Peluang Cuan Stasiun Mobil Listrik
Tempo, Jakarta - PT PLN (Persero) membuka peluang bisnis Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) untuk swasta. Melalui skema kemitraan bagi hasil, PLN mengklaim kerja sama pembangunan infrastruktur mobil listrik ini menguntungkan bagi investor. Optimistis pasar kendaraan mobil listrik akan berkembang cepat. Pada 2020, penjualan mobil listrik naik 46 persen. Sedangkan mobil konvensional turun 14 persen. PLN menawarkan lahan tanpa biaya sewa selain menyediakan pasokan listrik. Investor harus menyediakan, mengoperasikan dan memelihara fasilitas pengisian ulang yang ditempatkan di lahan PLN.
Langkah PLN mengembangkan SPKLU melalui skema kemitraan dapat membantu mendorong minat penggunaan mobil listrik. Namun, masih sulit mendongkrak penjualannya dalam jangka pendek. Berkaca pada pengalaman di negara tetangga, seperti Australia. Tidak mudah membuat masyarakat beralih ke mobil listrik. Pasar mobil di sana sekitar 1,3 juta per tahun, tapi jumlah kendaraan listrik hanya sekitar 16 ribu.
Sektor Andalan Menjadi Tumpuan
Tempo, Jakarta - Perbankan nasional terus berupaya menggenjot penyaluran kredit ini tiga bulan tersisa tahun ini. Sektor dan segmen kredit andalan yang mulai pulih menjadi tumpuan penyaluran kredit untuk mencetak peningkatan pendapatan dari kinerja intermediasi. Terdapat sektor-sektor yang mulai mengalami tren perbaikan kinerja, yaitu sektor yang memiliki karakteristik pemulihan cepat atau berdaya tahan tinggi pada masa pandemi. Meski mulai ekspansif, perusahaan berusaha senantiasa berhati-hati menjaga kualitas portofolio kredit agar tidak memicu risiko kenaikan rasio kredit macet alias non-performing loan (NPL) di kemudian hari. Pertumbuhan kredit akan dijaga tetap berkelanjutan dengan mengedepankan asesmen yang ketat untuk memastikan kemampuan nasabah dalam memenuhi kewajiban pembayaran di kemudian hari.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan kredit industri perbankan pada keseluruhan tahun ini akan berada di angka 4-5 persen. Pertumbuhan terbesar terjadi pada jenis kredit konsumsi, yaitu sebesar 2,95 persen, diikuti kredit moral kerja yang tumbuh 2,85 persen serta kredit investasi yang tumbuh 0,37 persen.
Laba Bank Jumbo Kompak Melejit
Tempo, Jakarta - Industri perbankan nasional mulai membukukan kinerja positif pada pengujung tahun ini. Bank-bank kategori BUKU IV atau modal jumbo kompak melaporkan realisasi perolehan laba yang melonjak pada triwulan III 2021.Raihan positif itu tak lepas dari perbaikan kondisi perekonomian nasional seiring dengan kian terkendalinya kasus penularan Covid-19 dan masifnya program vaksinasi nasional.
Transformasi digital yang kian masif dilakukan setahun belakangan juga berkontribusi positif meningkatkan efisiensi dan pendapatan nonbunga perbankan. Baik giro maupun tabungan mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 8,5 persen dan 11,7 persen.
Situs Pemerintah Mudah Diretas, Data Warga Dijual Bebas
Pada Mei 2021, di sebuah forum peretas, Raidforums.com, akun dengan nama Kotz mengklaim memiliki lebih dari 270 juta data pribadi warga Indonesia yang berasal dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Di forum itu, Kotz menjual lebih dari 270 juta data itu seharga 0,35 bitcoin atau sekitar Rp 297.850.000 berdasarkan kurs pada Kamis (28/10/2021) pukul 15.08 di Indodax.com. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan masih membantah data yang dijual di Raidforums berasal dari instansinya. Sementara Polri belum dapat memastikan siapa pelaku pembobolan dan penjualan data tersebut.
Untuk memastikan apakah benar data yang diperjualbelikan di Raidforums.com tersebut data BPJS atau bukan, tim investigasi Kompas menghubungi Kotz dan menelusuri validitas data yang dijual dengan mengirim dua nomor induk kependudukan (NIK). Dari data NIK itu, Kotz merespons dengan memberikan data kependudukan (nama lengkap, alamat, agama, tanggal lahir, golongan darah), gaji selama tiga tahun (2017-2019), dan nomor kartu BPJS Kesehatan (noka). Noka yang diberikan Kotz pun identik dengan nomor yang tertera pada kartu BPJS Kesehatan pemilik NIK. Sementara itu, dari penilaian kerentanan dan penelusuran terhadap aktivitas para peretas di Indonesia, terungkap betapa mudahnya meretas situs-situs pemerintah. Beberapa hari lalu, subdomain situs Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengalami peretasan berupa perubahan muka (defacement).
