;

Realisasi Belanja Negara Merosot

Realisasi Belanja Negara Merosot

Kinerja dari belanja negara hingga September 2021 menukik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Meski lazimnya percepatan penyerapan anggaran akan dilakukan pemerintah di pengujung tahun, terdapat indikasi otoritas menahan laju belanja untuk menjaga defisit anggaran. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, total belanja negara hingga September 2021 turun 1,9 persen dari Rp 1.841,1 triliun pada September 2020 menjadi Rp 1.806,8 triliun. Penurunan terdalam terjadi pada komponen transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) yang pada periode tersebut anjlok hingga 14 persen. Seluruh komponen di dalam TKDD pun mencatatkan penurunan, yakni dana bagi hasil (-14 persen), dana alokasi umum (-4,7 persen), dana alokasi khusus atau DAK fisik (-58,8 persen), DAK nonfisik (-9,9 persen), hingga dana desa (-13 persen).

Dihubungi Kamis (28/10/2021), Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat adanya indikasi untuk menahan belanja dalam rangka menjaga tingkat defisit anggaran di bawah target. Indikasi ini muncul dari pemangkasan sejumlah program bantuan sosial dengan dalih ekonomi mulai pulih pada tahun ini. ”Soal defisit anggaran yang lebih rendah, perlu dicermati juga indikasi pemerintah sengaja menahan pencairan stimulus atau belanja. Jadi, roll-over atau pemangkasan stimulus PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) dilakukan lebih cepat dari perkiraan,” ujarnya. Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga September 2021 mencapai Rp 452 triliun atau 2,74 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional.


Download Aplikasi Labirin :