Berkah Digitalisasi bagi Pelaku UMKM
Digitalisasi membawa berkah melimpah bagi para pelaku UMKM. Lewat ranah digital, pemasaran produk mereka semakin luas. Tidak lagi dibatasi jarak dan wilayah. Ketekunan mencari celah dalam ruang maya mengantarkan UMKM menuju kesuksesan di tengah segala keterbatasannya. Sunarni (53) pemilik usaha batik bernama Batik Nurul Hidayah di Desa Pilang, Kabupaten Sragen, Jateng, Rabu (13/7), memilah kain batik tulis dan batik cetak atau printing yang dikumpulkan sesuai menurut jenisnya di ruang tamunya, yang lalu dikirim berdasarkan pesanan.
Sebelumnya, Nani bekerja pada juragan batik di kampungnya. Pada 2014, barulah Nani memulai bisnis batiknya. Pelanggan awal diperolehnya dengan mengikuti pameran UMKM yang diadakan Pemkab Sragen, Jateng. Kerap kali pameran diadakan di luar kota. ”Orang yang beli tidak saya lepas begitu saja. Kalau ada produk baru selalu saya kirim WA (Whatsapp), kebetulan banyak yang cocok dan berlangganan sampai sekarang,” kata Nani. Nani sadar betul. Kemudahan teknologi mesti dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, pemasaran daring digencarkannya. Lebih-lebih setelah ada fitur Story pada aplikasi Whatsapp. Banyak transaksi yang dihasilkan lewat metode itu.
Mustofa (44), warga Kota Surakarta, dulunya juga pekerja perusahaan batik besar di kotanya. Sejak 2010, ia iseng-menjual kemeja batik lewat media sosial Facebook dan Blackberry Messenger. Ternyata, keisengan itu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pada 2014, ia keluar dari pekerjaannya untuk fokus mengurus bisnis daringnya yang bernama Batik Kalimataya. produk yang dijualnya berupa bermacam pakaian bermotif batik. Mulai kemeja, blus, hingga gaun. Kemeja menjadi produk yang paling laris dibeli di lapaknya. Jenis batiknya, terentang dari batik cap sampai batik cetak.
Saat ini, ungkap Mustofa, media sosial yang dioptimalkan untuk memasarkan produknya ialah Instagram. Akunnya adalah @batikkalimataya. Ia juga berjualan lewat aplikasi lokapasar seperti Tokopedia, Lazada, dan Shopee. Ketekunannya menggeluti bisnis daring berbuah manis. Kini, omzet kotornya mencapai Rp 50 juta hingga Rp 70 juta per bulan. Pelanggannya banyak yang berasal dari luar kota, yaitu Bandung, Jakarta, hingga Palembang. Bahkan, sempat ada pelanggan dari Malaysia. (Yoga)
BIAYA PENDIDIKAN TINGGI, Agar Si Miskin Tetap Bisa Kuliah
Keberhasilan Elsa Khania Rimansyah (22) lulus kuliah Universitas Terbuka jurusan administrasi publik di Bogor, Jabar pada Maret 2022 menjadi kebanggaan keluarga. ”Di kampung ini mungkin cuma saya,” kata Elsa di rumahnya di Kampung Wates Kaum, Bogor, Kamis (7/7). Seluruh biaya operasional pendidikannya ditanggung melalui program Bidik-misi, yang kini telah berubah namanya menjadi Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Biaya menjadi salah satu ganjalan utama bagi masyarakat miskin untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Data BPS (2021) menunjukkan, hanya 15,06 % total kelompok paling miskin di Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan tinggi. Sementara pada kelompok masyarakat terkaya, yang sedang menempuh pendidikan tinggi, mencapai 55,67 %.
Kendati demikian, dua dekade terakhir, angka partisipasi sekolah usia 19-23 di masyarakat miskin meningkat signifikan. Pada tahun 2000 hanya 4 %, kini tumbuh empat kali lipat menjadi 16 %. Ketika lulus dari SMAN 1 Ranca Bungur, Elsa sempat berpikir langsung bekerja 1-2 tahun agar bisa menabung untuk biaya kuliah. Mengandalkan sokongan orang tua bukan pilihan. Ayahnya kuli bangunan serabutan, sedangkan sang ibu bekerja di lapak pakaian Pasar Anyar, Bogor. ”Ketika saya dengar ada kabar beasiswa Bidikmisi ke Universitas Terbuka, saya berharap sekali bisa mendapatkannya,” ucap Elsa. Informasi beasiswa Bidikmisi diterima Elsa dari Stephanie Aprilia (22), kawan sekelasnya sejak SD, yang dimungkinkan kuliah melalui program Bidikmisi. Ayahnya sopir truk material yang paling banyak membawa uang Rp 100.000 setiap hari.
