Bencana
( 266 )Apakah Korporasi Bertanggung Jawab Atas Rusaknya Lingkungan?
Jabodetabek Kian Rentan Bencana, Tata Kota Abaikan Lingkungan
Pembangunan wilayah perkotaan dan permukiman yang tidak teratur membuat Jakarta dan wilayah sekitarnya semakin rentan terdampak bencana. Pada akhir November hingga awal Desember 2024, warga di Jakarta Utara merasakan dampak banjir rob. Banjir rob bahkan kembali menggenangi wilayah pesisir utara Jakarta pada 13-18 Desember 2024. Banjir ini terjadi karena fenomena pasang maksimum air laut bersamaan dengan fase bulan baru. Selain itu, banjir rob dipengaruhi oleh topografi wilayah serta dampak dari hujan berintensitas tinggi. Sejumlah wilayah RT di Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, dan Kelurahan Pluit, Penjaringan, digenangi air setinggi 10-100 sentimeter (cm). Meningkatnya tinggi pasang air laut maksimum dan kombinasi cuaca masih berpotensi terjadi di pesisir utara Jakarta.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, banjir rob Jakarta akan terjadi pada 26 Desember 2024 hingga 3Januari 2025. Banjir rob itu berpotensi melanda wilayah pesisir Jakarta Utara, seperti Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, hingga Kepulauan Seribu. Banjir juga sempat melanda sejumlah wilayah di Jakarta pada Rabu (27/11). Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta terkait antisipasi dampak cuaca ekstrem, dari 267 kelurahan di wilayah Jakarta, ada 40 kelurahan yang berpotensi terdampak banjir. Wilayah-wilayah yang dinilai rawan banjir antara lain daerah bantaran sungai di Kemang, Pesanggrahan, Cilandak Timur, Bidaracina, Kebon Baru,Rawajati, KuninganBarat, Petogogan, dan Kebon Pala. (Yoga)
Waspada di Akhir Tahun Terjadi Bencana
Cuaca ekstrem masih membayangi pada akhir tahun 2024 dan awal 2025. Hingga sepekan ke depan, diperkirakan terjadi hujan intensitas sedang hingga sangat lebat yang disertai kilat dan angin kencang di sejumlah wilayah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, fenomena La Nina lemah menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi hujan selama 27 Desember 2024-2 Januari 2025. Kondisi ini diperkuat oleh mengencangnya angin Monsun Asia, aktifnya gelombang atmosfer di sejumlah wilayah, dan keberadaan sirkulasi siklonik. ”Kombinasi dari fenomena ini diperkirakan masih berlangsung hingga pergantian tahun. Kami mengingatkan masyarakat untuk terus waspada terhadap ancaman bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi,” ujar Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani, Kamis (26/12/2024) sore. Hujan lebat dan sangat lebat diperkirakan terjadi di Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah.
Adapun potensi angin kencang terjadi di Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, JawaTimur, DIYogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Berdasarkan pantauan BMKG, di beberapa daerah sudah terjadi banjir, seperti di Tarakan (Kalimantan Utara), Kulon Progo (Yogyakarta), Balangan (Kalimantan Selatan), Semarang dan Banyumas (Jawa Tengah), serta Serang (Banten). Sementara tanah longsor terjadi di Sidenreng Rappang (Sulawesi Selatan), Sukabumi (Jawa Barat), serta Sragen dan Wonogiri (Jawa Tengah). ”Bersihkan saluran air dan lingkungan sekitar untuk mengurangi risiko banjir, hindari aktivitas di wilayah rawan bencana dan persiapkan perlengkapan darurat,” katanya. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menambahman, warga harus hati-hati berkendara saat jalanan diguyur hujan. Sebab, jarak pandang terbatas dan bisa memicu aqua-planing, kondisi saat kendaraan tak bisa dikendalikan karena hilangnya daya cengkeram ban. ”Kurangi kecepatan di jalan tol yang sedang hujan. Waspadai longsor dan pohon tumbang saat berkendara di perbukitan atau lereng gunung,” ujarnya. (Yoga)
Dua Dekade Tsunami Aceh Berlalu
Pada 26 Desember kemarin, genap dua dekade gempa bumi diikuti tsunami yang menewaskan lebih dari 160.000 orang di Aceh. Gempa itu membuka kesadaran tentang bahaya yang mengintai masyarakat Indonesia yang hidup di atas zona tumbukan lempeng bumi. Namun, kesiapsiagaan menghadapi gempa yang akan datang masih jadi pertanyaan besar. Gempa dahsyat mengguncang Pulau Sumatera pada Minggu, 26 Desember 2004, pukul 07.58 WIB. Belakangan diketahui, gempa tersebut berkekuatan M 9,2 dan berpusat 30 kilometer di bawah Samudra Hindia, sekitar 260 kilometer dari Kota Banda Aceh. Reportase Kompas dalam Ekspedisi Cincin Api (26 Mei 2012) memuat, saat laut surut, banyak orang berada di pantai, mencari ikan atau terperangah dengan fenomena alam tak lazim. Bahkan, hingga gelombang laut berketinggian 30 meter mendekati pantai sekitar 30 menit setelah gempa, banyak orang tak menyadari bahaya tsunami.
