;

Makin Terancam Tak Melaut

Yuniati Turjandini 02 Sep 2022 Tempo (H)

Jakarta- Di tengah rencana kenakan harga BBM bersubsidi, sejumlah nelayan di daerah yang berhak mendapat Pertalite dan solar bersubsidi masih kesulitan mengaksesnya. Pasokan bahan bakar yang kian menipis bakal memaksa para nelayan kecil untuk berhenti melaut. "Kalau (BBM) bersubsidi habis dan harus beli dengan harga industri, kebanyakan nelayan tidak bisa melaut," kata Ketua Harian DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Dani Setiawan, kepada Tempo, Kamis, 1 September 2022. Pasokan BBM bersubsidi saat ini makin menipis. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi menunjukkan, per 31 Agustus lalu, konsumsi biosolar sudah mencapai 76,28% (19,506 kiloliter) dari kouta yang ditetapkan pada tahun ini. Bahkan, kouta yang tersisa diprediksi habis pada oktober mendatang. Survei KNTI pada April 2022 menunjukkan 85% nelayan kecil di daerah mengalami kesulitan mengakses BBM bersubsidi. Alasannya beragam. Salah satunya karena karena keterbatasan kouta. (Yetede)

Mengubah Skema Subsidi BBM

Yuniati Turjandini 02 Sep 2022 Tempo H

Staf Khusus (Stafsus) Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo, mengatakan, pemerintah sudah sepakat akan mengubah skema subsidi dari menyubsidi barang jadi menyubsidi pada orang. Sebab, faktanya subsidi barang itu sangat tergantung pada variable yang penting, misalnya memastikan tidak ada penyimpangan atau penyelewengan, lalu pengawasan distribusi dan lain-lain. "Seringkali kita mendengar ada salah sasaran, kita sering mendengar ketidaktepatan sasaran, meskipun itu juga tidak sedang dilarang karena belum ada aturan pembatasan, tapi kita prihatin dengan geopolitik yang makin dinamis kita harus mengalokasikan anggaran sebesar 503 triliun untuk subsidi energi," kata Prastowo dalam acara diskusi Ngobrol @Tempo berjudul "Menemukan Jalan Subsidi BBM Tepat Sasaran," Selasa, 30 Agustus 2022. (Yetede)

Tak Serentak Tiga Bantalan

Yuniati Turjandini 02 Sep 2022 Tempo (H)

Jakarta- Penyaluran bantuan sosial pengalihan subsidi BBM senilai Rp24,17 triliun yang dijanjikan  pemerintah tidak akan berjalan serentak. Dua dari tiga program bantalan sosial tambahan tersebut masih menunggu payung hukum. Program tersebut antara lain subsidi transportasi. Pemerintah menyiapkan bantuan untuk sektor transportasi seperti angkutan umum, ojek, hingga nelayan, dengan anggaran sebesar Rp2,17 triliun. Menurut Presiden Jokowi, pemerintah daerah akan menyisihkan  2% dari dana alokasi umum dan dana bagi hasil mereka untuk program ini. Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Agus Fatoni, mengatakan pemerintah masih menggodok payung hukum untuk program subsidi transportasi tersebut. "Semua masih dibahas, tentang bagaimana penggunaan dana 2% itu, apakah jadi 2% atau enggak, termasuk sasaran penerimanya," kata dia kepada Tempo, Kamis, 1 September 2022. (Yetede)

Efek Sistematik Bisa Menjalar ke Non Bank

Hairul Rizal 01 Sep 2022 Kontan (H)

Ibarat bola salju, masalah industri keuangan masih banyak yang mengkhawatirkan. Apalagi nilai kerugian besar mencapai triliunan.Terbaru: Putusan pailit Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya. Nyaris tak tercium publik, Hakim Pengadilan Niaga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat nyatanya sudah memvonis pailit KSP Indosurya 11 Agustus 2022 lalu. Putusan ini menguak tabir ada kerugian publik senilai Rp 15,9 triliun. KSP Indosurya dengan segala cara juga mengajukan kasasi atas putusan pailit yang tertuang dalam putusan No.15/Pdt.Sus-Pembatalan Perdamaian/2022/PN.Niaga Jkt Pst. Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM juga mengaku mendorong KSP Indosurya keluar dari pailit. Tapi ia tak menolerir kasus pidana koperasi diproses sesuai aturan.Harapan Teten, Kejaksaan Agung mendukung penanganan koperasi bermasalah agar hak anggota koperasi dapat terpenuhi secara maksimal. KSP Indosurya hanyalah contoh kasus. Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dalam pembukaan kelas ke jurnalis, mayoritas kasus keuangan saat ini terjadi di industri keuangan non bank.

