RI Bakal Impor 298.000 Ton Daging Sapi dan Kerbau
Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan daging sapi untuk sepanjang 2021 masih defisit 223.142 ton. Indonesia akan mengimpor 502.000 ekor sapi bakalan setara daging 112.503 ton, dan impor daging sapi sebesar 85.500 ton.
Artinya, daging sapi impor yang akan masuk ke Indonesia sebanyak 198.003 ton. Tak hanya itu, Indonesia juga akan mengimpor daging sapi Brasil dan daging kerbau India sebanyak 100.000 ton.
Berdasarkan perhitungan detikcom, maka total daging sapi dan kerbau impor yang akan masuk ke Indonesia sebanyak 298.003. Dari angka itu, ada kelebihan stok sebanyak 74.861 untuk kebutuhan 2021. Namun, menurut Fadjar stok di akhir 2021 diperkirakan masih ada sebanyak 58.725 ton.
Di sisi lain, menurutnya impor daging di tahun 2021 menurun 13,01% jika dibandingkan dengan 2020.
Airlangga Pastikan Bantuan Permodalan UMKM Berlanjut di 2021
Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau bantuan modal UMKM dipastikan akan kembali diberikan pada tahun 2021 ini. Program itu merupakan bantuan presiden (banpres) produktif senilai Rp 2,4 juta.
“Tadi dalam rapat dengan Bapak Presiden mengarahkan UMKM tetap diberikan bantuan permodalan,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam press briefing, Kamis (21/1).
Tidak hanya BLT UMKM, bantuan perlindungan sosial lainnya untuk masyarakat juga diperpanjang seperti Program Keluarga Harapan (PKH), dana desa, hingga bantuan sosial (bansos) tunai lainnya.
Selain itu, insentif pajak juga ikut diperpanjang sampai 2021 mulai dari pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk badan/instansi pemerintah dan rumah sakit, pembebasan impor atau perolehan barang kena pajak, dan percepatan pengembalian atau restitusi PPN.
Holding UMKM-Ultra Mikro Segera Terbentuk
Perusahaan holding hasil sinergi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM, dan PT Pegadaian (Persero) yang berfokus pada pembiayaan UMKM dan ultra mikro akan segera terbentuk. Selain akan mendorong UMKM dan usaha ultra mikro naik kelas, pembentukan holding ini diyakini bisa mempercepat pemulihan ekonomi nasional dari tekanan pandemi Covid-19. Proses pembetukan holding hanya tinggal menunggu 'lampu hijau' dari Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementrian Keuangan. Perusahaan ini akan berada di bawah BRI yang selama ini memang dikenal fokus dan memiliki bisnis kuat di kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Untuk mewujudkan holding tersebut, Kementrian BUMN sudah melakukan komunikasi dengan pihak terkait, termasuk dengan parlemen. Pada kesempatan yang sama, Kementrian Keuangan menyambut baik terkait rencana pembentukan holding pembiayaan UMKM dan ulltra mikro. Bahkan, sebelumnya Kementrian Keuangan telah terus-menerus melakukan pembahasan terkait hal-hal teknis. Masih ada isu-isu teknis yang perlu pembahasan. Namun, hal itu masih bisa didiskusikan. Apalagi, selama ini PNM dan Pegadaian adalah penyalur pembiayaan Ultra Mikro (UMi), produk dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP) yang merupakan satuan kerja di bawah Sekretariat Jenderal Kementrian Keuangan.
(Oleh - IDS)
Proyek Infrastruktur Pendukung Lima KSPN Selesai Medio 2021
Kolaborasi pembangunan infrastruktur antara Kementrian PUPR dan Kementrian Parekraf di lima kawasan strategis pariwisata nasional/ destinasti pariwisata super prioritas (KSPN/DPSP) ditargetkan selesai pada pertengahan 2021. Untuk ahun anggaran (TA) 2020, Kementrian PUPR telah melaksanakan 185 paket pekerjaan infrastruktur meliputi peningkatan konektivitas seperti penanganan jalan dan jembatan. Kemudian bidang sumber daya air seperti pembangunan tampungan air dan infrastruktur pengendali banjir, bidang pemukiman diantaranya penataan kawasan dan peningkatan sarana hunian mendukung pariwisata atau sarhunta (sarana hunian pariwisata).
