;

PLN Mulai Kurangi Penggunaan PLTU

Yuniati Turjandini 23 Nov 2021 Investor Daily

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mulai mengurangi produksi energi yang berasal dari pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pada tahun ini. "Tidak ada pembangunan PLTU yang baru, terkecuali pembangunan PLTU yang yang sudah terkontrak yang merupakan sisa dari penuntasan Program 25 Ribu MW tahap dua," ujar Manager Pengelolaan Perubahan Iklim PLN Kaia Handayani dalam Diskusi Virtual Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk "Presidensi G20: EBT Indonesia menuju Net Zero Emission 2060", Senin (22/11).  Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, PLN telah merencanakan peta jalan mengurangi PLTU dengan  menambahakn instalasi listrik baru yang mengutamakan  energi baru terbarukan Pembangkit energi baru terbarukan yang dimaksud, yakni pembangkit listrik, pembangkit listrik panas bumi 3,3 GW, gas 5,8 GW, air 10,3 GW, surya 4,6 GW, juga energi baru terbarukan lainnya 1,5 GW. Semuanya akan menjadi fokus pembangunan dalam beberapa tahun ke depan. (Yetede)

Mitratel Menjadi Jawara Emiten Manara di Bursa

Hairul Rizal 22 Nov 2021 Kontan

Kapitalisasi pasar PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk bakal langsung menyodok menjadi jawara baru di jajaran emiten pebisnis menara telekomunikasi. Merujuk hasil initial public offering (IPO) emiten yang akan menggunakan kode saham MTEL ini, jatah saham alokasi terpusat bertambah dari sebelumnya 2,5% menjadi 5%. Dengan demikian, total saham yang akan dimiliki masyarakat sebanyak-banyaknya akan bertambah menjadi sebanyak 23.493.524.800 saham. Porsi saham milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Metra Digital Investama mencapai 60,02 miliar saham. Dengan demikian, total jenderal saham MTEL yang ditempatkan dan disetor penuh sebanyak-banyaknya adalah 83,52 miliar saham.


Program Akhir Tahun Akan Dorong E-Commerce

Hairul Rizal 22 Nov 2021 Kontan

Transaksi e-commerce, ternyata, juga terkena dampak kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada Juli 2021. Namun, momentum akhir tahun diharapkan bisa kembali mendongkrak transaksi e-commerce. Bank Indonesia (BI) mencatat ada penurunan transaksi belanja secara daring lewat e-commerce pada kuartal III-2021. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, total nilai transaksi e-commerce periode Juli - September 2021 sebesar Rp 58,2 triliun, turun 22,81% ketimbang kuartal II-2021 sebesar Rp 75,4 triliun.


PPh Badan & PPN Tumbuh di Atas 13%

Hairul Rizal 22 Nov 2021 Kontan

Penerimaan pajak moncer menjelang akhir tahun sejalan dengan perbaikan aktivitas ekonomi. Penyokong setoran berasal dari pajak penghasilan (PPh) badan dan pajak pertambahan nilai (PPN). Seperti diketahui, realisasi penerimaan pajak per 31 Oktober 2021 tumbuh 15,3% year on year (yoy) menjadi Rp 953,6 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, penerimaan PPh badan dan PPN dalam negeri terus melonjak masing-masing tumbuh 13,4% dan 13,3% yoy.


Hujan Mulai Turun, Harga Minyak Sawit Mentah Naik

Hairul Rizal 22 Nov 2021 Kontan

Produksi minyak sawit atau crude palm oil (CPO) kerap terganggu selama musim hujan. Tak heran, harga minyak sawit belakangan melambung. Jumat (19/11) lalu, harga CPO di Malaysia Derivatives Exchange menurun 0,10% ke RM 4.993 per ton. Sebelumnya, Kamis (18/11), harga CPO sempat menyentuh harga tertinggi di RM 4.998 per ton. Dalam sepekan, harga CPO menguat 5,04%.


Harga Mulai Naik, Namun Volatilitas Bitcoin Masih Tinggi

Hairul Rizal 22 Nov 2021 Kontan

Harga bitcoin kembali naik setelah turun secara teknikal. Dalam jangka pendek, volatilitas harga bitcoin diproyeksikan masih tinggi. Berdasarkan laman coinmarketcap, Minggu (21/11), pukul 21.00, harga bitcoin naik 0,60% ke US$ 58.883 per btc. Sebelumnya, Jumat (19/11), harga btc anjlok ke US$ 55.978 per btc setelah sempat naik ke US$ 65.722 per btc pada Senin (15/11). Co-founder CryptoWatch Christopher Tahir mengatakan penurunan harga bitcoin sebelumnya disebabkan oleh pelaku pasar yang merealisasikan keuntungan dan merupakan hal yang wajar terjadi.


