Dampak Covid-19 : Resesi Terburuk, Baru Pulih Tahun Depan
Dana Moneter Internasional memproyeksikan, pandemi Covid-19 kini mendorong ekonomi global ke dalam resesi terdalam selama seabad ini, yakni membuat produk domestik bruto dunia tumbuh negatif 3 persen tahun ini. Namun, ekonomi global diproyeksikan kembali pulih dengan akselerasi tinggi pada 2021. Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) Gita Gopinath dalam presentasi World Economic Outlook, Selasa (14/4/2020) mengatakan Kerugian kumulatif terhadap produk domestic bruto (PDB) global sepanjang 2020 dan 2021 dari krisis akibat pandemi bisa sekitar 9 triliun dollar AS, lebih besar dari gabungan ekonomi Jepang dan Jerman.
Ekonomi global diperkirakan kembali tumbuh hingga 5,8 persen pada 2021, dengan syarat pandemi berakhir pada paruh kedua 2020. Namun, IMF kesulitan dalam membuat perkiraan akurat di tengah situasi yang berubah begitu cepat saat ini. Kemungkinan penurunan ekonomi global tahun ini adalah yang terburuk sejak Depresi Besar tahun 1930-an, IMF mengatakan hal ini lewat laporannya yang berjudul “Penutupan Besar (The Great Lockdown)” yang dirilis menjelang pertemuan semi virtual IMF dan Bank Dunia
Tahun ini, negara-negara maju diperkirakan tertekan sekitar 6 persen. Perlambatan parah itu, menurut IMF, tidak dapat dihindari, tetapi langkah-langkah fiskal, moneter, dan finansial dapat mengurangi tekanan negara-negara. Banyak pemerintah bersama bank sentral telah menerapkan belanja besar-besaran yang memompa likuiditas ke dalam sistem keuangan guna mencegah gangguan. Gopinath mengatakan, akan lebih banyak lagi yang dibutuhkan setelah krisis kesehatan ini berakhir. Dikatakan, pengeluaran besar-besaran akan menyebabkan peningkatan tajam utang pemerintah dan tingkat defisit. Total utang secara global kini sudah lebih dari 80 persen dari PDB global. Jika pemulihan dimulai pada 2021 dan dengan suku bunga rendah, maka perlahan-lahan tingkat utang akan turun. Namun, beberapa negara akan membutuhkan pembebasan dari kewajiban utang mereka.
Fokus ke Sektor Domestik
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam Laporan Proyeksi Ekonomi Global yang dirilis pada Selasa (14/4/2020) pagi waktu Washington DC, Amerika Serikat, atau Selasa malam waktu Indonesia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi global minus 3 persen pada 2020. Khusus di Asia, pertumbuhan diproyeksikan diangka 1 persen yang ditopang pertumbuhan ekonomi China 1,2 persen dan India 1,9 persen. Sedangkan untuk Indonesia tahun diproyeksikan tumbuh 0,5 persen.
Kepala Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja menuturkan, kondisi dunia saat ini adalah perpaduan krisis keuangan global 2008-2009, depresi besar 1929, dan pandemi flu Spanyol 1918. Mitigasinya jauh lebih sulit karena belum ada yang bisa menghitung dampak kerugian ekonomi secara global, regional, dan nasional. Ia menambahkan Indonesia harus menitikberatkan pada sektor domestik yang menopang perekonomian saat krisis, diantaranya agrikultur, perikanan dan kehutanan, serta perdagangan. Menurutnya pemerintah perlu memberikan stimulus khusus berupa insentif, relaksasi fiskal, atau fasilitas agar sektor-sektor itu dapat terus berproduksi saat pandemic Covid-19. Sebagai contoh, sektor - sektor ini harus bekerja sama dengan sektor perdagangan karena kontribusi keduanya terhadap pertumbuhan ekonomi cukup signifikan,
Konselor Ekonomi IMF Gita Gopinath dalam Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia yang digelar virtual, Selasa, menekankan, pengambil kebijakan diharapkan menyokong rumah tangga, perusahaan, dan pasar keuangan. Dampak pandemic Covid-19 bagi sebagian besar negara di dunia bisa berlanjut pada semester II tahun ini.
Senada dengan pendapat ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menambahkan skenario terberat pertumbuhan ekonomi dapat mendekati nol persen pada triwulan II-2020 dan minus 2 persen pada triwulan III-2020. Sedangkan Bank Indonesia dalam siaran pers Rapat Dewan Gubernur, memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 dapat 2,3 persen.
