Bencana
( 266 )Pemprov Jakarta Memastikan Penanganan Korban Banjir Rob di Pulau Panggang Kepulauan Seribu Berjalan Baik
Banjir Rob Rendam Hunian 4.184 Keluarga di Pesisir Bekasi
Hilangnya Rumah Penuh Kenangan akibat Bencana Hidrometeorologi
Bencana alam di Kabupaten Sukabumi, Jabar, awal pekan lalu, menyisakan trauma dan duka mendalam bagi para penyintas. Dari tempat pengungsian, mereka menyimpan harapan dapat kembali ke rumah masing-masing. Syamsul (39) melangkahkan kaki memasuki Kampung Cihonje, Desa Sukamaju, Minggu (8/12). Ayah tiga anak ini ditemani istrinya, Neni (30), dan beberapa kerabat lainnya, hendak melihat rumahnya di Cihonje. Perjalanan ke kampung yang dihuni 185 keluarga itu melalui lokasi bencana pergerakan tanah yang sangat berbahaya. Rumah Syamsul termasuk 40 rumah di Cihonje yang rusak berat akibat pergerakan tanah, Selasa (3/12). Bencana dipicu hujan yang mengguyur Sukabumi selama dua hari berturut-turut.
Rasa rindu melihat rumah mendorong Syamsul dan keluarganya nekat ke tempat itu. Tiba di rumahnya, Syamsul terdiam, dadanya sesak, rumahnya yang penuh kenangan, roboh pada Selasa pukul 18.00 WIB. ”Peristiwa ini sangat mendadak. Tiba-tiba terjadi retakan di lantai rumah saat hujan deras pada Selasa sore,” ungkapnya. Saat ini, Syamsul bersama istri dan anaknya mengungsi ke rumah kerabatnya yang lebih aman. Ia belum memiliki rencana pindah ke tempat lain. ”Mudah-mudahan ada solusi relokasi dari pemerintah ke tempat yang lebih aman di sekitar sini,” tuturnya. Ipon (56) memilih kembali ke rumahnya. Ibu empat anak ini tinggal di sana bersama lima kerabatnya. Ia mengabaikan retakan tanah yang terlihat di beberapa ruangan rumahnya dan di halaman rumah. ”Saya lebih nyaman di sini daripada mengungsi ke rumah kerabat. Kami akan pindah saat hujan kembali mengguyur Cihonje,” ucap Ipon.
Lina (39) termasuk warga yang tetap bertahan di lokasi pengungsian. Ia bersama suami dan empat kerabatnya mengungsi di SDN 2 Tegalpanjang. ”Di sini (lokasi pengungsian) semua kebutuhan terpenuhi. Tapi, kami tetap merasa lebih nyaman di rumah sendiri,” ungkap ibu empat anak ini. ”Masih ada dua korban jiwa yang tertimbun di wilayah Sukabumi. Kami terus mencari meski pihak keluarga sudah ikhlas dengan musibah ini,” kata Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto usai rakor penanggulangan bencana di Sukabumi, Minggu sore. Ia memaparkan, masih ada 3.156 keluarga di Sukabumi yang mengungsi secara mandiri ataupun di lokasi yang terpusat. (Yoga)
Kasus Pembunuhan Orang Tua oleh Anak
BMKG Meminta Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem
Nestapa Akibat Rusaknya Hutan di Tanah Karo
Erwin Surbakti (30) tak kuasa menahan tangis ketika jenazah istri, dua anak, dan ibunya ditemukan di bawah timbunan longsor di Kabupaten Karo, Sumut. Hampir semua anggota keluarganya meninggal. Rumah sekaligus tempat usaha penginapan milik keluarganya juga hancur terbawa longsor. Erwin belum bisa melupakan malam kelam ketika longsor mengempas rumahnya, Sabtu (23/11) pukul 19.00. Ketika itu, dia bersama anggota keluarganya berada di rumah sekaligus tempat penginapan di kawasan wisata air panas di dekat kaki Gunung Sibayak. Rumah Erwin berada persis di bawah bukit terjal setinggi 100 m. Dia mendengar suara gemuruh ketika bukit di atas rumahnya longsor. Erwin bersama adik kandungnya, Rio Surbakti (26), dan seorang wisatawan yang sedang berada di penginapan itu melompat dari lantai dua.
Rumah roboh lalu tertimbun material longsor. Bencana longsor di Karo merenggut total 10 korban jiwa. Selain tujuh orang dalam satu keluarga, tanah longsor itu juga menyebabkan tiga wisatawan meninggal. Kepala BPBD Kabupaten Karo, Juspri Nadeak mengatakan, saat ini pihaknya berfokus melakukan penanggulangan bencana. Semua korban longsor di Karo telah ditemukan, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut Rianda Purba mengatakan, bencana ekologis yang terjadi di Karo harus menjadi evaluasi untuk menghentikan kerusakan lingkungan demi mencegah amuk alam yang lebih parah.
