand menanjak 5,71%. Sementara dolar Singapura naik 3,06%. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, arah yang semakin jelas mengenai suku bunga Federal Reserve menjadi pendorong nilai tukar rupiah. Ini juga nampak dari aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia. Selain ke pasar saham, asing juga masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Karenanya, ia berpandangan kenaikan rupiah saat ini terbilang overshoot. Perhitungannya, nilai wajar rupiah ada di Rp 15.500 hingga Rp 16.000 per USD.
David menilai, sebaiknya BI melakukan
active intervention
seperti yang dilakukan bank sentral Jepang. Ini untuk menjaga sektor riil yang mengutamakan stabilitas. Dengan kondisi saat ini, sektor riil tidak bisa mengambil keputusan. "Namun memang, untuk investor portofolio sangat menyukai pergerakan seperti ini," sebutnya.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong menyebutkan, dolar AS diperkirakan masih akan melanjutkan pelemahan. "Ini seiring dengan perkembangan data ekonomi AS, beberapa pekan terakhir dan pernyataan
dovish
dari Powell," terangnya.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, fundamental ekonomi dan prospek ekonomi dalam negeri menjadi katalis positif. Ia menjelaskan, neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II masih terkendali.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023