Pendanaan Startup Asia Tenggara Belum Pulih
Pendanaan yang masuk ke bisnis rintisan berbasis teknologi (startup) di kawasan Asia Tenggara, termasuk indonesia, tahun 2024 hingga kuartal I belum menunjukkan pemulihan. Kondisi tersebut pun mengonfirmasi masih beratnya perusahaan startup untuk ekspansi bisnis karena langkah investasi yang masuk. Sementara itu, dua negara tetap menjadi tujuan utama pendanaan startup, yakni Indonesia dan Singapura yang banyak menyasar bisnis teknologi keuangan (fintech). Data yang dirangkum oleh DealStreetAsia, platform digital yang banyak fokus pada riset dan publikasi perusahaan teknologi, menyebutkan, pada kuartal I-2024, pendanaan yang masuk ke startup di kawasan Asia Tenggara turun US$ 1,44 miliar (100,56%) menjadi US$ 1,14 miliar dari kuartal yang sama tahun 2023 masih bisa mencapai US$ 2,58 miliar. "Khusus pada bulan maret 2024, startup di kawasan Asia Tenggara masih mampu mengumpulkan pendanaan US$ 498 juta, meningkat 28% dari bulan sebelumnya. Nilai pendanaan ini merupakan jumlah tertinggi yang berhasil dikumpulkan sepanjang tahun 2024," ungkap DealSteetAsia, dalam paparan risetnya. (Yetede)
Butuh Armada Baru, Tarif KRL Dinilai Layak untuk Naik
PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau KAI Commuter dinilai perlu mempertimbangkan kenaikan tarif kereta commuter line Jabodetabek mengingat kondisi usia Armada yang dioperasikan sudah tidak muda lagi. Ketua Forum Transportasi Jalan dan Perkeretapian Masyarakat Transportasi (MTI), Aditya Dewi laksana mengatakan terdapat periode kritikal yang mengharuskan KAI Commuter memaksimalkan pengoperasian armadanya. "Ada periode kritikal dimana ini harus ada penggantian rangkaian kereta baru, namun masih terganjal. Sementara volume perjalanan naik terus secara bertahap. Ini artinya ada isu kritikal dimana akan ada kekurangan sarana," kata Aditya kepada Investor Daily di Jakarta. Sebagai informasi KAI Commuter harusnya mendatangkan kereta impor bekas dari Jepang mengingat kebutuhan penumpang kereta rel listrik yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Pada akhirnya KAI Commuter harus memilih tiga opsi diantaranya, menunggu produksi KRL dalam negeri melalui PT Inka, mendatangkan kereta baru dari China serta meremajakan spare parts melalui rangkaian KRL yang eksisting saat ini. (Yetede)
Progres Grup Bangun Akses Jalan Paradise Resort City
Progress Group terus membangun infrastruktur penunjang proyek yang dikembangkan di sejumlah lokasi. Salah satu langkah itu adalah dengan membangun jalan akses penghubung Townnship Paradise Resot City, Tangerang Selatan, Banten yang dimulai Selasa (23/4/2024). Jalan yang akan menghubungkan JL Aria Putra dan JL H Taip ini, diharapkan akan memberikan kemudahan bagi masyarakat sekitar, serta membuat kawasan Paradise Resort City makin mudah diakses. Meyrick Sumantri, Direktur Sales & Marketing sekaligus pemilik Progress Group mengatakan, jalan penghubung ini sangat strategis dalam pengembangan kota Paradise City yang berkelanjutan. "Kami percaya bahwa infrasruktur yang baik adalah fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dengan memperkenalkan jalanan ini, kami berharap dapat memberikan manfaat yang besar bagi penduduk Ciputat dan sekitarnya," jelas Meyrick. (Yetede)
Grand Wisata Bekasi Sasar Segmen Premium Lewat The Kaia
Permintaan rumah tapak segmen premiun di kawasan Bekasi, Jawa Barat dinilai masih bermunculan pada 2024. Karena itu, Sinar mas Land (SML) menghadirkan The Kaia di proyek Grand Wisata Bekasi, Bekasi, Jawa Barat. Tahap awal, The Kaia menyodorkan klaster pertama bertajuk Yara dengan kapasitas sebanyak 111 unit yang dibanderol mulai Rp 3,8 miliar per unit. "Klaster Yara at The Kaia di Grand Wisata Bekasi mengakomodasi tingginya permintaan masyarakat akan hunian premium dengan exclusive and private neighbourhood," papar CEO Residential Nasional SInar Mas Land, Prasetijo Tanumihardja. Dia menerangkan, setiap rumah di klaster Yara sudah dilengkapi smart home system dimana setiap penghuni dapat memantau setiap sudut rumah dari smartphone. Hunian yang mengusung konsep eco green ini juga dilengkapi dengan smartdoor, IP camera, light switch, dan door monitor. Selain itu, Yara juga menggunakan sistem panel surya yang dapat ,menghemat tagihan listrik dan mengurangi jejak karbon. (Yetede)
Perekonomian Dalam Siklus Ekspansi
