Kemenperin Dukung Pengembangan EBT Melalui Kebijakan Industri Hijau
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) melalui kebijakan industri yang tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 2018 tentang Pemberdayaan Industri, lanjut dia, Kemenperin juga mendorong penggunaan energi baru dan terbarukan sebagaimana diserukan melalui standar industri hijau yang sejalan dengan pasal 32 huruf a, dan dijelaskan lagi di pasal 34 sebagai energi yang diupayakan menggunakan energi baru dan terbarukan. Adapun Kebijakan Industri Nasional (KIN) tahun 2020-2020 difokuskan pada upaya mencapai tiga aspirasi dalam Making Indonesia 4.0 serta implementasi tahap kedua dalam RIPIN 2015-2035.
Dari 10 kelompok industri prioritas dalam KIN 2020-2024, Industri Pembangkit Energi menjadi bagian di dalamnya dengan pengembangan industri alat kelistrikan, yaitu motor/generator listrik, baterai sebagai pendukung pembangkit listrik, solar cell dan solar wafer, turbin, tungku pemanas (boiler), pipa alir uap panas, dan mesin peralatan pembangkit listrik.
Dalam Sepekan Batu Bara Naik 6,89 Persen
Harga batu bara untuk kontrak pengiriman April 2021 menguat 4,22 persen menjadi US$ 93,8 per metrik ton, Jumat (19/3). Dalam sepekan, harga batu bara naik 6,89 persen dan secara year to date (ytd), menguat 15,59 persen. Harga batu bara ini merupakan harga tertinggi sejak 2018.
Menurut Founder Traderindo. com, Wahyu Tribowo Laksono, harga batu bara kembali memanas sebagai buntut dari kenaikan harga batu bara di Cina, sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia.
Kebutuhan batu bara di Cina sedang naik seiring dengan kegiatan ekonomi yang kembali dimulai dan pemulihan industri yang sedang terjadi karena Cina berhasil mengatasi pandemi lebih dahulu dibandingkan dengan negara lain.
Untuk jangka pendek. wahyu memperkirakan, harga batu bara akan berada di angka US$90-US$95 per metrik ton. Untuk jangka menengah sampai jangka panjang, ia memperkirakan, harga batubara akan berada di kisaran US$80-US$100 per metrik ton.
Harga Karet Tinggi Stabil di Kalsel
Petani karet di Kalimantan Selatan tersenyum manis. Hal ini disebabkan semakin membaiknya harga karet bahkan pekan ini kenaikan harga pada K3 100 persen tembus antara Rp 21.500 - Rp 22. 000.
Dengan begitu, harga di tingkat petani karet menjadi Rp 8.700 hingga Rp 11.000 per kilogram tergantung Kadar Karet Kering (K3) yang dihasilkan.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, Suparmi mengatakan, Disbunak selalu berupaya dan mendorong mutu karet petani Dumi Lambung Mangkurat terus meningkat melalui upaya memperkuat Kelembagaan Petani Karet untuk bergabung dalam Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). Dengan luas karet di Kalsel 273.058 hektare dan 90.05 persen merupakan perkebunan karet rakyat.
Batubara Makin Memudar
Gelombang transisi energi tengah terjadi di dunia. Pemanfaatan batubara memudar seiring peralihan ke energi terbarukan. Industri batubara Indonesia mesti berperan dalam transisi ini.
JAKARTA, KOMPAS — Bisnis batubara diperkirakan melemah pada 2050 seiring semakin masifnya transisi energi dari fosilke energi terbarukan. Sejumlah proyeksi memperkirakan bahwa pada 2050 permintaan batubara global anjlok sampai 90 persen. Hilirisasi batubara menjadi dimetileter dan metanol adalah satu-satunya pilihan agar bisnis batubara berlanjut. Demikian yang mengemuka dalam webinar ”Transformasi Bisnis Sektor Batubara dalam Mendukung Transformasi Energi Indonesia”, yang diselenggarakan oleh Bima sena Society, Jumat (19/3/2021).Menurut Direktur Jenderal Mineral dan Batubara pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin, tahun 2014 adalah puncak permintaan batu-bara global. Saat itu, permintaannya 8 miliar ton. Seiring dengan ketatnya pengaturan emisi gas rumah kaca dan teknologi energi terbarukan yang kian efisien, permintaan batubara perlahan menyusut tajam.”Seiring dengan target menjaga kenaikan suhu bumi menjadi 1,5 derajat celsius, dampaknya adalah turunnya permintaan batubara global hingga 90 persen pada 2050,” kata Ridwan yang menjadi salah satu narasumber webinar.
