Fluktuasi Harga Nikel, Proyek Pabrik Baterai Jalan Terus
Bisnis, JAKARTA — Holding baterai yang beranggotakan empat BUMN tak akan menyurutkan langkah untuk membangun pabrik baterai untuk kendaraan listrik, meskipun harga komoditas itu mengalami fluktuasi. Ketua Tim Percepatan Pengembangan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahjana Wirakusumah mengatakan tengah mengkaji harga komoditas nikel secara jangka panjang dalam rangka pengembangn bisnis ekosistem kendaraan listrik. Saat ini, empat BUMN yaitu MIND ID, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Aneka Tambang Tbk. akan bergabung menjadi satu holding baterai kendaraan listrik dalam mengembangkan bisnis ekosistem kendaraan listrik.
Agus menegaskan holding baterai telah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi fluktuasi harga komoditas nikel seperti yang tengah terjadi beberapa waktu belakangan ini. Dia menegaskan naik atau turunnya harga merupakan hal yang biasa terjadi bagi komoditas seperti nikel. Namun, dia menuturkan hal yang perlu dikaji adalah bagaimana tren pergerakan harga nikel dalam jangka panjang. Dia juga mengatakan investasi yang akan dikeluarkan sangat tergantung dengan kapasitas baterai yang akan dibuat. Untuk di hulu, holding akan membuat sekitar 195 gigawatt (GW)/jam dengan sekitar 150.000 nikel per tahun dalam dua tahap.
Pada tahap pertama, holding akan membuat pabrik baterai dengan kapasitas 30 GW/jam yang akan direalisasikan pada 2026--2030. Setelah itu, kapasitas akan ditingkatkan menjadi 140 GW/jam atau sekitar 70% dari 195 GW/jam. Sebagai negara penghasil nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi pasokan sebesar 15 juta ton per tahun. Pertamina akan mengoptimalkan potensi tersebut dengan membangun pabrik di dalam negeri. Faktor itu membuat sebagian besar pabrik pengolahan nikel di dunia juga menghasilkan produk feronikel atau nickel pig iron yang merupakan bahan baku pembuatan stainless steel.
Kedua jenis produk itu biasanya disebut sebagai produk olahan nikel kelas 2. Namun, permintaan pasar dunia atas produk stainless steel cenderung mengalami penurunan selama pandemi. Di sisi lain, pabrik pengolahan yang bisa menghasilkan nikel kelas 1 seperti nickel matte dan nickel sulfate jumlahnya tak terlalu banyak.
Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini mengungkapkan Pertamina akan mengucurkan investasi senilai US$3,2 miliar atau sekitar Rp44,8 triliun dengan asumsi Rp14.000 per dolar AS untuk proyek baterai listrik yang akan dimulai sejak 2022-2029. Emma mengatakan anggaran itu dikucurkan untuk penyiapan bisnis battery pack, swapping, dan stasiun pengisian daya kendaraan listrik. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasali berpendapat harga nikel dunia telah bergerak tidak wajar sepanjang tahun lalu, kendati harga komoditas tengah mengalami penurunan.
(Oleh - HR1)
Disrupsi Pasar Daging, Sapi Lokal Terseruduk Kerbau Impor
Bisnis, JAKARTA — Kebijakan impor daging kerbau yang rutin dilakukan pemerintah dinilai telah mendisrupsi pangsa pasar daging sapi segar produksi lokal, sekaligus gagal menurunkan harga komoditas sumber protein hewani di Tanah Air.
Ketua Komite Tetap Industri Peternakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Yudi Guntara Noor menjelaskan daging kerbau beku impor kebanyakan tidak dijual dalam bentuk beku di pasar tradisional. Alih-alih, komoditas tersebut kerap diperdagangkan sebagai ‘daging segar’ setelah dicampur dengan daging sapi segar produksi lokal.“Kalau di pasar becek, [daging kerbau beku] ini dijual sebagai daging segar. Mereka [pedagang] mencairkannya, lalu mencampurnya dengan daging sapi,” kata Yudi, Senin (22/3).
por cenderung lebih murah dibandingkan dengan daging sapi segar, yakni di kisaran Rp80.000 per kg, harga pasaran daging secara umum tetap berada di atas Rp100.000 per kg lantaran fungsi daging kerbau impor untuk stabilisasi harga gagal dijalankan.“Kalau ingin [harga daging yang] terjangkau, konsumen seharusnya dapat membeli yang frozen. Namun, [daging beku] ini tidak ada di pasar [tradisional]. Semua [daging beku impor] dicampur oleh pedagang [dengan daging sapi segar] dan pemerintah atas nama stabilisasi [harga] membiarkan [praktik] ini terjadi. Karena itu, kalau kita lihat, bahan pokok strategis ‘stabil’ terus harganya. Namun, itu ‘stabil tinggi’ untuk daging sapi segar,” jelasnya.
