Penurunan Tax Ratio Terus Berlangsung
Menilik data Kementerian Keuangan (Kemkeu) tax ratio Indonesia tahun 2020 sebesar 8,3%. Karena itulah, pemerintah perlu mewaspadai hal ini sebab pemulihan ekonomi yang berjalan lambat tahun ini dan beberapa tahun ke depan, juga tak serta merta mempercepat kenaikan tax ratio Indonesia.
Ekonom Senior Faisal Basri mengatakan, tax ratio Indonesia menjadi yang terparah dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Semakin turunnya tax ratio, berarti perekonomian Indonesia berhasil tumbuh, namun kian banyak yang tak terjaring oleh kewajiban membayar pajak.
Senada dengan Faisal, Pengamat Pajak Danny Darussalam Tax Center (DDTC) Darussalam mengatakan, penurunan tax ratio di Indonesia sejalan dengan melemahnya elastisitas penerimaan pajak terhadap pertumbuhan domestik bruto atau tax buoyancy dalam satu dekade terakhir. la menyebut tax buoyancy hanya 0,83. Artinya, pertumbuhan PDB 1% hanya berakibat rerata pertumbuhan penerimaan pajak 0,83%.
Program Pengadaan Beras, Urgensi Impor Dipersoalkan
Bisnis, Jakarta - Pemerintah diminta meninjau ulang rencana importasi beras setelah panen raya berakhir. Volume dan waktu impor sebaiknya ditentukan pada Juli atau Agustus ketika potensi produksi sepanjang 2021 dapat diketahui. Di sisi lain, hasil proyeksi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa produksi padi nasional untuk periode Januari - April 2021 bakal lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya akibat kenaikan potensi luas panen. Importasi beras bisa dilakukan bila memang kebutuhan di dalam negeri tidak memadai.
Wacana impor menjelang masa panen raya ini menjadi pukulan tersendiri bagi petani di tengah harga gabah kering panen (GKP) yang terus turun sejak September 2021. Importasi dengan alasan untuk menjaga stok cadangan beras pemerintah tidak bisa diterima karena Perum Bulog sebagai pengemban tugas seharusnya menyerap beras petani lebih banyak tahun ini. Impor yang berlebihan dapat merusak harga beras di pasaran karena Bulog tidak tidak bisa menyimpan beras dalam jumlah besar terlalu lama . Di sisi lain, potensi produksi beras yang naik seharusnya diiringi dengan peningkatan serapan beras lokal oleh perusahaan pelat merah tersebut, bukan penugasan impor.
Impor dilakukan untuk mengamankan iron stock atau cadangan yang harus ada dan tidak bergantung pada kondisi panen. Pemberian alokasi impor beras pada Perum Bulog tahun ini dilakukan sebagai antisipasi atas pandemi yang berkepanjangan. Importasi pun dilakukan untuk memastikan pemerintah bisa terus menyalurkan beras ketika ada gangguan pasokan dari dalam negeri.
(Oleh - IDS)
Sengketa Pajak Meningkat, Bukti Ketidakpastian Masih Tinggi
Bisnis, Jakarta - Di tengah derasnya kucuran insentif untuk meminimalisasi dampak pandemi Covid-19, jumlah sengketa pajak meningkat signifikan pada 2020. Lonjakan ini mengindikasikan bahwa ketakpastian di bidang pajak masih cukup tinggi. Kondisi ini merupakan sebuah ironi sebab di saat bersamaan pemerintah memanjakan wajib pajak dengan mengucurkan berbagai relaksasi fiskal, baik bagi wajib pajak, korporasi maupun orang pribadi.
Sengketa pajak yang dimaksud mencakup gugatan dan banding yang memang merupakan salah satu hak wajib pajak. Gugatan atau banding ini biasanya dilakukan untuk meminta keterangan perihal keputusan penagihan atau keberatan pajak yang sebelumnya diputus oleh Ditjen Pajak Kementrian Keuangan. Banding merupakan upaya hukum dari wajib pajak atau penanggung pajak terhadap suatu keputusan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Gugatan bisa dilakukan terhadap pelaksanaan penagihan pajak atau terhadap keputusan yang dapat diajukan gugatan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Pelaku usaha menilai banyaknya sengketa pajak pada tahun lalu lebih disebabkan karena adanya penumpukan penanganan kasus dan tingginya ketidakpastian dari sisi regulasi maupun administrasi pajak di Tanah Air. Peningkatan sengketa mengindikasikan bahwa hasil pemeriksaan pajak yang dilakukan oleh petugas pajak masih banyak yang belum dapat diterima oleh wajib pajak, dan belum memenuhi rasa keadilan wajib pajak.
