;

Nasib Revisi UU Cipta Kerja Berada di Ujung Tanduk

Hairul Rizal 22 Apr 2022 Kontan

Pemerintah nampaknya mulai khawatir. Revisi Undang-Undang No: 11/2022 tentang Cipta Kerja bisa gagal mencapai target. Waktu dua tahun atau hingga November 2023 yang diberikan Mahkamah Konstitusi tak cukup untuk merevisi UU Cipta Kerja. Mahkamah Konstitusi pada November 2021 lalu, memutuskan kelahiran UU Cipta Kerja cacat hukum formil dalam penyusunannya. Konsekuensinya: pemerintah dan parlemen harus merevisi UU Cipta Kerja itu dengan jangka waktu 2 tahun agar bisa berlaku dan konstitusional.

Anggaran Subsidi Rawan Bengkak Dua Kali Lipat

Hairul Rizal 22 Apr 2022 Kontan

Lonjakan harga komoditas menjadi masalah baru yang harus dihadapi Indonesia. Pemerintah dihadapkan dua pilihan yakni mempertahankan harga energi, dengan konsekuensi anggaran subsidi bisa membengkak. Kedua, bila menaikkan harga akan membuat inflasi melonjak yang berisiko menggerus daya beli dan mengganggu proses pemulihan ekonomi. Sebagai gambaran, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga minyak mentah Indonesia alias Indonesia Crude Price (ICP) Maret 2022 sebesar US$ 113,5 per barel, naik 18,6% dibanding Februari 2022. Level ini jauh dari asumsi ICP 2022 yang ditetapkan sebesar US$ 63 per barel. Adapun, Kementerian Keuangan mencatat rerata ICP Januari-Maret 2022 naik 66,7% year on year (yoy).

SRTG Siapkan Dana Investasi Jumbo

Hairul Rizal 22 Apr 2022 Kontan

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) US$ 100 juta-US$ 150 juta tahun ini. Nilai ini setara Rp 1,4 triliun-Rp 2,1 triliun. Porsi untuk investasi ke sektor teknologi cukup besar. "Kami mengalokasikan sekitar 30%-40% capex untuk sektor teknologi," kata Devin Wirawan, Direktur Investasi SRTG, Kamis (21/4). Sektor lain yang jadi pilihan Saratoga yaitu pelayanan kesehatan dan energi terbarukan.

BUKA Masih Fokus Meningkatkan Take Rate

Hairul Rizal 22 Apr 2022 Kontan

PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menargetkan pendapatan tahun 2022 bakal lebih tinggi dibanding dengan realisasi tahun 2021. Pendapatan Bukalapak tahun ini ditargetkan dapat meningkat antara 44% hingga 61% menjadi senilai Rp 2,7 triliun-Rp 3 triliun. Proyeksi kenaikan pendapatan ini sejalan dengan total processing value (TPV) yang diharapkan meningkat antara 39% hingga 47% menjadi Rp 170 triliun-Rp 180 triliun pada tahun ini. Sebagai gambaran, pendapatan Bukalapak di tahun 2021 tumbuh 38% menjadi Rp 1,87 triliun, dengan peningkatan TPV 44% menjadi Rp 122,6 triliun. Presiden PT Bukalapak.com Tbk Teddy Oetomo mengatakan, pertumbuhan TPV akan lebih terlihat pada semester II-2022. Sementara di semester I-2022, Bukalapak masih fokus meningkatkan pendapatan melalui strategi specialty vertical, yang memungkinkan emiten pengelola marketplace ini memperoleh take rate yang lebih tinggi. Tahun lalu, take rate BUKA sekitar 1,7%. "Dengan strategi specialty vertical, take rate bisa ke 4%, ada yang sampai 8%," kata Teddy di kantor pusat Bukalapak, Rabu (20/4). BUKA juga fokus melakukan monetisasi di kategori bisnis yang memberikan pendapatan lebih baik.

Awas, Investasi Modal Ventura Bisa Saja Gagal

Hairul Rizal 22 Apr 2022 Kontan

Anda masih ingat saat Masayoshi Son, Bos Sofbank menyesali investasinya yang gagal di startup We Work beberapa tahun lalu. Kegagalan bisnis We Work menyebabkan Softbank, perusahaan investasi asal Jepang ini sempat merugi. Nah, mari tengok modal ventura dalam negeri, dengan investasinya yang selama ini cukup gencar mendanai di banyak startup. Direktur Utama Mandiri Capital Indonesia (MCI), Eddi Danusaputro mengatakan, dari semua portofolio yang dimiliki, tidak semuanya memiliki kinerja yang bagus. Meskipun demikian, Eddi tak terlalu mengkhawatirkan kinerja yang kurang bagus dari beberapa portofolio milik MCI. Tahun ini, MCI belum memberikan pendanaan. Meski MCI sudah menyediakan dana segar sebesar Rp 50 miliar hingga Rp 100 miliar. Vice President of Investments MDI Ventures, Aldi Adrian mengungkapkan hal senada. Ia menyebutkan, tidak semua portofolio startup yang didanai MDI Ventures memiliki kinerja bagus.

Xendit Resmi Jadi Pemegang Saham Bank Sampoerna

Hairul Rizal 22 Apr 2022 Kontan

Kabar masuknya financial technology (fintech) gateway pembayaran xendit untuk menjadi pemegang saham PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) terjawab sudah. Xendit mengkonfirmasi telah melakukan investasi strategi di Bank Sampoerna, perusahaan ini tidak menyebutkan berapa persen saham yang diambil dalam aksi investasi strategis tersebut.

