Pariwisata
( 747 )Geliat Pundi-pundi Pariwisata
Di tengah kondisi ekonomi global yang tak menentu, sumber pertumbuhan alternatif diharapkan berkontribusi optimal, diantaranya adalah pariwisata. Keindahan Nusantara dan berbagai pergelaran acara skala global diharapkan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman). Melalui kantong para wisman, ekonomi domestik diharapkan lebih menggeliat. Merujuk laporan Mastercard Economic Institute bertajuk ”Travel Trends 2024: Breaking Boundaries”, sektor pariwisata global berkembang pesat seiring meningkatnya pengeluaran konsumen di sektor ini dan lonjakan lalu lintas penumpang. Momen ini diperkirakan berlanjut,karena konsumen di seluruh dunia lebih mengutamakan pengalaman yang tak terlupakan dan mengalokasikan lebih banyak anggaran perjalanan. Setahun terakhir, Jepang jadi destinasi wisata terfavorit wisatawan di seluruh dunia.
Asia Tenggara tak kalah popular, ditandai masuknya Malaysia dan Indonesia ke dalam 10 besar destinasi global teratas selama 12 bulan terakhir. Secara global, para wisatawan juga cenderung menghabiskan waktu di negara dengan iklim yang lebih hangat. Destinasi Asia Tenggara, seperti Malaysia, Vietnam, Indonesia, Thailand, dan Filipina, mengalami masa kunjungan yang panjang, yaitu lebih dari tujuh hari per kunjungan. Per Maret 2024, wisatawan di seluruh dunia menghabiskan rata-rata 5,5 hari sekali liburan, lebih lama dibanding periode sebelum pandemi Covid-19 yang hanya 4,5 hari. Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara dengan kunjungan wisatawan terlama, yakni rata-rata 8,9 hari atau lebih tinggi dibanding sebelum pandemi yang 7 hari.
Para wisman tinggal lebih lama karena kenaikan tarif hotel yang lebih rendah dibanding negara lain. Apabila wisatawan menghabiskan waktu lebih lama, besar kemungkinan mereka membelanjakan uang sehingga positif bagi perekonomian lokal. Secara umum, para wisatawan dari AS dan Eropa memilih Asia Tenggara sebagai destinasi dan menetap lebih lama lantaran iklim yang lebih hangat serta harga yang lebih terjangkau, didukung nilai tukar yang lebih menguntungkan. Mastercard Economic Institute juga menemukan, para wisman lebih memprioritaskan pengalaman serta hiburan malam saat berlibur, terutama mereka yang berasal dari Australia, yang menghabiskan 19 % pengeluarannya untuk kegiatan itu.
Wisatawan asal China juga makin gencar, menghabiskan 10 % anggaran liburan mereka untuk kegiatan tersebut pada 2024, naik dari 7 % pada 2023. Secara keseluruhan, rata-rata pengeluaran wisatawan untuk pengalaman dan hiburan malam mencapai 12 % dari total alokasi pengeluaran selama berwisata, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ke depan, tren pariwisata di seluruh dunia dan Asia Tenggara diproyeksikan terus bertumbuh. Sebagian besar dari mereka cenderung mencari pengalaman tak terlupakan, termasuk destinasi wisata dan kuliner. ”Bagi otoritas pariwisata, sektor ritel, perhotelan, dan food and beverages (makanan dan minuman), biaya itu penting. Nilai tukar mata uang asing dan daya beli jadi komponen penting saat merencanakan perjalanan mereka (wisatawan global),” ujar Chief Economist, Asia Pacific, Mastercard, David Mann, dalam keterangan tertulis, Kamis (16/5/2024). (Yoga)
Senja di Wajah Baru Waduk Darma
Setelah direvitalisasi tahun 2023, Waduk Darma kini punya wajah baru yang memancarkan panorama senja dengan dermaga apungnya. Tak hanya menarik ribuan wisatawan, perubahan waduk peninggalan Belanda ini juga memberi makna bagi masyarakat. Langit biru menjelma oranye di Waduk Darma, Kuningan, Jabar, Kamis (2/5). Sejumlah pengunjung merekam momen itu. Ada juga yang hanya duduk menikmati senja di Waduk Darma. Adjisar (70), pengunjung asal Bandung, mengabadikan dirinya bersama istri di spot swafoto tersebut. ”Sangat beruntung warga yang bermukim dekat Waduk Darma. Mereka tidak hanya menikmati panorama waduk yang indah, tetapi juga dapat berolahraga, jalan, dan lari santai mengitari jalur di area waduk,” tutur Adjisar.
