;

ASF Meluncurkan Obligasi Senilai Rp 2,6 Triliun untuk Ekspansi

Hairul Rizal 17 Sep 2024 Kontan

PT Astra Sedaya Finance (ASF) menerbitkan obligasi berkelanjutan VI tahap IV tahun 2024. Obligasi ini merupakan bagian dari rencana ASF yang dilakukan sejak Juni 2023, dengan target dana Rp 12 triliun. Manajeman ASF, dalam keterbukaan informasi di BEI, menyebut, ASF akan menerbitkan obligasi senilai Rp 2,6 triliun dalam dua seri. Seri A senilai Rp 1,18 triliun berjangka waktu 370 hari dan memberi bunga 6,45% per tahun. Sedangkan seri B akan berjangka waktu 36 bulan akan membayar bunga 6,7% per tahun. Penawaran umum obligasi ini akan dilakukan pada 26-27 September 2024. Sementara pencatatan akan dilakukan pada 3 Oktober 2024.

Penolakan Perpecahan di Kadin oleh Dunia Usaha

Yoga 17 Sep 2024 Kompas (H)

Sejumlah kalangan dunia usaha menyesalkan Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Indonesia terseret dalam konflik yang memunculkan perpecahan. Mereka berharap segera ada solusi sehingga Kadin sebagai induk organisasi dunia usaha dapat fokus menyelesaikan masalah perdagangan dan industri nasional. Perpecahan dalam tubuh Kadin Indonesia muncul ketika sejumlah perwakilan Kadin provinsi menggelar musyawarah nasional luar biasa (munaslub) di Jakarta, Sabtu (14/9) yang menetapkan Anindya Bakrie sebagai ketua umum baru. Padahal, jabatan tersebut masih diampu oleh Arsjad Rasjid yang telah diakui sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia periode 2021-2026 secara aklamasi dalam musyawarah nasional di Kendari, Sultra, pada 2021. Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman menyayangkan permasalahan yang terjadi dalam organisasi Kadin belakangan.

”Siapa pun yang jadi, yang sah, kalau bagi kami harus segera diselesaikan, entah itu dari kubu Arsjad ataupun kubu yang baru dilantik. Kami hanya berharap polemik ini segera selesai karena kami akan terdampak,” kata Nandi, Senin (16/9). Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono juga menyayangkan polemik yang terjadi di dalam Kadin. Ia berharap konflik itu dapat diselesaikan dengan segera. Kadin sebagai wadah dari dunia usaha, menurut Eddy, seharusnya tidak berpolitik praktis. Alih-alih terseret konflik kepentingan, Kadin sebaiknya memberi perhatian kepada dunia usaha, baik terkait masalah yang dihadapi saat ini maupun tantangan ke depan. ”Gapki sangat berharap masalah ini dapat segera selesai supaya tidak ada polemik berkepanjangan. Dunia usaha membutuhkan kenyamanan berusaha,” kata Eddy. (Yoga)


Fenomena Ekonomi Kosong di Tengah yang Merisaukan

Yoga 17 Sep 2024 Kompas (H)

Berita mengenai berkurangnya jumlah kelas menengah mengemuka di tengah transisi pemerintahan. Fenomena ini layak diperhatikan karena hanya simtom dari persoalan struktural yang jauh lebih merisaukan, yaitu fenomena ekonomi kosong di tengah. Jika tidak segera ditangani melalui kebijakan yang tepat, visi Indonesia Emas 2045 akan berubah menjadi Mimpi (Buruk) Indonesia Cemas 2045. Meski mengusung tema keberlanjutan kebijakan, pemerintah baru harus berani merombak kebijakan agar terjadi transformasi sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045 yang pada waktunya akan menjadi undang-undang.

Data BPS menunjukkan penurunan jumlah kelas menengah dengan pengeluaran Rp 1,2 juta hingga Rp 9,9 juta per bulan dalam lima tahun terakhir, dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Sekitar 10 juta penduduk jatuh dari kelompok menengah menjadi kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class), yang pada 2019 berjumlah 129 juta jiwa, pada 2024 naik menjadi 138 juta jiwa. Jika kelas menengah dan menuju kelas menengah digabungkan, jumlahnya 66,35 % dari total penduduk Indonesia. Kelompok ini menjadi penting secara ekonomi karena menyumbang 81,49 % total konsumsi masyarakat, yang akan berimplikasi pada penerimaan PPN.