Dari 185 paket pekerjaan TA 2020 sebagian besar telah selesai 100% dan sisanya rata-rata mencapai 90% akan dituntaskan pada pertengahan tahun ini. Untuk mendukung rencana pelaksanaan MotoGP di Mandalika pada 2021, perkembangan dan pembangunan sirkuit terus dipantau, termasuk akses penddukungnya seperti jalan Bypass Bandara Internasional Lombok (BIL)-Mandalika. Kolaborasi dengan Kementrian PUPR akan terus ditingkatkan untuk mendukung pengembangan lima KSPN/DPSP sehingga dapat memperkuat daya tarik wisatawan. Kesiapan infrastruktur lima KSPN/DPSP sudah sesuai dengan progres.
(Oleh - IDS)
Kemudahan Impor Picu Deindustrialisasi
Indonesia mengalami gejala deindustrialisasi dini dalam satu dekade terakhir, terlihat pada terus menurunnya kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB). Salah satu pemicu deindrustialisasi adalah kebijakan kemudahan impor produk industri. Pertumbuhan manufaktur melambat dalam 10 tahun terakhir. Hal itu disebabkan oleh kebijakan yang memudahkan impor, sehingga industri dalam negeri tidak bisa bersaing, karena harga produk impor bisa jauh lebih murah. Alhasil, penggunaan bahan baku dan bahan penolong impor lebih menjadi prioritas, sedangkan kemudahan impor tidak berkorelasi dengan kenaikan ekspor dan investasi.
Kebijakan impor atau free trade agreement (FTA) dilakukan tanpa mempersiapkan terlebih dahulu amunisi bagi industri nasional, sehingga langsung tergerus oleh produk impor. Kebijakan yang ada juga kurang tegas terhadap impor ilegal ataupun penyalahgunaan penggunaan fasilitas impor yang telah menyuburkan bisnis perdagangan online barang impor. Tidak ada jaminan pasar bagi produk industri dalam negeri, sehingga tidak mampu bersaing.
Hal lain yang menyebabkan daya saing industri manufaktur kalah, adalah lemahnya research and development (R&D), sehingga desain produk industri dalam negeri dianggap ketinggalan dan kurang memenuhi kebutuhan industri hilir atau perdagangan. Kemudian, mahalnya biaya logistik lantaran penerapan infrastruktur logistik belum terintegrasi dan menciptakan biaya ekonomi tinggi, serta mahalnya biaya energi bagi industri. Kinerja manufaktur nasional tahun lalu terpuruk, seiring pandemi Covid-19. Akibatnya, penyerapan tenaga kerja oleh manufaktur turun tajam.
Gejala deindustrialisasi dini yang telah dialami Indonesia dalam satu dekade terakhir perlu diwaspadai, mengingat sektor manufaktur menjadi kunci dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional hingga penciptaan lapangan kerja. Masuknya investasi tidak sebanding dengan penyerapan tenaga kerja. Kebijakan meningkatkan investasi tidak berfokus pada seberapa investasi yang masuk, tetapi harus melihat multiplier effect, seperti penyerapan tenaga kerja.
Gurita RI Jangkau Pasar Meksiko
Komoditas gurita (Octopus sp) asal Luwuk Banggai, Sualawesi Tengah (Sulteng), berhasil menjangkau pasar Meksiko. Volume gurita yang diekspor sebanyak 20.500 kilogram (kg) senilai Rp 1,10 miliar. Pandemi Covid-19 rupanya tidak menghalangi permintan komoditas KP Indonesia, termasuk di pasar ekspor. Terbaru, Stasiun KIPM Luwuk Banggai, Sulteng, melepas ekspor langsung 1 kontainer gurita ke Meksiko. Pelepasan tersebut dikemas dengan tema Menembus Batas Tatanan Normal Baru dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional.