Baru ketika ombak menerjang, orang-orang berhamburan, tetapi menyelamatkan diri saat itu nyaris mustahil. Ombak laut bergulung-gulung, membawa batu, pepohonan, dan segalanya sampai 7 kilometer ke daratan. Nyaris semua bangunan yang dilewati tsunami rata dengan tanah, terbongkar sampai fondasinya. Sebelum tsunami 2004, jumlah penduduk Banda Aceh 239.146 jiwa. Sebanyak 61.265 penduduknya tewas atau hilang saat tsunami atau tinggal 177.881 orang pada 2005. Selain di Banda Aceh, korban terbesar terjadi di pesisir Aceh Besar, Aceh Barat, dan Calang. Banyaknya korban jiwa di pesisir Aceh ini terutama karena ketidaktahuan akan tsunami, yang bisa melanda setelah gempa besar. Hingga sebelum 2004, masyarakat di Banda Aceh dan mayoritas di Indonesia tidak memiliki pengetahuan tentang gempa bumi dan tsunami. Sebelum bencana Aceh, gempa bumi dan tsunami telah melanda beberapa wilayah Indonesia sekalipun skalanya tidak sedahsyat 2004. (Yoga)
Dua Orang Tewas, Bus Pariwisata Tabrak Truk di Tol Cipularang
Sebuah bus pariwisata menabrak truk di Kilometer 80 Tol Cipularang di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (26/12/2024) dini hari. Dua penumpang tewas dalam kejadian ini, sementara 56 orang lainnya mengalami luka-luka. Data yang dihimpun Kompas dari Jasamarga Metropolitan Tollroad dan Kepolisian Resor Purwakarta, kecelakaan yang melibatkan bus PO Qonita Wisata dengan truk itu terjadi pukul 01.35. Kecelakaan terjadi ketika bus melintas dari Bandung menuju Jakarta. Bus dengan nomor polisi B 7363 NGA itu dikemudikan oleh Romyani (57). Bus menabrak bagian belakang truk bernomor polisi B 9354 FYT yang berada di lajur kiri jalan tol tersebut. Pengemudi bus diduga mengantuk sehingga kurang mengantisipasi kendaraan di depannya. Akibatnya, bus menabrak bagian belakang truk. Pascakejadian ini, para korban yang terluka dan tewas dievakuasi ke Rumah Sakit Abdul Radjak, Purwakarta. Dua kendaraan yang terlibat kecelakaan dievakuasi ke Gerbang Tol Jatiluhur di Purwakarta. Sekalipun sempat tersendat, arus lalu lintas kembali lancar beberapa jam setelah kejadian tersebut. ”Terdapat 12 korban luka berat yang masih menjalani perawatandiRumah Sakit Abdul Radjak, Purwakarta. Kami telah menahan sopir di Markas Polres Purwakarta,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Purwakarta Ajun Komisaris Dadang Supriadi. Polisi belum dapat menyampaikan pemicu kecelakaan.
