Pelaksanaan HGTB Harus Sesuai Perpres
Jokowi: Keppres IKN Bisa Ditandatangani Presiden Terpilih
Pasar Berharap Kebijakan FCA Dikaji Ulang
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi dalam sehingga-2,14% pada perdagangan Rabu (5/6/2024) ke level 6.947, akibat tekanan aksi jual di sejumlah saham. Salah satunya terjadi pada saham PT Barito Renewables Enery Tbk (BREN) yang kembali mencatatkan auto reject bawah (ARB) setelah batal masuk FTSE Global Equity Index Series akibat diberlakukannya full call auction (FCA) pada saham tersebut. Terkait hal tersebut, para pelaku pasar berharap, bursa dapat mengkaji ulang pemberlakuan kebijakan FCA.
"Pasar tampaknya dipengaruhi kebijakan papan pemantauan khusus dengan skema FCA, yang nama BREN merupakan salah satu emiten yang masuk dalam papan pemantauan khusus tersebut," kata Pilarmas. Selain itu, lanjut Pilarmas, keputusan FTSE Russel yang batal memasuki emiten tersebut dalam FTSE Global Equite Index periode Juni 2024 juga sangat memengaruhi pelaku pasar. Mengingat, BREN merupakan salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar, sehingga pergerakannya memberikan pengaruh terhadap pergerakan indeks saham. (Yetede)
Dorong UKM Mendunia, LPEI Hadirkan KomodoIn
Industri Pariwisata Butuh Investasi Rp 325 T
Kemenhub Ajukan Tambahan Anggaran Rp15,75 Triliun
Penyebab Industri Manufaktur Terus Tertekan
Konflik di Papua Makin Membara
Pertalian Ponsel Anda dan Serangan Buaya
Waspada IHSG Bisa Terkapar Lebih Dalam
Awan mendung masih enggan beranjak dari pasar modal Tanah Air. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian muram dan kemarin kembali tersungkur ke bawah 7.000. Tak tanggung-tanggung, IHSG terjun bebas 2,14% dalam satu hari ke level 6.947,67, Rabu (5/6). Ada banyak faktor yang menekan perfoma indeks. Salah satu yang paling dominan adalah nilai tukar rupiah yang jeblok 0,41% ke Rp 16.287 per dolar Amerika Serikat (AS). Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, maju-mundurnya rencana bank sentral AS Federal Reserve dalam kebijakan suku bunga, membuat outflow asing masih terus terjadi. Hal ini juga membuat rupiah melemah di hadapan dollar AS. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus juga mengatakan, asing juga masih hengkang dari saham-saham perbankan big caps.
Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada juga menilai, pasar masih akan bergerak fluktuatif di bulan ini. Secara historis, IHSG di bulan Juni sejatinya punya kinerja lebih baik dari bulan sebelumnya. Beberapa katalis yang bisa menjadi harapan pembalikan arah IHSG ialah rilis dividen, dan membaiknya data makroekonomi. Kemarin, saham BREN kembali menyentuh batas bawah auto reject. Yang jadi masalah, saham-saham Prajogo Pangestu lainnya seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga ikut-ikutan turun cukup dalam. Karena bobotnya juga besar terhadap IHSG, ketiga saham Prajogo Pengestu ini kompak menjadi laggard IHSG. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia. Budi Frensidy mengatakan, sejak BREN masuk ke papan pemantauan khusus, terjadi anomali dalam pergerakan di IHSG. Hitungan Budi, hingga akhir Juni nanti, sebenarnya IHSG masih bisa tetap berada di kisaran level 7.000. Tapi, karena BREN masih berada di papan pemantauan khusus, IHSG berpeluang ambrol ke level 6.500. Di tengah fluktuasi besar IHSG, Nico masih meyakini kalau strategi beli saham ketika koreksi masih akan lebih baik dibandingkan dengan membeli saat di pucuk.









