Aplikasi Pesan Instan Mendekatkan Bisnis ke Konsumen
Perusahaan teknologi raksasa Meta menyebutkan, setiap hari terdapat 600 juta percakapan antara konsumen dan lembaga bisnis dalam aplikasi pesan instan Whatsapp secara global. Percakapan pribadi dengan lembaga bisnis ternyata membuat konsumen lebih nyaman dan lebih terikat secara emosi sehingga meningkatkan relasi mereka. Vice President of Southeast Asia and Emerging Market Meta Benjamin Joe menyampaikan, di Indonesia, 88 % pengguna individu Whatsapp aktif mengirim pesan kepada pemilik bisnis melalui aplikasi tersebut setidaknya sekali dalam seminggu, layaknya berkomunikasi dengan teman dan keluarga. Konsumen dengan santai, tetapi cepat dan mudah bisa berkirim pesan kepada pemilik bisnis untuk menyampaikan keluhan layanan, pertanyaan seputar produk/jasa, dan cara transaksi jual-beli barang.
”Di antara aplikasi-aplikasi yang ada di ponsel pintar, aplikasi pesan instan telah menjadi aplikasi utama,” ujar Benjamin di sela-sela acara Indonesia Whatsapp Business Summit 2024, Kamis (22/8). Berdasarkan survei yang dilakukan Kantar dan didukung Meta, diketahui 89 % warganet Indonesia menganggap mengirim pesan kepada pemilik bisnis lewat aplikasi pesan instan sebagai metode komunikasi yang lebih cepat dan mudah. Sebanyak 83 % lebih percaya kepada pemilik bisnis jika mereka dapat berkomunikasi dengan berkirim pesan. Survei itu dilakukan pada 6.513 pengguna internet di 13 negara, termasuk Indonesia pada Maret 2024. Dari hasil temuan tersebut, dia meyakini mengirim pesan, antara lain pesan percakapan bisnis melalui aplikasi pesan instan telah menjadi bagian integral dalam hidup masyarakat di dunia.
Indonesia Country Director Meta Peter Lydian menyebutkan, ada revolusi percakapan yang tengah terjadi. Sebanyak 69 % responden Indonesia yang disurvei Kantar itu mengaku merasa frustrasi jika suatu pemilik jenama tidak memberikan opsi berkomunikasi lewat kirim pesan teks di aplikasi pesan instan. ”Dengan kata lain, pemilik jenama yang tidak menyediakan opsi komunikasi dengan konsumen lewat kirim pesan tertulis di aplikasi pesan instan akan kurang disukai. Sudah banyak konsumen merasa berkirim pesan teks mampu memberikan pengalaman komunikasi yang lebih personal,” kata Peter. Meta mengem bangkan aneka fitur yang memudahkan pemilik jenama semakin mudah menggaet konsumen dan menciptakan suasana komunikasi yang tepercaya. Salah satunya adalah fitur verifikasi akun atau Meta Verified centang biru.
Di Indonesia, yang termasuk salah satu pasar terbesar Meta, fitur ini sudah bisa diakses pengguna Whatsapp, terutama dari kelompok pemilik UKM. Director of Business Messaging Meta Dean Ostilly membenarkan kabar itu. Dalam demo singkat tentang apa itu Whatsapp Business Call di acara Indonesia Whatsapp Business Summit 2024, dia mencontohkan, operator telekomunikasi MyRepublic adalah contoh pemilik jenama yang sudah bisa mengakses Whatsapp Business Call versi Beta. Secara sekilas, cara kerja fitur itu mirip dengan layanan telepon konsumen (customer service) pada umumnya, yaitu konsumen Whatsapp bisa menelepon via Whatsapp ke akun jenama, lalu memencet nomor ekstensi yang dituju. Bedanya, Whatsapp Business Call baru bisa terjadi jika konsumen memberikan persetujuan agar ada panggilan percakapan dengan pemilik jenama. (Yoga)
Produksi Padi Terancam Turun
Ratusan hektar sawah di Kabupaten Indramayu, Jabar, terdampak kekeringan pada musim tanam kedua. Jumlah itu diprediksi bertambah karena keke ringan masih bisa berlanjut. Produksi padi di lumbung pangan itu terancam menurun. Di Desa Karanganyar, Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, kekeringan tampak dari tanah yang retak-retak. ”Rata-rata usia tanaman padi yang kekeringan ini 1,5 bulan. Itu lagi butuh banyak air,” ucap H Fahrurozi, Ketua Kelompok Tani Sriwijaya IV, Kamis (22/8). Kekeringan terjadi karena minimnya pasokan air saluran irigasi dari Bendungan Rentang di Majalengka dan Bendungan Cipanas.