SEGMEN PEDAGANG
Dengan mengutip survei Bank Indone-sia DKI Jakarta, Yudi mengatakan daging kerbau impor juga memicu pergeseran segmentasi pedagang daging. Pada 2019, hanya 19% dari pedagang daging yang murni menjual daging sapi lokal. Sementara itu, 42% di antaranya menjual daging sapi lokal dan daging kerbau impor, serta 34% menjual kombinasi daging sapi lokal dan impor ditambah dengan daging kerbau impor.
Adapun, 55% pedagang memilih menjual daging kerbau impor atas pertimbangan margin keuntungan yang lebih besar.Sisi lain, kehadiran daging kerbau beku impor yang tak berimbas pada harga da-ging secara umum juga berpengaruh ke peta pasar daging nasional. Studi yang dilakukan oleh Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) membukti-kan pasar daging sapi segar lokal mulai menunjukkan tren penurunan saat keran impor daging kerbau India dibuka.
Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf mengamini kehadiran daging kerbau impor tidak memberikan efek apa-apa terhadap penurunan harga daging nasional. Justru, daging kerbau impor dinilainya berdampak langsung terhadap merosotnya produktivitas sapi lokal.
Tren produksi sapi lokal tercatat hanya bergerak 1,30% per tahun dalam kurun 2013 sampai 2018. Sebaliknya, pertumbuhan konsumsi menembus 6,40% per tahun dan impor naik 16,20% per tahun. Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Veri Anggrijono memastikan pengawasan terhadap pasar daging sapi terus dilakukan demi memastikan konsumen memperoleh informasi dan akses pangan yang tepat.
(Oleh - HR1)
Prospek Penerimaan 2021, Otoritas Pajak Buru Empat Sektor
Bisnis, JAKARTA — Otoritas pajak memprioritaskan perburuan keempat sektor pada tahun ini, yakni informasi dan komunikasi, makanan dan minuman, perdagangan, serta farmasi dan kesehatan. Keempatnya dianggap tahan banting di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19.
Dalam dokumen Pendalaman Pajak 2021 yang diperoleh Bisnis, keempat sektor tersebut menjadi fokus pengujian kepatuhan material pada tahun ini.Ditjen Pajak Kementerian Keu-angan juga menyusun pentahapan sektor prioritas hingga empat tahun ke depan sejalan dengan prospek cerah pemulihan ekonomi nasional.
Adapun langkah strategis yang akan dilakukan adalah penyusunan dan sosialisasi bimtek sektoral, pemetaan wajib pajak di setiap Kantor Wilayah (Kanwil) dan Kantor Pajak Pratama (KPP), dan penggunaan compliance risk management (CRM) untuk menentukan risiko dan prioritas wajib pajak.Selain itu juga pengumpulan dan pemanfaatan data, analisis dan tindak lanjut Permintaan Penjelasan atas Data dan/atau Informasi Keuangan (P2DK), serta analisis kebutuhan data eksternal dan penentuan prioritas data pihak ketiga yang mendukung fokus sektoral pada tahun ini.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kementerian Keuangan Neil-maldrin Noor tidak menjawab pertanyaan yang disampaikan Bisnis terkait dengan fokus pemburuan tersebut.
Dalam laporan itu, ada tiga sektor yang menjadi prioritas pada 2021 yakni makanan dan minuman, farmasi, serta alat kesehatan. Terkait dengan hal ini, Neil memberikan komentar bahwa penggalian potensi dilakukan melalui perluasan basis pajak.
Pengamat Pajak Center for In-donesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar mengatakan, arah kebijakan Ditjen Pajak itu sejalan dengan kondisi ekonomi terkini di mana keempat sektor yang disasar mampu bertahan di tengah resesi.Menurutnya, khusus untuk informasi dan komunikasi, farmasi, serta kesehatan justru terkena sentimen positif selama pandemi Covid-19. Adapun sektor makanan dan minuman menurutnya sudah mulai melakukan ekspansi
(Oleh - HR1)
Kinerja Sektoral, Berkah Ramadhan Emiten Konsumer & Unggas
Kinerja emiten sektor konsumer dan sektor unggas digadang-gadang akan bersinar menjelang Ramadan 2021. Kurang sebulan menjelang bergulirnya Ramadan, emiten-emiten barang konsumsi dan unggas diproyeksi bakal mendulang pertumbuhan pendapatan.Head of Equity Trading MNC Sekuritas Frankie Wijoyo Prasetyo memprediksi tingkat konsumsi masyarakat pada tahun ini lebih baik dibandingkan dengan Ramadan periode 2020. Senada, Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai konsumer serta unggas sebagai dua sektor yang bakal terlihat pertumbuhan kinerjanya pada Ramadan tahun ini. Namun, dari pergerakan yang ada sejauh ini, kenaikan harga saham emiten-emiten unggas bisa jadi bakal tampak lebih mencolok.