Head of Research Analyst FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo mengatakan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipengaruhi sentimen negatif laporan IMF tentang proyeksi perekonomian global. Ditempat terpisah, Analis Panin Sekuritas, William Hartanto, memandang surplus neraca perdagangan gagal membangun sentimen positif di pasar saham.
Di sisi lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memaparkan, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2020 surplus 743,4 juta dollar AS. Menanggapi hal ini, peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan surplus neraca perdagangan bisa mendorong fundamen perekonomian domestik lebih kuat atau setidaknya membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiahRelaksasi Kredit Terus Berjalan
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hingga 13 April 2020, sebanyak 300.000-an debitor disetujui mendapatkan keringanan kredit. Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot, Rabu (15/4/2020), menyampaikan, jumlah itu masih belum akan berhenti dan berpotensi bertambah. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menyatakan, OJK membebaskan perbankan menentukan opsi restrukturisasi kredit. Ini mulai dari penurunan suku bunga kredit, pembebasan bunga atau biaya pokok, hingga memperpanjang jangka waktu pemberian kredit.
Sementara dalam rapat terbatas di IstanaMerdeka, Jakarta, Rabu, Presiden Joko Widodo meminta relaksasi kredit bagi UMKM dipercepat. Presiden juga meminta kepada menteri dan kepala lembaga negara untuk menyiapkan pembiayaan dengan skema baru, terutama yang berkaitan dengan investasi dan modal kerja Pengajuannya agar dibuat lebih mudah terutama untuk UMKM di daerah terdampak Covid-19. Sementara itu, pedagang bolu susu khas Bandung, Khairiri (46), yang berjualan di Jakarta Selatan, menjadi salah satu debitor mikro BRI yang mendapatkan relaksasi pinjaman karena omzetnya turun 70 persen dari biasanya sebesar Rp 8 juta per bulan. Sedangkan Dedi (42), hal nasabah kredit usaha rakyat (KUR) di Yogyakarta, menyatakan hal ini sangat meringkanan dimasa sekarang, ia ditawari skema pelonggaran pembayaran kredit dimana nasabah hanya diwajibkan membayar bunga selama enam bulan ke depan.
Ajaib Perdagangan Masih Surplus di Tengah Wabah
Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$ 743,3 juta pada Maret 2020 jauh lebih baik dibandingkan dengan neraca perdagangan kuartal I-2019 yang tercatat defisit sebesar US$ 62,8 juta. Menurut Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (15/4) pihaknya mencatat, nilai impor Indonesia pada Maret 2020 turun 0,75% dibanding Maret 2019 (yoy). Tapi naik 15,6% dibandingkan impor Februari 2020 dikarenakan meningkatnya impor nonmigas sebesar 19,83% (43,80% diantaranya barang konsumsi senilai US$ 1,27 miliar).
Dari sisi ekspor, sepanjang Maret 2020, ekspor Indonesia tercatat naik tipis 0,23% ketimbang Februari 2020, namun turun 0,2% bila dibandingkan Februari 2019. Suhariyanto menambahkan, berbagai harga komoditas migas maupun nonmigas masih dalam tren menurun sehingga mempengaruhi ekspor. Ekonom Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Eric Sugandi memperkirakan, ekonomi Indonesia akan menghadapi tekanan berat di kuartal kedua tahun ini. Alhasil, aktivitas perdagangan Indonesia juga bakal melambat. Namun, jika pandemi Covid-19 bisa berhenti atau penyebarannya melambat pada kuartal III-2020, aktivitas ekspor dan impor Indonesia juga akan membaik. Ekonomi Indonesia pun bisa meningkat lagi. Pulihnya ekonomi China juga berpeluang mengangkat perdagangan Indonesia dikarenakan pasar ekspor produk Indonesia maupun impor dari China juga bisa terbuka. Pemulihan ini mulai terlihat pada Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur China yang naik ke level ekspansi, yaitu 50,3 Meski begitu, Eric menyatakan masih terlalu dini untuk menyimpulkan ekonomi China sudah pulih. Ia memproyeksikan neraca dagang Indonesia sepanjang tahun ini bisa mencatat surplus sekitar US$ 5 miliar hingga US$ 6 miliar.