Kegiatan ekspor tersebut dibuka Sekda Kabupaten Banggai Abdullah Ali dan dihadiri Kepala Kantor Pelayanan Bea Cukai Luwuk, Dinas Perikanan, Kepala Syahbandar Luwuk, Dinas Perdagangan dan Pengelola KM Meratus. BKIPM akan terus melakukan pelayanan secara optimal sekaligus mendorong pelaku usaha untuk mengekspor produknya.
Pemerintah Siapkan Skema Pembiayaan Sektor Parekraf Rp 3 T
Pemerintah menyiapkan skema pembiayaan untuk pelaku usaha sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) sebesar Rp 3 triliun. Pembiayaan tersebut diharapkan bermanfaat bagi UMKM parekraf agar mereka dapat bangkit dari pandemi Covid-19 dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Pemerintah menyepakati beberapa hal mengenai skema pembiayaan untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, dimana ada beberapa skema yang sangat diperlukan oleh pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di tengah pandemi dan melambatnya ekonomi.
Paket stimulus dalam bentuk pinjaman lunak (soft loan) merupakan salah satu kebijakan yang sangat diperlukan oleh para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif. Kemudian bagaimana membentuk ekosistem bagi UMKM di sektor parekraf untuk dapat mengakses pembiayaan secara murah dan cepat yang lebih berpihak kepada ekonomi kecil dan mikro. Ditargetkan akan ada satu program bersama yang akan bisa di showcase dalam satu sampai tiga bulan ke depan. OJK sudah memiliki platform untuk membina masyarakat dari bawah sehingga bisa diterapkan di sektor pariwisata. Mulai dari klusteringnya, pembiayaan yng murah, pembinaan sampai keada ekosistem memasarkan produknya secara elektronik.
Grup Telkom bakal Miliki Unicorn
MDI Ventures, modal ventura milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom, menargetkan minimal dua portofolio investasi perusahaan rintisannya (start-up) menyandang gelar unicorn pada 2021-2022. Kenaikan valuasi start-up tersebut, salah satunya akan dipicu oleh masuknya investor baru. Perseroan berharap beberapa portofolio start-up memiliki valuasi lebih dari US$ 1 miliar dalam satu hingga dua tahun mendatang. Kehadiran investor baru pada start-up tersebut nantinya bisa disebut sebagai validasi dan apresiasi terhadap performa yang sangat baik selama 2020.
Sepanjang 2021, perseroan akan fokus mengucurkan investasi kepada start-up potensial ketimbang mencari penggalan dana investasi baru. Pasalnya, dana investasi kelolaan perseroan telah mencapai lebih Rp 10 triliun. MDI Ventures menyalurkan pendanaan bagi start-up di Indonesia menggunakan dana dari Telkom melalui Telkom Fund I senilai US$ 100 juta dan Telkom Fund II senilai US$ 500 juta. Lalu, ada pengelolaan dana investasi bernama Centauri Fund hasil kerja sama dengaan KB Financial Group senilai US$ 150 juta.
Kolaborasi dengan Telkomsel melalui TMI Fund senilai US$ 40 juta. Selain fokus investasi, MDI juga berencana membawa minimal empat portofolio investasi start-up untuk melangsungkan IPO saham dalam periode dua tahun ke depan. Aksi ini merupakan strategis exit perusahaan. Adapun satu start-up ditargetkan IPO pada kuartal I-2021. Di sisi lain, Telkom menargetkan IPO saham anak usahanya, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), aksi korporasi ini akan membuat Mitratel menjadi perusahaan menara terbesar dari sisi aset yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Saat ini, Mitratel tengah menggabungkan aset-aset menara telekomunikasi dengan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dalam rangka memperkuat aset Mitratel dan supaya Telkomsel menjadi lebih fokus ke bisnis intinya. Mitratel telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat untuk mengakuisisi 6.050 menara Telkomsel senilai Rp 10,3 triliun pada Oktober lalu. Telkom juga terus menggenjot ekspansinya. Apalagi, Telkomsel telah meraih tambahan spektrum 10 Mhz melalui lelang frekuensi 2,3 Ghz pada akhir tahun lalu. Tambahan spektrum tersebut akan dimanfaatkan untuk memperkuat layanan broadband terkini 4G LTE serta melanjutkan pengembangan implementasi jaringan terbaru 5G.