(Oleh - HR1)
Usaha Rintisan Kolaborasi Garap Komoditas Ekspor Unggulan
Saat ini, Indonesia menggarap tiga komoditas kelautan dan perikanan unggulan untuk tujuan ekspor, yakni udang, lobster, dan rumput laut.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengajak usaha rintisan berbasis teknologi (start up) di sektor kelautan dan perikanan untuk cermat melihat tren pasar dunia agar terus tumbuh dan meningkatkan perekonomian. Data pasar bisa menjadi dasar dalam mengembangkan inovasi teknologi dan membuka ruang baru usaha-usaha perikanan yang memiliki potensi besar.
”Start up digital ini bagus, tapi kalau mau lebih hebat lagi supaya meningkat dan menjadi unicorn ke depan harus melihat kapasitas pasar dan tidak menutup kemungkinan untuk kolaborasi sistem antarusaha rintisan,” ujar Menteri Trenggono, dalam keterangan tertulis, Jumat (19/3/2021), seusai bertemu dengan Digifish Network, jaringan usaha rintisan kelautan dan perikanan Indonesia.
Di sisi lain, perkembangan start up sektor kelautan dan perikanan di Indonesia terus meningkat. Hingga tahun 2020, terdata 32 usaha rintisan yang tergabung dalam Digifish Network. Penggagas Digifish Network Rully Setya mengatakan, pihaknya siap untuk terus melakukan inovasi dan berkolaborasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengembangkan industri kelautan dan perikanan.
Sejumlah pelaku usaha rintisan berinovasi mengembangkan layanan. Usaha rintisan Jala, misalnya, tahun lalu mengembangkan laboratorium udang di Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai sarana pemeriksaan penyakit. Selain itu, usaha rintisan ini mengembangkan platform pengecekan harga udang dan menggarap pemasaran secara daring dengan menjembatani hasil panen petambak udang dengan industri pengolahan.
”Yang diutamakan dalam pembangunan perikanan udang nasional adalah merevitalisasi tambak-tambak rakyat. Ekstensifikasi tidak dibuka lebar, penambahan tambak intensif diperkirakan hanya 10.000 hektar sampai tahun 2024. Adapun tambak tradisional ditingkatkan agar menjadi lebih produktif,” katanya.
Pengembangan produksi udang akan dilakukan dengan membentuk shrimp estate atau kawasan budidaya udang. Setiap tahun, direncanakan akan dikembangkan empat kawasan percontohan tambak. Kawasan itu di antaranya ada Aceh Timur dengan luas lahan yang direncanakan mencapai 10.000 hektar dan terbagi dalam 10 kluster. Pemerintah berperan menyiapkan infrastruktur dasar.
Hegemoni Bank BUMN
Dari total 109 bank di Indonesia per akhir 2020, bank berstatus badan usaha milik negara atau BUMN hanya ada empat. Kendati demikian, kelompok bank BUMN sangat dominan dalam industri perbankan nasional. Mereka menguasai 43,1 persen total dana pihak ketiga perbankan nasional yang sebesar Rp 6.665,4 triliun per akhir 2020. Sementara pangsa kreditnya mencapai 44,6 persen dari total Rp 5.481,6 triliun pada periode yang sama.
