Permintaan Layanan Penatu Meningkat
Kapal Asing Angkut 150 Ton BBM Subsidi
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Minggu (14/4) menangkap
kapal pengangkut ikan asal Indonesia yang melakukan alih muatan dengan dua
kapal ikan asing di Laut Arafura, Maluku. Kasus itu sekaligus menguak indikasi
kejahatan multidimensi, yakni pencurian ikan oleh kapal asing, penyelundupan
BBM bersubsidi, dan perdagangan manusia. Dari hasil pemeriksaan KKP, kapal ikan
Indonesia KM Mitra Utama Semesta (MUS) dengan bobot 289 gros ton (GT)
terindikasi menerima 100 ton ikan hasil alih muatan dari dua kapal asing
ilegal, yakni Run Zeng (RZ) 03 dan RZ 05. Sebanyak 100 ton ikan itu diduga merupakan
hasil pencurian ikan di perairan Indonesia selama lima hari, dengan jenis ikan
antara lain layur, kakap merah, dan kakap putih.
KM MUS juga diduga berperan memasok BBM jenis solar
bersubsidi ke dua kapal asing tersebut di tengah laut. Di kapal itu ditemukan
solar yang disimpan pada palka-palka ikan. Dari hasil pemeriksaan catatan buku
manual kapal di ruang kemudi, tercatat 870 drum atau 150 ton BBM solar diangkut
di palka, sebagian sudahdisuplai ke dua kapal asing itu dan beberapa kapal
mitranya sehingga tersisa 9 ton di palka KM MUS. ”Nakhoda sempat tidak mengakui
perbuatannya. Namun, petugas kami memeriksa beberapa ponsel dari anak buah
kapal dan ditemukan fo to-foto dan video hasil transshipment antara KM MUS dan kapal
ikan asing. Dari video tersebut, akhirnya nakhoda KM MUS mengakui perbuatannya
telah menerima muatan ikan dari kapal asing tersebut sejumlah 100 ton,” tutur Plt
Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Pung Nugroho Saksono
dalam keterangan tertulis.
Dalam keterangan pers di Tual, Maluku, Rabu (17/4), Pung,
yang memimpin operasi penangkapan kapal pengangkut ikan ilegal, menjelaskan, kasus
ini mengindikasikan ada kapal ikan Indonesia yang membantu kapal asing melakukan
kejahatan perikanan, penyelundupan BBM, hingga perbudakan. KKP masih terus
mengejar kapal ikan asing ilegal itu. ”Sindikat kejahatan ini melibatkan otak
pelaku di dalam negeri yang menjadi Penghubung ke kapal asing ilegal. Nama otak
pelaku sudah kami kantongi untuk pengusutan. Target kami menangkap otak pelaku
kapal dalam negeri dan pelaku kejahatan kapal asing ilegal,” ujar Pung saat
dihubungi dari Jakarta. (Yoga)
Anak Korban Perceraian Penyintas PMI Berjuang demi Masa Depan
Ribuan anak di NTT, korban perceraian penyintas pekerja
migran ilegal atau PMI, tak terurus. Mereka berjuang meraih masa depan dengan kemampuan
finansial serta dukungan keluarga dan lingkungan yang terbatas. Marthon Falo
(15), siswa kelas IX SMPN Oinlasi Kabupaten Timor Tengah Selatan, di Jalan El
Tari, Kupang, Selasa (16/4) menunggu pembeli kelapa muda yang dijajakan di
mobil pikap pamannya, Alex Falo (54), tukang bangunan yang tinggal di Kelurahan
Sikumana. Marthon menjual kelapa Rp 6.000 per buah. Dia mendapat upah Rp 1.000
per buah. ”Hari ini sudah terjual 25 kelapa muda. Tiap hari rata-rata saya bawa
pulang uang Rp 240.000, jadi dapat Rp 24.000 per hari. Tetapi, om janji dia belikan
baju, celana, dan buku tulis bagi beta,” kata Marthon. Hasil jual kelapa akan
diserahkan ke ibunya, Sarah Amtiran (42).
Sebelumnya, AT (45) menceraikan Sarah bersama empat anaknya,
termasuk Marthon sepulang mendulang rezeki sebagai PMI di Malaysia pada 2022. Anak
pertama Sarah, Mery (18), hanya bersekolah sampai kelas X dan dua anak lainnya
tidak sekolah. Pekerjaan Sarah sebagai petani lahan kering. Mery kini membantu
perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai ART di Kupang. Ia menetap di rumah
majikan dengan upah Rp 300.000 per bulan. Mery mendapat tabungan upah saat
menjelang Natal. Kisah serupa dialami Yuven Natun (10) yang kini menjadi buruh
bangunan di Kota Kupang. Magda Suni (43), ibu Yuven, meninggal karena sakit kanker
payudara pada 2018. Yuven dan kakak sulungnya, Sipri Natun (18), tinggal di
rumah om, Vitalis (54). Ayah mereka, Simon Nahak (48), menjadi PMI ilegal di
Malaysia dan tak ada kabar sejak 2017.