Pola kebijakan kita terlalu bias pada kelompok atas serta cenderung populis. Lima tahun terakhir ini, pemerintah memberi insentif besar pada kelompok atas melalui berbagai konsesi sehingga kekuatan bisnis dan politiknya menguat. Di sisi lain, pemerintah juga sangat royal memberikan berbagai bantuan dan program sosial kepada kelompok bawah. Peta penabung menunjukkan distribusi aset keuangan penduduk sangat timpang: secara jumlah penabung kecil mendominasi, tapi secara nominal dikuasai penabung besar yang jumlahnya hanya 0,02 % dari total penabung.

Peta penabung ini juga menjadi indikator bagi situasi sektor keuangan secara umum, di satu sisi masih kecil (dangkal) dan di sisi lain tidak merata. Sektor keuangan harus diperdalam secara sistematis agar distribusinya juga semakin merata. Berita berkurangnya jumlah kelas menengah perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, bahwa struktur ekonomi kita memang rapuh, kelompok menengahnya kosong. Jika pemerintah ke depan tidak mengoreksi arah kebijakan ini, maka jangan berharap pertumbuhan ekonomi bisa naik menjadi 8 %. Untuk tumbuh 5 % saja perlu insentif lebih besar. (Yoga)


Jerman Tidak Menerbitkan izin ekspor senjata ke Israel

Yoga 17 Sep 2024 Kompas

Serangkaian gugatan atas dugaan pelanggaran hukum internasional oleh Israel terhadap Palestina berdampak ke Jerman. Berlin cemas terseret dugaan pelanggaran tersebut. Karena itu, Jerman tidak lagi menerbitkan izin ekspor senjata ke Israel. Dewan Keamanan Federal Jerman (Bundessicherheitsrat/BSR) pimpinan Kanselir Jerman Olaf Scholz belum mengeluarkan izin ekspor senjata ke Israel sejak Maret 2024. Pada Januari-Februari 2024, hanya dikeluarkan izin ekspor senilai 32.000 euro. Sebagai pembanding, ekspor senjata Jerman ke Israel bernilai 326,5 juta euro. Bentuknya termasuk peluru senapan, roket pelontar, dan aneka kendaraan tempur.

Setelah AS, Jerman merupakan pemasok senjata terbesar ke Israel. Sebagian perusahaan AS-Jerman membuat perusahaan patungan untuk produksi senjata. Pada 2024, kondisi semakin sulit bagi eksportir Jerman untuk mengirim senjata ke Israel. Seorang petinggi pabrik peralatan pesawat mengungkapkan, ada izin yang harus diurus ke berbagai lembaga. Tidak ada kejelasan kapan izin akan keluar. Pada Juli 2024, pengadilan Berlin menolak gugatan penghentian ekspor senjata Jerman ke Israel. Gugatan diajukan European Center for Constitutional and Human Rights (ECCHR) bersama sejumlah warga Jerman keturunan Palestina.

Nikaragua juga menggugat Jerman ke Mahkamah Internasional (ICJ). Nikaragua menuding Jerman terlibat genosida yang dilakukan Israel di Gaza dalam bentuk bantuan keuangan, politik, dan militer Jerman untuk Israel. Ada anggota parlemen yang menyebut, ada perdebatan keras soal dukungan Jerman ke Israel. Penolakan, disampaikan anggota parlemen dari Partai Hijau yang dipimpin Menlu Jerman Annalena Baerbock. Mereka menyebut, perkembangan di Gaza menunjukkan Jerman harus berhenti mengirim senjata ke Israel. (Yoga)


Dunia Usaha Penuh Ketidakpastian

Yoga 17 Sep 2024 Kompas

Dinamika politik yang intens setahun belakangan, mulai dari pilpres pada akhir 2023 hingga pilkada serentak 27 November 2024, menimbulkan ketidakpastian yang sarat dan panjang bagi dunia usaha. Sementara perekonomian nasional tengah menghadapi tekanan yang terlihat dari daya beli masyarakat yang melemah. Salah satunya ditandai Indonesia mengalami deflasi berturut-turut sejak Mei sampai Agustus 2024. Deflasi empat bulan berturut-turut secara bulanan ini pertama kali terjadi sejak 1999 atau 25 tahun terakhir. Linier dengan tren itu, industri juga lesu. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur Indonesia pada periode Agustus 2024 berada di level 48,9. Posisi ini melanjutkan tren kontraksi PMI Manufaktur Indonesia yang dimulai Juli, di level 49,3.