Oleh sebab itu, dia lebih banyak memberikan rekomendasi buy untuk saham-saham sektor unggas. Beberapa yang William sebut menarik adalah saham PT Charoen Pokphan Indonesia Tbk. (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT Malindo Feed-mill (MAIN).Adapun, emiten produsen produk kebutuhan makanan pokok seperti produsen beras kemasan PT Buyung Poetra Sembada Tbk. (HOKI) dan daging olahan PT Estika Tata Tiara Tbk. (BEEF) menurutnya lebih menarik untuk sektor konsumer.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total produksi daging unggas pada tahun lalu, mentok di angka 3,27 juta ton. Angka ini turun tajam dari 3,49 juta ton pada 2019.Ini merupakan kali pertama produksi mengalami penurunan sejak fenomena serupa terjadi terakhir kali pada 2005, atau 15 tahun sebelumnya. Kondisi tersebut juga terefleksi dari kinerja emiten-emiten unggas yang cenderung tertekan.
(Oleh - HR1)
Duga Ada Kartel Mainkan Harga Anak Ayam, Peternak Lapor KPPU
Para peternak ayam mandiri melakukan laporan adanya indikasi perlakuan kartel dan monopoli pada penjualan bibit anak ayam (Day Old Chicken/DOC). Laporan itu disampaikan hari ini ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).
Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) Alvino Antonio menjelaskan telah terjadi kartel penentuan harga pada tingkat breeding farm alias peternakan bibit ayam. Alvino menilai bahwa harga DOC selalu sama dijual oleh berbagai breeding farm.
Masalahnya, harga yang dia sebut kartel ini sekarang sudah sangat jauh dari harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Dia menjelaskan harga acuan Kementerian Perdagangan berada di Rp 5.000-6.000 per ekor.
“Harga DOC ini jadi diatur nggak wajar, padahal acuan Kemendag kan Rp 5.000 sampai Rp 6.000, ini kenyataannya bisa sampai Rp 7.000,” papar Alvino.
Selain melaporkan adanya praktik kartel dalam penentuan harga DOC, Alvino menilai pembagian DOC dari breeding farm juga kurang adil. Menurutnya, banyak petani rakyat mandiri sepertinya tidak bisa mendapatkan bibit ayam.
Pengusaha Sebut Banyak Pedagang Jual Daging Sapi Dicampur Kerbau, Hati-hati
Pada tahun ini, pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor 80.000 ton daging kerbau dari India. Impor dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan daging dalam negeri, dan juga untuk stabilisasi harga daging sapi lokal.
Namun, menurut Ketua Komite Tetap Industri Peternakan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Yudi Guntara Noor, tujuan itu belum tercapai sepenuhnya, karena maraknya aksi pedagang pasar menjual daging sapi dan kerbau yang dicampur.
Yudi mengatakan, daging kerbau yang diimpor dari India sebagian besar tidak dijual di pasar dalam keadaan beku atau utuh tanpa dicampur. Daging tersebut dicairkan, lalu dijual dengan dicampur dengan daging sapi tanpa diketahui pembeli.
Ia menegaskan, pemerintah harus membuat segmentasi daging untuk konsumen di pasar. Dengan demikian, konsumen mengetahui dengan jelas jenis daging yang dibeli, dengan harga yang sesuai. Kondisi ini harus diperhatikan karena akan berdampak pada para peternak lokal yang tak bisa mendapatkan insentif jika para pedagang menjual daging sapi dengan dicampur.
Setiap Panen Langsung Terjual
Ketua KWT Siti Nurul Ida Susanti mengungkapkan tiga bulan sejak membudidayakan bibit pohon yang dibeli dari Gresik tersebut, anggota KWT memanen daun-daun pohon tersebut untuk dijadikan teh.
Tak hanya daun dan buahnya, Siti dan anggota KWT juga mulai membudidayakan pohon tin dalam bentuk stek batang. “Laris juga kami jual satu batang Rp 35 ribu, jadi kami memang fokus membudidayakan pohon tin secara maksimal karena potensi ekonominya yang besar, “ ujarnya.
