Ketahanan Pangan Menjadi Kunci Ketahanan Indonesia
Ketahanan pangan menjadi kunci bagi Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas pada 2045. Hal ini berkaitan erat dengan aspek kuantitas maupun kualitas, terjangkau, dan merata di seluruh wilayah, sehingga kebutuhan pangan terpenuhi dan masyarakat dapat hidup sehat, aktif, dan produktif. Namun, untuk mencapai ketahanan pangan terdapat sejumlah tantangan dan kendala, baik dari dalam maupun luar negeri, salah satunya adalah keterbatasan lahan dan adanya climate change. UN No 18 Tahun 2012 tentangan Pangan mengamanatkan ketahanan pangan yang berdaulat dan mandiri.
Untuk menuju ketahanan pangan yang demikian, pangan-pangan yang digunakan Indonesia harus bersumber dari lokal. Namun data menunjukkan, impor pangan Indonesia cukup besar, mulai dari beras, kedelai, gandum, bahkan kacang hijau. Berdasarkan Proyeksi Neraca Beras Nasional 2024 yang dimutakhirkan pada Mei 2024, Indonesia berpotensi mengimpor beras hingga 5,17 juta ton sepanjang tahun 2024. Realisasi impor beras pada januari-April 2024 telah mencapai 1,77 juta ton, dan rencana impor pada Mei-Desember 2024 sebesar 3,40 juta ton. (Yetede)
Ketentuan Penerbitan Obligasi Daerah Direlaksasi
Perbankan Gencar Melancarkan Pembiayaan
Industri perbankan semakin gencar menyalurkan pembiayaan berkelanjutan, terlihat dari data semester I-2024 yang menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Perbankan juga berkomitmen terus meningkatkan komposisi pembiayaan berkelanjutan ke depannya. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, OJK telah menerbitkan POJK No.51/2017 dimana salah satunya terkait kebijakan penyaluran kredit/pembiayaan yang mendukung keuangan berkelanjutan.
"Berdasarkan data implementasi Rencana Aksi keuangan Berkelanjutan (RAKB) perbankan posisi Desember 2022, pembiayaan berkelanjutan yang disalurkan bank mencapai sekitar 24% dari total kredit perbankan," jelas Dian. Dian memaparkan, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi perbankan dalam penyaluran kredit berkelanjutan, antara lain dukungan kebijakan insentif dari pemerintah untuk sektor rill, ketersediaan dan transparansi informasi atas proyek hijau, kebutuhan teknologi dan ekspert terkait proyek hijau yang masih terbatas dan memerlukan pembiayaan besar, serta dukungan kapasitas SDM. (Yetede)
Pasar Saham Sideways, SUN Jadi Primadona Asing
Hyundai Akan Meluncurkan Tiga Mobil Hybrid Barunya
IKN Yang Semakin Ngawur
Tantangan Sulit Pertumbuhan Ekonomi Pemerintahan Baru
Hukuman Bagi WNI Yang Mengelola Judol
Airlangga Mundur dari Jabatan Ketua Umum Partai Golkar
Jokowi Menyebut Anggaran untuk HUT RI Wajar
Anggaran peringatan HUT Ke-79 Republik Indonesia membengkak, mencapai 87 miliar karena dilangsungkan di Ibu Kota Nusantara dan Jakarta. Presiden Jokowi menilai hal tersebut wajar. ”Iya, namanya dulu (peringatan Proklamasi Kemerdekaan) hanya di satu tempat. Karena ada transisi menjadi (dilangsungkan) di dua tempat. Tapi, kan, bukan lompatan yang anu (Presiden mengangkat tangan ke atas). Saya kira anggaran biasa, wajar, dan juga anggarannya di Kemensetneg,” tutur Presiden Jokowi kepada wartawan seusai menyerahkan SK Hutan Sosial, TORA, dan Sawit Rakyat serta Sertifikat Layanan Dana Lingkungan untuk Masyarakat, di Jakarta, Jumat (9/8).
Mensetneg Pratikno menyampaikan, anggaran negara untuk pelaksanaan upacara bendera 17 Agustus 2024 di IKN membengkak. ”Ya, karena upacara sekarang diselenggarakan di dua tempat, anggarannya lebih besar dari sebelumnya, tapi tidak signifikan,” ujar Pratikno, di Kantor Setneg, Jakarta, Selasa (6/8). Selasa (6/8) pakar kebijakan publik dan ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai perayaan HUT Ke-79 RI di IKN terlalu ambisius dan menghamburkan uang negara.
Pengeluaran besar-besaran untuk mobilitas tamu VVIP dianggap tidak proporsional dengan kondisi ekonomi negara yang sedang berjuang pulih dari dampak pandemi Covid-19. ”Perayaan HUT RI di IKN seharusnya menjadi momen untuk menunjukkan solidaritas dan komitmen pemerintah terhadap pemulihan ekonomi rakyat,” tutur Nur secara tertulis. Dana tersebut bisa dialokasikan untuk program yang lebih berdampak langsung bagi masyarakat, seperti bansos, pembangunan infrastruktur yang mendukung perekonomian lokal, atau peningkatan pelayanan kesehatan dan pendidikan. (Yoga)