Kondisi tersebut menunjukkan betapa timpangnya struktur industri perbankan di Tanah Air. Bahkan, ketimpangan makin kentara apabila merujuk data ini: 7 bank terbesar menguasai hampir 60 persen total dana pihak ketiga, yang berarti 40 persen sisanya diperebutkan 102 bank. Timpangnya struktur perbankan nasional menimbulkan banyak masalah, salah satunya terjadi penguasaan pasar oleh segelintir bank sehingga mekanisme pasar tidak berjalan semestinya.
Penguasaan pasar yang dominan cenderung membentukkartel, menghindari persaingan, dan melakukan kerja sama yang saling menguntungkan. Berkat dominasi dan posisi tawar yang tinggi, penguasa pasar cenderung mengatur harga dan menentang mekanisme pasar demi meraup keun-tungan sebesar-besarnya yang ujungnya membuat konsumenkerap menjadi korban. Praktik semacam itu, dalam level tertentu, juga terjadi di industri perbankan nasional. Harga jual produk perbankan, yang dalam hal ini disebut suku bunga kredit, terbukti tidak mengikuti mekanisme pasar.
Seperti halnya harga barang, pembentukan bunga kredit juga dipengaruhi sejumlah faktor, yakni biaya dana (cost offunds), biaya operasional (overhead cost), margin keuntungan(profit margin), dan premi risiko. Faktor-faktor lain di luar premi risiko cenderung bisa dikendalikan dan dikalkulasi oleh bank sehingga dianggap sebagai pembentuk suku bunga dasar kredit (SBDK). Cost of funds merupakan biaya yangdikeluarkan bank untuk membayar bunga dana pihak ketiga,seperti tabungan, deposito, dan giro. Dalam industri ma-nufaktur, biaya ini disebut sebagai ongkos bahan baku.
Perlu intervensi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar kompetisi pada industri perbankan nasional menjadi lebih sehat dan berdaya saing. Intervensi berupa pemberian insentif, yang pernah beberapa kali dicoba, sepertinya tidakefektif untuk mendorong penurunan SBDK. Perlu aturanyang lebih keras, semisal memberi penalti kepada bank yangmengambil margin keuntungan berlebihan (excessive mar-gin). Penalti layak diterapkan karena praktik excessive margin sangat merugikan sektor riil. Di sisi lain, pemerintah jangan membebani manajemen bank BUMN dengan target dividen yang terlampau tinggi. Penyaluran kredit berbunga rendah yang dapat memulihkan kembali sektor riil niscaya jauh lebih bermanfaat bagi negara ketimbang dividen dari bank-bank pelat merah.
Harga Cabai Setara Daging
PALEMBANG, SRIPO - Harga kebutuhan pokok jelang bulan suci Ramadhan terus beranjak naik. Seolah menjadi tradisi, ketika di momen-momen hari besar keagamaan sering terjadi kenaikan harga pada sejumlah komoditas pangan. Kasmiati, salah seorang pedagang sayur di Plaju Palembang mengatakan, kenaikan harga terjadi pada komoditas seperti cabai, baik jenis cabai burung, rawit, dan cabai merah.
"Yang paling meroket itu cabai burung, biasanya di kisaran Rp 100 ribu perkilo, kini menjadi Rp 115 ribu perkilo, sudah setara harga daging," ujarnya. Diakui Kas, meski relatif ada kenaikan harga, namun pembeli masih cukup banyak yang mencari cabai.
"Paling diakali beli Rp 5 ribu, itupun dapat setengah ons. Namun, buat pedagang yang untuk jualan ayam geprek atau lainnya, mau tidak mau masih tetap belum ada juga yang dicampur dengan rawit agar lebih pedas,"ujarnya.
Meski demikian, dirinya kata Kas, tetap menyediakan stok untuk mengantisipasi pembeli yang mencari komoditas cabai burung. "Tapi tidak banyak, takutnya ketika tidak laku khawatir busuk apalagi sekarang juga musim hujan, terkadang malas ke pasar," katanya.