Direktur Yayasan Timor Membangun Nusantara Martinus Duan
mengatakan, lebih dari 1.500 anak usia sekolah di daratan Timor telantar akibat
penceraian dan ditinggal pergi ayah atau ibu mereka ke luar negeri. Angka itu
belum termasuk data anak telantar dari daratan Flores, Lembata, Sumba, Alor, Rote,
dan Sabu. Anak-anak tersebut tidak melanjutkan pendidikan sampai tingkat SMA.
Banyak di antara mereka hanya sampai SD. Meski menderita, anak-anak itu tidak
menjadi pengemis atau pengamen di jalan-jalan. Kecuali menjual koran di lampu
merah atau menjajakan jagung rebus di pinggir jalan, SPBU, dan di terminal bus.
Mereka juga menawarkan jasa pikul barang belanjaan di pasar dan mendorong
gerobak pasar. Sebagian dari mereka menjadi buruh bangunan sekaligus belajar
menjadi tukang bangunan. Setelah berusia di atas 17 tahun, banyak di antara mereka
memilih menjadi PMI ilegal.
Ketua Divisi Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan
Perdagangan Orang Yayasan Donders Indonesia Wilayah Sumba Imelda Sulis Setiawati
mengatakan, Yayasan Donders memiliki rumah singgah bagi anak-anak, termasuk
untuk anak-anak yang ditelantarkan orangtua karena menjadi PMI. Anak-anak itu
awalnya ting gal bersama tante, om, atauanggota keluarga lain. Namun, mereka
telantar karena berbagai sebab. Setelah ada laporan dari sekolah, akhirnya ditangani
Donders. Jumlah mereka lebih dari 200 anak. Mereka diantar-jemput pihak yayasan
ke sekolah. Puluhan dari mereka sudah di perguruan tinggi dan beberapa di
antaranya sudah menjalani wisuda. Bagi yang sudah berkeluarga, menetap di rumah
sendiri, tetapi tetap mendapatkan pengawasan Donders. (Yoga)
Asia Jadi Pusat Dekarbonisasi Baru
Pusat Keunggulan Karbon Asia atau Asia Center of Carbon Excellence (ACCE) menjadi pusat baru bagi pengembangan proyek karbon inovatif. Pusat ini menjadi platform untuk membuka potensi Asia dalam jalur dekarbonisasi baru dengan fokus pada proyek-proyek yang berdampak besar bagi kawasan Asia dan global. Peluncuran ACCE dilakukan South Pole dan GenZero di Singapura, Rabu (17/4), yang merupakan rangkaian kegiatan Ecosperity Week 2024 di Singapura, 15-17 April. Pelaksanaan kegiatan bersamaan dengan Konferensi Filantropi Asia atau Philanthropy Asia Summit (PAS) 2024 di Expo Sands & Convention Centre, Marina Bay Sands, Singapura.
CEO Interim South Pole John Davis mengatakan, ACCE merupakan pusat baru bagi para pakar internasional yang berfokus pada pengembangan proyek karbon yang inovatif, kebijakan karbon, dan peningkatan kapasitas. Pusat pendanaan teknis dan karbon yang canggih ini berlokasi di Singapura. Dengan dukungan Dewan Pembangunan Ekonomi Singapura atau Singapore Economic Development Board (EDB), ACCE akan memberikan keahlian yang dibutuhkan untuk mengatasi berbagai tantangan yang kompleks dan mengkatalisasi peluang baru untuk aksi iklim di seluruh Asia.
”Asia sudah matang untuk pengembangan proyek baru dan Singapura memiliki peran besar dalam perdagangan internasional kredit karbon berkualitas tinggi berdasarkan Pasal 6 Perjanjian Paris (Paris Agreement) yang akan membantu negara dan dunia usaha mencapai tujuan iklim mereka,” katanya. Menurut Davis, tim ACCE akan menjajaki peluang pengembangan proyek karbon dan realisasi pasar dalam rantai nilai di Asia dan global lewat kolaborasi dengan perusahaan dan pemerintah regional. Tim akan membantu sektor publik dan swasta mencapai strategi dan tujuan net zero global dengan cara yang hemat biaya sekaligus mempercepat tindakan menuju masa depan yang hijau dan berkelanjutan.