Terakhir, sawahnya mendapat air pekan lalu, dengan debit yang sedikit karena harus berbagi dengan desa dan kecamatan lainnya. ”(Petani) di sini sudah sebulan enggak maksimal kebagian air,” ucapnya. Padahal, ia memperkirakan, di Desa Karanganyar sekitar 350 hektar terdampak kekeringan. Bahkan, sejumlah petani menggelar balap lari dan motor di sawah yang mengering, Selasa (20/8). ”Petani spontan saja (balap lari dan motor). Kami bikin ini biar kekeringan dipikirkan,” ungkap Fahrurozi yang turut serta dalam kegiatan itu. Setelah video balap lari dan motor di lahan kering itu tersebar di media, sejumlah lembaga pemerintah terkait datang ke daerah tersebut.
Ia berharap, pemerintah segera menangani dampak kekeringan itu agar petani tidak merugi. Sejauh ini ia menghabiskan 14 juta untuk biaya tanam dan pemupukan sawah seluas 2 hektar. Tanpa pasokan air, sawahnya terancam puso. ”Produksi padi juga berpotensi berkurang karena tanah tidak subur lagi. Tanahnya kering, retak-retak,” ucapnya. Namun, ia belum bisa memprediksi berapa penurunan produksi padi di lahannya. Dalam kondisi normal, ia bisa memanen 5 ton gabah kering panen (GKP). Kondisi serupa juga terjadi di desa lainnya di Kandanghaur. Dari 13 desa, hanya dua desa yang bisa terselamatkan jika pasokan air irigasi belum normal. Fahrurozi menyebut, hampir 80 % sawah di Kandanghaur kekeringan. Luas area tanamnya mencapai 4.000 hektar. (Yoga)
”Acil Pentol” Tetap Eksis di Era Digital
Penetrasi digital dalam dunia perdagangan datang begitu cepat, tak terkecuali bagi usaha kaki lima. Perlahan, para pedagang kecil tak mau tertinggal dalam euforia ekonomi digital. Semarak ekonomi digital terdengar hingga ke kawasan padat penduduk di pinggir Sungai Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalteng. Pada Senin (12/8) siang, sebuah sepeda motor melintas di atas jalan kayu dan berhenti dengan ban berdecit. Arianto (20) turun dari kendaraannya di depan warung Acil Agi (47). Dalam bahasa Banjar, acil berarti ’tante’ atau ’bibi’. Bisa juga panggilan ibu-ibu yang berjualan di pinggir jalan atau di warung makan.
Arianto mengambil tusukan kayu di sebuah stoples terbuka, lalu menusuk-nusuk pentol favoritnya. Ada pentol goreng, rebus, hingga yang bercampur telur dadar. Ada empat pentol dalam satu tusukan itu. Ditemani segelas es teh manis, Arianto mengunyah satu demi satu pentolnya. Ia kemudian beranjak untuk membayar. ”Berapa semuanya, Cil?” tanya Arianto. ”Rp 25.000 sama es teh,” jawab Acil Agi. Begitu merogoh kocek, Arianto bingung. Uangnya raib. ”Waduh, bisa QRIS, kah, Cil?” Giliran Acil Agi yang bingung. Meski sudah setahun menggunakan QRIS atau quick response Indonesian standard, Acil Agi masih agak asing dengan itu.
Ia lalu berteriak memanggil anaknya untuk mencari. Arianto menawarkan transfer antarbank, tetapi Acil Agi menolak. Akhirnya, anak Acil Agi tiba dengan sebuah gambar yang ia taruh di atas lapak. Arianto lalu memindai kode unik melalui layar teleponnya. Begitu selesai, Arianto berjalan pulang. Belum dua langkah berjalan ke jalanan kayu, anak Acil Agi teriak dari dalam rumah, “Di foto dulu, Mah, bukti transfernya.” Acil Agi menepuk jidatnya, Arianto kembali membuka telepon pintarnya. ”Sudah setahun lebih pakai ini karena ikut-ikut orang aja. Pedagang di sini, kan, pada pakai semua,” kata Acil Agi. Semua uang dari kode unik itu memang meluncur ke rekeningnya.
Tapi ia lebih suka menggunakan buku tabungan setiap dua sampai tiga bulan sekali untuk memeriksa tabungannya, terkadang lewat ATM. Hanya anak sulungnya yang bekerja di tengah kota yang menggunakan mobile banking untuk membantu ibunya memeriksa keuangan. Meski tergagap-gagap dengan teknologi, Acil Agi tak mau menyerah. Ia sudah menabung untuk membeli ponsel baru agar bisa memasang perangkat bank untuk mengatur sendiri keuangannya. Beberapa pedagang kaki lima lainnya di sekitar Kereng Bangkirai juga melakukan hal serupa. Meski masih gagap dengan era digital, pedagang kecil seperti Acil Agi membuktikan, dari pinggir sungai mereka tak mau melewati arus digitalisasi ekonomi. (Yoga)