Ubah Sampah Rumah Tangga jadi Bahan Bakar
PEMKAB Musi Banyuasin (Muba) bersama masyarakat kini berencana mengubah limbah sampah menjadi bahan bakar briket. Pengolahan sampah rumah tangga ini diyakini menjadi solusi mengatasi persoalan sampah yang kerap menjadi masalah di lingkungan masyarakat. Sebagai solusi yang ditawarkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengenal alat dimana sampah diubah menjadi bahan bakar.
Wakil Bupati Muba Beni Hernedi menyambut baik kerjasama dengan PT. Revorma Sagara Artha tersebut yaitu untuk melakukan Demo Mesin Pengolah Sampah dengan harapan adanya mesin pengolah sampah dapat mengurangi timbunan sampah plastik dan penanganan sampah yang berkontribusi di Indonesia, khususnya di kabupaten Muba. Inovasi ini menjadi solusi luar biasa, sampah rumah tangga dilakukan bioaplikasi diolah selama 1 minggu, kemudian diproduksi menjadi sebuah produk briket yang menuju ke energi dan bahan bakar.
Ia menambahkan, untuk di Muba memang belum ada, jadi ini adalah bagian dari proses untuk mempelajari apakah ini bisa diterapkan di Muba atau tidak dengan kapasitas persampahan yang sedemikian. "Apabila ini kita anggap oke, maka ini akan kita terapkan di Muba, yang luar biasa lagi kalau ada pihak swasta yang berkontribusi, mau memulai melakukan disini," ungkapnya.
Merurut Beni, semua sektor harus paham bahwa bukan persoalan sampah rumah tangga saja, namun ada sampah-sampah sisa perkebunan yang juga perlu penanganan.
"Misalnya kita sedang gencar-gencarnya menggalakkan replanting. Ini juga bagian memberikan solusi bagi petani kelapa sawit dalam mengolah pohon kelapa sawit tersebut. Jadi ini akan dikaitkan dengan cerdas agar program replanting menekan sampah, termasuk juga sisa-sisa pohon karet," ujarnya.
Sementara Komisaris Utama PT RSA Technology Irastu Linggawara menjelaskan, sampah adalah barang yang tidak bernilai di tengah masyarakat dimana hal tersebut sudah menjadi masalah klasik di Indonesia. Data KLHK menunjukkan jumlah timbunan sampah di Indonesia secara nasional sebesar 175 ribu ton perhari atau setara 64 juta ton pertahun.
"Selain itu, untuk membangaun fasilitas pengolahan sampah dan pengawasan di lokasi kajian sesuai acuan DED. Serta untuk mendpatkan sumber energi alternatif dari sampah." terangnya.
Senada yang diungkapkan Kepala DLH Andi Wijaya Busro SH MHum, dirinya berharap masyarakat kabupaten Muba dapat mendukung upaya yang dilakukan pihaknya.
Lanjutnya, metode pengolahan sampah itu ada 3 R, daur ulang, tuna ulang. Dalam proses 3 M pengolahan sampah ini diolah jadi bahan lain saah satunya demo sampah diolah menjadi bahan energi. Bagaimana sampah ini kemudian diolah menjadi bahan briket yang bisa digunakan skala rumah tangga juga skala industri.
"Dengan alat ini bisa membuat bahan briket yang bisa digunakan dalam proses industrinya. Artinya ini bisa menjadi solusi yang baik dalam mengatasi masalah sampah diwilayah Muba ini," katanya.
Dukung Usaha Rumah Bongkar Pasang
OGAN ILIR - Sesuai dengan slogannya "Mitra Anda Membangun Daerah," Bank Sumsel Babel senantiasa mendorong perkembangan UMKM di propinsi Sumsel dan Bangka Belitung. Salah satu usaha yang masih terus berkembang saat ini, usaha rumah bongkar pasang milik Zulfikram yang berlokasi di Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir.(knock down)
Pria yang memiliki motto "Kepercayaan adalah Prioritas Kami" mengatakan ini merupakan usaha keluarga yang diturunkan ayahnya, Amanto dan sudah berjalan cukup lama . "Produk rumah bongkar pasang menggunakan jenis kayu seru, meranti, dan tembesu," ungkapnya.