Selain trek joging, dibangun juga tempat duduk untuk istirahat warga. 10 meter dari lokasi swafoto tersedia tempat untuk pengunjung makan bersama kerabat, yang dalam tradisi Jabar, disebut botram. Ada dua rombongan pengunjung yang menikmati aneka kuliner sambil lesehan di atas tikar. Juju (45) dan keluarganya, menempuh 90 menit perjalanan dari Ciamis ke Waduk Darma. Mereka membayar tiket masuk Rp 17.500 per orang pada hari biasa. ”Perjalanan cukup jauh ke sini terbayarkan dengan keindahan panoramanya. Kami menikmati makanan yang enak dengan suasana kekeluargaan,” ucap Juju tersenyum.
Selain spot swafoto dan tempat piknik, Waduk Darma juga memiliki gazebo, tempat duduk santai berlapis rumput sintetis, area kuliner, dan dermaga terapung yang menjadi landmark waduk. Dermaga ini terhubung dengan perahu wisata yang dapat berkeliling area waduk. Ada juga tempat pertunjukan kesenian, gedung untuk acara pernikahan hingga seminar, area perkemahan, hingga spot untuk foto pranikah. Berbagai fasilitas itu merupakan buah dari revitalisasi waduk oleh Pemprov Jabar sejak 2019. Gubernur Jabar saat itu, Ridwan Kamil, mencanangkan waduk seluas 425 hektar itu sebagai destinasi wisata tingkat internasional. Sejak April 2023, waduk ini pun punya wajah baru.
”Salah satu yang kami banggakan adalah penataan Waduk Darma. Saya titip ini dijaga. Total anggarannya di atas Rp 30 miliar. Saya harapkan menjadi destinasi wisata unggulan, bahkan internasional,” ucapnya saat itu. Manajer PT Jaswita Pengelola Waduk Darma Fivih Handayani mengatakan, meski pengelolaannya berganti, pihaknya tetap memberdayakan warga. Sebanyak 28 pegawai, berasal dari desa setempat. Begitu juga dengan 15 gerai kuliner dan 35 tempat untuk UMKM. Fivih mengatakan, warga turut merasakan dampak ekonomi dari Waduk Darma. Pada libur Lebaran dan Tahun Baru, pengunjung bisa 6.000 hingga 8.000 orang per hari. Pendapatan bersih bulanan PT Jaswita pun dapat menyentuh Rp 300 juta. (Yoga)
Dede Arief Cahyadi, Megaterasering untuk Masa Depan
Dede Arief Cahyadi terpanggil memajukan potensi wisata sawah terasering di kampung halaman istrinya, Desa Sukamulya, Pangandaran, Jabar. Dede berkontribusi melahirkan BUMDes, kelompok sadar wisata, hingga mempromosikan Desa Wisata Megaterasering Sukamulya menjadi destinasi wisata di Pangandaran. Dari Parigi, ibu kota Pangandaran, ke Sukamulya berjarak 17 km. Dari Bandara Internasional Kertajati di Majalengka dengan mobil, jarak tempuh ke Sukamulya 162 km, memakan waktu 5 jam. Di Megaterasering Sukamulya, pengunjung menyaksikan satu-satunya desa dengan sawah terasering terluas di Pangandaran yang mencapai 1.200 hektar. Selama ini, Pangandaran dikenal dengan wisata pantai dan sungai.
Megaterasering Sukamulya menampilkan pemandangan hamparan sawah yang indah, kehidupan petani yang beraktivitas di sawah, air terjun yang sejuk, kebun agrowisata, hingga perkebunan kopi robusta. Megaterasering ini terkenal berkat kerja keras pemuda di Pangandaran bernama Dedi Arief Cahyadi (39), setelah menikahi istrinya, Rosi Juniati (32) warga setempat pada 2016. ”Awalnya saya kira daerah perbukitan hanya hutan yang biasa dilalui warga. Ternyata sebuah potensi wisata yang sangat besar tersimpan di Sukamulya,” tutur Dedi saat ditemui di Pangandaran, 5 Mei 2024. Denan mempelajari literasi tentang terasering dan potensi pengembangan wisata terasering seperti di Ubud di Bali. Ia berikhtiar melahirkan desa wisata di Sukamulya. Komitmen itu dijalankan Dede di tengah kesibukannya sebagai penggiat budaya Kabupaten Pangandaran sejak tahun 2016 di bawah naungan Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek.
