Industri Reksa Dana, Banjir Investor Di Tekfin
Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo mengatakan pertumbuhan jumlah investor pasar
modal berdasarkan single investor
identification (SID) secara year to
date (ytd) sudah mencapai 3,5
juta investor, menanjak 42,19%.
Padahal, per Desember 2019,
jumlah investor berdasarkan SID
baru 2,48 juta.
Secara khusus, investor reksadana mencatatkan pertumbuhan
59,32% ytd menjadi 2,8 juta
investor dari 1,7 juta investor
pada akhir 2019.
Berdasarkan demografinya, sebanyak 49,4% merupakan investor pada rentang usia
20 tahun–30 tahun,
diikuti dengan
23,85% investor
berada pada rentang usia 30
tahun—40 tahun.
Demografi berdasarkan usia
yang lebih muda, lanjut Uriep,
merupakan alasan pertumbuhan
investor dan AUM reksadana
melalui platform daring di Indonesia mengingat generasi tersebut
lebih melek terhadap teknologi.
Chief Executive Officer PT
Bibit Tumbuh Bersama (Bibit)
Sigit Kouwagam menyebut bahwa
sebenarnya Covid-19 memberikan
tekanan pada industri reksadana,
diantaranya karena daya beli
turun.
Namun, di sisi lain APERD
berbasis tekfin mampu menawarkan solusi investasi digital.
Menurutnya, kemudahan menggunakan aplikasi dan transaksi
reksadana secara digital menjadi
faktor utama peningkatan transaksi
selama masa pandemi.
Selain itu, lanjutnya, selama
Covid-19 awareness masyarakat
akan investasi juga meningkat
karena banyak yang sadar bahwa
dana darurat itu sangat penting
dalam menghadapi situasi krisis.
Mitha optimistis pertumbuhan
transaksi reksadana akan terus
meningkat pada tahun depan.
Pasalnya, dia melihat sejak adanya
pandemi masyarakat jadi semakin
melek keuangan dan sadar akan
kebutuhan untuk berinvestasi
dan mengembangkan uang yang
dimiliki.
Sektor Unggulan, Pertanian Topang Ekonomi Daerah
“Selain meningkatkan daya tahan
petani terhadap dampak pandemi
Covid-19, ini juga upaya kami agar
tidak terjadi kelangkaan pangan di
Papua Barat,” kata Kepala Dinas
Tanaman Pangan, Hortikultura dan
Perkebunan Provinsi Papua Barat
Jacob Fonataba seperti dikutip
Antara, Minggu (29/11)
Dia menjelaskan bahwa peningkatan produksi padi masih menjadi
prioritas pada tahun depan, selain
pangan lokal seperti sagu, jagung,
dan ubi-ubian.
Selain itu, komoditas kakao di
Kabupaten Manokwari Selatan
dan kopi di Pegunungan Arfak
juga masuk dalam skema pengembangan ekonomi hijau di
Papua Barat. Produksinya pun
akan terus dipacu untuk memenuhi kebutuhan ekspor.
Hingga kini, produksi kakao di
Manokwari Selatan sudah rutin
dikirim ke Surabaya dan diekspor
ke Inggris.
Sebanyak 11,5 ton cabai kering
Sulsel dikirim perdana ke Pakistan
oleh eksportir PT Ransu Navigasi
Nusantara untuk kebutuhan campuran pewarna tekstil di negara
tersebut.
Meski perdana dikirim ke Pakistan, sebelumnya komoditas cabai
kering juga telah menembus pasar
Negeri Sakura, Jepang. Tak main-main, jumlahnya bahkan mencapai
23 ton dengan pengiriman secara
bertahap.
Berdasarkan data lalu lintas
ekspor pertanian di Karantina
Makassar, tercatat pertumbuhan
negara tujuan ekspor meningkat
sebesar 8%, yakni 133 negara
tujuan ekspor pada 2019 dan 143
negara tujuan hingga Oktober 2020
atau bertambah 10 negara tujuan
baru seperti Thailand, India, dan
China.
Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil menyatakan dalam proses ekspor, yang
terpenting adalah memerhatikan
hilirisasi produk pertanian, mengingat produk pertanian yang tidak
tahan lama atau bersifat perishable.
Dengan hilirisasi, diharapkan memberi nilai tambah dan menjamin
keberterimaan produk tersebut ke
negara tujuan.