Selain di Karo, banjir bandang dan longsor juga merenggut nyawa warga di Kabupaten Deli Serdang, Padang Lawas, dan Tapanuli Selatan. Rianda menyebut, sudah sejak lama terjadi pembalakan dan alih fungsi lahan di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan. Hutan konservasi itu adalah hulu sejumlah sungai yang mengaliri Kabupaten Karo dan Deli Serdang, dua dari empat kabupaten yang terdampak banjir dan longsor pada Sabtu, 23 November 2024. Walhi Sumut meminta agar pemerintah melihat bencana itu sebagai alarm untuk menyelamatkan lingkungan dalam jangka panjang. Penebangan hutan secara ilegal harus dihentikan. Hutan-hutan yang sudah rusak juga harus diselamatkan. Jika tidak, bencana banjir bandang dan longsor akan terus terjadi. (Yoga)
Gagal Mencoblosnya Ribuan Korban Bencana
Ribuan korban bencana alam di sejumlah daerah gagal mencoblos pada hari pemungutan suara Pilkada 2024, Rabu (27/11). KPU memutuskan untuk menggelar pemungutan suara susulan dan lanjutan di sejumlah daerah terdampak bencana tersebut. Pemilih yang gagal menggunakan hak pilihnya ditemukan di Kabupaten Flores Timur, NTT. Sekitar 600 penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang memiliki hak pilih batal mencoblos karena kesulitan mengakses tempat pemungutan suara (TPS). ”Dari total daftar pemilih tetap 1.119 orang, yang memilih tidak sampai setengahnya,” ujar Kades Pululera, Paulus Tukan, Rabu. KPU NTT memutuskan untuk tidak mendirikan TPS di Pululera dengan alasan desa itu terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
Karena itu, 1.119 warga Pululera yang terdaftar sebagai pemilih Pilkada 2024 diarahkan untuk menyalurkan hak pilih mereka di TPS desa terdekat, yakni Nileknoheng. Paulus menjelaskan,tidak semua pemilih dari Pululera bisa ke TPS di Nileknoheng karena tak memiliki kendaraan. Jarak Pululera ke Nileknoheng, 3 kilometer dengan kondisi jalan menanjak. Padahal, banyak pemilih termasuk kelompok lanjut usia dan ada yang sakit-sakitan. ”Ada juga yang jalan kaki ke sana (TPS). Mereka dating membawa undangan memilih. Namun, setelah tiba di sana, mereka diminta menunjukkan KTP. Banyak yang KTP-nya tercecer saat mengungsi. Mereka akhirnya tidak bisa memilih,” tuturnya.
Ketua KPU NTT Jemris Fointuna menjelaskan, sebenarnya pemda dan KPU sudah menyiapkan kendaraan untuk mengangkut para pemilih. Namun, kehadiran mobil bantuan itu tidak dikoordinasikan dengan pemerintah desa terlebih dahulu sehingga banyak masyarakat tidak tahu. Sebelum mobil datang, sebagian masyarakat sudah jalan kaki ke TPS di Desa Nileknoheng dan sebagian lagi batal ke sana. Demi menjamin hak pilih para penyintas bencana, KPU NTT merelokasi sejumlah TPS. Sedikitnya 22 TPS didirikan di tujuh pos pengungsian. Sebanyak 4.145 penyintas akan menyalurkan hak pilih mereka di tempat itu. (Yoga)
Tiga Krisis Planet Akibat Plastik
Plastik dikenal sebagai material praktis dan murah. Karena itu, plastik menggeser beragam pembungkus dan wadah alami. Masalahnya, biaya membersihkan polusi dari produksi plastik atau biaya mengelola kemasan saat kita membuangnya ke lingkungan tak pernah dihitung. Belum lagi tagihan medis bertambah akibat ancaman kesehatan manusia terkait plastik. Jangan lupakan biaya kerusakan pada kehidupan darat dan laut beserta seluruh ekosistem akibat polusi plastik juga sangat besar. Dari 25 November hingga 1 Desember 2024, perwakilan dari 175 negara, termasuk Indonesia, berkumpul di Busan, Korsel, untuk putaran kelima Intergovernmental Negotiating Committee (INC-5) tentang Perjanjian Plastik di Busan. Isu paling diperdebatkan adalah apakah perjanjian ini akan mencakup target yang mengikat untuk mengurangi produksi plastik atau tidak.