Di tengah upaya membangun spot wisata terasering di Sukamulya, Dedi terpilih menjadi salah satu tenaga pendamping program Pemprov Jabar, Patriot Desa, yang mendorong desa tertinggal dan berada di perbatasan dengan provinsi lain. ”Selama setahun sebagai tenaga pendamping Patriot Desa, saya merintis lahirnya BUMDes di Sukamulya yang mengelola pemasukan dari penggunaan air bersih oleh warga setempat,” ujarnya. Perlu waktu tiga tahun bagi Dede untuk meyakinkan warga soal potensi pendapatan yang diraih dari sektor pariwisata. Ia pun secara intens membuat video keindahan terasering Sukamulya di media sosial. Unggahannya menarik perhatian banyak warganet. Ia juga mengundang salah seorang pelaku usaha jasa wisata di Pangandaran bernama Fauzi ke Sukamulya.
Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek menetapkan Sukamulya, satu dari 359 desa di Indonesia yang berstatus desa budaya pada 2 April 2021. Dede bersama warga setempat sepakat menamai tempat itu Megaterasering Sukamulya. Warga pun dilatih menjadi pemandu wisata dan menyiapkan aneka kuliner bagi pengunjung, seperti nasi liwet, ikan asin, ikan mas, ayam goreng, dan kelapa muda. Pada Maret 2021, warga menyambut 300 pesepeda dari Pangandaran yang menjajal rute di Sukamulya. Kegiatan ini berjalan sukses dan warga mendapatkan pemasukan besar, yang Rp 1,5 juta dari pemasukan kegiatan sepeda itu digunakan Pokdarwis Wahana Mulya untuk membangun saung berkapasitas 50 orang yang digunakan sebagai tempat berlindung pengunjung. Kini, Desa Wisata Megaterasering Sukamulya rutin dikunjungi wisatawan dari sejumlah wilayah di Jabar, sebanyak 30 hingga 50 pengunjung sebulan. (Yoga)
Bambang Surya Atmaja, Penggerak Wisata Curug Cipeuteuy
Bambang Surya Atmaja (32) pulang kampung mengembangkan wisata Curug Cipeuteuy di Bantaragung, Kabupaten Majalengka, Jabar. Sejumlah wisatawan bersantai di gazebo sekitar Curug Cipeuteuy, Senin (22/4). Beberapa orang berendam di kolam dekat air terjun setinggi 12 meter. Ada yang berfoto di jembatan berlatar belakang pepohonan pinus atau piknik di tempat yang tersedia. Tak jauh dari air terjun, berdiri mushala, kamar mandi, serta warung. Semua tertata rapi. Selain menikmati dingin curug, wisatawan dapat menapaki jalur untuk jalan kaki atau berkemah di area bumi perkemahan. Sejumlah fasilitas di destinasi wisata itu berasal dari desain Bambang Surya Atmaja, pengelola Curug Cipeuteuy bagian pengembangan. Tamatan MTSN, setara SMP ini tak punya latar belakang pendidikan teknik arsitektur atau mengikuti les serupa.
”Semuanya saya desain di komputer. Saya belajar otodidak,” ucap Ibenk, sapaannya. Keadaan membuatnya harus memahami soal desain arsitektur. Pembangunan curug yang dirintis tahun 2009 itu adalah swadaya warga. Mereka menyumbang uang, tenaga, dan keahlian. Saat itu, ayahnya, Sukyadi, dan sejumlah warga yang tergabung dalam Masyarakat Pariwisata Gunung Ciremai (MPGC) menginisiasi pengembangan Curug Cipeuteuy. Bersama Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, mereka menyulap semak belukar menjadi tempat wisata air terjun. Pengembangan wisata di sini tak lepas dari ditetapkannya Ciremai sebagai taman nasional. Konsekuensinya, warga tidak lagi boleh seenaknya menanam dan mengambil sesuatu dari gunung setinggi 3.078 meter di atas permukaan laut tersebut.