(Oleh - IDS)
Peluang Emiten Nikel, Tarik Ulur Tesla & Sinyal Elon Musk
Rencana investasi Tesla Inc. belum kunjung menemui titik cerah setelah perusahaan besutan Elon Musk itu lebih memilih India sebaagai lokasi pendirian pabrik kedua di luar AS. Dunia usaha menyayangkan keputusan Tesla lebih memilih melanjutkan investasinyadi India ketimbang Indonesia. Beragam rumor beredar di kalangan pengusaha mengingat belum ada kepastian menarik Elon Musk ke Tanah Air.
Tesla memiliki konsep bisnis yang hebat. Meski sebenarnya Tesla bukan membangun industri, melainkan lebih pada konsep bisnis rintisan. Secara bahan baku, Indonesia memang sangat menarik dengan melimpahnya nikel untuk pengembangan komponen baterai. Namun, Tesla merupakan perusahaan yang membutuhkan dukungan teknologi penuh. Tidak jelas alasannya kenapa India yang dipilih Tesla untuk menanamkan modalnya. Sejumlah rumor beredar yakni alasan terkait dengan konsistensi dari sisi regulasin, dukungan investor, dan kekuatan teknologi yang melaju pesat.
Indonesia memiliki kekuatan dari segi jumlah pasar yang besar dan industri otomotif yang sudah cukup kuat. Namun, mengundang industri berkelanjutan memerlukan konsistensi yakni peraturan yang tidak berubah-ubah serta insentif yang jelas. Rencana investasi perusahaan milik Elon Musk di Negeri Bollywood itu adalah untuk membangun pabrik mobil listrik. Di sisi lain, pendekatan Pemerintah Indonesia dengan Tesla bukan untuk rencana investasi pabrik mobil.
Dari sisi Kementrian BUMN, penjajakan dengan Tesla adalah untuk investasi di bidang baterai kendaraan listrik atau sistem penyimpanan energi (electric storage system/ESS). Penjajakan antara Indonesia dan Tesla sedang dilakukan dengan Kementrian Koordinator Maritim dan Investasi. Sebagai gambaran, ESS bekerja layakanya powerbank raksasa yang dapat menyimpan tenaga listrik dalam skala besar, bahkan mencapai ratusan megawatt (MW).
ESS akan digunakan Tesla sebagai pembangkit peaker untuk membantu pembangkit-pembangkit listrik saat konsumsi sedang dalam puncaknya. Nantinya, investasi Tesla di Indonesia tidak sebatas kerja sama untuk memasok bahan baku, tetapi juga memasok ESS ke negara-negara lain. Tesla memang sudah memiliki pengalaman dalam pengembangan ESS di Australia. Fasilitas baterai raksasa milik Tesla di Negeri Kanguru sudah berjalan sejak 1 Desember 2017, tepatnya di Hornsdale, Australia. Fasilitas yang dikenal sebagai Tesla Powerpack itu memiliki kapasitas untuk melistriki 30.000 rumah selama sejam jika ada pemadaman listrik dari pembangkit listrik utama.
(Oleh - IDS)
Investasi Pelabuhan, DP World Berlabih Di Gresik
DP World bersama mitranya dari Kanada menggandeng Maspion Group untuk membangun pelabuhan kontainer berkapasitas 3 juta TEUs per tahun di Gresik, Jawa Timur. Persaing nyata bagi Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Operator pelabuhan terkemuka asal Uni Emirat Arab (UEA), DP World, tak sepenuhnya berpaling dari Indonesia.
Setelah mengakhiri kemitraan dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III di Terminal Petikemas Surabaya (TPS) pada April 2019, DP World tetap mencari peluang investasi pelabuhan di Tanah Air.
