Dugaan Korupsi PROYEK GERBANG KENDARI-TORONIPA Senilai Rp 32,8 Miliar
Baru diresmikan Februari 2024, bagian dinding Gerbang Kendari-Toronipa rontok dan rusak di sejumlah sisi. Bangunan senilai Rp 32,8 miliar itu ternyata hanya terbuat dari papan semen tanpa struktur beton. Hal ini memicu banyak pertanyaan publik di kala anggaran fantastis digelontorkan untuk empat gerbang yang ”kopong”. Wandi (33) mendekati gerbang pertama di jembatan Kendari-Toronipa Sultra, Ia penasaran dengan bahan dan ornament gerbang yang sedang banyak diperbincangkan di masyarakat. Tangannya mengusap dinding serupa batu bata tersebut. ”Bukan beton. Kayak gipsum saja,” kata pengemudi ojek daring ini, Rabu (11/9). Sejak gerbang difungsikan Februari lalu, ia mengatakan, tak terhitung lagi dirinya melewati jalan ini. Selama itu, ia mengira bangunan itu terbuat dari beton dan batu bata. Tapi, sebuah video yang menunjukkan gerbang dengan dinding bocor beredar di masyarakat.
Dinding tersebut seperti ditempel dan memiliki material yang rapuh. Video diunggah pemengaruh di sejumlah laman media sosial. Tak lama, video itu ditonton banyak orang. Tidak hanya itu, bagian dalam setiap gerbang tersebut ternyata bukan dinding struktur beton. Di dalamnya hanya terlihat rangka tulang baja ringan yang ditempeli dinding. ”Infonya, anggarannya besar. Itu pakai uang pajak kita semua,” ujarnya. Gerbang Kendari-Toronipa adalah bagian terakhir dari pembangunan jalan akses pariwisata senilai lebih dari Rp 1,1 triliun tersebut. Sementara, bangunan yang terdiri atas empat gerbang berjejer ini menelan anggaran Rp 32,8 miliar. Dengan anggaran puluhan miliar, keempat gerbang itu terlihat serupa memakai beton. Bagian dinding berbentuk susunan bata. Namun, saat dilihat lebih dekat, bangunan ini hanya terdiri atas susunan papan semen.
Sejumlah bagian yang rusak telah ditambal seiring beredarnya video di masyarakat dan dunia maya. Sisa cat dan gipsum bertebaran di sekeliling bagian gerbang. Setelah ditambal, bagian yang bocor dan rusak itu dicat berwarna senada. Namun, pengerjaannya terlihat terburu-buru dan jauh dari rapi. Berdasar laman LPSE Sultra, pembangunan ornamen gerbang dilakukan PT Karya Inti Bumi Konstruksi dari Aceh dengan nilai Rp 32.809.664.000. Bahan pengganti beton dan bata disebut glass reinforced concrete (GRC), atau papan semen. Harga satuan papan ukuran 1,2 x 2,4 meter, Rp 150.000 untuk ketebalan 8 milimeter atau cukup tebal. Pada Kamis (12/9) Kabid Bina Marga Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Sultra Harmunadin menjabarkan, bahan yang dipakai untuk ornamen gerbang tersebut memang papan semen atau GRC, seperti banyak digunakan pada bangunan lain.
Bahan ini dikenal tahan air dan bisa bertahan selama 25-30 tahun. Menurut Harmunadin, penggunaan GRC disebabkan adanya konstruksi bentuk yang diinginkan. Secara konstruksi, bahan ini membuat desain jauh lebih mudah dan bisa sesuai dengan perencanaan awaTidak hanya itu, dengan lokasi jembatan, beban berat perlu diperhitungkan. Bahan yang ringan membuat momentum berat terjaga. Terkait harga empat gerbang yang mencapai Rp 32,8 miliar, ia menjelaskan, hal tersebut telah sesuai dengan perhitungan dan perencanaan awal. Pembangunan meliputi bahan, konstruksi baja, pekerja, hingga penyelesaian akhir. Proyek ini juga dipantau oleh inspektorat dan telah melalui audit. Bahkan, rencana awal proyek bernilai hingga Rp 46 miliar, dengan tambahan sling baja yang membentang di keempat jembatan gerbang itu. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023