Angka di bawah 50 menunjukkan kondisi usaha tengah terkontraksi. Saat permintaan dan pasokan lemah, penyesuaian harus dilakukan. Salah satunya, efisiensi tenaga kerja. Berdasar data Kementaker, 32.064 pekerja menjadi korban PHK pada se mester I-2024. Jumlah ini naik 21,45 % dibanding periode yang sama 2023. PHK terjadi di sejumlah provinsi. Angka PHK terbanyak terjadi di Jakarta, yakni 7.469 orang, Banten 6.135 orang dan Jabar 5.155 orang. Jumlah PHK di Kemenaker terbatas yang dilaporkan. Artinya, jumlah PHK sebenarnya kemungkinan lebih banyak. ”Keadaan ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” ujar CEO Wyrsolution, Theodorus Wiryawan, pada Afternoon Tea-Kompas Collaboration Forum (KCF) di Jakarta, Jumat (13/9)

Pertemuan itu mengusung tema ”Pilkada dan Kemajuan Pembangunan Daerah”. KCF adalah forum yang diselenggarakan harian Kompas untuk mengakomodasi kebutuhan informasi para pemimpin perusahaan swasta dan BUMN. Afternoon Tea merupakan salah satu forum pertemuan yang menghadirkan para pemimpin perusahaan sebagai anggota KCF dengan narasumber relevan untuk berbagi informasi. Indikator lain yang menunjukkan ekonomi Indonesia tidak baik-baik saja, menurut Wiryawan, berasal dari data keuangan. Dari 574 juta rekening dengan akumulasi dana Rp 8.300 triliun, 98 % di antaranya mengalami penurunan saldo. Rasio kredit macet pada UMKM sudah berkisar 4,7 %. Defisit transaksi berjalan juga melebar, dari 1,9 miliar USD atau 0,5 % terhadap PDB pada triwulan II-2023 menjadi 3 miliar USD atau 0,9 % dari PDB pada triwulan II-2024.

”Memang ada penambahan uang beredar dan konsumsi, tetapi juga ada cost line atau investasi itu jadi tertahan. Itu terjadi bukan hanya pilpres sekarang, semua pilpres cenderung seperti itu,” katanya. Wiryawan berpendapat, perekonomian domestik masih terbilang cukup kuat dan solid dilihat dari kinerja sektor perbankan. Kondisi tersebut pada gilirannya membawa masuk investasi portofolio asing yang akan turut menjadi bantalan bagi perekonomian domestik. Oleh karena itu, ketahanan eksternal harus dijaga. ”Jadi, kalau pemerintahan politik, berani melawan kecenderungan pasar, itu bahaya. Karena berdampak pada investasi,” ucapnya. Selama arah kebijakan politik kondusif untuk pasar, daya beli masyarakat dapat terungkit kembali. Dengan demikian, titik beratnya bukan pada dinamika pilkada, melainkan arah kebijakan yang akan diambil oleh pemimpin, baik di level daerah maupun pusat. (Yoga)


Kunjungan Wisatawan Turun Akibat Pelemahan Daya Beli

Yoga 17 Sep 2024 Kompas

Pelemahan daya beli masyarakat berimbas pada industri pariwisata. Jumlah kunjungan masyarakat ke tempat-tempat wisata selama Januari-Agustus 2024 lebih sedikit dari periode yang sama tahun 2023. Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, pelemahan daya beli berpengaruh bagi industri pariwisata. Jasa perhotelan, restoran, mal dan pusat perbelanjaan, hingga tempat rekreasi merasakan tekanan ini. ”Secara umum untuk hotel, (okupansi) hotel daerah wisata, seperti Bali, masih bagus. Kalau daerah lain, turun. Saat long weekend memang ramai, tapi sesudah long weekend turun lagi, secara umum begitu,” tutur Hariyadi, yang juga Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Senin (16/9).

Tingkat okupansi hotel dan tempat acara, menurut Hariyadi, berkurang. Selain permintaan dari masyarakat, persoalan ini disebabkan pemerintah memangkas anggaran perjalanan dinas. Korporasi pun menahan pengeluaran karena melakukan banyak efisiensi. Dampak penurunan daya beli masyarakat juga dialami industri taman hiburan. PT Taman Impian Jaya Ancol, mencatat jumlah kunjungan Januari-Agustus 2024 menyusut 6 % dibanding periode yang sama tahun lalu. ”Pengunjung masih sedikit di bawah tahun lalu. Secara umum, sepertinya daya beli masyarakat sedang menurun atau mungkin menahan untuk spending,” ujar Kepala Humas Ancol Ariyadi Eko Nugroho.

