Desa Wisata Cibuntu: Indah Alamnya, Ramah Warganya
Di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jabar, pengunjung tidak hanya merasakan keindahan alamnya, tetapi juga keramahan warganya. Tidak mengherankan, daerah bekas galian C ini menjelma jadi desa wisata dan menjadi salah satu penginapan terbaik di Asia Tenggara. Wajah Kumairah (70) berseri menyambut tamu di rumahnya, di Desa Cibuntu, Rabu (1/5) pukul 17.00 WIB. Ia langsung mempersilakan mereka duduk, di atas meja tersaji biskuit dan air mineral. Kumairah pun telah menyiapkan dua tempat tidur untuk tamunya yang akan menginap. Setiap kamar bisa ditempati dua orang dewasa. Selimut dan bantal tertata rapi di ruangan 3 x 4 meter tersebut. Kamar itu terasa sejuk tanpa AC karena lokasinya di kaki Ciremai, gunung tertinggi di Jabar dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut.
Kesejukan juga datang dari keramahan pemilik rumah terhadap tamunya. Warga Cibuntu menjadikan rumahnya penginapan pada 2012, seiring penetapan Desa Wisata oleh pemkab setempat. Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti turut melatih warga menyambut tamu. ”Kami mendapat pelatihan menyambut tamu hingga menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan tamu dengan memadai dan bersih. Sekarang, kalau ada tamu, (saya) sudah biasa, enggak grogi lagi,” ucap Kumairah. Een Ratnasih (48), warga yang mengoordinasi pembagian penginapan, mengatakan, awalnya hanya ada 15 penginapan di Cibuntu. Kini, dari 200 rumah di desa, sekitar 60 rumah adalah penginapan. Di dindingnya tertulis homestay. Syarat menjadi penginapan yang penting rumahnya bersih dan penghuninya ramah. Fasilitas lainnya, ada kamar khusus tamu.
Bahkan, Homestay Teratai 3 milik Bu Narjo masuk dalam ASEAN Homestay Standard 2017-2019. Rumah singgah ini membawa Cibuntu meraih peringkat kelima terbaik di tingkat Asia Tenggara pada 2016 di bidang homestay. Penginapannya punya parkiran, pintu dan ruang tamu khusus, dan satu lantai ada lima kamar. Menariknya, warga sepakat menerapkan sistem pemerataan. Jika Bu Narjo mendapatkan tamu hari ini, pada pemesanan berikutnya giliran penginapan warga yang lainnya. Itu sebabnya, semua pengunjung yang ingin menginap harus melalui BUMDes. Harganya pun standar, Rp 250.000 per malam per kamar dengan sarapan. Selain menikmati penginapan di rumah warga, pengunjung juga bisa merasakan tidur di tenda dengan suasana alam terbuka Cibuntu.
Paket kemah ini beragam, dari Rp 200.000 hingga Rp 350.000 per orang. Di tenda terdapat bantal, selimut, tempat tidur, listrik, dan penerangan. Wisatawan bisa mengakses kolam renang di area perkemahan. ”Tenda kami bisa menampung 120 orang. Tapi, kalau mau lebih interaksi dengan warga, kami tawarkan ke homestay,” ucap Adang Sukanda, Direktur BUMDes Cibuntu. Homestay juga bisa menampung hingga 300 orang, seperti saat Cibuntu kedatangan sejumlah sekolah dari Bandung. Selain menginap, pengunjung juga bisa mengikuti tur kampung. Seperti ke Situs Bujal Dayeuh yang berisi peti kubur batu, kapak genggam, gelang, dan kelenting, yang diperkirakan berasal dari kebudayaan megalitikum, 3.500 SM. Wisatawan bisa menuju mata air kahuripan, kampong domba, hingga trekking ke Curug Gongseng, air terjun setinggi 15 meter. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023