Curug Cipeuteuy termasuk zona pemanfaatan untuk wisata. ”Cipeuteuy ini alamnya bagus, tetapi sarananya kurang. Akhirnya, saya coba desain gambar untuk pembangunan fasilitas,” ucapnya. Tanpa upah, ia merancang sejumlah prasarana di area itu. Modalnya, latihan desain di laptop yang ia beli dari hasil merantau di negeri orang. Karena keterbatasan biaya, pengembangan destinasi itu belum maksimal. Akses menuju kawasan di 700 mdpl itu masih sempit dan rusak. Sempat merantau, pada 2014, ia meneguhkan diri untuk mengembangkan wisata desa. Ibenk mengerjakan apa saja. Dari menjaga pos tiket, memarkir, menguras kolam, hingga mendesain gazebo serta titik untuk swafoto. Ia juga aktif mengajak anak muda membantu pengembangan Curug Cipeuteuy. ”Dari situ, pengunjung mulai banyak yang datang,” ucapnya. Ibenk pula yang menginisiasi konsep outbound dan kegiatan perkemahan di desanya, hasilnya cukup memuaskan. Rombongan sekolah hingga beberapa perusahaan menikmati fasilitas baru tersebut.
Saat ini, rata-rata 2.000-3.000 orang mengunjungi destinasi itu setiap bulan. Sebelum pandemi Covid-19 tahun 2020, jumlahnya bisa 4.000 wisatawan per bulan. Dengan tiket Rp 15.000 per orang, pemasukan mencapai Rp 45 juta per bulan, belum termasuk biaya parkir. Selain operasional pariwisata, dana itu juga digunakan untuk membantu guru mengaji, masjid, hingga kebutuhan masyarakat. Curug Cipeuteuy juga berkontribusi untuk pendapatan desa dan PNBP. Ibenk turut berperan dalam penyelamatan lingkungan. ”Setiap tahun, kami menanam 500 sampai 1.000 bibit tanaman endemik Ciremai, di wilayah kritis,” katanya. Pohon itu seperti picung (Pangium edule) dan salam (Syzygium polyanthum). Tidak hanya alam, ia juga memberikan pilihan bagi warga, terutama anak muda, untuk memanfaatkan potensi desa. Ibenk tidak ingin generasi penerus di Bantaragung merantau ke kota hingga luar negeri yang risikonya lebih besar. (Yoga)
Geliat Wisata di Candi Borobudur
Sebagaimana tahun sebelumnya, perayaan Waisak dipusatkan di Candi Borobudur, Magelang, Jateng. Selain seremoni keagamaan, acara budaya juga akan mewarnai. Jumlah pengunjung, umat, dan wisatawan diperkirakan melonjak pada pekan ini. Rangkaian acara menyambut rangkaian Tri Suci Waisak dimulai Selasa (21/5). Para biksu yang melakukan ritual thudong atau proses spiritual memaknai tiap langkah kehidupan sudah tiba di Candi Borobudur, Magelang, Jateng, pada Senin (20/5). Mereka, antara lain, berasal dari Thailand, Singapura, dan Malaysia yang berjalan kaki sejauh 1.250 kilometer dalam rangka menyambut Waisak.
”Para pelaku usaha, terutama di destinasi, maskapai, hotel, dan restoran pasti akan mengalami lonjakan pengunjung. Sebab, libur agak panjang mulai Kamis, 23 Mei 2024, ada long weekend,” ujar Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata (GIPI) Hariyadi Sukamdani, Selasa. Pengaruh perayaan Waisak cukup besar bagi pariwisata daerah sekitar, terutama di sekitar Candi Borobudur. Selain umat Buddha yang datang merayakan Waisak, wisatawan biasanya juga berbondong-bondong ke Candi Borobudur. Hariyadi menilai, perayaan kali ini lebih menarik karena penyelenggaraan acara-acara pendamping (side events). Salah satunya, Borobudur Peace and Prosperity Festival yang diadakan berkesinambungan hingga puncak perayaan pada Kamis (23/5).