Jumlah kunjungan ke PT Taman Safari Indonesia (TSI) yang menampilkan beragam satwa juga menyusut dari tahun lalu. Senior Vice President TSI Alexander Zulkarnain mengatakan, penurunan juga dialami kebun binatang yang pengelolaannya di bawah TSI. Sejumlah peristiwa nasional pada 2024 berkontribusi. Misalnya, hajatan besar politik, dari pilpres dan legislatif hingga kepala daerah. Liburan sekolah yang berdekatan dengan liburan Lebaran meningkatkan volatilitas kunjungan karena pengeluaran cenderung menjadi satu dan tanpa jeda. ”Hal ini terjadi pada semua industri pariwisata. Semoga berubah semester dua ini,” ucap Alexander yang juga Wasekjen Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia. (Yoga)


Personalisasi Ritel ”Offline”

Yoga 17 Sep 2024 Kompas

Strategi personalisasi iklan di luar jaringan (offline) terus dikembangkan. Dulu para pemasar menambang berbagai data dari masyarakat untuk beriklan, kini pekerjaan itu dilakukan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Umur, jender, ciri wajah, bentuk tubuh, pakaian yang dipakai, gaya berpakaian, kebiasaan berbelanja, dan lainnya bisa disimpan di bank data. Seluruh data itu kemudian diolah untuk menentukan iklan dan promosi, yang umumnya disebarkan untuk orang banyak, tetapi kini hanya unik untuk setiap individu. Teknologi ini jarang ditemukan di Indonesia, tetapi sudah mulai dikembangkan. Salah satunya oleh PT Digital Mediatama Maxima Tbk. Perusahaan yang tercatat di bursa efek dengan kode DMMX ini menciptakan berbagai platform ritel pintar berbasis AI, platform konten cloud (penyimpanan data di internet), serta solusi teknologi lain yang bertujuan meningkatkan interaksi dan pengalaman konsumen.

Menurut Dirut DMMX Budiasto Kusuma, perilaku konsumen saat ini sudah banyak dipengaruhi informasi dari berbagai sumber media. Karena itu, digitalisasi ritel menjadi kewajiban di era kemajuan teknologi dan informasi. ”Peritel dituntut bisa memberi informasi yang lebih atraktif dan tertarget ke konsumen yang lebih spesifik. Ini hanya bisa dilakukan apabila mereka menerapkan digitalisasi pada tempat mereka berbisnis,” ujarnya di Jakarta, Kamis (12/9). Pemanfaatan AI untuk solusi pemasaran pun menjadi peluang besar. Sejauh ini, Budiasto mengakui, adaptasi teknologi tersebut masih lebih banyak diinisiasi kanal pemasaran daring yang dapat diakses konsumen menggunakan ponsel pintar atau komputer. ”Saya rasa, ke depan, tren seperti ini juga akan merambah ke sektor offline di mana teknologi ritel pintar akan disajikan juga di level outlet,” ujarnya. (Yoga)


Perbandingam Bus Kota Modern dan yang Dibiayai Pemda

Yoga 17 Sep 2024 Kompas

Bus kota modern yang beroperasi berkat stimulus dari pemerintah pusat, yang dibiayai APBD atau masih berjalan dengan stimulus pusat ditambah subsidi APBD telah rutin beroperasi di banyak kota di Indonesia. Untuk melihat berbandingan kualitas layanan, kita bisa tengok Joglosemar, kawasan yang terdiri dari Jogja (Yogyakarta), Solo (Surakarta), dan Semarang. Kawasan segitiga emas ini telah menjadi kawasan aglomerasi besar dan merupakan pusat pertumbuhan ekonomi di Jateng. Siti (53), warga Kelurahan Mijen, Semarang, Jateng, merupakan pelanggan bus Trans Semarang. Sejak 2019, Siti rutin mengantar anaknya, Rafi (12), ke sekolah dengan bus kota itu. Jarak rumah dengan sekolah Rafi 20 km. Kalau naik sepeda motor, butuh Rp 20.000 untuk bahan bakar dan lainnya.