Keberhasilan Fani pun tidak hanya memotivasi kedua adiknya bahwa kuliah bukan sesuatu yang mustahil, melainkan juga para tetangganya. ”Tetangga banyak yang bilang, ’Lihat, tuh, Fani kuliah enggak bayar’. Saat itu ternyata saya jadi contoh,” ujar Fani. Kini, Elsa dan Fani masih dalam proses mencari pekerjaan dengan bekal gelar mereka yang masih kinclong. Elsa baru saja meninggalkan pekerjaannya sebagai guru pendidikan anak usia dini. Fani pun telah mengundurkan diri dari tenaga administrasi sebuah tempat kursus bahasa Inggris sebelum memulai tahun terakhir kuliah. Keduanya berharap mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sesuai dengan kemampuan mereka. (Yoga)
Raksasa Otomotif Dunia Siap Masuk Mobil Listrik
Pengembangan industri kendaraan listrik nasional memasuki babak baru. Dua pabrikan otomotif global, Toyota dan Mitsubishi, siap menanamkan investasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Sebelumnya, pabrikan asal Korea Selatan, Hyundai, sudah lebih dulu membangun basis produksi mobil listrik di Tanah Air. Dalam pertemuan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto, pada Selaa (26/7) di Jepang, Vice Chairman of the Board of Directors of Toyota Motor Corporation, Shigeru Hayakawa menyatakan, Toyota Motor Company merencanakan investasi tambahan sebesar Rp 27,1 triliun di Indonesia.
RI-Korsel Perkuat Kerja Sama Ekonomi
Setelah mengunjungi China dan Jepang, Presiden Jokowi mengakhiri lawatan ke Asia Timur dengan bertandang ke Korsel. Dalam lawatan di Korsel, Presiden Jokowi kembali memperkuat kedekatan hubungan Indonesia dengan negara itu. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan kedua negara semakin erat dalam sektor ekonomi, pertahanan, dan budaya. Presiden dan rombongan tiba di ibu kota Korsel, Seoul, pada Rabu (27/7) malam. Pada Kamis (28/7), Presiden Jokowi bertemu Presiden Korsel Yoon Suk Yeol di Kantor Kepresidenan Yongsan, Seoul. Dalam pertemuan, mereka sepakat memperkuat kerja sama di beragam bidang. ”Presiden Jokowi dan saya sepakat, membangun serikat strategis di industri maju, seperti mobil listrik dan baterai dengan memperkuat kerja sama keamanan ekonomi kedua negara, termasuk melalui stabilisasi rantai pasokan mineral utama,” kata Yoon. Dia juga mengatakan, kedua belah pihak sepakat untuk bekerja sama dalam kepentingan bersama dalam Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik.
Sementara itu, Presiden Jokowi menyebut Korsel sebagai salah satu mitra penting Indonesia di Asia Timur. ”Saya yakin di bawah kepemimpinan Presiden Yoon, kemitraan kita akan semakin kokoh ke depan, terutama kemitraan di bidang ekonomi,” ujarnya. Sejak 2016, berdasarkan data BPS, Korsel telah berinvestasi 19,6 miliar USD untuk sejumlah proyek di Indonesia. Menyambut baik tren perdagangan bilateral yang terus meningkat, kedua pemimpin negara sepakat untuk membuka akses pasar, mengatasi hambatan-hambatan perdagangan, dan mempromosikan produk-produk unggulan kedua negara. Presiden Jokowi secara khusus mendorong kerja sama investasi dari Korea, terutama percepatan pembangunan ekosistem mobil listrik di Indonesia, termasuk proyek industri baterai yang terintegrasi pertambangan dan industri baja otomotif untuk kendaraan listrik. (Yoga)
Kinerja Menawan, Saham Bank Besar Menjadi Pilihan
Kelompok bank besar kompak mencatatkan kinerja berkilau di separuh pertama tahun 2022.
Dus, saham emiten bank besar semakin menarik dikoleksi. Secara umum, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyatakan, emiten bank besar cukup menarik. Ia memilih BBRI, BBCA, dan BMRI.
Bunga Naik, Biaya Utang Kian Berat
Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), kembali mengerek suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) menjadi di kisaran 2,25%-2,5%.
Kenaikan suku bunga ini bisa berujung pada kenaikan suku bunga surat utang negara (SUN) yang membuat beban bunga utang Indonesia makin membengkak.
Kinerja Grup Astra Naik Dua Kali Lipat
Hampir semua lini bisnis PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan kinerja kinclong di semester I-2022. Bahkan, investasi di PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) turut mendongkrak laba.
"Pada semester pertama tahun 2022, Grup Astra mencatatkan kinerja yang baik pada hampir semua divisi bisnis, didukung membaiknya kondisi ekonomi dan meningkatnya harga komoditas secara signifikan," tulis Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur ASII, dalam rilisnya, Kamis (28/7).