Perekonomian Indonesia diyakini masih berada dalam siklus ekspansi ditengah situasi ketidakpastian global saat ini. Pemerintah pun memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 mencapai 5,17% yang ditopang oleh geliat konsumsi rumah tangga. Hal ini tercermin dalam pertumbuhan pinjaman yang kuat 11,3% secara tahunan (year on year/yoy) di Februari 2024, meningkat dibandingkan Desember 2023 yang sebesar 10,4% (yoy), serta membaiknya pinjaman luar negeri swasta nonbank. "Belanja pemerintah juga meningkat pesat sebesar 30,1% secara year on year pada bulan Februari, didorong oleh belanja pemilu," ujar Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputra di Jakarta. Kendati demikian, Standard Chartered menurunkan perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2024 menjadi 5,2% dari sebelumnya 5,2%. "Kami masih memperkirakan pertumbuhan di semester pertama yang kuat, namun hasil pemilu bulan Februari cukup meyakinkan sehingga tidak diperlukan adanya pemilu putaran kedua. Hal ini akan menurunkan dorongan konsumsi," ujar dia. (Yetede)
Mengapa Budi Daya Lobster di Dalam Negeri Sulit
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan makin terbuka perihal rencana ekspor benih bening lobster alias benur. Ekspor benur diizinkan asal negara importir memenuhi beberapa ketentuan, salah satunya melakukan pembiakan atau budi daya lobster di Indonesia. Kerja sama sudah mulai dilakukan. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat ada lima perusahaan asal Vietnam yang siap mengembangkan benur di Indonesia sebagai syarat mendapatkan kuota ekspor. Vietnam, sebagai negara pembudi daya lobster, selama ini mengandalkan benur asal Indonesia. Ada sekitar 150 ribu keramba jaring apung atau KJA yang dimiliki negara tersebut. Sementara itu, Indonesia, sebagai penghasil benur, belum mampu bersaing dalam pengembangan lobster.
Menurut Menteri Kelautan Sakti Wahyu Trenggono kegagalan budi daya lobster dalam negeri karena ekosistem yang belum terbentuk. Berbagai tantangan yang dihadapi di antaranya kesulitan pakan, ekspor ilegal yang marak sehingga mengurangi kuota benih bagi pembudi daya, hingga produsen KJA yang terbatas. “Industri kita belum siap,” katanya, di Jakarta, Senin, 29 April lalu. Sebelum keran ekspor lobster dibuka, pemerintah coba memberantas ekspor benur ilegal. Namun, berdasarkan riset yang dilakukan Kementerian Kelautan selama dua tahun terakhir, penyelundupan masih marak. Di sisi lain, banyak pelaku budi daya lobster yang gagal. Karena itu, Trenggono mengaku berinisiatif melahirkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 7 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan yang mulai berlaku pada Maret lalu. Peraturan tersebut melegalkan ekspor benih lobster dengan sejumlah syarat. Dengan begitu, pemerintah berharap Indonesia akan mendapatkan berbagai keuntungan, seperti manfaat ekonomi dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP), transfer pengetahuan mengenai pembiakan, dan etos kerja budi daya lobster. (Yetede)
Cara Mahkamah Konstitusi Menangani Sengketa Pemilu Legislatif
MAHKAMAH Konstitusi mulai memeriksa permohonan sengketa pemilihan umum legislatif 2024 pada Senin, 29 April 2024. Majelis hakim konstitusi akan menangani 297 perkara perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) legislatif. Ratusan sengketa pemilu legislatif itu berasal dari sejumlah provinsi atau daerah pemilihan (dapil). Mahkamah Konstitusi membagi tiga majelis panel untuk memeriksa ratusan sengketa tersebut. Berdasarkan peraturan Mahkamah Konstitusi, penyelesaian sengketa hasil pemilihan legislatif itu seharusnya rampung dalam satu bulan. Putusan sengketa hasil pemilihan legislatif dijadwalkan dibacakan majelis hakim konstitusi pada 10 Juni 2024. Jika dibandingkan dengan data sengketa pada pemilu-pemilu sebelumnya, jumlah sengketa hasil pemilihan legislatif terus bertambah. Peningkatan jumlah pengajuan perkara ke Mahkamah Konstitusi sekaligus menunjukkan bagaimana kualitas pelaksanaan pemilu dan kemampuan penyelenggara pemilu dalam menyelesaikan persoalan di tingkat lokal (Yetede)
Biodiesel 40 Datang, Hutan Hilang
EKSPANSI kebun kelapa sawit disinyalir bakal menggila selepas pemerintah berencana meningkatkan produksi minyak sawit mentah (CPO). Tujuan peningkatan produksi ini adalah menopang program bahan bakar nabati biodiesel 40 atau B40 yang akan direalisasi dalam waktu dekat. Program ini merupakan bagian dari janji kampanye presiden dan wakil presiden terpilih, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Pangan Prabowo-Gibran tak hanya mengejar target B40, tapi juga mencanangkan pencampuran 50 persen minyak sawit ke dalam solar atau B50. Dengan B50, Indonesia dapat menekan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan kendaraan bermotor menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT). Program ini bertujuan mencapai sasaran Kontribusi yang Ditargetkan Secara Nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC) dari sektor energi, yakni penurunan emisi sebesar 358 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) pada 2030.
