Target EBT Dalam Bauran Energi
Jadi Pendatang Baru Saham Rahayu Efendi Terbang 521%
Plus-Minus DHE Wajib Disimpan di Dalam Negeri
Harga Emas Antam Naik Rp 3.000, dan Sudah Kini Berada di Angka Rp 1.611.000
Menhub Ingin Maskapai Fly Jaya Mengudara Sebelum Lebaran 2025
Pembongkaran Pagar Laut Tangerang
Pelihara Marwah Perguruan Tinggi dari Godaan Izin Tambang
Menurut Dewan Pers Penggunaan AI Harus Tetap Patuhi Kode Etik Jurnalistik
Optimisme Pasar Modal di Tahun Ular Kayu
Pasar modal Indonesia diprediksi akan mendapatkan momentum pertumbuhan pada Tahun Ular Kayu 2025, meskipun terdapat tantangan dari ketidakpastian global, seperti perlambatan ekonomi China, ketegangan perdagangan, dan dinamika geopolitik. Sektor-sektor unggulan seperti teknologi, energi, dan konsumsi diperkirakan akan mencatatkan performa positif, sementara sektor berbasis logam, seperti tambang dan otomotif, menghadapi risiko tekanan.
Menurut CLSA Feng Shui Index 2025, sektor berbasis elemen kayu (seperti pendidikan, ekonomi baru, dan manajemen dana) dan elemen api (seperti teknologi, minyak, dan gas) memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi. Di sisi lain, sektor berbasis elemen logam, seperti tambang dan kripto, diperkirakan menghadapi tantangan.
Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, menyarankan investor untuk memanfaatkan penurunan harga saham sebagai peluang, dengan merekomendasikan sektor-sektor unggulan seperti perbankan (BBRI dan BMRI), properti (PWON dan SMRA), serta konsumsi (JPFA dan MYOR). Di sektor energi, saham batu bara (PTBA dan AADI) juga dipandang memiliki prospek cerah, berkat harga komoditas yang stabil dan permintaan domestik yang kuat.
Secara keseluruhan, meskipun pasar modal menghadapi berbagai tantangan global, sektor-sektor tertentu di Indonesia diharapkan dapat mencatatkan pertumbuhan yang positif, memberikan peluang bagi investor yang bijak dalam memilih sektor yang tepat.
Kredit Rumah Berjalan Lambat
Bank Indonesia (BI) mencatat per-tumbuhan kredit konsumsi perbankan RI mencapai se-besar 9,8% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada De-sember 2024. Kredit pemilik-an rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) tumbuh melambat.Berdasarkan laporan Anali-sis Uang Beredar, nominal kre-dit konsumsi yang disalurkan hingga bulan terakhir 2024 mencapai Rp2.195,1 triliun. Realisasi ini meningkat diban-dingkan dengan bulan sebe-lumnya yang sebesar Rp2.178 triliun, meskipun terdapat pe-lambatan laju pertumbuhan dari level 10,2% YoY.“Peningkatan terutama dido-rong oleh perkembangan KPR, KKB, dan kredit multiguna,” demikian bunyi laporan BI, dikutip Jumat (24/1).Laju pertumbuhan KPR pada Desember 2024 terpantau me-lambat tipis ke angka 10% YoY dibandingkan dengan 10,2% YoY pada November 2024. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp786 triliun.Di sisi lain, pertumbuhan KKB melambat dari 10,3% YoY pada November 2024 menjadi 7,8% YoY pada De-sember 2024, dengan total nilai Rp143,7 triliun.Kredit multiguna juga me-lambat tipis dengan laju se-besar 10% YoY pada bulan terakhir 2024, dibandingkan 10,1% pada bulan sebelum-nya. Total kredit multiguna yang disalurkan mencapai Rp1.265,4 triliun.BI juga mencatat penyaluran kredit sektor properti tumbuh 6,5% YoY per Desember 2024. Angka ini kembali menun-jukkan tren pelambatan dari 7% pada bulan sebelumnya.Dari segi nominal, pem-biayaan properti mencapai Rp1.412,3 triliun sampai de-ngan Desember 2024. Jumlah ini ditopang KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) yang sebesar Rp785,9 triliun, kredit konstruksi Rp393,1 tri-liun, serta kredit real estate (Rp233,2 triliun).Sementara itu, laju pertum-buhan kredit kepada segmen usaha mikro, kecil, dan me-nengah atau UMKM kian melemah hingga pengujung 2024. Kredit UMKM per De-sember 2024 bertumbuh hanya 3% (YoY) hingga mencapai Rp1.405 triliun. Realisasi ini melambat dibandingkan laju pertum-buhan 3,7% pada November 2024, sekaligus menjadi yang terendah sepanjang tahun. “Penyaluran kredit kepada UMKM pada Desember 2024 tumbuh sebesar 3,0% [YoY], setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 3,7% [