MENGUNGKIT PENYALURAN KREDIT
Ancaman resesi global yang berisiko menekan perekonomian Indonesia rupanya tak menyurutkan keyakinan perbankan nasional. Mereka optimistis penyaluran kredit masih dapat digeber di sisa tahun ini, melanjutkan kinerja moncer pada semester I/2022. Sejumlah bank yang telah menyampaikan laporan keuangan semester I/2022 optimistis pertumbuhan kredit dapat menembus dua digit pada pengujung 2022. PT Bank Central Asia Tbk. malah pede mengerek target pertumbuhan penyaluran kredit dari semula 6%—8% menjadi 10% pada 2022. Sementara itu, bank-bank besar lain menjaga target pertumbuhan kredit di level dua digit. Contohnya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. yang mematok target kredit tumbuh 11% tahun ini, PT Bank CIMB Niaga Tbk. mengincar pertumbuhan 10%, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. memproyeksikan kredit perseroan tumbuh antara 9%—11%. Faktanya, sampai dengan Juni 2022, sebanyak enam bank dengan aset terbesar yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk., PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT Bank Pan Indonesia Tbk., dan PT Bank BTPN Tbk. mencatat pertumbuhan kredit antara 5%—12% hingga semester I/2022. Seluruh bank itu mewakili sekitar 53% dari total aset industri perbankan nasional yang nilainya lebih dari Rp10.000 triliun. Pertumbuhan penyaluran kredit pada semester I/2022 juga dibukukan oleh Bank Pan Indonesia (Panin). Presiden Direktur Bank Panin Herwidayatmo menyatakan total kredit perseroan mencapai Rp131,51 triliun, naik 5,34% year-to-date (YtD). Penyaluran kredit dapat dijadikan sebagai salah satu indikator ekspansi dunia usaha karena pembiayaan yang diperoleh korporasi dipakai untuk menopang aktivitas bisnis yang menjadi salah satu mesin ekonomi nasional.
Mengawal Pengembangan Energi Hijau
Seiring dengan upaya pemerintah untuk mencapai target netral karbon atau zero emission pada 2060, negara-negara di kawasan Asia kian membuka diri untuk menampung investasi di sektor energi baru terbarukan atau EBT. Mengutip laporan Studi International Renewable Energy Agency (IRENA) yang bertajuk Renewable Power Generation Cost 2021, pembangkit berbasis EBT dengan kapasitas terpasang sebesar 163 gigawatt pada tahun lalu menyedot biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan batu bara yang dimiliki sejumlah negara anggota G20. Pembangkit EBT yang terpasang pada 2021 berhasil menghemat US$55 miliar dari biaya pembangkitan energi global pada 2022. IRENA mengungkapkan biaya listrik dari pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) darat turun sebesar 15% dibandingkan dengan 2020. Sementara itu, PLTB lepas pantai dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) masing-masing turun 13%. Fakta tersebut menjadi sinyal baik seiring dengan ambisi dunia internasional untuk melakukan transisi energi fosil ke energi hijau. Selain itu, sosialisasi dari pemerintah menyoal pentingnya pengembangan energi hijau perlu terus didengungkan guna menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan energi bersih di Tanah Air.
HUBUNGAN DIPLOMATIK : KEMITRAAN EKONOMI RI-KORSEL MENGUAT
Kemitraan strategis di bidang ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan makin erat ditandai komitmen investasi dari perusahaan negeri ginseng senilai US$6,72 miliar setara Rp100,69 triliun serta dukungan terhadap pembangunan Ibu Kota Nusantara. Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja di Korea Selatan disambut oleh Presiden Yoon Suk-yeol di Kantor Kepresidenan Yongsan, Seoul pada Kamis (28/7) sore. Pada hari yang sama, Jokowi bertemu dengan10 pemimpin perusahaan besar Korea Selatan, dan menerima Executive Chairman Hyundai Motor Group, Chung Eui-sun. Jokowi mengatakan tren perdagangan kedua negara terus meningkat dan kedua negara berkomitmen untuk mempermudah hambatan perdagangan. “Kita sepakat untuk terus membuka akses pasar, mengatasi hambatan-hambatan perdagangan, dan mempromosikan produk-produk unggulan kedua negara,” katanya Jokowi dikutip dari keterangan pers, Kamis (28/7) Selain mempererat sektor perdagangan, kedua negara berkomitmen dalam meningkatkan kerja sama investasi. Investasi Korea Selatan di Indonesia tumbuh pesat dan memiliki prospek baik di bidang industri baja, petrokimia, baterai kendaraan listrik industri kabel listrik dan telekomunikasi, garmen, dan energi terbarukan.









