Kebebasan Internet Global Terus Menurun dalam 14 tahun Terakhir
Dana Pandemi 24,9 Juta Dollar AS bagi Indonesia dari Pandemic Fund
Harapan Menyala dari Seberang Istana
Susunan Menteri Ekonomi Membawa Kesan Stabilitas dan Keberlanjutan
Perguruan Tinggi Kini Berwenang Mengatur Karier Dosen
Perguruan tinggi kini berwenang mengatur karier dosen, termasuk mengangkat guru besar atau profesor sepanjang tetap mengikuti norma, standar, prosedur, kriteria, dan aturan pemerintah. Hal ini untuk menguatkan bahwa profesor merupakan jabatan akademik tertinggi bagi dosen. Namun dampak kebijakan ini mesti diantisipasi. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, danTeknologi (Permendikbudristek) Nomor 44 Tahun 2024 tentang Profesi, Karier, dan Penghasilan Dosen memperbarui regulasi demi memperbaiki mutu perguruan tinggi (PT) untuk mengikuti perkembangan zaman.Hal itu meliputi pengelolaan, karier, dan pendapatan dosen. Perguruan tinggi diberikan waktu maksimal satu tahun untuk mempelajari peraturan ini dengan target implementasi pada Agustus 2025. Waktu tersisa bisa untuk mempersiapkan segala kebutuhan agar proses adaptasi dapat berjalan lancar.
Ketua Umum Asosiasi PerguruanTinggi Swasta Indonesia Budi Djatmiko, di Jakarta, pada Minggu (20/10/2024) mengatakan, kebijakan ini diajukan sejak lama demi mendukung otonomi PT. Namun pemerintah perlu menjamin penghasilan semua jenjang karier dosen, tak hanya dosen di perguruan tinggi negeri, tetapi juga perguruan tinggi swasta. ”Kami apresiasi, tapi seharusnya semua jenjang karier profesi dosen sampai guru besar ditanggung pemerintah. Sebab, pendidikan jadi tanggung jawab negara,” kata Budi. Menurut Ketua Asosiasi Profesor Indonesia Ari Purbayanto, ada konsekuensi jika tiap PT memiliki standar pengangkatan guru besar berbeda. PT dengan reputasi baik, terakreditasi unggul, bahkan world class university (WCU) atau kelas dunia memiliki standar atau ketentuan guru besar yang tinggi.
Hati-hati Banjir Rob di Penghujung Bulan Oktober
Rusmidah, Dengan Ketelatenan, Memuliakan Batik Gentongan
Menjadi Bangsa yang Berani Menghadapi Segala Tantangan dan Rintangan
Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi bangsa yang berani menghadapi tantangan, rintangan maupun ancaman. Tidak hanya terbatas tantangan yang datang dari luar, yang juga tidak kalah penting adalah keberanian untuk mengakui dan menghadapi tantangan yang berasal dari diri bangsa Indonesia sendiri. "Ada tantangan-tantangan, kesulitan-kesulitan yang terjadi karena kita kurang waspada, karena kadang-kadang kita tidak andal dan tidak piawai dalam mengurus kekayaan kita sendiri.
Bersama Prabowo, juga dilantik Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden Prabowo Subianto tercatat sebagai presiden ke-8 Indonesia menggantikan Presiden Joko Widodo yang telah memerintah salama dua periode berturut-turut. Sedangkan Gibran menggantikan Wakil Presiden Ma'aruf Amin yang merupakan wakil presiden Indonesia ke-13. Prabowo mengatakan, Indonesia adalah negara yang dikaruniai kekayaan alam yang besar dan sangat beragam. Selain itu, Indonesia pun memiliki wilayah daratan dan lautan yang sangat luas. Sumber alam tersebut bahkan merupakan sumber-sumber alam yang sangat penting untuk kehidupan manusia di dunia pada abad-abad ke-21 maupun abad mendatang. (Yetede)
Pertumbuhan Rendah dan Utang Menumpuk Bebani EKonomi Global
Direktur pelaksana Dana Moneter Internasional atau IMF Kristalina Georgieva mengingatkan bahwa pertumbuhan yang rendah dan utang yang menumpuk masih menjadi hambatan utama bagi perekonomian global. Meskipun ada kemajuan cukup siginfikan dalam pemulihan eknomi global, tapi pemerintah dibanyak negara telah menjadi terlalu terbiasa untuk berhutang. Hal tersebut diperparah dengan pertumbuhan rendah hingga beban pembayaran utang menjadi semakin berat. "Belum waktunya untuk merayakannya (kemajuan dalam pemulihan ekonomi global). Ketika kita melihat tantangan-tantangannya yang ada di depan kita, tantangan terbesar adalah pertumbuhan yang rendah dan utang yang tinggi.
Di sinilah kita bisa dan harus melakukan yang lebih baik," ujar Georgieva. Terlepas pujian Georgieva terhadap kinerja bank-bank sentral utama dalam meredam inflasi, ia mencatat bahwa pencapaian-pencapaian tersebut belum bersifat universal. Karena beberapa negara masih terus dengan kenaikan harga-harga. Termasuk perjuangannya untuk mengatasi dampaknya dalam kehidupan sosial maupun politik maing-masing. "Negara-negara ekonomi besar telah berhasil dengan sangat baik tapi ada beberapa negara di dunia yang tingkat inflasinya masih menjadi masalah. Dampak dari kenaikan harga-harga masih ada dan ini membuat orang di banyak negara itu merasa keadaan lebih buruk dan marah," kata dia. (Yetede)