Untuk pemasaran produk ke beberapa kota di Indonesia, seperti Medan, Bali, Lombok, Jakarta dan Bandung. Kemudian diekspor kebeberapa negara, yaitu Spanyol, Thailand, dan Malaysia. Harga produk yang dijual berkisar Rp 80 juta - Rp 250 juta untuk jenis rumah dan Rp 8 juta - Rp 30 juta untuk jenis gazebo.
Pemimpin Bank Sumsel Babel Cabang Pembantu Tanjung Batu, Nina Pratiwi, mengatakan usaha rumah bongkar pasang Zulfikram ini sejalan dengan misi Bank Sumsel Babel membantu mengembangkan potensi daerah dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah sehingga diharapkan dengan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) usaha ini dapat semakin berkembang.
Harga Bawang Rentan Meroket
PALEMBANG - Lonjakan harga jelang Ramadhan patut diwaspadai pemerintah.Termasuk juga Pemkot Palembang. Sebab, saat ini harga cabai sudah makin pedas. Terbaru, harga bawang juga sudah merangkak naik.
Pantauan di Pasar Talang Kelapa harga cabai merah Rp 65 ribu per kg, cabai rawit jenkie Rp 50 ribu per kg, dan cabai rawit setan Rp 100 ribu per kg.
Sedangkan untuk harga bawang merah Rp 44 ribu per kg, dan bawang putih Rp 32 ribu per kg. Padahal, normalnya bawang merah hanya Rp 28 ribu per kg. Begitupun bawang putih.Untuk cabai biasa hanya Rp 30 ribu dan cabai merah dan junkie hanya Rp 20 - Rp 26 ribu.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Palembang, Hardayani mengatakan, bawang merah dan bawang putih memang rentan naik sebelum puasa. Apalagi jika stoknya juga mulai menipis. "Cabai mahal sekarang memang karena belum masuk musim panen, sehingga harga pasaran naik karena persedian tidak banyak sementara permintaan masyarakat tetap jalan," katanya.
Ditambah lagi, daerah-daerah yang biasa mendistribusikan cabai ke Palembang, seperti Padang, Pagaralam, dan Lampung belum panen. Ia menambahkan, selain cabai komoditas yang juga diprediksi bakal naik dipuasa, bawang putih dan bawang merah.
Meski komoditas utama yang dikomsumsi masyarakat Indonesia ini harganya tinggi, atau diprediksi naik, tapi pemerintah pusat belum membuka opsi untuk kran impor. Terkait dengan stabilitas harga kembali untuk komoditas ini, belum dapat dipastikan kapan. "Perkiraan kemungkinan sesudah Lebaran," imbuhnya.
Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda menambahkan, untuk harga akan dilakukan pemantaan harga dari Dinas Perdagangan. "Sidak Pasar dadakan pas puasa. Akan memastikan harga, oknum nakal akan di tindak," tambahnya.
Sebab lanjutnya, walau naik lonjakan harga tidak boleh melebihi rate,
Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan Sumsel, Ahmad Rizali mencatat, ada sejumlah barang kebutuhan pokok di pasar tradisional yang naik harga. Seperti cabai mearh besar dari Rp 50.500 menjadi 52.500 per kg atau mengalami kenaikan 4%.
Lalu, cabai merah keriting dari Rp 57 ribu jadi Rp 67 ribu per kg atau naik 17,5%. Harga bawang putih honan dari Rp 25 ribu menjadi 26.500 per kg atau naik 3,8%. Ada pula yang turun, tapi tetap diatas normal. MIsalnya telur ayam negeri dari Rp 22 ribu menjadi Rp 21.500 per kg atau turun 2,3%. Lalu, cabai rawit merah dari Rp 102.500 menjadi Rp 100 ribu per kg atau tutun 2,4%, hampir menyamai daging sapi. Kemudian bawang merah dari Rp 39.500 menjadi Rp 38 ribu per kg atau turun 3,8%.
Dia mengatakan, baik dari sisi ketersediaan maupun fluktuasi, harga-harga dianggap masih stabil.









