BBM
( 322 )Warga Kendari Sulit Mendapatkan Pertalite
Pertamina Jamin Ketersediaan BBM Selama Nataru
BBM Satu Harga Butuh Perencanaan Matang
Menyikapi Kenaikan Harga BBM
Pertamina menaikkan harga semua BBM nonsubsidi, dengan
alasan kenaikan harga minyak dunia menyebabkan harga di dalam negeri ikut naik.
Indonesia secara netto adalah pengimpor BBM. Harga BBM bersubsidi tidak
berubah. Kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan mendorong konsumen beralih
membeli BBM bersubsidi. Akibatnya biaya subsidi membengkak dan kemampuan pemerintah
membiayai pembangunan menurun. Secara prinsip pemerintah bersikap memberi
subsidi hanya kepada kelompok paling membutuhkan, yaitu golongan ekonomi lemah.
Namun, dalam pelaksanaan tidak berjalan seperti diharapkan. Menyikapi kenaikan
harga BBM kali ini, muncul lagi usulan memberlakukan aturan lebih jelas dan
tegas pembelian eceran BBM bersubsidi, dengan mengubah Perpres No 117 Tahun 2021
tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM.
Pemerintah tampak berhati-hati merevisi perpres itu. Salah
satu alasan, mencegah dampak sosial, politik, dan ekonomi tak diinginkan
menjelang Pemilu 2024. Pada sisi lain, pemerintah perlu mengambil langkah tegas
untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan energi fosil dan
menyadari subsidi haruslah untuk kelompok yang membutuhkan. Alih-alih memberi
subsidi BBM pada pengguna kendaraan pribadi yang tak mudah pengawasannya,
subsidi dapat dialihkan untuk pengguna angkutan massal, mendorong anggota masyarakat
meninggalkan kendaraan pribadi. Dengan cara ini, masyarakat berpartisipasi
aktif mengurangi penggunaan energi fosil, subsidi dapat diberikan secara adil,
dan kemungkinan penyalahgunaan subsidi dapat ditekan. Pemantauan dan evaluasi
berkala harus dilakukan untuk memastikan subsidi tepat sasaran dan masyarakat
beralih ke transportasi publik. (Yoga)
Ada Potensi Konsumen Pertamax Beralih ke Pertalite
Setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubidi
jenis pertamax dari Rp 13.300 per liter menjadi Rp 14.000 per liter mulai
Minggu (1/10) ada kekhawatiran konsumen pertamax beralih ke pertalite.
Pertalite adalah BBM bersubsidi yang dijual Rp 10.000 per liter. Regulasi
penggunaan BBM bersubsidi mendesak segera dikeluarkan. Berdasarkan catatan Kompas,
harga pertamax Rp 14.000 per liter menjadi yang tertinggi dalam setahun
terakhir. Pada 3 September 2022, Pertamina juga menaikkan harga pertamax dari
Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter. Bertahan hingga 30 September
2022, harga pertamax lalu turun menjadi Rp 13.900 per liter per 1 Oktober 2022.
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting, Minggu, membenarkan
bahwa setidaknya dalam setahun terakhir harga pertamax sudah lebih intens mengikuti
dinamika harga minyak mentah global. Oleh karena itu, penyesuaian harga per 1
Oktober 2023 juga mengikuti perkembangan yang terjadi.
Dengan adanya selisih Rp 4.000 per liter antara pertalite dan
pertamax, ada potensi migrasi pengguna dari pertamax ke pertalite yang lebih
murah. Pertamina berharap hal itu tidak terjadi. Di sisi lain, menurut Irto,
para pengguna pertamax umumnya sudah memahami jenis BBM yang sesuai untuk kendaraannya.
”Harapannya konsumen pengguna BBM nonsubsidi tidak migrasi ke pertalite. Segmen
ini umumnya memahami perlunya BBM yang sesuai dengan spesifikasi kendaraannya,”
ujar Irto. Pengamat ekonomi energi yang juga dosen Departemen Ekonomika dan
Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Yogyakarta, Fahmy Radhi, yang dihubungi dari
Jakarta, mengatakan, ”Karena selisih harga itu, konsumen rasional akan pindah
ke pertalite. Apabila itu terjadi, akan memperbesar porsi subsidi salah sasaran
pertalite dan membebani APBN, mengingat pembatasan (pembelian BBM bersubsidi)
saatini belum dilakukan,” ucapnya. (Yoga)
Pengembangan Kilang Balikpapan 82 Persen
Beras, Gula, dan BBM Bakal Picu Inflasi September Ini
Pengendalian inflasi pada bulan ini hingga akhir tahun bakal
semakin menantang. Kenaikan harga beras dan gula pasir, serta penyesuaian harga
BBM nonsubsidi, diperkirakan bakal memicu inflasi pada September 2023. Di sisi
lain, defisit beras masih mengintai hingga November 2023. Plt Kepala BPS Amalia
Adininggar Widyasanti, Senin (25/9) mengatakan, pada pekan ketiga September 2023,
harga beras masih naik dan belum ada tanda-tanda bergerak mendatar atau turun. Harga
rata-ratanya mencapai Rp 13.477 per kg. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan
harga beras semakin banyak. Pada pekan pertama September 2023, jumlahnya
sebanyak 230 daerah, kemudian pada pekan ketiga 2023 bertambah menjadi 284
daerah.