Disisi lain Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan, kinerja ekspor Indonesia ke depan masih lemah bahkan dimungkinkan terjadinya defisit, hal ini terutama akibat melemahnya harga komoditas di pasar global.Ekonomi Mulai Resesi Kuartal II 2020
Pandemi Covid-19 semakin menekan perekonomian dalam negeri. Bahkan, ekonomi Indonesia berpotensi besar memasuki resesi mulai periode kuartal II-2020 berdasarkan proyeksi Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri dalam dialog daringnya, Rabu (15/4). Tanda-tanda resesi terlihat dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), efisiensi tenaga kerja maupun ketidak mampuan banyak perusahaan membayar utang bank maupun bunganya. Menurutnya Produk Domestik Bruto (PDB) akan jatuh ke level negative disebabkan aktivitas konsumsi yang menjadi penyumbang terbesar dalam tren melemah. Begitu pula dengan investasi, tengah turun dalam meski periode April-Juni merupakan momentum high season, Ramadan dan Idul Fitri yang biasanya membuat konsumsi rumah tangga paling tinggi.
Perekonomian global terus berada dalam situasi sulit selama vaksin Covid-19 belum ditemukan. Lalu saat anti virus sudah ada, aktivitas bisnis butuh waktu untuk recovery dari dampak pandemi. "Butuh enam bulan sampai satu tahun untuk konsolidasi dari tahap normal ketika vaksinnya ketemu," tambah dia. Meskipun demikian, Chatib melihat situasi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis ekonomi 1998 yang diakibatkan situasi ekonomi domestik yang rapuh serta korupsi yang merajalela. Sementara saat ini, resesi dialami secara global akibat adanya pandemi Covid-19. Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mengamini adanya potensi resesi Indonesia tahun ini. Perkiraannya, tekanan ekonomi paking berat terjadi di kuartal kedua, "Kalau kondisi berat cukup panjang atau bahkan resesi dua kuartal berturut-turut, GDP (gross domestic product) Indonesia bisa negatif. Tapi kami upayakan tidak terjadi," tandas Menkeu. Di kuartal ketiga nanti ekonomi diperkirakan tumbuh lebih baik di kisaran 1,5%-2,8% dalam skenario berat.
Pengangguran Kuartal II Berpotensi Membludak
Pandemi virus corona (Covid-19) terus mengalami peningkatan di Indonesia. Kondisi ini berpotensi mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran skala besar, hal ini sebagaimana disampaikan Center of Reform on Economics (Core) Indonesia dalam pernyataan tertulis yang diterima KONTAN, Rabu (15/4), tambahan jumlah pengangguran terbuka terjadi diproyeksi terutama di Jawa mencapai 6,94 juta orang dengan skenario berat. Disisi lain, pemerintah memperkirakan, jumlah pengangguran 2020 bisa bertambah 2,9 juta orang untuk skenario berat. Dan bisa bertambah 5,2 juta orang untuk skenario sangat berat.
Investor AS Dominasi Pembelian Global Bonds RI
Pemerintah telah menerbitkan tiga seri Surat Utang Negara (SUN) atau obligasi global berdenominasi dolar Amerika Serikat (US$ bonds) dengan total nominal US$ 4,3 miliar. Obligasi global itu terdiri atas US$ 1,65 miliar untuk tenor 10,5 tahun (seri RI1030), US$ 1,65 miliar untuk tenor 30,5 tahun (RI1050), dan US$ 1 miliar untuk tenor 50 tahun (RI0470). Dari semua tenor atau seri, investor atau pembeli dari Amerika Serikat (AS) muncul sebagai yang terbanyak. Untuk seri RI1030 investor dari AS mencapai 45%, sedangkan untuk seri RI1030 dan RI0470 masing-masing 52% dan 44%. Hal ini dilansir pada laman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Kamis (16/4). Total nominal penerbitan global bonds tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah penerbitan global bonds Indonesia.
Kemenperin Ancam Cabut Izin Operasi Perusahaan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan menetapkan delapan sektor usaha sebagai pengecualian untuk tetap beroperasi. Menteri Perindustrian (Menperin) , Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam konfrensi pers secara virtual di Jakarta, Kamis (16/4) meminta industri yang masih beroperasi wajib menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat sesuai Surat Edaran Nomor 4 Kemenperin. Jika tidak, pihaknya tidak ragu akan mencabut izin Operasi.
