Koreksi Rupiah Mengusik Ruang Fiskal Tahun Ini
Posisi rupiah tersudut dan semakin mejauhi asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024. Jika pelemahan rupiah terus berlanjut, ruang fiskal pemerintah bakal semakin sempit, sekalipun defisit anggaran diperlebar. Pada Rabu (6/3), rupiah memang ditutup menguat 0,21% ke level Rp 15.723 per dolar AS. Namun angka itu sudah jauh di bawah target pemerintah di APBN 2024, yakni Rp 15.000 per dolar AS.
Diukur dari sensitivitas APBN 2024 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro, setiap koreksi rupiah Rp 100 per dolar AS, maka ada tambahan pendapatan negara Rp 4 triliun, baik dari penerimaan perpajakan maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Hanya saja, pelemahan rupiah juga mengerek belanja negara Rp 10,2 triliun. Terutama yang berasal dari subsidi energi, pembayaran bunga utang pemerintah, hingga dana bagi hasil (DBH) migas. Padahal, anggaran subsidi energi tahun ini bakal melonjak dari target awal Rp 189,1 triliun lantaran pemerintah memastikan akan menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik hingga Juni 2024. Adapun alokasi pembayaran bunga utang tahun ini Rp 497,3 triliun, tertinggi lima tahun terakhir.
Kendati begitu, Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Wahyu Utomo mengatakan, secara umum nilai tukar yang ditetapkan di APBN Rp 15.000 per dolar AS adalah rata-rata setahun. Adapun saat ini perkembangan nilai tukar belum merefleksikan nilai rata-rata setahun. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mewanti-wanti, jika koreksi rupiah terjadi bersamaan kenaikan harga minyak global, maka akan mengerek anggaran subsidi energi, baik untuk BBM subsidi maupun nonsubsidi.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023