Tiga Industri Unggulan Melesat Tahun Depan
Para pelaku industri memprediksi
penjualan mobil pada 2021 mencapai 750 ribu unit, naik 43% dari
estimasi 2020 sebanyak 525 ribu
unit, sedangkan sepeda motor diestimasikan tumbuh 6-19% menjadi 4-4,3
juta unit dari estimasi 2020 sebanyak
3,6-3,7 juta unit. Adapun penjualan
semen diperkirakan tumbuh 5-6%
dan mamin naik 5-7%
Seiring dengan itu, industri manufaktur tahun depan diproyeksikan
tumbuh 3,95%, dibandingkan per
September 2020 yang turun 2,63%.
Investasi akan menjadi salah satu
faktor penopang per tumbuhan
industri, selain perbaikan kinerja
beberapa sektor unggulan.
Melesatnya industri mamin olahan, otomotif, dan semen bakal
berimbas ke lantai bursa. Tahun
depan, saham-saham emiten ketiga
industri tersebut diperkirakan berada dalam teritori positif.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman menuturkan, pertumbuhan industri mamin tahun ini tergerus oleh pandemi Covid-19. Hingga akhir tahun, pertumbuhan industri pemasok produk domestik bruto (PDB) manufaktur terbesar ini ditaksir hanya 3%, melambat dari 2019 sebesar 7,78%. Tahun depan, pertumbuhan mamin diprediksi naik menjadi 5-7%.
Kemenkeu: 70% WP Merasa Terbantu Stimulus Pajak
Staf Ahli Menteri
Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak
Yon Arsal menyebutkan, sebanyak
70% pelaku usaha merasa sangat
puas dan terbantu dengan adanya
stimulus pajak selama masa pandemi
Covid-19. Sementara sebanyak 72%
pelaku usaha merekomendasikan
layanan pajak secara online oleh
Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
Kementerian Keuangan.
Ia merujuk pada hasil
survei pemulihan ekonomi nasional
(PEN) yang dilaksanakan oleh DJP
terhadap 12.800 wajib pajak yang
terkena dampak pandemi.
Ia mengatakan, pandemi Covid-19
memberikan dampak yang signifikan
terhadap kondisi pelaku usaha yang
ditunjukkan dengan penurunan penjualan, pengurangan aktivitas usaha,
permasalahan likuiditas, pengurangan tenaga kerja, serta penurunan
permintaan barang dan jasa.
Selanjutnya survei juga menunjukkan bahwa 47% responden melakukan penyesuaian tenaga kerja, 35%
melakukan pemberhentian sementara, dan 62% responden melakukan
pengurangan aktivitas hingga 75%.
Sebagai informasi, selama masa
pandemi Covid-19, pemerintah memberikan stimulus anggaran dunia
usaha senilai Rp 120,61 triliun yang
meliputi insentif pajak seperti pajak
penghasilan (PPh) Pasal 21 ditanggung pemerintah (DTP), pembebasan PPh Pasal 22 impor, potongan
angsuran PPh Pasal 25 sebesar 50%,
serta percepatan restitusi pajak
pertambahan nilai (PPN) hingga 31
Desember 2020.
Di sisi lain, survei menunjukkan insentif pajak efektif membuat
penurunan jumlah karyawan dan
penurunan jumlah penjualan lebih
moderat, dibandingkan dengan
pelaku usaha yang tidak memanfaatkan insentif pajak
Fuso Berkibar di Tengah Pandemi
Per Oktober 2020, pasar
kendaraan komersial ambles 50% menjadi 39.062
unit, dibandingkan periode
sama tahun lalu 77.662 unit.
Ini dipicu pandemi Covid-19, yang merontokkan
aktivitas bisnis, daya beli
masyarakat, serta pembatasan mobilitas secara ketat
pada kuartal II-2020.
Sementara itu, penjualan
Fuso pada periode sama
mencapai 19.007 unit, turun 44% dari 33.802 unit.
Alhasil, pangsa pasar Fuso
meningkat menjadi 48,7%
dari sebelumnya 43,5%.
Kini, Presiden Direktur Baru PT Krama Yudha Tiga Berlian Naoya Takai, telah mendapatkan izin dari pemerintah
Indonesia untuk datang
dan bertugas di Jakarta di
masa pandemi ini. Ada dua
hal penting yang menurutnya menjadi gaya kepemimpinannya, yaitu komunikasi
dan motivasi.
Di bawah komando pria yang akrab di sapa Rocky ini, KTB melakukan banyak penyesuaian untuk
menjalankan bisnis. Kini,
semua aktivitas sebagian
besar dilakukan secara
virtual seperti virtual customer gathering.
Dalam pandangan Rocky,
Indonesia adalah salah satu
pasar besar Fuso, yang
berpengalaman selama 30
tahun di bisnis otomotif
dunia. Ini akan membawa
KTB ke pertumbuhan berkelanjutan di pasar yang
menantang.
