Ri-Rusia Teken Sejumlah Dokumen Kerjasama Transportasi dan Pendidikan
Momentum Rombak Kebijakan Bursa Saham
Korporasi Semarak Terbitkan Obligasi
115 WNI Mulai di Evakuasi
Penghambat Penyerapan Anggaran Belanja
Danantara Gencar Himpun Pendanaan
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara semakin agresif memperluas jaringan kemitraan strategis, baik di dalam negeri maupun kancah internasional, sebagai bagian dari perwujudan visi Indonesia untuk membangun ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan. Di bawah kepemimpinan CEO Rosan P. Roeslani, Danantara menandatangani kesepakatan penting dengan Russia Direct Investment Fund (RDIF) untuk membentuk Russia-Indonesia Investment Platform (RIDNIP) senilai €2 miliar. Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin, menandakan komitmen politik yang kuat di balik kerja sama tersebut.
Selain Rusia, Danantara juga menjajaki kerja sama dengan Temasek Holdings dari Singapura, serta telah berinvestasi di dalam negeri, antara lain di proyek petrokimia PT Chandra Asri senilai Rp13 triliun dan pembiayaan Program 3 Juta Rumah senilai Rp130 triliun. CIO Danantara Pandu Sjahrir menegaskan bahwa semua langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Danantara untuk mendukung sektor-sektor fundamental yang mampu menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah industri nasional.
Namun, sejumlah pengamat menyoroti risiko dari strategi ekspansi cepat Danantara, khususnya dalam menjalin kemitraan dengan RDIF di tengah sanksi internasional terhadap Rusia akibat konflik Ukraina. Herry Gunawan, Direktur NEXT Indonesia, memperingatkan bahwa kerja sama ini dapat menimbulkan risiko reputasi dan mempersulit upaya Danantara menarik mitra global lainnya. Sementara itu, Toto Pranoto dari Universitas Indonesia menilai bahwa tantangan internal seperti ketidaksiapan proyek, ketidakpastian regulasi, dan lemahnya koordinasi lintas sektor masih menjadi penghambat utama realisasi investasi besar di Indonesia.
Dengan demikian, langkah progresif Danantara mencerminkan ambisi besar pemerintah dalam menarik investasi dan memperkuat kemandirian ekonomi. Namun, seperti diingatkan para pakar, kesuksesan jangka panjang sangat bergantung pada kehati-hatian dalam memilih mitra strategis, perbaikan tata kelola investasi, serta konsistensi implementasi di lapangan.
Diplomasi Simbolik RI Dinilai Berisiko
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia dan keputusannya untuk menghadiri undangan khusus Presiden Vladimir Putin alih-alih menghadiri KTT G7 mencerminkan langkah diplomasi luar negeri yang penuh perhitungan strategis. Di tengah isolasi keuangan Rusia akibat sanksi internasional, kesepakatan investasi sebesar €2 miliar (sekitar Rp37,7 triliun) antara Badan Pengelola Investasi Danantara dan Russia Direct Investment Fund (RDIF) mengirim sinyal politik dan ekonomi yang kuat, namun juga mengundang pertanyaan publik.
Kolaborasi dengan RDIF, sebuah sovereign wealth fund yang masuk daftar sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa, menunjukkan manuver berani, namun rentan terhadap risiko reputasi dan konsekuensi diplomatik. Di sisi lain, Danantara juga menjalin pendekatan dengan Temasek Holdings dari Singapura, lembaga investasi yang sangat selektif dan berorientasi profit, menimbulkan kontras antara profesionalisme investasi dan pertimbangan geopolitik.
Meski Danantara juga aktif memperkuat investasi dalam negeri—seperti mendanai proyek petrokimia Chandra Asri dan program perumahan nasional senilai Rp130 triliun—langkah-langkah ini membutuhkan pengawasan ketat dan transparansi tinggi. Detail implementasi, seleksi proyek, dan strategi mitigasi risiko harus dibuka ke publik demi menjaga akuntabilitas.
Kritik dari berbagai pihak menyoroti pentingnya membedakan agenda diplomasi dari keputusan investasi strategis. Sovereign wealth fund seperti Danantara harus menjadi instrumen profesional yang menciptakan imbal hasil berkelanjutan, bukan alat politik. Presiden Prabowo bersama tim ekonomi perlu memastikan bahwa kebijakan luar negeri tidak mengorbankan prinsip kehati-hatian fiskal, dan bahwa investasi lintas negara tetap dijalankan berdasarkan asas rasionalitas ekonomi, bukan simbolisme politik semata.
ICBP–INDF Tebar Dividen Besar
Dua emiten besar Grup Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), menunjukkan performa keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2024 dengan keputusan membagikan dividen jumbo kepada pemegang saham. ICBP menetapkan dividen sebesar Rp2,91 triliun atau Rp250 per saham, sedangkan INDF membagikan Rp2,45 triliun atau Rp280 per saham, yang menjadi dividen per saham tertinggi sejak 2019.
Direktur Utama ICBP Anthoni Salim mengapresiasi kepercayaan para pemegang saham serta menegaskan komitmen untuk mempertahankan profitabilitas dan neraca keuangan yang sehat di tengah tantangan ketidakpastian global 2025. Penjualan bersih ICBP tumbuh 6,90% YoY menjadi Rp72,59 triliun, dengan mi instan sebagai kontributor utama sebesar Rp53,87 triliun.
Di sisi lain, INDF terus menunjukkan konsistensi dalam membagikan dividen sejak 2019. RUPST 2024 juga memutuskan pengangkatan Notariza Taher sebagai Komisaris Independen menggantikan Bambang Brodjonegoro, menandakan penyegaran dalam struktur pengawasan perseroan.
Keputusan pembagian dividen besar ini mencerminkan keberlanjutan kinerja kuat Indofood Group sekaligus menjadi sinyal optimisme kepada investor dalam menghadapi dinamika ekonomi global ke depan.
SBY Peringatkan Ancaman Perang Global
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyatakan keprihatinannya atas potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga sebagai dampak dari konflik memanas antara Israel dan Iran. Dalam wawancaranya di kanal YouTube Gita Wirjawan, SBY menegaskan bahwa meskipun dirinya kini hanya seorang mantan presiden, ia tetap merasa bertanggung jawab secara moral terhadap perdamaian dunia.
SBY menyerukan agar para pemimpin dunia tidak terpancing emosi dan sebaliknya segera mengambil langkah diplomatik untuk mencegah eskalasi konflik. Ia bahkan mengusulkan pembentukan forum khusus antar pemimpin dunia yang bertujuan menghindari keterlibatan negara-negara lain dan mencegah miskalkulasi politik dan militer yang bisa memicu perang global.
Dengan latar belakang sebagai prajurit selama 30 tahun, SBY menilai bahwa salah perhitungan sekecil apa pun dalam konflik seperti ini bisa menjerumuskan dunia ke jurang perang besar. Seruan SBY merupakan pengingat penting akan pentingnya diplomasi, kewaspadaan, dan tanggung jawab bersama para pemimpin dunia dalam menjaga stabilitas global.
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
Pilihan Editor
-
Mata Uang Kripto di Simpang Jalan
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Menagih Komitmen DPR
10 Mar 2022 -
Kopi Janji Jiwa Terus Ekspansi Gerai Baru
11 Mar 2022