Aktivitas Siber : Kami Meretas, Maka Kami Ada
Meretas bukan sekadar tentang pelanggaran hukum karena merusak situs sasaran. Ada cerita yang kaya di balik itu semua, salah satunya adalah betapa besarnya potensi remaja Indonesia di dunia teknologi informasi. Di dunia peretasan, Apep (14), bukan nama sebenarnya, menemukan eksistensinya. Remaja pendiam itu mendirikan dan mengetuai kelompok peretas bernama Evoush666Crew yang terdiri atas enam orang. Pada 2021, setidaknya kelompok tersebut telah meretas sekitar 40 situs pemerintah. Berkebalikan dengan keaktifannya di dunia peretasan, Apep merasa tak punya kehidupan di dunia nyata. Remaja itu merasa sulit berteman. Apep tak suka di sekolah dan tak nyaman di rumah. Hampir setiap hari ia mendengar orangtuanya bertengkar. Di forum peretas internasional Zone-H.org, Apep menggunakan nama Kakegurai. Ia baru terlihat aktif di forum itu sejak awal 2021. Menurut dokumentasi di Zone-H.org, situs-situs yang telah menjadi korban peretasan mereka, di antaranya, adalah sejumlah situs pemerintah kota di Nusa Tenggara Timur.
Skena (dunia yang spesifik) peretas Indonesia terbilang semarak. Selain di forum internasional, di forum dalam negeri, Zone-Xsec.com, misalnya, terlihat puluhan peretas dan tim peretas bersaing memperoleh peringkat teratas. Indonesia juga mempunyai peretas yang disegani di dunia internasional, yaitu HMei7. Ia berada di 10 besar dunia untuk peretas dengan teknik defacement (mengubah tampilan). Sosoknya misterius, bahkan di kalangan peretas sekalipun. Tak ada yang mengetahui identitasnya. Konon, dia bisa datang ke pertemuan-pertemuan peretas tanpa ada yang tahu. Dalam catatan Zone-H.org, HMei7 telah meretas 294.497 situs, 178 situs di antaranya situs Pemerintah Indonesia, selama enam tahun terakhir. Maraknya keahlian meretas dalam negeri ini bisa dilihat sebagai ancaman, tetapi juga sebagai potensi untuk meningkatkan keamanan siber nasional. Hukum tentu harus bertindak tegas pada peretasan yang bersifat kriminal, seperti pencurian data dan pengambilalihan sebuah situs.
Realisasi Belanja Negara Merosot
Kinerja dari belanja negara hingga September 2021 menukik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Meski lazimnya percepatan penyerapan anggaran akan dilakukan pemerintah di pengujung tahun, terdapat indikasi otoritas menahan laju belanja untuk menjaga defisit anggaran. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, total belanja negara hingga September 2021 turun 1,9 persen dari Rp 1.841,1 triliun pada September 2020 menjadi Rp 1.806,8 triliun. Penurunan terdalam terjadi pada komponen transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) yang pada periode tersebut anjlok hingga 14 persen. Seluruh komponen di dalam TKDD pun mencatatkan penurunan, yakni dana bagi hasil (-14 persen), dana alokasi umum (-4,7 persen), dana alokasi khusus atau DAK fisik (-58,8 persen), DAK nonfisik (-9,9 persen), hingga dana desa (-13 persen).
Dihubungi Kamis (28/10/2021), Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat adanya indikasi untuk menahan belanja dalam rangka menjaga tingkat defisit anggaran di bawah target. Indikasi ini muncul dari pemangkasan sejumlah program bantuan sosial dengan dalih ekonomi mulai pulih pada tahun ini. ”Soal defisit anggaran yang lebih rendah, perlu dicermati juga indikasi pemerintah sengaja menahan pencairan stimulus atau belanja. Jadi, roll-over atau pemangkasan stimulus PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) dilakukan lebih cepat dari perkiraan,” ujarnya. Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga September 2021 mencapai Rp 452 triliun atau 2,74 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional.
Reksa Dana Pendapatan Tetap, Prospek Kinerja Dibayangi Tapering
Reksa dana pendapatan tetap diprediksi dapat mencatatkan kinerja yang optimal meski dibayangi oleh isu tapering oleh The Fed dan kenaikan suku bunga global yang mulai terjadi. Direktur Utama Pinnacle Persada Investama Guntur Putra memaparkan pergerakan reksa dana pendapatan tetap sepanjang 2021 cukup fluktuatif. Hal ini terlihat dari pergerakan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang cenderung volatil. “SUN 10 tahun Indonesia ada di level 6% pada awal tahun, dan sempat di level 6,8% pada kuartal I/2021 dan awal kuartal III/2021 kembali lagi ke level 6%,” jelasnya saat dihubungi, Kamis (28/10). Sementara itu, selama satu bulan terakhir, Guntur memandang pergerakan reksa dana pendapatan tetap terbilang stabil seiring dengan kinerja positif produk-produk reksa dana jenis ini, baik selama sebulan belakangan maupun secara year to date (ytd).
