Hati-hati Banjir Rob di Penghujung Bulan Oktober
Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, mencatat terjadinya pasang air laut sejak Sabtu (12/10/2024). Masyarakat di pesisir pantai utara Jateng diminta mewaspadai banjir rob karena pasang airlaut diperkirakan masih terjadi hingga akhir Oktober. Beberapa pekan terakhir, sejumlah wilayah di pesisir pantura Jateng, seperti Semarang, Demak, dan Pekalongan, dilanda banjir rob. Di jalan pantura Semarang-Demak, misalnya, banjir rob dengan ketinggian 20 sentimeter (cm) dilaporkan menghambat lalu lintas kendaraan pada Rabu (16/10) pagi. Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas, Semarang, Taruna Mona Rachman mengatakan, banjir rob di wilayah Semarang dan sekitarnya terjadi karena pasang air laut yang cukup tinggi. Menurut dia, rata-rata normal pasang air laut di perairan Semarang dan sekitarnya adalah 130 cm. Namun, sejak Sabtu, rata-rata pasang air laut mencapai 170 cm.
Bahkan, pada Selasa (15/10), pasang air laut mencapai 176 cm. ”Pasang air laut masih akan terjadi hingga akhir bulan. Dalam beberapa hari ke depan, kemungkinan ketinggian pasang air laut sekitar 170 cm. Itu masih bisa lebih tinggi lagi jika hujan turun,” ujar Taruna, Kamis. Pasang air laut terjadi karena kondisi lokal di perairan utara Jawa. Selain itu, pada Kamis, ada fenomena perigi atau jarak antara Bumi dan Bulan pada titik yang terdekat. Turunnya hujan di sejumlah daerah di wilayah hulu juga memengaruhi pasang air laut. ”Perubahan iklim yang terjadi sejak puluhan tahun lalu menimbulkan berbagai dampak, salah satunya kenaikan muka air laut. Di saat yang sama, di Semarang dan sekitarnya ini terjadi penurunan muka tanah sehingga dampaknya banjir rob,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jateng telah melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi banjir rob di wilayahnya. Kendati demikian, upaya tersebut belum membebaskan masyarakat di kawasan pesisir pantura dari belenggu rob. Kepala Bidang Sungai, Bendungan, dan Pantai Dinas Pekerjaan Umum, Sumber Daya Air, dan Penataan Ruang Jateng Andis Setiyo Septiyantok mengatakan, rob masih terus terjadi karena belum semua tanggul penahan air laut tertutup. Upaya pemerintah dalam menghalau air laut itu masih kalah cepat dibandingkan laju penurunan muka tanah dan laju kenaikan muka air laut. ”Dalam beberapa waktu kedepan dimungkinkan masih ada banjir rob karena sistemnya belum tertutup. Penanganannya belum selesai karena masih ada tanggul-tanggul rob yang terbuka. Jadi, air laut masih bisa masuk, baik lewattambak maupun drainase,” katanya. Menurut Andis, penanganan rob dengan tanggul laut di Jateng ditargetkan rampung pada 2026. (Yoga)
Tags :
#BencanaPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023