Pasar Fintech P2PL Cenderung Oligopoli
Kepala Eksekutif Pengawas
Industri Keuangan Non-Bank
(IKNB) Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) Riswinandi menjelaskan,
jumlah P2PL terus bertambah
tapi kontribusi belum merata.
Market share industri hanya
dikuasai oleh beberapa pemain
besar. Di lain sisi, mayoritas
P2PL memiliki penyaluran kecil
dengan kontribusi minim.
Riswinandi juga menilai, banyak penyelenggara fintech P2PL
yang tidak mampu memenuhi
persyaratan perizinan secara
benar dan tepat waktu. Beberapa
kali mereka kekurangan dokumen dan tidak siap dengan
infrastruktur sistem elektronik .
Berdasarkan data OJK, jumlah penyelenggara P2PL terus
bertambah. Hingga akhir 2019,
terdapat 164 perusahaan fintech
P2PL dan ada 35 perusahaan
yang sedang mengajukan pendaftaran. Namun hingga 28
November 2020, jumlah P2PL
tinggal sebanyak 153 perusahaan, meliputi 142 konvensional
dan 11 syariah.
Akumulasi pinjaman yang
diberikan fintech P2PL mencapai
Rp 137,6 triliun per akhir Oktober 2020, naik 102% secara year
on year (yoy), dengan outstanding saat ini tercatat Rp 13,24
triliun. Rekening peminjam mencapai 39 juta entitas atau naik
144% (yoy).
Riswinandi juga menyatakan,
tingkat keberhasilan pelunasan 90 hari sejak jatuh tempo
oleh peminjam atau diistilahkan
TKB90, cenderung menurun
hingga Juli 2020. Namun sejak
Agustus mulai membaik. TKB90
per Oktober tercatat 92,4%, yang
berarti ada 7,6% pinjaman yang
tidak tertagih.
Pada kesempatan ini, Risniwandi juga menyampaikan
sejumlah regulasi baru fintech
P2PL. Di antaranya adalah penghapusan status pendaftaran.
Dari 117 penyelenggara fintech P2PL yang dalam status
terdaftar, terdapat 10 pembatalan tanda terdaftar dikarenakan terlambat penyampaian
pengajuan permohonan izin,
30 sudah live demo dan site
visit, 16 sedang dalam proses pemenuhan dokumen, 44
mengulangi proses perizinan,
sisanya belum jatuh tempo satu
tahun perizinan
IRRA Raih Proyek Jarum Suntik Vaksin Korona
Program vaksinasi Covid-19 membawa berkah bagi PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA). Emiten alat kesehatan itu meraih order pengadaan jarum suntik auto disable syringes (ADS) dari pemerintah pada 27 November 2020. IRRA telah meneken kontrak sales and purchase agreement (SPA) sebanyak 111 juta jarum suntik ADS. Nilai kontrak pengadaan jarum suntuk tersebut mencapai Rp 132 miliar.
Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk, Heru Firdausi Syarif menyatakan, perolehan kontrak penyediaan jarum suntik sebanyak 111 juta unit itu merupakan order kedua dari pemerintah. Pada kuartal ketiga tahun ini, IRRA juga mendapatkan order dari pemerintah (Kementrian Kesehatan) sebanyak 35 juta alat suntik ADS 0,5 mililiter dan 0,05 ml untuk program vaksin imunisasi.
IRRA mengklaim alat suntik ADS mereka merupakan produk yang sudah sesuai standar WHO dengan TKDN di atas 60%. Produksinya dilakukan PT Oneject Indonesia (Oneject), yang merupakan sister company IRRA. Saat ini penggunaan jarum suntik ADS di Indonesia masih 20% dan 80% masih berupa syringe konvensional.
Direktur PT Itama Ranoraya Tbk , Pratoto Raharjo menambahkan, permintaan jarum ADS selain untuk program imunisasi dan Vaksin Covid-19, juga akan meningkat dari substitusi penggunaan jarum suntik konvensional (Non ADS) menjadi ADS. Pratoto menjelaskan, saat ini IRRA sedang mengalami transformasi model bisnis sesuai dengan visi HiTech Healthcare Solutions.
Pengalihan Sisa Dana Topang Belanja Awal 2021
Kebijakan penggunaan sisa dana dari hasil berbagi beban (burden sharing) antara pemerintah dan Bank Indonesia akan berdampak positif bagi proses pemulihan tahun depan. Dengan kebijakan ini, pemerintah bisa langsung melakukan belanja tanpa perlu khawatir masalah pembiayaan pada awal tahun.