Makin banyak kebutuhan ester metil asam lemak (FAME)—molekul yang dihasilkan dari CPO—kian banyak lahan sawit yang dibutuhkan. "Makin besar persentase biodiesel dalam solar, potensi konversi lahan dan hutan menjadi perkebunan sawit akan semakin luas," kata peneliti Direktorat Kebun Yayasan Auriga Nusantara, Sesilia Maharani Putri, pada Senin, 29 April 2024. Pemerintah memberlakukan kebijakan B35 sejak 1 Januari 2023 ke dalam produk hilir yang kita kenal sebagai biosolar. Pencampuran 35 persen FAME ke dalam solar membutuhkan 13,1 juta kiloliter atau setara dengan 13,6 juta ton CPO. Jumlah tersebut diambil dari produksi CPO nasional yang mencapai 45,1 juta ton. Sisanya, 27 juta ton, akan diekspor dan 5 juta ton untuk kebutuhan dalam negeri, seperti produk hilir pangan dan lainnya. (Yetede)
Kocok Ulang Portofolio Saat Bunga Tinggi
Pelemahan rupiah serta ketidakpastian global yang masih tinggi mengakibatkan bunga acuan semakin mekar. Bank Indonesia, pekan lalu, mengerek naik BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25%. Investor tentu perlu memiliki strategi mengoptimalkan return, sekaligus meminimalkan risiko di saat bunga mekar. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi menyebut diversifikasi portofolio perlu dilakukan di era suku bunga tinggi. Dengan memiliki berbagai jenis aset dan risiko, kerugian karena perubahan bunga dapat ditekan. Di instrumen surat utang, investor bisa mempertimbangkan obligasi yang memiliki jangka pendek atau obligasi dengan tingkat bunga yang mengambang. Efek jenis itu dinilai lebih tahan terhadap kenaikan suku bunga. Menurut CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, investor perlu menimbang instrumen investasi yang memiliki tingkat risiko yang sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.
Bagi investor dengan profil risiko moderat bisa menaruh asetnya di saham sebesar 30%, obligasi 40%, dan kas atau pasar uang 30%. Adapun investor dengan profil risiko konservatif bisa menaruh aset di saham sebanyak 15%, obligasi 45%, dan kas atau pasar uang sebanyak 40%.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan, secara umum kenaikan bunga akan menurunkan daya tarik berinvestasi di aset aset berisiko. Maka obligasi bisa menjadi pilihan. Lalu juga ke deposito atau emas sambil memperhatikan kondisi dan situasi ekonomi global.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menjelaskan, saham konsumer noncyclical akan tetap menarik. Selain itu saham utilitas, seperti infrastruktur telekomunikasi dan infrastruktir gas juga masih akan lebih stabil.
Pasar Ekspor Tak Tergarap, Pasar Lokal Melahap
Kelezatan buah durian tak hanya populer di lidah orang Indonesia. Buah berduri yang memiliki aroma menyengat ini juga sangat di gemari di pasar ekspor, terutama di negara-negara Asia. Tak heran, pemerintah berambisi menggenjot ekspor buah dengan kombinasi rasa manis dan pahit tersebut. Terlebih porsi ekspor durian Indonesia masih relatif kecil. Hanya saja, ada sederet pekerjaan rumah yang harus dituntaskan agar durian lokal bisa bersaing di kancah global. Salah satunya pamor durian Indonesia yang belum setenar durian asal negeri tetangga. Sebut saja Malaysia dan Thailand yang memiliki varietas unggul, seperti Musang King dan Motong. "Indonesia unggul secara kuantitas, karena buah ini bisa tumbuh dari Aceh sampai Papua. Tapi, kualitas kita kalah dari negara tetangga," ujar Ketua Sigit Purwanto, Ketua Komunitas Durian Traveler ke KONTAN, Senin (29/4).
Namun, pemerintah berniat memacu ekspor komoditas buah ini. Hal ini bermula dari pertemuan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan bersama Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, baru-baru ini. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas soal potensi ekspor durian ke Tiongkok. "Durian jangan anggap enteng. Mereka (China) impor durian itu sampai US$ 8 miliar (setara Rp 129,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.200 per dollar AS)," ujar Luhut baru-baru ini. Pernyataan Luhut benar adanya. Berdasarkan data perdagangan China yang dikutip oleh Asosiasi Eksportir Importir Buah-Buahan dan Sayuran Segara Indonesia (Aseibssindo), setiap kenaikan 1% penduduk China yang mengonsumsi durian, akan mengerek nilai penjualan durian sebesar US$ 1,7 miliar atau setara Rp 27,63 triliun. Owner Vigano Farm, Nelsens Yansah mengaku, tidak begitu tertarik mengekspor durian kendati potensinya besar. "Soalnya kita ini untuk memenuhi suplai di pasar domestik saja belum cukup. Sehingga, ekspor rasanya belum masuk akal walau menjanjikan," ujarnya, Senin (29/4).