DP World akhirnya bertemu mitra baru yaitu PT Pelabuhan Indonesia Maspion milik taipan Alim Markus untuk membangun terminal peti kemas berkapasitas 3 juta twenty-foot equivalent units (TEUs) per tahun dengan investasi US$1,2 miliar atau setara Rp17,2 triliun (kurs Rp14.300 per dolar Amerika Serikat).
CEO DP World Sultan Ahmed bin Sulayem mengatakan pembangunan pelabuhan itu didasari potensi Indonesia yang ditopang oleh populasi yang besar. “Di negara-negara far east, Indonesia yang paling berpotensi dengan baik dan DP World juga melihat ada potensi mineral yang sangat tinggi dan juga perikanan serta dunia floranya sangat banyak,” katanya, Jumat (5/3).
Ahmed melihat prospek kerja sama dengan Maspion Group sangat cerah, apalagi grup ini sudah berpengalaman menangani area pelabuhan dan kawasan industri sekaligus. Bersama SCG Chemicals (Singapore) Pte. Ltd., Maspion mengelola jetty di Manyar, Gresik, untuk bongkar muat kargo curah cair dan gas yang menunjang aktivitas perusahaan manufaktur di Kawasan Industri Maspion.
Presiden Direktur Maspion Group Alim Markus mengatakan Surabaya merupakan pintu gerbang penting di Indonesia dan keberadaan pelabuhan peti kemas baru akan makin meningkatkan perkembangan ekonomi dan peluang investasi di Indonesia.(Oleh - HR1)
Properti Selama Pandemi, Developer Mulai Bidik Pasar Generasi X dan Y
Bisnis, JAKARTA — Para pengembang properti mulai mengubah target pasar dengan membidik generasi X dan Y yang berpotensi menjadi orang kaya baru di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Managing Director Strategic Business & Service Sinar Mas Land Alim Gunadi mengatakan strategi mengubah target pasar itu diperlukan guna menyesuaikan kebutuhan pasar dan memperhatikan perubahan generasi dan besaran pendapatannya.
Alim menjelaskan generasi X dan Y akan mendominasi golongan pendapatan pada 2020 hingga 2025.
Dia memaparkan generasi X akan mencapai 50% dan generasi Y sebesar 30% dari total jumlah populasi Indonesia 270,2 juta jiwa. Khusus generasi baby boomers diperkirakan tinggal 20%.
Selama pandemi Covid-19, menurutnya, pengembang properti harus dapat berinovasi menyediakan produk yang sesuai dengan keinginan generasi yang bakal dominan pada beberapa tahun mendatang.
Sementara itu, Direktur Sales & Marketing Paramount Land M. Nawawi mengatakan berhasil menjual habis rumah seharga Rp1,2 miliar secara online pada 27 Februari 2021.
Menurutnya, kesuksesan penjualan 94 unit rumah di Aniva Junction di Paramount Gading Serpong Tangerang, Banten itu bisa menjadi sinyal kuat pertumbuhan sektor properti pada 2021
Dengan tren dominasi generasi X dan Y, pengembang properti saat ini sudah harus dapat berinovasi menyediakan produk yang sesuai dengan keinginan generasi tersebut.
Selain itu, pengembang perumahan harus lebih waspada dan berhati-hati mengatur arus kas, salah satunya dengan membuat produk hunian yang sesuai dengan kebutuhan dan kemungkinan diminati sehingga diserap pasar.
Pada periode 2020—2025, menurutnya, rumah yang diminati dalam rentang harga Rp1,5 miliar. Hal itu terbukti dari penjualan terbanyak unit rumah yang dibangun Sinar Mas sejak 2018 hingga 2020 yaitu sekitar Rp1,5 miliar.
(Oleh - HR1)
Dana Mengendap di Perbankan Sumut Rp 41,79 Triliun Sebaiknya Disalurkan sebagai Kredit untuk UKM
Khusus di perbankan yang ada di wilayah Sumatera Utara, tahun ini terungkap hampir 42 trillun, tepatnya 41,79 triliun dana yang mengendap (SIB 26/2).
Pakar ekonomi nasional di Sumut, Dr Polin Pospos menegaskan kajian itu misalnya berupa proses verifikasi atau seleksi para calon pemohon kredit (debitur) lain yang dinilai lebih layak, Calon debitur membatalkan dana kreditnya yang sudah disetujui pihak bank (kreditur), sehingga dana tersebut jadi mengendap di bank-bank.