Meski konsensus ilmiah menyatakan pemotongan produksi plastik penting untuk mengatasi ancaman lingkungan dan kesehatan yang ditimbulkannya, beberapa negara yang mengedepankan industri petrokimia dan kimia, khawatir dampak negatif pada ekonomi mereka. Akibatnya, perundingan terbelah jadi dua kepentingan besar. Sekelompok negara, yang terdiri dari 67 negara dan dipimpin Norwegia dan Rwanda membentuk Koalisi Ambisi Tinggi Mengakhiri Polusi Plastik, menyatakan ingin membatasi jumlah total plastik di Bumi dengan mengendalikan produksi, konsumsi, dan pembuangan plastik. Kelompok berseberangan, produsen petrokimia dan kimia digalang Arab Saudi, Rusia, dan India, menolak pembatasan ini dan mendorong tata kelola di hilir , termasuk daur ulang. Di tengah pembelahan ini, posisi Indonesia cenderung abstain.
”Pembatasan produksi plastik mengganggu produksi minyak dan gas. Plastik tersusun dari karbon dan kimia dengan bahan baku utama energi fosil,” kata Yuyun Ismawati, Ketua Bersama the International Pollutants Elimination Network (IPEN) di Busan, Selasa (26/11). Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz (UFZ) menganalisis dampak plastik pada tiga krisis planet, yakni perubahan iklim, hilangnya keragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. PBB mengenalkan istilah ”tiga krisis planet” menggambarkan krisis global saling terkait, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Istilah ini untuk menyoroti saling ketergantungan dan dampak krisis ini pada ekosistem, masyarakat, dan ekonomi. Polusi mikroplastik di Indonesia amat parah. Tanpa upaya progresif, dampak buruk plastik yang ditanggung generasi mendatang amat besar. (Yoga)
14 Tewas dan 8 Hilang dalam bencana di Sumut
Banjir bandang dan longsor menerjang empat kabupaten di Sumut, yakni Deli Serdang, Karo, Padang Lawas, dan Tapanuli Selatan. Sebanyak 14 orang tewas dan sedikitnya delapan orang masih hilang dalam bencana yang mulai terjadi pada Sabtu (23/11) malam. Di Deli Serdang, tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan melakukan pencarian di permukiman yang rusak berat diterjang banjir bandang di Desa Martelu, Kecamatan Sibolangit, Minggu (24/11). Empat korban tewas telah ditemukan. ”Tim SAR gabungan masih bekerja mencari dua korban hilang,” kata Pj Bupati Deli Serdang, Wiriya Alrahman, Minggu malam. Empat rumah dan satu gere ja di permukiman yang beradadi lembah di antara bukit itu roboh terbawa arus banjir bandang.
Sungai kecil di tengah permukiman melebar dan dipenuhi batu-batu besar yang terbawa arus dari hulu. Ekskavator dikerahkan untuk memindahkan kayu, batu, dan tanah demi mencari korban. Namun, hingga Minggu malam, dua korban belum ditemukan. Edy Ginting (45), warga Desa Martelu, mengatakan, dirinya selamat karena arus banjir bandang hanya melintas di samping rumahnya. Hujan deras sudah turun di Sibolangit sejak Sabtu (23/11) sore. Saat malam tiba, listrik padam sehingga desa gelap gulita. ”Kejadiannya sangat cepat. Awalnya, kami mendengar suara gemuruh seperti mesin truk. Beberapa saat kemudian, banjir bandang yang membawa batu dan kayu langsung menerjang desa kami,” kata Edy. (Yoga)
Terapkan Standarisasi Teknik Mengendarai Truk Yang Benar bagi Pengemudi
Kecelakan angkutan truk yang terjadi di Tol Cipularang bisa dihindari jika pengemudi menerapkan standarisasi teknik mengendarai truk yang benar. Sekretaris Jenderal Perkumpulan Pengusaha Multimoda Transport Indonesia (PPMTI), Kyatmaja Lookman mengatakan, di kalangan angkutan pengemudi truk memiliki teknis khusus bagaimana menghindari truk oleng ketika berada pada jalur turunan karena kondisi rem blong. "Kalau melihat dugaan-dugaan sementara karena rem blong dimana posisi truk berada di gigi empat, seharusnya bisa dicegah melalui kompetisi pengemudi.
Saya menilai ini lebih karena faktor human error," ungkap Kyatmaja. Ia menurutkan , kondisi cuaca dan hujan memberikan pengaruh terhadap kondisi kendaraan. "Ini ditambah kemacetan di ruas tol tersebut, sementara posisi truk berada diluar jalur cepat sehingga tidak memilki kesempatan mengambil jalur lain ketika kondisi rem blong," ucapnya. Meski begitu, Kyatmaja menghormati invetsigasi yang sementara masih dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). "Ini tidak akan mendahului investigasi KNKT, tetapi ini berdasar pada dugaan-dugaan sementara. Sebab kami di Asosiasi juga konsen dengan hal-hal teknis seperti ini," pungkasnya. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Startup Bukan Pilihan Utama
24 Jan 2023 -
Mendag Pastikan Minyak Kita Tetap Diproduksi
30 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023 -
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023