”Bahkan, Purwakarta yang merupakan daerah produsen beras
besar di Jabar menempati urutan keempat dari 10 kabupaten/kota dengan kenaikan
indeks perkembangan harga (IPH) tertinggi. Beras menjadi komoditas utama yang memengaruhi
kenaikan IPH itu,” ujarnya dalam Rapat Pengendalian Inflasi yang digelar
Kemendagri secara daring di Jakarta. BPS mencatat, IPH komoditas pangan
Purwakarta pada pekan ketiga September 2023 sebesar 3,41 %. Dari IPH itu, 3,21 %
berasal dari kenaikan harga beras, selain itu harga gula pasir juga meroket, pada
pekan ketiga September 2023 mencapai Rp 15.134 per kg, yang terjadi di 236 kabupaten/kota.
”Kenaikan harga beras dan gula akan berkontribusi terhadap inflasi September
2023. Selain itu, inflasi juga berpotensi disumbang bensin dan solar nonsubsidi.
Namun, inflasinya tidak akan setinggi sebelumnya,” katanya. (Yoga)
PENYIMPANAN BBM : Terminal Inhil Mulai Beroperasi
Ketergantungan pada Impor Perlu Dikurangi
Indonesia kian penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah ataupun BBM. Salah satunya dengan mengoptimalkan pemanfaatan bahan bakar nabati. Pasalnya, saat ini harga minyak mentah sudah menyentuh level 90 USD per barel atau yang tertinggi sejak November 2022. Kenaikan harga minyak mentah dunia itu menjadi alarm bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah dan BBM. Dari total konsumsi BBM nasional, sebanyak 60 % dipenuhi lewat impor dalam bentuk minyak mentah ataupun bahan bakar. Padahal, kebutuhan akan energi (BBM) di Indonesia terus meningkat.
”Tentu akan ada koreksi harga (BBM eceran) akibat hal tersebut. Sebagai antisipasi, Indonesia perlu mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak. Program biofuel (bahan bakar nabati) seperti biodiesel dan bioetanol dapat mendukung haltersebut secara jangka panjang,” ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Daymas Arangga saat dihubungi di Jakarta, Minggu (10/9). Dalam mengoptimalkan pemanfaatan BBM, untuk gasoil, saat ini solar B35 atau pencampuran solar murni dengan biodiesel sebanyak 35 % sudah diterapkan di tingkat nasional. Sementara pencampuran gasolin (bensin) dengan bioetanol 5 % (E5) sudah diperkenalkan ke pelanggan, tetapi baru tersedia di 17 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur. (Yoga)
Mendadak Pertamax
Persoalan polusi udara di Jakarta dan sekitarnya belum berhenti menjadi perbincangan publik. Transportasi menjadi sumber utama polutan. Kenyataannya, BBM yang paling banyak digunakan masyarakat saat ini, belum ramah lingkungan. Pertalite, dengan nilai oktan (research octane number / RON) 90, ialah produk BBM PT Pertamina (Persero) yang paling banyak digunakan masyarakat. Kuota jenis BBM khusus penugasan (JBKP) atau yang dikompensasi pemerintah itu 32,56 juta kiloliter (kl) pada 2023 atau naik 8,9 % dibandingkan kuota pada 2022.Dalam rapat dengan Komisi VII DPR, di Jakarta, Rabu (30/8) Dirut Pertamina Nicke Widyawati mengungkap rencana menghapus pertalite pada 2024 dan menggantinya dengan Pertamax Green 92, yang dihasilkan dengan mencampur BBM RON 90 dengan bioetanol sebanyak 7 %.
Dimana pemenuhan ethanol fuel grade diusulkan dengan impor. Tetapi, Nicke menekankan, rencana tersebut sebatas kajian internal Pertamina dan baru akan diusulkan kepada pemerintah. Keesokan harinya, Kamis (31/8), Menteri ESDM Arifin Tasrif justru balik bertanya jika rencana itu dilaksanakan, siapa yang akan membiayai ongkosnya? Kenyataannya, selama ini, terutama saat harga komoditas bergejolak, APBN kerap ”megap-megap” dalam membiayai subsidi dan kompensasi energi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









