Bapanas Minta Impor Daging Sapi untuk Kebutuhan Ramadan Tapi Pemerintah Belum mengeluarkan Izin
Harga Emas Antam Melesat, Kini di Angka Rp1,65 Juta Per Gram
Mengapa Industri Televisi Lesu dan Memangkas Jumlah Karyawannya
Perang Dagang Momentum Tepat Bagi Para Investor untuk Serok Saham
Bank Swasta Dongkrak Pertumbuhan Laba Industri
310 Ribu Pengecer Enggan jadi Pangkalan Resmi Gas Elpiji
Kebijakan Menyulut Perang Dagang
Kebijakan tarif Amerika terhadap Kanada, Meksiko, dan China akan mulai berlaku pada Selasa, pukul 00.01 dini hari waktu setempat. Kebijakan Presiden AS Donald Trumph yang memberlakukan tarif 25% atas Kanada dan Meksiko, serta tarif 10% terhadap China tersebut diprediksi akan memperlambat pertumbuhan global, sekaligus mendongkrak harga-harga yang lebih tinggi bagi warga Amerika. Indonesia bisa mencari peluang dari kondisi tersebut untuk memperluas pasar ekspor untuk mencari peluang dari kondisi tersebut untuk memperluas pasar ekpor dan menarik investasi serta mempekuat diplomasi dagang, meningkat daya saing industri, dan memanfaatkan insentif perdagangan seperti Generalized System of Preferences (GSP). Namun peluang, itu tampaknya sempit.
Berbagai kendala dan tantangan di dalam negeri masih membayangi iklim investasi dan perdagangan Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyarankan agar pemerintah proaktif melakukan pendekatan-pendekatan bilateral yang dibutuhkan agar Indonesia tidak mengalami penyempitan akses pasar eskpor AS. "Justru kalau bisa Indonesia melobi agar menjadi rekan dagang preferensial bagi AS,"ucap dia. Dia menyebutkan, perang dagang bukan hal baru, karena sudah terjadi sejak 2018 hingga saat ini. Jadi kebijakan Trump baru-baru ini hanya mengakselerasi tren fragmentasi perdagangan global yang sudah terjadi sejak 2018. (Yetede)
Presiden Meminta Para Pengusaha Penggilingan Padi Jangan Sampai Menurunkan Harga
Surabaya Bongkar Beras Impor asal Myanmar
Ribuan ton beras impor asal Myanmar dibongkar di Pelabuhan
Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, pada awal 2025. Hal ini memicu keresahan
petani padi di lumbung pangan terbesar nasional ini karena kini mereka sedang
bersiap memasuki musim panen raya. Masuknya beras impor diketahui dari bongkar
muatan kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, tepatnya di Jalan Perak Barat, Perak
Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya, pada 18 Januari 2025. Video tentang
aktivitas pembongkaran beras asal Myanmar itu diunggah oleh pemilik akun
@barokah.www di media sosial Tik-tok. ”Assalamualaikum warah matullah
wabarakatuh. Selamat pagi menjelang siang. Laporan buat mas gondrong lagi. Ini
di dek kedua sudah seperti ini di tanggal 18 Januari 2025. Ini proses
pembongkaran,” ujar seseorang di video tersebut. Beras impor yang tiba di
Pelabuhan Tanjung Perak itu sudah dikemas dalam zak warna putih bertuliskan
beras Bulog dengan berat 50 kilogram (kg).
Pada kemasan itu juga tertera tulisan beras putih asal
Myanmar dengan tingkat kepecahan 5 persen. Adapun perusahaan yang mengekspor ke
Indonesia ialah SWY PTE LTD yang berkantor di Singapura. Masuknya beras impor
itu memicu keresahan petani di Jatim, salah satunya Jumantoro. Ketua
Perkumpulan Petani Pangan Indonesia itu mengatakan, masuknya beras impor
bertentangan dengan kebijakan pemerintah yang menyatakan tidak ada impor beras
pada tahun 2025. Produksi beras di Jatim mengalami surplus setiap tahun sehingga
sebagian dikirim ke luar daerah. Di sisi lain, sebagian petani di sejumlah
daerah di Jatim sudah memasuki masa panen dan akan mencapai panen raya serentak
pada Maret 2025. ”Petani khawatir gabahnya tidak terserap pasar dan Bulog
sehingga harganya jatuh ke titik paling rendah. Sementara biaya produksi yang
dikeluarkan petani saat ini cukup tinggi,” kata Jumantoro, Senin (3/2/2025). Menurut
dia, untuk panen Saat ini, pembelian gabah petani masih dilakukan para
pedagang. Di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, misalnya, gabah petani hanya
dihargai Rp 5.000-Rp 5.800 per kg sesuai kualitasnya.
Harga itu jauh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP)
untuk gabah kering panen (GKP) Rp 6.500 per kg. Kekhawatiran terkait kehadiran
beras impor juga disampaikan Muhammad Suud (50), petani di Kecamatan Balongbendo,
Sidoarjo. Alasannya, petani saat ini bersiap menghadapi masa panen di musim
hujan sehingga kualitas gabah kurang bagus karena kadar airnya tinggi.
Pengadaan tahun 2024 Direktur Pengadaan Perum Bulog Awaludin Iqbal mengatakan,
beras impor yang dibongkar di PelabuhanTanjung Perak merupakan pengadaan tahun
2024. Beras itu tiba di Indonesia pada Desember 2024, tetapi baru bisa
dibongkar dari kapal pada Januari 2025. ”Semua kapal datang pada 2024. Namun,
saat kapal dating di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, tidak bisa langsung
membongkar muatannya,” ujar Awaludin saat dikonfirmasi, Minggu (2/2/2025)
malam. Ia menyebutkan, salah satu kendala dalam pembongkaran beras impor adalah
kondisi cuaca ekstrem di perairan Surabaya. Selain itu, antrean bongkar muat
kapal di pelabuhan juga banyak sehingga memerlukan waktu untuk membongkar beras
impor. (Yoga)
Dilema Suku Bunga: Antara Stimulus dan Stabilitas
Tren inflasi yang rendah memberikan peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga, BI menghadapi dilema karena faktor-faktor eksternal, terutama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dipengaruhi oleh ketegangan perang dagang global. Meskipun Indonesia mencatatkan deflasi 0,76% pada Januari 2025, yang sebagian besar dipengaruhi oleh diskon tarif listrik, kondisi global yang tidak stabil membuat BI sulit untuk segera menurunkan suku bunga.
Ekonom seperti Hosianna Evalita Situmorang dan Josua Pardede memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan 5,75% untuk saat ini, dengan fokus pada perbaikan nilai tukar rupiah dan stabilitas ekonomi. Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya menyatakan bahwa meskipun ruang untuk penurunan suku bunga masih terbuka, keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada dinamika ekonomi global dan nasional.
Selain itu, kalangan pengusaha seperti Shinta Widjaja Kamdani dari Apindo menganggap deflasi pada Januari sebagai fenomena sementara yang disebabkan oleh intervensi pemerintah, dan memperkirakan inflasi akan kembali naik ke level target pemerintah 1,5%-3,5% pada Februari dan bulan-bulan berikutnya, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran.









