Mengawal Pengembangan Energi Hijau
Seiring dengan upaya pemerintah untuk mencapai target netral karbon atau zero emission pada 2060, negara-negara di kawasan Asia kian membuka diri untuk menampung investasi di sektor energi baru terbarukan atau EBT. Mengutip laporan Studi International Renewable Energy Agency (IRENA) yang bertajuk Renewable Power Generation Cost 2021, pembangkit berbasis EBT dengan kapasitas terpasang sebesar 163 gigawatt pada tahun lalu menyedot biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan batu bara yang dimiliki sejumlah negara anggota G20. Pembangkit EBT yang terpasang pada 2021 berhasil menghemat US$55 miliar dari biaya pembangkitan energi global pada 2022. IRENA mengungkapkan biaya listrik dari pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) darat turun sebesar 15% dibandingkan dengan 2020. Sementara itu, PLTB lepas pantai dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) masing-masing turun 13%. Fakta tersebut menjadi sinyal baik seiring dengan ambisi dunia internasional untuk melakukan transisi energi fosil ke energi hijau. Selain itu, sosialisasi dari pemerintah menyoal pentingnya pengembangan energi hijau perlu terus didengungkan guna menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan energi bersih di Tanah Air.
Tags :
#EnergiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023