Selain mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN) melalui pemberdayaan UKM di masa pandemi Covid-19, kebijakan penyaluran alternatif kredit dari dana-dana undisbursed loan ini juga akan mengurangi timbunan dana di perbankan sehingga kinerja perbankan meningkat.
RI Selalu Jadi 5 Besar Negara Pengekspor Ikan Hias
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meresmikan Pusat Koi dan Maskoki Nusantara di Raiser Ikan Hias Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dalam rangka menyiasati semakin pesatnya peluang ekspor komoditas ikan hias Indonesia.
Berdasarkan catatan KKP, ekspor ikan hias Indonesia senilai US$ 33 juta pada 2019, meningkat signifikan dari tahun 2012 sebesar US$ 21 juta. Selain itu, nilai ekspor ikan hias Indonesia pada 2019 tersebut juga merupakan 10,5 persen dari pasar ikan hias dunia.
Komoditas ikan hias ekspor Indonesia antara lain adalah napoleon wrasse, arwana, cupang hias, dan maskoki. Sedangkan negara tujuan utama ekspor ikan hias Indonesia adalah Cina, Amerika, Rusia, Kanada, dan Singapura.
Menteri Trenggono mengatakan optimalisasi potensi produksi dan ekspor ikan hias Indonesia ke pasar dunia dalam pengembangannya harus tetap memperhatikan perlindungan dan pelestarian. Ketelusuran, sertifikasi, registrasi dan prinsip kehati-hatian juga harus menjadi perhatian.
Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti menerangkan bahwa Indonesia memiliki 4.552 jenis spesies ikan hias. Bahkan 440 di antaranya merupakan endemik tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Dewan Penunjang Ekspor Dibentuk Bantu UMKM
Kementerian Perdagangan (Kemendag) bakal membentuk Dewan Penunjang Ekspor sebagai upaya untuk meningkatkan ekspor produk usaha mikro kecil, dan menengah (UMKM).
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, pada dasarnya Kemendag telah memiliki Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, maka nantinya Dewan Penunjang Ekspor akan dikembangkan dari direktorat tersebut.
“Jadi Dewan Penunjang Ekspor tersebut sebagai badan yang bisa mempelajari dan mengeksekusikan pasar tertentu, “ ujar Lutfi.
Menurut dia, saat ini ada dua pasar utama yang bisa dikerjakan. yakni Indonesia Islamic Fashion dan Indonesia Halal Industry. Keduanya perlu dikembangkan lebih dulu untuk pasar dalam negeri.
Kinerja Impor 2020 Turun, Industri Baja Menguat
Bisnis, Jakarta - Kendati sektor industri secara keseluruhan terdampak pandemi Covid-19, Kementrian Perindustrian mencatat adanya pertumbuhan produksi baja nasional sepanjang tahun lalu. Hal itu tercermin dari perkiraan produksi 2020 sebesar 11,5 juta ton dengan kapasitas produksi bahan baku baja nasional (slab, billet, bloom) sebesar 13 juta ton. Bila dibandingkan dengan realisasi produksi pada 2019 yang mencapai 8,8 juta ton, kinerja industri baja pada 2020 naik sekitar 30,2%. Begitu juga dengan utilisasin pada 2020 juga meningkat hingga 88,38% dibandingkan dengan kondisi 2019 sebesar 67,86%.
Periode 2020 merupakan lembaran baru bagi industri baja nasional. Sebab, Indonesia berhasil menekan impor baja hingga 34% dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, Kemenperin juga fokus menjalankan program subtitusi impor sebesar 35% pada 2022. Langkah strategis tersebut untuk membangkitkan kembali kinerja industri dan ekonomi nasional akibat gempuran dampak pandemi Covid-19.
Impor baja untuk jenis slab, billet, dan bloom pada 2020 sebanyak 3,4 juta ton, lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 4,6 juta ton. Penurunan impor juga terjadi pada jenis baja Hot Rolled Coil per Plate (HRC/P), Cold Rolled Coil per Sheet (CRC/S), dan jenis baja lapis. Arah kebijakan pemerintah saat ini sudah lebih baik dalam mendukung industri dalam mendukung industri dalam negeri meski masih perlu penyempurnaan.
(Oleh - IDS)