Sopir masih diperiksa oleh polisi. ”Sopir diperiksa untuk mengungkap adanya unsur kelalaian dalam kasus ini.Bus diduga terlebih dahulu menabrak truk ini,” ujarnya. Sementara itu, Senior Manager Representative Office 3 Jasamarga Metropolitan Tollroad Agni Mayvvina mengatakan, total terjadi dua kecelakaan pada Kamis dini hari. Peristiwa kedua terjadi di Kilometer 92 Tol Cipularang di ruas jalan dari arah Jakarta menuju Bandung pada pukul 02.50. ”Peristiwa yang kedua melibatkan satu bus angkutan dan satu kendaraan yang belum teridentifikasi karena sudah tidak berada di lokasi kejadian. Terdapat satu korban luka pada kecelakaan di lokasi ini,” kata Agni. Ia mengimbau pengguna jalan, baik pengendara kendaraan pribadi maupun angkutan, untuk menyiapkan diri dan kendaraan dengan baik sebelum memulai perjalanan. ”Khusus bagi pengguna jalan yang berkendara pada malam hari, manfaatkan rest area (tempat istirahat) terdekat jika mengalami kelelahan atau mengantuk,” ujarnya. Sebelumnya, dua kecelakaan besar yang melibatkan bus pariwisata terjadi di Jabar pada tahun 2024. Pertama, kecelakaan tunggal bus Putera Fajar yang membawa rombongan siswa SMK Lingga Kencana asal Depok di Jalan Raya Ciater, Subang, Jabar, pada 11 Mei. Peristiwa yang dipicu rem bus blong ini mengakibatkan 11 korban tewas dan puluhan lain terluka. Kedua, kecelakaan bus wisata Blue Star yang membawa rombongan dosen Universitas Pamulang di Kilometer 176 Tol Cikampek-Palimanan (Cipali) di Kabupaten Majalengka, Jabar, pada 24 Juli. Seorang dosen tewas dalam insiden ini. (Yoga)
Korban 30 Orang Tewas Pada Jatuhnya Pesawat Azerbaijan
Waspada di Perjalanan Cuaca Buruk
Selain lonjakan mobilitas masyarakat yang dapat menyebabkan kepadatan lalu lintas, warga yang melakukan perjalanan saat masa libur Natal 2024 dan Tabun Baru 2025 juga perlu mewaspadai dampak cuaca ekstrem. Gelombang tinggi berpotensi menunda kebe rangkatan angkutan penyeberangan. Hujan lebat dapat memicu banjir di jalur perjalanan. Ancaman longsor juga mengintai, terutama di ruas jalan dengan medan bertebing. Deputi Bidang Meteorologi pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto mengatakan, secara umum wilayah Jawa bagian utara dan selatan masih akan mengalami peningkatan curah hujan pada 21-22 Desember 2024. Hal yang sama terjadi di Sumatera bagian barat dan timur. ”Jawa bagian utara mulai dari Cirebon, Pekalongan, hingga Jawa Timur itu curah hujannya masih tinggi. Peningkatan curah hujan dari sedang hingga ekstrem,” katanya saat dihubungi, Jumat (20/12) malam. Namun, gelombang tinggi di Selat Sunda diprediksi mereda pada 21-22 Desember. Fenomena angin kencang di Selat Sunda mulai berkurang karena tertahan oleh bibit siklon yang ada di Kalimantan Barat. ”Dalam dua hari ke depan juga akan terjadi pengurangan curah hujan di wilayah Jabodetabek. Curah hujan ini diprediksi kembali meningkat pada 24 Desember 2024, ”ujarnya.
Terkait dengan hal itu, ancaman banjir rob, longsor, hingga angin kencang harus diwaspadai oleh warga yang akan bepergian untuk merayakan liburan Natal dan Tahun Baru. Warga diminta terus mengecek prakiraan cuaca dari BMKG agar bisa melakukan persiapan perjalanan dengan matang. ”Ancaman banjir rob di utara Jawa Tengah juga harus diwaspadai,” kata Guswanto. Berdasarkan data Jasa Marga, 307.831 kendaraan meninggalkan wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabode-tabek) padaRabu (18/12) hinggaKamis (19/12). Jumlah ini meningkat 13,6 persen dibandingkan dengan lalu lintas normal yang mencapai 270.968 kendaraan pada periode yang sama. ”Distribusi lalu lintas kendaraan meninggalkan Jabodetabek menuju tiga arah, yakni timur menuju Tol Trans-Jawa dan Bandung sebesar 42 persen, barat (Merak) sebesar 34,6 persen, dan selatan (Bogor) sebesar 23,3 persen,” papar Corporate Communication and Community Development Group Head Jasa Marga Lisye Octaviana.Kemacetan belum terlihat hingga Jumat malam di Tol Trans-Jawa. Hingga pukul 20.00 WIB, tidak ada antrean panjang kendaraan yang memasuki gerbang tol. Kondisi serupa terjadi di ruas Tol Jakarta-Cikampek. Kendaraan bisa melaju hingga lebih dari 60 kilometer per jam. Namun, hujan deras yang terjadi sejak Jumat siang hingga sore membatasi jarak pandang pengemudi. (Yoga)
BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Buruk di Sejumlah Wilayah Perairan selama Libur Nataru
Kepala Badan Geologi Catat Kenaikan Energi Gempa dari Gunung Raung
ICOR Indonesia yang Terbilang Tinggi Dibanding Negarara Lain
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