Taksiran Kemenparekraf, setidaknya 300.000 wisatawan akan hadir di Magelang pada libur akhir pekan ini. Di masa liburan kali ini, Waisak menjadi momentum untuk beribadah sekaligus berwisata. Menparekraf Sandiaga Uno memperkirakan, wisatawan domestik yang berkunjung ke Borobudur akan merogoh sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per orang. Apabila dikalkulasi, target perputaran uang bagi ekonomi lokal mencapai Rp 300 miliar sampai Rp 600 miliar. ”Lebih penting dari prestasi ekonominya, bagaimana secara spiritual perayaan Waisak nanti akan memantapkan Candi Borobudur sebagai wisata spiritual terbaik dunia,” ujar Sandiaga. (Yoga)
TRANSAKSI WISATA WWF 2024 : Sandiaga Yakin Capai Rp1,7 Triliun
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memprediksi potensi ekonomi dari belanja para delegasi World Water Forum ke-10 di Bali menembus Rp1,7 triliun. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno membeberkan potensi ekonomi itu dihitung pelaksanaan World Water Forum (WWF) ke-10 selama 18–25 Mei 2024.Merujuk data perhelatan tingkat internasional sebelumnya, rata-rata pengeluaran dari kunjungan para delegasi di Indonesia sekitar Rp34 juta. Dia memperkirakan ada sekitar 50.000 peserta yang berpartisipasi dalam forum air sedunia itu.
Dalam gelaran WWF ke-10 di Bali, Kemenparekraf memfasilitasi kegiatan Water Tourism Development and MOTCE Support for Fair Expo untuk mewadahi para UMKM mendulang potensi ekonomi dari event tersebut. Sandiaga menekankan WWF ke-10 diarahkan memberikan dampak ekonomi kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelaku UMKM.
Menurut Sandiaga, para UMKM tersebut telah melalui tahap kurasi dan mengutamakan produk yang mengusung konsep keberlanjutan di sektor air maupun limbah.
Deputi Bidang Produk Pariwisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf Vinsensius Jemadu mengatakan pemerintah memfasilitasi pavilion dalam Water Tourism Development and MOTCE Support for Fair Expo dari 21 negara, yang terdiri atas 250 gerai yang tersebar di tiga lokasi pelaksanaan WWF diikuti oleh 500 UMKM.
Wahana Baru Lawang Sewu
Wisatawan terlihat menikmati wahana baru museum di Gedung Lawang Sewu
yang dibangun pada tahun 1904
di Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (19/5/2024). Hanya dengan tiket masuk Rp 20.000 untuk dewasa, Rp 10.000 untuk anak dan 30.000 untuk turis, para wisatawan dapat menikmati destinasi wisata dengan museum dan wahana digital tentang sejarah perkembangan kereta api di Indonesia ini. Wahana immersive yang baru diluncurkan ini menjadi daya tarik museum lebih interaktif dengan memanfaatkan teknologi audio visual dan grafis modern. (Yoga)
Desa Wisata Cibuntu: Indah Alamnya, Ramah Warganya
Di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jabar, pengunjung tidak hanya merasakan keindahan alamnya, tetapi juga keramahan warganya. Tidak mengherankan, daerah bekas galian C ini menjelma jadi desa wisata dan menjadi salah satu penginapan terbaik di Asia Tenggara. Wajah Kumairah (70) berseri menyambut tamu di rumahnya, di Desa Cibuntu, Rabu (1/5) pukul 17.00 WIB. Ia langsung mempersilakan mereka duduk, di atas meja tersaji biskuit dan air mineral. Kumairah pun telah menyiapkan dua tempat tidur untuk tamunya yang akan menginap. Setiap kamar bisa ditempati dua orang dewasa. Selimut dan bantal tertata rapi di ruangan 3 x 4 meter tersebut. Kamar itu terasa sejuk tanpa AC karena lokasinya di kaki Ciremai, gunung tertinggi di Jabar dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut.
Kesejukan juga datang dari keramahan pemilik rumah terhadap tamunya. Warga Cibuntu menjadikan rumahnya penginapan pada 2012, seiring penetapan Desa Wisata oleh pemkab setempat. Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti turut melatih warga menyambut tamu. ”Kami mendapat pelatihan menyambut tamu hingga menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan tamu dengan memadai dan bersih. Sekarang, kalau ada tamu, (saya) sudah biasa, enggak grogi lagi,” ucap Kumairah. Een Ratnasih (48), warga yang mengoordinasi pembagian penginapan, mengatakan, awalnya hanya ada 15 penginapan di Cibuntu. Kini, dari 200 rumah di desa, sekitar 60 rumah adalah penginapan. Di dindingnya tertulis homestay. Syarat menjadi penginapan yang penting rumahnya bersih dan penghuninya ramah. Fasilitas lainnya, ada kamar khusus tamu.