Potensi ekonomi pohon tin juga seiring dengan manfaatnya sebagai terapi menstabil kolesterol. Para anggota KWT juga turut mengonsumsi teh daun tin setiap panen.
Fathiyah Amieni, pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) sekaligus pembina KWT Kedurus Asri mengungkapkan, “Buah tin sebenarnya sudah banyak, tetapi cara penjualannya yang berbeda. Dan KWT ini punya pasar sendiri dibandingkan petani pohon tin di Sidoarjo dan Gresik,” pungkasnya.
Target Hanya 69 Ribu Ton
Chief Executive Officer PTPN XIV Ryanto Wisnuardhy mengatakan, PT Perkebunan Nusantara XIV (PTPN XIV) mencatat kebutuhan produksi gula di Provinsi Sulsel mencapai sekitar 200 ribu ton per tahun. Namun ia tak menampik angka tersebut sejauh ini belum mampu dipenuhi. Apalagi, tahun ini PTPN XIV hanya menargetkan produksi gula 69 ribu ton. Kemudian, masalah utama yang dihadapi pihaknya, jelas Ryanto adalah para petani yang lebih senang menanam komoditi lain, yakni padi dan porang karena dianggap perputarannya lebih cepat. Sedangkan tebu yang merupakan bahan baku industri gula pasir (gula kristal), setidaknya ditanam 9 bulan dulu sebelum masuk proses penggilingan.
PLN Minta Penurunan Harga Batu Bara
PT Perusahaan Listrik Negara dikabarkan meminta pemenuhan volume Domestic Market Obli-gation (DMO) batu bara dan penurunan harga untuk pembangkit listrik.
Harga batu bara yang dikenakan untuk pembangkit listrik ditetapkan sebesar US$ 70 per metrik ton (MT) Free On Board Vessel sesuai Kepmen ESDM Nomor 255. K/30/MEM/2020.
Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, pada 2020 DMO ditargetkan mencapai 155 juta ton dimana realisasinya hanya mencapai 132 juta ton. Adapun dari besaran tersebut sebanyak 105 juta ton digunakan untuk kebutuhan pembangkit dalam negeri.
Merujuk data Kementerian ESDM, dari target 109 juta ton untuk kebutuhan kelistrikan 2020, realisasinya hanya mencapai 96 persen atau setara 104.8 juta ton. Dari besaran tersebut, kebutuhan PLN mencapai 65 juta ton dan independent Power Producer (IPP) sebanyak 39.8 juta ton.
Siklus Besar Komoditas
Indeks komoditas Bloomberg secara tahunanhingga Maret 2021 naik 11 persen, sedangkan kumula-tif meningkat 40 persen dalam 52 pekan terakhir.
Hal ini mirip situasi pas-cakrisis keuangan Asia1998-1999. Saat itu Indonesia terdampak parah karena permintaan yang tertahan. Saat krisis, masyarakat menahan konsumsi dan fokus belanja dasar, seperti sandang pangan. Masyarakat pun menahan pengeluaran barang-barang tahan lama dan aktualisasi diri, seperti perjalanan wisata.
Ada tiga komoditas yangmemimpin the new commo-dity supercycle ini (Home[2021]).
- Pertama, minyak yang diwakili West Texas Intermediate (WTI). Harga minyak WTI yang sejak awal September 2020 tertahan pada 40-an dollar AS per barel naik di atas 50dollar AS per barel pada pertengahan Desember 2020.
- Komoditas berikutnya adalah tembaga. Harga tem-baga saat ini sekitar 9.000dollar AS per metrik ton atau hampir mencapai titik tertinggi pada 2011. Kenaikan harga didorong pembukaan kembali perekonomian negara-negara industri dan stimulus fiskal di Ame-rika Serikat. Permintaan masyarakat terhadap barang-barang elektronik danendaraan pun diperkirakan melonjak. Faktor berikutnya adalahpergeseran ke arah kendara-an listrik. Kendaraan listrik membutuhkan empat kali lebih banyak komponen berbasis tembaga dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar fosil. Asosiasi tembaga internasional memperkirakan permintaan akan naik dari1 85.000 ton pada 2017 menjadi 1,74 juta ton pada 2027 (Kimani [2021]).
- Komoditas ketiga adalah litium. Sebagai konsekuensi peningkatan permintaan kendaraan listrik, permintaan litium—sebagai alternatif kobalt dan nikel untuk bahan komponen baterai kendaraan listrik—juga meningkat









