;

Tekanan Daya Beli Terus Datang Bertubi-tubi

Ekonomi Hairul Rizal 04 Jun 2024 Kontan (H)
Tekanan Daya Beli Terus Datang Bertubi-tubi

Pemerintah harus mewaspadai potensi pelambatan ekonomi nasional dalam beberapa bulan ke depan. Bukan hanya dari pasar global yang masih bergejolak, ancaman juga datang dari pasar domestik yang semakin lesu. Dari pasar global, kenaikan tensi geopolitik masih akan mempengaruhi pergerakan harga komoditas. Juga arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang berimbas ke pasar Indonesia. Ini turut melemahkan nilai tukar rupiah. Persoalan pelik juga datang dari dalam negeri, yakni daya beli masyarakat. Kenaikan upah minimum provinsi (UMP) di tahun 2024 makin sulit mengejar kebutuhan masyarakat. Lihat saja, indikator terbaru yang mencerminkan konsumsi masyarakat. Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur  Indonesia pada Mei 2024  menyusut ke level terendah dalam enam bulan terakhir. Berdasarkan data S&P Global, PMI Manufaktur RI, pada bulan Mei 2024, PMI kita melemah ke level 52,1, dari bulan sebelumnya 52,9. Posisi ini juga terendah setelah November 2023 di 51,7. Mengacu laporan S&P, permintaan pasar relatif bertahan positif, dan lebih didorong permintaan domestik. Sayang, permintaan domestik itu belum mampu mengerek ekspansi manufaktur lebih kencang. "Meski pertumbuhan positif, ada tanda-tanda akan memburuk," kata Paul Smith, Economics Director S&P Global Market Intelligence, Senin (3/6). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, meski menurun, PMI Manufaktur masih di atas 50.

Selain itu, "Inflasi turun lebih bagus sehingga pertumbuhan ekonomi lebih positif," kata dia, kemarin. Namun, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menyayangkan banyaknya kebijakan pemerintah yang justru membuat ekspektasi konsumsi ke depan melambat. "Seperti PP Tapera, rencana kenaikan PPN 12% tahun depan, serta rencana penyesuaian harga bahan pokok dan harga energi," kata dia, kemarin. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet juga menyoroti kenaikan UMP yang tak sebanding dengan pengeluaran masyarakat. Oleh sebab itu, stabilisasi harga pangan dan pembatalan rencana kebijakan yang kontra produktif menjadi solusinya. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita mengatakan, dua hal ini menjadi kunci penting pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi ke depan. Pertama, perbaikan daya beli masyarakat. Kedua, mendorong investasi semaksimal mungkin.  Salah satunya, menekan biaya investasi alias incremental capital output ratio (ICOR) sampai level 4%.

Tags :
#Ekonomi
Download Aplikasi Labirin :