SDPC Membidik Penjualan Rp 3 Triliun Tahun Ini

Hairul Rizal 22 Apr 2022 Kontan

Manajemen PT Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC) melihat prospek bisnis di tahun ini dengan positif dan cukup meyakinkan. Optimisme ini dibuktikan juga dengan kinerja perusahaan di sepanjang kuartal pertama 2022 yang terpantau tumbuh positif. Presiden Direktur Millennium Pharmacon International Ahmad bin Abu Bakar belum bisa bicara lebih detail terkait review kinerja di kuartal I-2022. Pada tahun ini, SDPC membidik angka penjualan di atas Rp 3 triliun. Sedangkan dari sisi laba bersih, ditargetkan angkanya dapat mencapai dua digit.

Summarecon Agung Meraih Rp 1,4 Triliun

Hairul Rizal 22 Apr 2022 Kontan

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) sukses meraih marketing sales atau pra penjualan Rp 1,4 triliun selama kuartal I 2022. Raihan marketing sales tersebut didominasi penjualan dari segmen landed house atau rumah tapak. “Pencapaian marketing sales kami selama kuartal I 2022 adalah sebesar Rp 1,4 triliun atau 29% dari target tahun 2022 sebesar Rp 5 triliun. Pencapaian ini melebihi ekspektasi kami,” ungkap Sekretaris Perusahaan SMRA, Jemmy Kusnadi saat dihubungi Kontan, Kamis (21/4).


Magnet Kuat IPO Pasar Modal

Hairul Rizal 22 Apr 2022 Bisnis Indonesia

Tensi geopolitik yang membayangi aksi korporasi global ternyata tak mengendurkan niat sejumlah perusahaan di Tanah Air untuk go public. Sejumlah kalangan menilai pasar modal Indonesia memang masih punya magnet kuat untuk menarik korporasi lantaran kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang kian ciamik. Demikian pula dengan pertumbuhan signifikan jumlah investor di pasar modal Indonesia yang turut menjadi daya tarik. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), sejauh ini terdapat 35 perusahaan yang berencana menggelar penawaran perdana saham alias initial public offering (IPO). Berdasarkan skala aset, dari jumlah tersebut, sebanyak enam perusahaan tercatat memiliki aset di bawah Rp50 Miliar. Sebanyak 13 perusahaan lainnya beraset antara Rp50 miliar-Rp250 miliar, kemudian 16 perusahaan lagi memiliki aset di atas Rp250 miliar. 

Jika terealisasi, aksi korporasi itu akan melanjutkan tren positif di BEI di mana sejak awal tahun sampai 20 April 2022, sudah ada 17 emiten go public. Salah satunya adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang mencatatkan sahamnya di BEI pada 11 April lalu dan meraup dana tak kurang dari Rp13,7 triliun. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna mengatakan pasar modal masih mampu menarik perusahaan yang ingin go public lantaran kinerja saham yang baik. IHSG terus menunjukkan pertumbuhan, bahkan hingga 20 April 2022 telah menyentuh angka 7.227,36. “Indikator lainnya yang mendukung adalah tren investor di pasar modal Indonesia yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya, Kamis (21/4).


Geopolitik Ubah Peta Ekspor Batu Bara

Hairul Rizal 22 Apr 2022 Bisnis Indonesia

Harga dan permintaan komoditas batu bara dikenal rentan oleh dinamika geopolitik. Tensi hubungan Australia dan China berakibat dihentikannya ekspor batu bara Australia oleh China sehingga berdampak terhadap kenaikan harga. Sedangkan contoh yang terkini adalah invasi Rusia atas Ukraina yang memicu reaksi Uni Eropa (UE) untuk menghentikan impor batu bara mereka dari Rusia yang mendorong lonjakan harga serta berpotensi mengubah peta ekspor batu bara. Gejolak geopolitik yang awalnya menjadi salah satu pemicu naiknya harga komoditas di 2021 adalah kurang harmonisnya hubungan Australia dan China yang dipicu oleh ketidaksukaan Beijing terhadap langkah Canberra yang mendukung investigasi asal muasal virus Corona yang diklaim oleh Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara sekutunya termasuk Australia berawal dari kota Wuhan. Perkembangan geopolitik di atas yang mendorong pemerintah China mengambil langkah berani menghentikan (meski tidak ada keputusan resmi) impor batu bara dari Australia.

Akibat dari “embargo” China tersebut, Australia mengalihkan (divert) ekspornya kebanyakan ke India. Membanjirnya pasokan batu bara dari Australia ke India mau tidak mau turut menggerus porsi ekspor dari Indonesia ke India. Ekspor RI ke India pada 2020 sekitar 97 juta ton, dan di 2021 hanya 65 juta ton. Harga komoditas kemudian melambung di luar perkiraan akibat konflik Rusia vs Ukraina. Invasi Rusia yang dimulai 24 Februari 2022 membuat negara-negara anggota UE yang selama ini menjadi importir batu bara Rusia mencoba mencari alternatif pasokan. Bahkan, UE telah mengumumkan akan menghentikan impor batu bara dari Rusia efektif di Agustus 2022. Selain Rusia, negara-negara UE mengimpor batu bara dari Kolombia, Afrika Selatan, dan AS.


Pilihan Editor