Bahkan, Homestay Teratai 3 milik Bu Narjo masuk dalam ASEAN Homestay Standard 2017-2019. Rumah singgah ini membawa Cibuntu meraih peringkat kelima terbaik di tingkat Asia Tenggara pada 2016 di bidang homestay. Penginapannya punya parkiran, pintu dan ruang tamu khusus, dan satu lantai ada lima kamar. Menariknya, warga sepakat menerapkan sistem pemerataan. Jika Bu Narjo mendapatkan tamu hari ini, pada pemesanan berikutnya giliran penginapan warga yang lainnya. Itu sebabnya, semua pengunjung yang ingin menginap harus melalui BUMDes. Harganya pun standar, Rp 250.000 per malam per kamar dengan sarapan. Selain menikmati penginapan di rumah warga, pengunjung juga bisa merasakan tidur di tenda dengan suasana alam terbuka Cibuntu.
Paket kemah ini beragam, dari Rp 200.000 hingga Rp 350.000 per orang. Di tenda terdapat bantal, selimut, tempat tidur, listrik, dan penerangan. Wisatawan bisa mengakses kolam renang di area perkemahan. ”Tenda kami bisa menampung 120 orang. Tapi, kalau mau lebih interaksi dengan warga, kami tawarkan ke homestay,” ucap Adang Sukanda, Direktur BUMDes Cibuntu. Homestay juga bisa menampung hingga 300 orang, seperti saat Cibuntu kedatangan sejumlah sekolah dari Bandung. Selain menginap, pengunjung juga bisa mengikuti tur kampung. Seperti ke Situs Bujal Dayeuh yang berisi peti kubur batu, kapak genggam, gelang, dan kelenting, yang diperkirakan berasal dari kebudayaan megalitikum, 3.500 SM. Wisatawan bisa menuju mata air kahuripan, kampong domba, hingga trekking ke Curug Gongseng, air terjun setinggi 15 meter. (Yoga)
Iim Ibrahim Lawan ”Pinjol” lewat Desa Wisata
Tangan dingin Iim Ibrahim (47) membuat BUMDes Arya Kamuning di Desa Kaduela, Kuningan, Jabar menjadi ladang rezeki warga. Kiprahnya selama empat tahun terakhir berhasil mengembangkan potensi Kaduela menjadi salah satu desa wisata terbaik di Indonesia. Matahari bersinar terik di Wisata Kolam Renang Side Land di Desa Kaduela, Rabu (1/5) siang. Di kawasan seluas 1 hektar itu, ada lima kolam renang di Side Land dengan kedalaman 50-150 cm. Ada juga perosotan menghadap terasering. Jumlah pengunjung bisa mencapai 150 orang per hari. Seperti para pengunjung yang bahagia, Iim Ibrahim juga merasakan hal yang sama. Jerih payahnya membesarkan Side Land bersama warga tidak sia-sia. Iim adalah Direktur BUMDes Arya Kamuning sejak 2020, yang mengelola dua tempat wisata, yaitu Side Land dan Telaga Biru Cicerem. Jarak keduanya 800 meter.
Kawasan Cicerem, luasnya 2,7 hektar. Mengandalkan air telaga yang biru, rata-rata pengunjung mencapai 500 per hari. Jumlahnya bisa membeludak berkali-kalilipat saat hari libur. ”Pemasukan dari Telaga Biru Cicerem dan Side Land Rp 50 juta per bulan,” katanya. Pendapatan itu memberi manfaat pada warga. Ada 12 pegawai tetap Side Land dan 35 pegawai tetap di Telaga Biru Cicerem. Tenaga lepasnya hingga 200 orang. Semuanya warga Kaduela. Pekerja lepas dibayar Rp 85.000 per hari, sedangkan pegawai tetap dibayar UMK Kuningan, Rp 2 juta. Setelah Iim terpilih menjadi Direktur BUMdes Arya Kamuning pada 2020. Ia merevitalisasi dan menambah fasilitas di Telaga Biru Cicerem, hasilnya memuaskan.