Agus menerangkan, mengacu Peraturan Menkes Nomor 9 tahun 2020 lampiran 3A disebutkan, industri-industri yang produk-produknya esensial dikecualikan dari PSBB. Artinya, bisa melakukan kegiatan proses produksi tanpa izin dari siapapun. Kemudian, pada lampiran 3B, industri lainnya bisa melakukan proses produksi dengan izin Menperin. Untuk itu, lanjut Menperin, pihaknya segera membangun satu sistem yang disebut dengan Izin Operasi Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) yang ada di dalam Sistem Industri Nasional (Siinas). Semua industry yang berniat tetap melakukan kegiatan perlu mendapatkan izin dari Menperin yang dilakukan melalui proses online melalui. Menperin juga menjamin izin itu keluar kurang dari satu jam.
Produk Kesehatan Paling Diburu di Pasar Daring
Tokopedia, salah satu platform e-commerce di Tanah Air, membeberkan tiga kategori produk paling dicari di pasar daring (online) saat pandemi Covid-19 pada Maret 2020, yakni kategori produk kesehatan, keperluan rumah tangga, serta makanan dan minuman. Bahkan, kenaikan transaksi kategori kesehatan hampir tiga kali lipat, Hal ini sebagaimana disampaikan VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak. Menurutnya aktivitas belanja daring, selain dapat menekan penyebaran Covid-19, bisa mendorong bisnis lokal tetap beroperasi secara online. Hal ini dibuktikan dari peningkatan jumlah penjual baru pada kategori perawatan kesehatan dan pribadi sebesar hampir 2,5 kali lipat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
“Kami juga saat ini mengadakan kampanye #JagaEkonomiIndonesia untuk mendorong lebih banyak lagi masyarakat berani menciptakan peluang di ranah online agar roda ekonomi tetap berjalan di tengah pandemi seperti ini,” tambahnya. Selain itu, selama pandemi Covid-19 berlangsung, Tokopedia membuka dua kanal berdonasi untuk mengajak masyarakat bersama melawan pandemi, yaitu lewat fitur Bantu Pejuang Covid-19 dan halaman Checkout Tokopedia. Sampai akhir Maret, lebih dari 400.000 masyarakat telah berdonasi dan lebih dari Rp 5 miliar donasi terkumpul untuk disumbangkan ke masyarakat terdampak Covid-19, terutama para tenaga medis.Tokopedia juga memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan tanpa harus ke luar rumah lewat program Bebas Ongkir. Selama bulan Maret, Tokopedia juga telah menutup permanen ribuan toko dan melarang tayang puluhan ribu produk yang terbukti melanggar harga, judul, deskripsi yang tidak wajar di kategori kesehatan maupun kebutuhan pokok lain sebagai dampak dari Covid-19, Tokopedia terus melakukan sweeping berkala untuk memastikan produk yang dijual dalam platformnya mematuhi peraturan.
Korona Menggerogoti Separuh Devisa Pariwisata
Kementerian Pariwisata dan ekonomi Kreatif (Kempar Ekraf) memprediksi pandemi virus korona (Covid-19) bakal menggerogoti penerimaan devisa dari sektor pariwisata. Tak tanggung-tanggung, devisa dari sektor pariwisata ini berkurang hingga separuhnya. Hal ini disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio usai mengikuti rapat terbatas secara daring, Kamis (16/4). Agar tidak terpuruk terlalu dalam, Pemerintah tengah menyiapkan stimulus untuk sektor pariwisata. Stimulus ini sedang dikoordinasikan dengan sejumlah kementerian/lembaga, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Dalam Negeri, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pemerintah ingin ada relaksasi bagi keuangan perusahaan yang bergerak disektor pariwisata. Selain itu stimulus bagi sebanyak 1,1 juta pekerja sektor pariwisata untuk menerima kartu pra kerja. Selain itu, Wisnutama juga menyebutkan Kemensos akan memberikan bantuan sosiali bagi 2,1 juta UMKM
Presiden Joko Widodo juga menyatakan optimistis bahwa siklus pariwisata Indonesia akan kembali meledak tahun 2021. "Semua orang pengin menikmati kembali keindahan yang ada di wilayah dan daerah yang ada pariwisatanya sehingga optimisme itu yang harus diangkat," terang Jokowi. Namun untuk saat ini, Jokowi meminta mitigasi agar menjaga sektor pariwisata dan membuat kebijakan yang tepat sasaran dengan menyiapkan stimulus ekonomi bagi para pelaku di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif agar bisa bertahan dan tidak ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran. Di sisi lain, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira Prawira meminta kepada pemerintah untuk memperbaiki iklim usaha khususnya sektor perhotelan di tengah pandemi ini. Ia mengusulkan industri perhotelan diikutsertakan dalam menampung pasien Covid-19 agar bisnis tetap berjalan.