”Naik Trans Semarang Rp 5.000 berdua, tinggal duduk manis, diantar sampai tujuan,” ucap Siti, Kamis (12/9) di Semarang. Fajar (32) warga Kelurahan Kedungmundu, Tembalang, Semarang, rutin menggunakan Trans Semarang sejak 2018. Meski menyukainya, ia mengeluhkan ada sopir yang ugal-ugalan dan bus berasap tebal. Bus Trans Semarang berawal dari bantuan 20 unit bus dari Kemenhub yang mulai berioperasi pada 17 September 2009. Kepala Badan Layanan Umum Unit Pelaksana Teknis Dinas Trans Semarang Haris Setyo Yunanto mengatakan, saat ini, Trans Semarang memiliki 287 unit armada dengan delapan rute koridor dan empat rute angkutan pengumpan. Selain itu, Trans Semarang juga melayani satu koridor layanan malam.

Setiap hari, rata-rata 23.000 penumpang. Haris menuturkan, anggaran operasional bus tahun 2024 Rp 180 miliar, dari APBD Kota Semarang, penjualan tiket, dan reklame. ”Secara anggaran cukup bagus dibanding kota lain. Tapi, operasionalnya perlu banyak evaluasi dan pembenahan,” ujar pakar transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno. Di Yogyakarta, Purnama (35), pekerja kreatif, rutin menggunakan bus Trans Jogja. Tarif Trans Jogja yang beroperasi sejak 2008 ini hanya Rp 2.700 per trip dengan transaksi nontunai, lebih murah ketimbang ongkos ojek daring. Halte bus banyak tersebar di lokasi strategis di Yogyakarta. Apalagi, saat ini ada aplikasi Trans Jogja untuk memantau pergerakan bus di rute.

Meski demikian, menurut dia, jumlah armada Trans Jogja perlu ditambah. ”Sebagian unit rasanya sudah perlu diremajakan,” ujarnya. Kabid Angkutan Dishub DI Yogyakarta (DIY) Sapto Nugroho menjelaskan, saat ini, Trans Jogja memiliki 95 unit bus dengan 19 trayek. Berdasarkan data Dishub DIY, sirkulasi penumpang Trans Jogja tahun 2023 sebanyak 5,4 juta atau 14.800 per hari. Rata-rata keterisian bus pada Juli 2024 sekitar 14,45 %. Sapto mengatakan, Dishub DIY belum berencana me- nambah trayek dan armada Trans Jogja karena keuangan daerah terbatas. Setiap tahun, Pemda DIY memberi subsidi Rp 80 miliar-Rp 85 miliar untuk Trans Jogja. (Yoga)


Puncak Masih Jadi Primadona Walaupun Macet

Yoga 17 Sep 2024 Kompas

Puncak terlanjur jadi primadona tempat wisata bagi masyarakat. Sensasi wisata alam, nostalgia, dan kemudahan akses membuat orang berduyun-duyun ke Puncak, Bogor, Jabar. Kemacetan hingga belasan jam saat akhir pekan atau libur panjang seolah tak jadi masalah. Tak heran, saat libur panjang tiga hari, Sabtu sampai Senin (14-16/9) ribuan orang berwisata ke Puncak. Hasilnya, kemacetan panjang hingga 17 jam tak terelakkan akibat ratusan ribu kendaraan melintas di jalur Puncak. Berdasar data Polres Bogor, Minggu (15/9) pukul 23.30 WIB, jumlah kendaraan yang melintas di jalur Puncak mencapai 114.000 unit. Kasatlantas Polres Bogor Ajun Komisaris Rizki Gautama menyebut, tingginya volume kendaraan, terutama sepeda motor, memperparah kemacetan di sejumlah titik.

”Kami buka jalur dari arah Puncak menuju Gadog, tetapi volume kendaraan sangat tinggi, terutama sepeda motor yang memadati jalan,” ujar Rizki, Senin (16/9). Kendaraan roda dua yang berhenti di pinggir jalan saat pemberlakuan satu arah mempersempit ruang gerak kendaraan dari arah sebaliknya. Situasi ini mengurangi efektivitas sistem satu arah yang seharusnya bisa menggunakan tiga lajur menjadi dua lajur karena terhalang sepeda motor yang bergerak dari Ciawi. Kemacetan ini menyebabkan wisatawan terjebak hingga berjam-jam di jalan. Salah satunya ialah Jumar Sudiyana bersama rombongan bus yang berangkat dari Cianjur pada Minggu sore. Rombongan wisatawan ini terjebak 17 jam di sekitar Gunung Mas, Cisarua, Bogor.