Penarikan Kredit Modal Kerja Semakin Ramai

Hairul Rizal 22 Nov 2021 Kontan

Pemulihan ekonomi membuat bank semakin optimistis mengucurkan kredit modal kerja. Fasilitas kredit ini biasanya dipergunakan untuk membiayai aktiva lancar serta membiayai sementara kegiatan operasional rutin, uang muka, cadangan kas, atau komponen modal kerja lainnya. Permintaan kredit modal kerja mulai mampu mengejar pertumbuhan kredit konsumsi. Bank Indonesia (BI) mencatatkan kredit modal kerja naik 2,6% yoy menjadi Rp 2538,2 triliun per September 2021. Sedangkan pertumbuhan kredit konsumsi naik 2,9% yoy menjadi Rp 1638,2 triliun di sembilan bulan pertama 2021.


RI Berpacu Jadi Pemain Penting Kendaraan Listrik

Yoga 22 Nov 2021 Kompas

Indonesia berpeluang jadi pemain penting industri kendaraan listrik global, karena potensi pasar besar, selain bahan baku utama baterai listrik, seperti nikel, kobalt, dan mangan. Kemenperin menargetkan produksi mobil listrik dan bus listrik 600.000 unit dari total 3 juta unit kendaraan bermotor roda empat tahun 2030, motor listrik (roda dua dan tiga) ditargetkan 2,45 juta unit dari total produksi 9,8 juta kendaraan bermotor roda dua dan tiga.

Pemerintah aktif melobi BMW dan Mercedes-Benz, oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, untuk membangun pabrik kendaraan listrik, dan sudah ada  empat komitmen investasi pembangunan pabrik kendaraan listrik dengan nilai investasi puluhan triliun rupiah. 

Pertama, investasi Hyundai Motor Corporation senilai Rp 21 triliun secara bertahap pada 2020-2021 dan 2021-2030. Menurut rencana, mereka mulai memproduksi kendaraan listrik berbasis baterai pada 2023. Komitmen kedua adalah Mitsubishi dengan nilai investasi Rp 11,2 triliun yang menurut rencana akan dieksekusi pada 2024. Ketiga, Toyota dengan nilai investasi Rp 7 triliun pada 2024 dan Suzuki dengan nilai investasi Rp 7 triliun-Rp 9triliun pada 2022-2026. (Yoga)


Keekonomian Jadi Penentu

Imam Dwi Baskoro 22 Nov 2021 Kompas

Kompas, Jakarta - Harga kendaraan listrik dinilai masih terlalu mahal bagi konsumen di Tanah Air. Inovasi dan insentif diperlukan guna menekan harga kendaraan agar lebih terjangkau. Strategi mendorong permintaan dinilai penting guna mengembangkan ekosistem kendaraan listrik nasional. Oleh karena itu, selain mengolah hasil tambang serta merintis pabrik baterai dan komponennya, pemerintah dan pelaku industri perlu berstrategi untuk membangun pasar di dalam negeri. 

Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan utama konsumen di Tanah Air membeli kendaraan listrik adalah tingkat keekonomiannya. Harga kendaraa, pajak, dan biaya operasional menjadi indikatornya. Kendaraan listrik harus menarik dari sisi ekonomi agar dibeli dan diterima pasar secara luas. Sejumlah insentif memang sudah diberikan pemerintah, tetapi perlu insentif tambahan untuk melipatgandakan adopsinya. Penambahan infrastruktur, seperti tempat pengisian daya, juga penting guna menopang operasi kendaraan listrik untuk perjalanan ke luar kota. Insentif juga diberikan kepada industri kendaraan listrik berbasis baterai, seperti keringanan pajak, pembebasan bea masuk dan bea masuk ditanggung pemerintah, serta super tax deduction untuk kegiatan penelitian dan pengembangan. 

Benang Kusut Perdagangan Maritim

Imam Dwi Baskoro 22 Nov 2021 Kompas

Kompas, Jakarta - Pandemi Covid-19 turut membuat "benang kusut" perdagangan maritim global. Tidak mudah dan butuh waktu untuk mengurai kekusutan ini. Pandemi tidak hanya menurunkan permintaan ruang kapal dan mendongkrak biaya logistik laut. Harga barang impor dan barang di tingkat konsumen pun terkerek naik. Barang-barang di tingkat konsumen yang harganya naik itu terutama barang jadi impor dan produk olahan berbahan baku impor. Lima produk yang mengalami lonjakan harga tertinggi adalah komputer, elektronik, dan optik, furnitur, tekstil dan produk tekstil, produk dari karet dan plastik, serta produk dan perlengkapan farmasi. 

Kenaikan biaya logistik itu juga menyebabkan kenaikan biaya produksi, produk setengah jadi, dan produk-produk terkait dengan investasi global. Hal ini diperkirakan memperlambat pemulihan industri manufaktur global. Kenaikan biaya logistik maritim sebesar 10 persen akan menurunkan produksi manufaktur di Amerika Serikat dan Uni Eropa sebesar 1 persen dan di China 0,2 persen. Laporan itu menggambarkan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam rantai pasokan global. Di tengah pertumbuhan transportasi maritim sebesar 4 persen pada 2020-2021. 

Pilihan Editor