Pada Sabtu (26/11/2020), Kementerian Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 187/PMK.05/2020 tentang Tata Cara Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dalam Rangka Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) Tahun 2020 serta Penggunaan Sisa Dana Penerbitan SBN Tahun 2020 dalam Rangka Pembiayaan Pelaksanaan Lanjutan Kegiatan PC-PEN Tahun 2021.
Melalui regulasi itu, pemerintah dapat menggunakan sisa penerbitan dana SBN pada 2020 untuk pembiayaan lanjutan program PC-PEN 2021. SBN yang dimaksud adalah surat utang negara dan atau surat berharga syariah negara dengan tujuan tertentu, yaitu untuk PC-PEN 2020. SBN dengan tujuan tertentu itu diterbitkan melalui skema berbagi beban antara pemerintah dan BI.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, postur APBN 2021 didesain fleksibel terhadap perubahan. Pemerintah telah menyusun skema dan payung hukum agar sisa anggaran PC-PEN 2020 dapat dialihkan ke tahun 2021. Sisa anggaran tetap akan dicairkan sepanjang triwulan I-2021 untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi. Adapun pada 2021, pemerintah mengalokasikan anggaran PC-PEN senilai Rp 356,5 triliun.
Pakuwon Akuisisi Dua Pusat Belanja
Di tengah kelesuan bisnis ritel, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mengambil alih dua pusat belanja milik PT Delta Merlin Dunia Properti. Dua mal tersebut masing-masing berlokasi di Yogyakarta dan Solo.
Presiden Direktur PT Pakuwon Jati Tbk, Stefanus Ridwan, tak menyangkal kabar tersebut. “Iya benar”, ungkap dia kepada KONTAN, kemarin (29/11). Dua pusat belanja yang dijual Delta Merlin kepada Pakuwon Jati bernama Hartono Lifestyle Mall Jogja dan Hartono Lifestyle Mall Solo.
Berdasarkan informasi yang diperoleh KONTAN, Delta Merlin telah melayangkan surat kepada para penyewa di kedua pusat belanja itu. Intinya, Delta Merlin menyebutkan bahwa kepemilikan dan pengelolaan Hartono Lifestyle Mall Jogja dan Hartono Lifestyle Mall Solo secara resmi telah beralih dari PT Delta Merlin Dunia Properti kepada PT Pakuwon Permai, anak usaha PWON.
Sumber KONTAN yang terlibat dalam transaksi tersebut menyebutkan, ada dua mal dan satu hotel milik Delta Merlin yang dijual kepada Grup Pakuwon. Hartono Mall Solo, Hartono Mall Yogyakarta, dan Marriott Yogyakarta, bisik sumber tersebut kepada KONTAN, Minggu (29/11).
Pemda Pacu Belanja Dana Rp 402 Triliun
Pemerintah daerah memacu penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai peraturan, sebelum tahun 2020 berakhir, guna menggairahkan sektor riil. Sampai 31 Oktober 2020, pemerintah daerah belum optimal membelanjakan anggaran Rp 402 triliun, yang nilainya signifikan untuk menggerakkan ekonomi lokal.
Bupati Banyuasin Askolani Jasi mengungkapkan, saat ini penyerapan anggaran APBD Banyuasin, Sumsel, baru mencapai 80 persen. Kepala Biro Administrasi Pembangunan Daerah Sekretariat Daerah Jateng Dyah Lukisari di Kota Semarang, Jumat, mengatakan, penyerapan anggaran Provinsi Jateng telah mencapai 79 persen dari Rp 27,32 triliun APBD-P Jateng 2020. Adapun Pemerintah Provinsi Papua baru mampu menyerap 60,93 persen dari Rp 14,7 triliun APBD 2020 Papua. Realisasi anggaran baru Rp 8,9 triliun sehingga masih ada Rp 5,7 triliun yang belum digunakan dengan waktu tersisa satu bulan pada tahun ini.
Penyerapan APBD yang belum sesuai harapan menjadi perhatian pemerintah pusat. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, APBD seharusnya bisa dijalankan dan menjadi tambahan pengungkit perekonomian. Namun, ternyata realisasinya di daerah masih sangat rendah.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 5 November 2020, realisasi anggaran kesehatan baru Rp 14,93 triliun atau 49,12 persen dari alokasi Rp 30,4 triliun. Adapun anggaran jaring pengaman sosial terealisasi Rp 12,91 triliun (56,62 persen) dan dukungan ekonomi hanya Rp 2,75 triliun (14,3 persen).
Sri Mulyani mengatakan, realisasi anggaran yang rendah tecermin dalam postur APBD yang sampai 31 Oktober 2020 baru terealisasi Rp 678,41 triliun dari total belanja APBD Rp 1.080,71 triliun.