”Sejak subuh, banyak kendaraan yang dimatikan untuk menghemat BBM karena sulit bergerak, bahkan beberapa kendaraan overheat,” ungkap Jumar. Kemacetan mempersulit wisatawan mendapat makanan, minuman, dan toilet. Beberapa wisatawan terpaksa menggunakan perkebunan teh di sekitar jalan sebagai tempat darurat untuk buang air. Kondisi sama dialami Dharma Andre (32) warga Bintaro, Tangsel. Andre bersama istrinya berniat liburan di kawasan Puncak malah berakhir nestapa. Bukannya wisata alam, justru wisata kemacetan. Saat berangkat dari rumahnya di Bintaro, Minggu pukul 08.30, Andre membekali diri dengan informasi berkala di media sosial dan radio. Ia memilih jalur alternatif ketimbang jalur utama dari simpang Gadog-Jalan Raya Puncak. Naas, jalur alternatif pun macet. Tujuh km ditempuh dalam lima jam. Ia baru sampai vila pukul 20.00.

Lokasinya yang relatif dekat dan mudah diakses dari Jabodetabek menjadi alasan lain mengapa Puncak populer. Sejak lama kawasan ini menjadi pilihan ideal untuk wisata akhir pekan atau liburan singkat. Selain itu, panorama alam yang indah dan tempat foto menarik membuat Puncak menjadi destinasi yang digemari wisatawan. Di sisi lain, masalah kemacetan mesti dicarikan solusi untuk keamanan dan kenyamanan kawasan ataupun warga di kawasan Puncak. Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Kemenhub membuat kajian sebagai solusi alternatif agar terjadi sinergi yang harmonis antara pengguna jalan, operator angkutan, dan pemangku kebijakan di Puncak, dimana pemanfaatan angkutan umum di kawasan Puncak dapat menjadi solusi. Penataan kawasan Puncak akan selalu dinanti wisatawan. Semua berharap, rekreasi ke Puncak memang benar-benar untuk melepas penat di tengah rutinitas. (Yoga)


Karisma Evi Tiarani, Atlet Paralimpiade yang Menembus Batas

Yoga 17 Sep 2024 Kompas (H)

Sprinter Karisma Evi Tiarani tak pernah menyangka akan meraih medali perak di Paralimpiade Paris 2024. Sebab, pesaingnya adalah trio ”ratu” Italia yang menguasai nomor 100 meter putri klasifikasi T63 (memakai kaki palsu), yaitu Ambra Sabatini, Martina Caironi, dan Monica Grazziana Contrafatto. Di luar dugaan, dalam babak final lari 100 meter putri klasifikasi T63, Sabtu (7/9/2024), Sabatini yang hampir pasti meraih emas terjatuh hanya beberapa meter dari finis. Contrafatto yang berlari di sebelah Sabatini ikut jatuh karena tak sempat menghindar. Jadilah Evi meraih perak dan Caironi mendapat emas. Jika tidak ada insiden itu, kemungkinan Sabatini mendapat emas, Contrafatto atau Caironi perak, dan Evi maksimal meraih perunggu atau finis di peringkat keempat tanpa medali.

Amat sulit bagi Evi, yang tidak memakai kaki palsu bilah, bersaing dengan pelari yang memakai kaki palsu bilah. Klasifikasi Evi sebenarnya adalah T42, yaitu keterbatasan gerak pada sebelah kaki, tetapi tidak memakai kaki palsu. Kaki kiri Evi lebih pendek daripada kaki kanannya. Para pelari dengan kaki palsu bilah, sering dijuluki blade runner, larinya akan lebih cepat setelah jarak 60 meter karena efek pantulan dari kaki palsunya. Cara mengalahkan para blade runner adalah start cepat dan berlari sekuat tenaga sejak start. ”Tidak ada yang tidak mungkin,” kata Evi kepada Kompas sebelum babak final di zona campuran Stadion Stade de France, Paris, Sabtu (7/9).

Kata-katanya terbukti pada saat babak final. Di Paris, Evi memecahkan dua rekor dunia 100 meter putri klasifikasiT42 atas namanya, yaitu dari 14,37 detik pada Asian Para Games Hangzhou tahun 2023 menjadi 14,34 detik pada heat 1 (semifinal), lalu dipertajam lagi menjadi 14,26 detik di babak final. Target utama Evi selanjutnya adalah Paralimpiade Los Angeles 2028. Namun, sebelumnya, target terdekat adalah ASEAN Para Games Thailand 2025. Targetnya tetap sama, yaitu memecahkan rekor pribadi. Evi tidak cepat puas, dia selalu tertantang menembus limitnya sendiri. (Yoga)


Pilihan Editor