Proyek-proyek itu mencakup penghentian awal pembangkit listrik tenaga batubara serta mendorong pengembangan pelayaran ramah lingkungan, hidrogen ramah lingkungan, dan amonia ramah lingkungan.Selanjutnya, mendorong penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon serta mendukung penerapan instrumen penetapan harga karbon, seperti mekanisme penyesuaian perbatasan karbon Uni Eropa. South Pole pun telah merancang dan menerapkan solusi pendanaan karbon mutakhir di seluruh Asia, termasuk inisiatif Coal to Clean Credit dengan Rockefeller Foundation. Inisiatif kredit itu berupaya membuka pendanaan karbon untuk mempercepat penghentian dini pembangkit listrik tenaga batubara dan menggantinya dengan energi terbarukan. (Yoga)
Rojai, Petani dan Peternak Unggul
Di tangan Rojai (49), urine dan kotoran sapi disulap menjadi
uang jutaan rupiah. Petani sekaligus peternak ini mengembangkan pupuk dan
pestisida organik. Ia tidak hanya menerapkan pertanian ramah lingkungan, tetapi
juga berjuang memandirikan petani. ”Alhamdulillah, dapat pesanan (pupuk kompos)
lagi dari dinas (pertanian), 9-10 ton,” ucap Rojai, Selasa (16/4). Dengan harga
Rp 2.000 per kg, ia meraup Rp 18 juta dari permintaan itu. Uang jutaan rupiah
itu berasal dari kandang sapi miliknya di Desa Tegalkarang, Palimanan, Cirebon,
Jabar. Di kandang itu, terdapat 10 sapi yang memproduksi kotoran dan urine. Akhir
Februari lalu, misalnya, ia menunjukkan drum biru berisi 100 liter urine sapi
yang telah difermentasi di kandang itu.
Saat tutupnya dibuka, aroma urine yang menyengat menguar
dengan gelembung di atasnya. ”Ini kalau dijual, harganya Rp 2 juta,” ucap Rojai
tersenyum. Urine itu menjadi bahan utama pupuk organik cair (POC) yang dapat
membantu pertumbuhan tanaman. Sawah yang disemprot POC, batang dan daun padinya
hijau. Tanahnya mudah ditanami. Sehektar butuh minimal 5 liter POC. Harga POC
Rp 20.000 per liter, lebih murah dari pupuk cair kimia yang berkisar Rp
60.000-Rp 90.000 per liter. ”Urine sapi mengandung pestisida. Jadi, enggak usah
beli obat (pestisida kimia),” katanya. Perjumpaan Rojai dengan pertanian
organik bermula tahun 2016, pemilik 120 sapi dan 50 kambing ini menjadi
peternak terbaik tingkat Kabupaten Cirebon.
Ia mendapat program unit pengelolaan pupuk organik dari dinas
pertanian dan mulai mengolah limbah ternak menjadi pupuk dan pestisida organik.
”Saya pelatihan di Bogor habis Rp 5 juta, diketawain orang dinas (karena ikut
pelatihan berbayar),” kenangnya. Pupuk kompos sangat membantu ditengah
berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi pemerintah. Petani hanya dijatah 70 kg
per satu jenis pupuk per satu hektar sawah. Padahal, biasanya 1 kuintal per
jenis pupuk bersubsidi. Petani pun membeli pupuk nonsubsidi dengan harga Rp 1
juta per kuintal. ”Dari 2017, saya enggak pernah bergantung sama pupuk dan pestisida
kimia,” katanya. Setelah bertahun-tahun menggunakan bahan organik, padinya subur.
”Hasil pH-nya normal, 7. Padahal, di mana-mana, pH-nya paling 5,” kata Rojai.
Ia mengklaim hasil panen musim gadu (tanam kedua) tahun lalu
mencapai 10,3 ton gabah basah per hektar. Padahal, petani biasanya hanya memanen
6-7 ton gabah per hektar. Rendemennya juga lebih tinggi. ”Padi biasanya rendemennya
saat digiling jadi beras 62-65 %, hasil panen saya, rendemennya 70 %,”
ungkapnya. Pupuk buatannya sudah dikemas dengan merek Supersonik dan digunakan petani
setempat. Dinas pertanian bahkan pernah memesan 18 ton pupuk dan 160 liter POC
untuk menjadi bahan pelatihan pertanian organik di Cirebon. Tidak hanya dalam
pertanian, sistem organik juga ia terapkan di peternakan. Pakan sapi, misalnya,
berasal dari jerami sisa panen di sawah hingga ampas tebu. Jamu untuk sapi
bikin sendiri. Ia tidak pernah pakai antibiotik dan vitamin dari pabrik.
Bahannya, dari aneka rempah. (Yoga)