AS Watson Group dan Grab Kerja Sama di Bidang Kesehatan dan Kecantikan
AS Watson Group dan Grab menjalin kerja sama terbesar bidang kesehatan dan kecantikan O+O (online dan offline) di Asia Tenggara yang mencakup enam negara Asia Tenggara dan lebih dari 2.200 gerai Watsons. Grab dan AS Watson Group akaan berkolaborasi di berbagai layanan termasuk GrabExpress dan GrabMart untuk memperluas jangkauan online Watsons di Asia Tenggara melalui platform Grab. Melalui hal ini, pelannggan dapat dengan mudah membeli produk kesehatan dan kecantikan favorit mereka di gerai Watsons melalui aplikasi Grab di Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Kerja sama ini akan menawarkan pengalaman berbelanja online dan offline yang efisien dengan layanan pengiriman yang lebih cepat dan handal kepada pelanggan. Hal tersebut akan mendorong lebih banyak penjualan untuk merk kesehatan dan kecantikan yang tersedia di e-Commerce Watsons seperti di aplikasi mobile Watsons dan di GrabMart. Kerja sama ini juga memungkinkan kedua perusahaan untuk menjawab kebutuhan di industri bisnis kesehatan yang meningkat pesat di masa pandemi.
Platform Grab yang terbuka memungkinkan untuk menghubungkan ekosistem Grab dengan ekosistem digital AS Watsons serta meningkatkan kapabilitas kedua platform secara berkesinambungan. Kerja sama dengan AS Watsons Group menghadirkan salah satu ritel kesehatan dan kecantikan paling terpercaya dan dicintai di dunia ke dalam platform Grab.
Komoditas Ekspor Daerah, Geliut Perikanan Jateng Berlanjut
Geliat-geliut tren ekspor komoditas perikanan dari Provinsi Jawa Tengah diyakini akan terus berlanjut, kendati pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir mengingat masih terjadinya lonjakan kasus di berbagai negara. Berdasarkan data Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang, tren ekspor perikanan dari Jateng terus mengalami penurunan sejak 2018. Faktor yang menyebabkan turunnya nilai ekspor perikanan, terutama disebabkan oleh kondisi alam dan aturan di sejumlah negara tujuan ekspor pada masa pandemi Covid-19.
Saat ini, lumbung utama perikanan Jateng berada di wilayah Kabupaten Tegal, Pemalang, Pekalongan, Demak, Pati, dan Rembang. Daerah tersebut masih menjadi andalan utama lumbung perikanan karena punya wilayah laut cukup luas. Kawasan Pantai Utara (Pantura) masih menjadi penyumbang terbesar hasil perikanan. Sementara itu, untuk kawasan pantai selatan belum memberikan dampak yang signifikan.
Ekspor komoditas perikanan Jateng diyakini masih bertumbuh, kendati tidak terlalu tinggi. Melihat kondisi pandemi yang masih belum teratasi di sejumlah negara, diproyeksikan ekspor perikanan akan tumbuh sekitar 5%-10%. Produksi perikanan asal Jateng akan terus bertambah, terutama untuk orientasi ekspor seperti rajungan, ikan nila, dan surimi.
Produk perikanan Jateng secara keseluruhan mampu diserap oleh 28 negara tujuan di luar negeri, dengan total jenis komoditas sebanyak 63 jenis produk. Komoditas yang menempati 10 peringkat tertinggi menurut nilai dari 63 produk perikanan di antaranya adalah daging rajungan, surimi, daging nila, makarel, cumi-cumi, tepung ikan, udang putih, sotong, bloso dan daging kakap. pengembangan sektor perikanan diharapkan bisa memberikan dampak positif, terutama meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memberdayakan potensi yang ada di daerah, serta mendongkrak ekonomi nasional dengan peningkatan devisa.