Sukses di Cicerem, Iim merintis Kolam Renang Side Land pada Maret 2021., yang memanfaatkan lahan milik desa yang terbengkalai. Tantangan ketika membangun Side Land adalah minimnya modal hingga pesimis sejumlah warga. ”Saya sampai pinjam uang menggadaikan sertifikat rumah di bank,” ujarnya. Kerja keras dan inovasi Iim membawa dampak besar bagi BUMdes Arya Kamuning dan masyarakat setempat. Kini BUMdes Arya Kamuning berkontribusi penting bagi pendapatan asli desa. ”Pada 2022, jumlahnya mencapai Rp 523 juta. Di tahun 2023, saat beragam pembangunan dilakukan, kami masih bisa menyumbang Rp 355 juta,” katanya.
Di tangan Iim, BUMDes tidak hanya memberi uang. Kehadirannya ikut membantu literasi keuangan warga. ”Sebagian warga pernah terjerat pinjaman online (pinjol) hingga rentenir. Lewat unit bisnis simpan-pinjam, kami coba melawan praktik itu,” katanya. September 2021, BUMDes Arya Kamuning mendapatkan modal awal dari pemerintah desa Rp 100 juta, yang digunakan untuk menjalankan unit usaha simpan-pinjam. BUMDes memberikan pinjaman Rp 1 juta kepada warga dengan bunga 1,5 % per bulan. Bila meminjam Rp 1 juta, warga membayar Rp 115.000 per bulan selama 10 bulan. Mulanya, hanya 10 nasabah di unit usaha ini. ”Sekarang, sudah ada 200 nasabah. Sebagian pernah terjerat pinjol dan rentenir. Sekitar Rp 250 juta bergulir di masyarakat,” ujarnya. (Yoga)
Menahan Laju Ledakan Turisme
Warga lokal di berbagai destinasi wisata dunia sudah lelah dengan ledakan turisme (overtourism). Gelombang penolakan melanda sejumlah negara karena pariwisata berlebihan. Penolakan terbaru muncul di Yunani. Dari The Greek City Times, Kamis (16/5) muncul grafiti di dinding-dinding kota Athena, berisi tuntutan untuk mengakhiri ledakan turisme. ”Turis, pulanglah” atau ”Turis, nikmatilah liburanmu di kuburan Eropa”. Pada satu sisi, Yunani sangat mengandalkan pariwisata untuk pendapatan negara. Asosiasi Perusahaan Pariwisata Yunani menyebut, tahun lalu ada 33,4 juta wisatawan berkunjung ke Yunani, yang menyumbang seperlima PDB Yunani. Umumnya turis datang ke Acropolis, tempat berdirinya Parthenon, Erechtheion, dan Propylaea.
Setidaknya 17.000 orang per hari mengunjungi tempat itu. Di sisi lain, warga mengeluhkan banjir wisatawan membuat tempat tinggal berubah menjadi penginapan musiman. Mereka menyadari efek merugikan ledakan turisme itu pada kelestarian warisan budaya Yunani. Athena menjadi salah satu situs yang mulai terkikis lantaran pariwisata yang tak terkendali. April lalu, warga setempat turun ke jalan untuk memprotes. Gaung protes di Yunani membahana ke berbagai destinasi pariwisata dunia. Pada pertengahan April 2024, penduduk Pulau Canary, Spanyol, mogok makan menuntut dihentikannya pembangunan dua hotel. Pada Maret lalu, warga Kyoto, Jepang, memprotes banyaknya turis yang kerap berperilaku kurang pantas.
Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) menyebutkan, pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Saat ini volume bisnis pariwisata setara atau bahkan melampaui volume ekspor minyak, produk makanan, atau mobil. Justin Francis, CEO Responsible Travel, operator tur yang fokus pada perjalanan berkelanjutan, mengatakan, untuk menangani ledakan turisme, masyarakat setempat mesti diajak berdiskusi, apa yang diinginkan atau dibutuhkan suatu tempat dari pariwisata. Cara yang dilakukan Pemerintah Kota Kyoto bisa menjadi rujukan. Mereka menyebar kepadatan pengunjung berdasarkan waktu, wilayah, dan musim, misalnya membuka tempat wisata lebih pagi, mempromosikan agenda wisata di wilayah yang sepi pengunjung, hingga mempromosikan Kyoto bukan hanya sakura. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022