Kebijakan Tax Holiday, Insentif Fiskal Tetap Ditebar
Pemerintah tetap memberikan insentif fiskal kepada investor untuk menggantikan tax holiday yang tak lagi relevan menyusul disepakatinya konsensus Pilar 2: Global Anti Base Erosion Organisation for Economic Cooperation and Development terkait dengan implementasi global minimum tax. Rencananya, versi terbaru dari tax holiday itu akan lebih terarah dengan menyasar sektor-sektor prioritas yang dianggap memiliki efek berganda bagi perekonomian nasional. Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kementerian Keuangan Neilmaldrin Noor mengatakan saat ini insentif baru itu tengah difinalisasi oleh otoritas fiskal dan pihak terkait lainnya. “Sedang dikaji, insentif akan tetap ada dan lebih terarah,” kata dia kepada Bisnis, Kamis (28/10).
Sejalan dengan disepakatinya konsensus Pilar 2 tersebut, maka fasilitas insentif tax holiday tidak lagi relevan diterapkan oleh pemerintah. Apabila Indonesia tetap memberikan fasilitas tersebut atau menetapkan tarif pajak korporasi di bawah 15%, maka pemerintah kehilangan potensi penerimaan dari wajib pajak badan. Hilangnya potensi penerimaan itu disebabkan oleh ketentuan di dalam Pilar 2 yang memberikan kewenangan kepada negara domisili atau negara asal korporasi untuk memungut pajak, jika negara pasar menetapkan tarif di bawah 15%.
Pengembangan Ekosistem Digital, Kolaborasi Pelaku Jasa Keuangan Jadi Kunci
Kolaborasi antarpelaku industri jasa keuangan tak bisa lagi dilihat sebagai persaingan, tetapi sebagai faktor kunci dalam menumbuhkan ekosistem. Ketua Bidang Operation, Technology, dan Regulatory Reporting Perbanas Indra Utoyo mengatakan di era ekonomi kolaborasi, bank harus bergerak cepat memberikan value dengan merangkul mitra lain agar dapat memberikan solusi pada nasabah. “Berkolaborasi tetapi berkompetisi ini menjadi hal biasa saja, termasuk bank dengan fintech, yang menurut saya lebih banyak kolaborasi ketimbang kompetisinya,” ujar Indra dalam webinar yang diselenggarakan Bisnis Indonesia dan Mambu, Kamis (28/10/2021).
Menurutnya, para pelaku fintech atau teknologi finansial (tekfin) merupakan para spesialis di bidang masing-masing. Untuk masuk ke dalam ekosistem tersebut, diperlukan kolaborasi antara bank dengan tekfin dalam hal pembiayaan.
Indra memaparkan bahwa ada empat klasifikasi bank digital berdasarkan trennya. Pertama, bank digital bagian dari ekosistem grup konglomerasi keuangan, seperti kehadiran BRI Agroniaga yang kini bertransformasi menjadi Bank Raya, dan BCA Digital. Kedua adalah bank digital yang merupakan bagian dalam ekosistem nongrup konglomerasi keuangan, laiknya Allo Bank dan Motion Banking. Ketiga, bank digital bagian dari tekfin, seperti Bank Neo Commerce. Keempat, bank digital yang menjadi bagian dari platform teknologi, semisal, Sea Bank dan Bank Jago.
Singapura Dilanda Booming Mobil Listrik Tesla
Tesla Inc dilaporkan sedang menikmati momentum penjualan di Singapura karena angka penjualan mobil listrik produksinya telah melonjak. Walaupun Singapura dikenal memiliki kebijakan yang mengatur ketat registrasi kendaraan baru guna mengendalikan lalu lintas dan polusi udara. Menurut laporan terjadi aksi pembelian gila-gilaan untuk mobil Tesla, yang harga dasarnya hampir mencapai Sin,US$ 200 ribu atau setara US$ 148.300. Harga ini tergolong mahal sebagian karena retribusi kepemilikan, dibanding harga yang di bandrol di AS yakni kurang dari US$40 ribu.
Data Otoritas Transportasi Darat atau Land Transport Authority (LTA) menunjukkan, jumlah mobil Tesla yang mengaspal di jalan-jalan Singapura telah mengalami peningkatan lebih dari 10 kali lipat menjadi 487 di Kuartal III dibandingkan 30 unit pada semester pertama. Bulan lalu ada 314 unit Tesla yang terdaftar di Singapura. Jumlah ini hampir setara dengan Hyundai dan merek-merek teratas, seperti Toyota Motor Corp, dan Honda Motor.
“Saya membeli mobil ini karena saya adalah mendukung dan pemegang saham perusahaan,” kata Insinyur perangkat lunak Tim Shim, yang dilansir Reuthers pada kamis (28/10). Shim mengakui telah memesan model 3 sejak lima tahun lalu, tetapi harus menerimanya saat penjualan mobil dimulai tahun ini di Singapura. Dengan bantuan penggemar Tesla, seperti Shim maka perusahaan ini menjadi merek mobil terpopuler keenam di Singapura pada September, mengalahkan angka penjualan Nissan, Audi dan Kia. (Yetede)









