Ramai Soal BBM Baru
Pembatasan BBM Bersubsidi Terkatung-katung
Agenda Terselubung Menghapus Larangan Prajurit Berbisnis
Pendekatan Perilaku untuk Mengatasi Judi Online
Ironi Industri Farmasi
Investor Asia Timur Minati Perusahaan Pembiayaan Indonesia
Bank Mega Syariah Incar Laba Rp 300 Miliar
Auto 2000 Bidik Peluang di Lini Bisnis Aftersales
Menimbang Untung-Rugi Peleburan7 BUMN Karya
Kebijakan pemerintah merampingkan formasi tujuh BUMN di sektor konstruksi menjadi tiga entitas bisa mewujudkan efisiensi dan perbaikan kinerja BUMN Karya. Namun, terdapat risiko perseroan dengan kinerja baik malah akan terbebani rapor merah BUMN lainnya. Skema penggabungan yang direncanakan Kementerian BUMN mencakup penggabungan, pertama, PT Adhi Karya (Persero) Tbk dengan PT Brantas Abipraya (Persero) dan PT Nindya Karya (Persero), dengan focus pada proyek pembangunan air dan rel kereta api.
Penggabungan antara PT Hutama Karya (Persero) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk, yang diekspektasikan dapat meningkatkan fokus perseroan terhadap proyek pembangunan jalan tol, jalan non-tol, dan bangunan kelembagaan. Skema ketiga, konsolidasi antara PT PP (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, yang berfokus menggarap pelabuhan laut; bandar udara; rekayasa, pengadaan dan konstruksi; serta bangunan hunian (residensial). Wakil Ketua Komisi VI DPR Martin Manurung menilai upaya penggabungan itu akan menimbulkan sinergi dan efisiensi kinerja para BUMN Karya.
Peleburan ini juga akan mengurangi persaingan di antara BUMN, khususnya terkait lelang proyek. ”Komponen overhead cost (biaya produksi) dan management cost (biaya manajemen) bisa dihemat,” ujarnya, Selasa (16/7). Menteri BUMN Erick Thohir memastikan komposisi dari peleburan tujuh perusahaan konstruksi itu tidak mengalami perubahan. ”Saya sudah kirim surat ke Pak Basuki (Menteri PUPR) dan sudah di-review (ditinjau) oleh Menkeu (Sri Mulyani). Kami menunggu saja prosesnya dari Kementerian PUPR,” ujarnya, Rabu (10/7) malam. (Yoga)
Dari Surat Utang Negara, Duit Bank Mengalir ke SRBI
Pamor Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang diluncurkan Bank Indonesia (BI) September 2023 lalu kian meningkat di mata perbankan. Instrumen moneter ini kini jadi salah satu tujuan penempatan dana favorit perbankan. Perbankan diduga mengalihkan dana dari Surat Berharga Negara (SBN) ke instrumen tersebut. Bank Indonesia (BI) mencatat kepemilikan perbankan di SRBI per Juni 2024 mencapai Rp 461,29 triliun, setara 63,97% dari total SRBI yang sudah diterbitkan. Di saat yang sama, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat kepemilikan bank di SBN menyusut. Per September 2023, kepemilikan bank di SBN mencapai Rp 1,64 kuadriliun. Ekonom Perbankan Binus University Dody Arifianto menyebut, perbankan memiliki pertimbangan tersendiri dalam penempatan dana di surat berharga.
Ia menilai perpindahan dana dari SBN ke SRBI terjadi karena perbedaan imbal hasil yang mencolok.
SRBI memang menawarkan imbal hasil yang menggiurkan. Ambil contoh, pada penawaran 12 Juli, BI mematok bunga SRBI tenor 6 bulan 7,29%, tenor 9 bulan 7,39% dan tenor 12 bulan mencapai 7,42%.
Head of Trading & Treasury Global Financial Markets
DBS Indonesia Ronny Setiawan menyebut, pihaknya selalu menyesuaikan kebutuhan bank dalam penempatan dana yang dimiliki. Dari sisi kebutuhan, SBN dan SRBI punya keunggulan masing-masing.
Alhasil, terdapat reinvestment
risk
ketika instrumen tersebut jatuh tempo. “Alokasi pembelian disesuaikan dengan kebutuhan penempatan bank saat itu,” ujar Rony kapada KONTAN, Selasa (16/7).
Bank Central Asia (BCA) juga tidak gamblang menjawab mengenai peralihan dana ke SRBI. EVP
Corporate Communication
BCA Hera F. Haryn mengatakan, penempatan dana di instrumen surat berharga merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas.