Harga Material Hingga BBM Tekan Properti

Hairul Rizal 01 Sep 2022 Kontan (H)

Pasar properti masih cenderung lesu. Jika harga bahan bakar minyak (BBM) naik di tengah tren kenaikan suku bunga perbankan, harga properti cenderung naik yang justru akan semakin menekan pasar properti di Tanah Air. Situasi ini, kata Wakil Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Hari Ganie, terbilang pelik bagi industri properti. Sebab, kenaikan harga BBM akan mendorong inflasi yang memberatkan sektor properti, terutama kepemilikan rumah subsidi. Adapun kenaikan bunga acuan bakal berefek pada cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sehingga mengerek harga jual rumah.

Inflasi dan Pelemahan Rupiah Hantui Ekonomi

Hairul Rizal 01 Sep 2022 Kontan

Pemerintah memprediksi laju inflasi tahun depan lebih tinggi. Tak hanya soal sinyal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tingginya inflasi tahun depan juga disulut oleh melemahnya nilai tukar rupiah. Dalam rapat kerja (raker) Rabu (31/8) kemarin, pemerintah dan Komisi XI DPR menyepakati asumsi inflasi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023 sebesar 3,6%. Angka ini lebih tinggi dari usulan pemerintah dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2023 yang sebesar 3,3%.  Tak hanya itu, asumsi rerata nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat disepakati Rp 14.800 per dollar Amerika Serikat (AS). Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan Nota Keuangan dan RAPBN 2023 sebesar Rp 14.750 per dollar AS. Meski meningkat, inflasi 2023 prediksi lebih rendah ketimbang outlook inflasi 2022 yang ada di kisaran 4%-4,8%. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meramal, inflasi tahun ini bisa menembus 5%. Inilah yang menjadi dasar keputusan peningkatan suku bunga acuan alias BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI-7DRR) dari 3,5% menjadi 3,75% pada Agustus 2022. Sementara itu, pihaknya melihat inflasi tahun depan bisa melebihi angka 4%. "Nanti akan sangat dipengaruhi bagaimana kebijakan fiskal berkaitan dengan penyediaan subsidi untuk berbagai hal," tandas Perry.

Pasar Kripto Menggeliat Lagi, Stablecoin Bisa Jadi Pilihan

Hairul Rizal 01 Sep 2022 Kontan

Pasar aset kripto berbasis dollar Amerika Serikat (AS) perlahan mulai bangkit setelah sebelumnya lesu. Pada perdagangan kemarin, indeks dollar AS (DXY) turun ke level 108,60 dari sebelumnya 108,77. Penurunan DXY ini melecut nilai pasar kripto. Rabu (31/8) pukul 22.15, market cap kripto global tercatat US$ 977,81 miliar. Nilai naik 1,19% dari hari sebelumnya. Trader Tokocrypto, Afid Sugiono bilang, nilai dolar AS yang melemah ini sedikit banyak mendorong laju harga aset kripto. Investor tentu akan menukarkan dolar AS ke aset kripto, ketika aset tersebut terlihat menggiurkan daripada menyimpan uang fiat. Dengan begitu, ada kemungkinan nafsu aset kripto hanya bertahan sementara. Terlebih, jika indeks dollar AS kembali perkasa, yang bisa menghambat laju harga aset kripto. Investor tentu akan menukarkan aset kriptonya menjadi dollar AS ketika aset tersebut terlihat lebih menggiurkan. Aset kripto yang berbasis dollar AS adalah stablecoin, seperti Tether, USD Coin dan BUSD. Afid menilai, jika indeks dollar AS meningkat, stablecoin yang diikat dengan mata uang greenback juga akan ikut naik, namun tidak signifikan. "Jadi, stablecoin bisa menjadi pilihan aset investasi kripto yang aman untuk saat ini," ujar Afid kepada KONTAN, Rabu (31/8). "Kedepannya stablecoin mungkin bisa dijadikan Central Bank Digital Currency (CBDC) yang bisa digunakan untuk metode pembayaran di jaringan blockchain," imbuh Afid.

Kinerja Fintech Milik Goto Terangkat Gopay

Hairul Rizal 01 Sep 2022 Kontan

Fintech milik PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (Goto) mencatat pertumbuhan. Transaksi bruto fintech Goto mencapai Rp 87,3 triliun atau naik 87% secara tahunan pada kuartal kedua. Sementara itu, pendapatan bruto untuk segmen ini juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 54% secara tahunan. Nilainya mencapai Rp 401,3 miliar dari periode sebelumnya sekitar Rp 260 miliar. Direktur Keuangan Grup GoTo Jacky Lo bilang pertumbuhan tersebut didorong oleh penetrasi GoPay di seluruh ekosistem Grup GoTo, bersamaan dengan ketersediaan GoPay Coins di seluruh ekosistem perseroan.

Berburu Cuan Surat Utang

Hairul Rizal 01 Sep 2022 Bisnis Indonesia (H)

Koreksi pasar surat utang yang tengah terjadi membuat investor institusi bersiasat guna tetap meraup cuan. Salah satu caranya dengan mengoleksi Surat Utang Negara (SUN) seri acuan tahun depan, SUN FR0096. SUN merupakan salah satu instrumen surat berharga negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah sebagai sumber pendanaan negara. Selain SUN, ada pula sukuk dan global bond yang diterbitkan pemerintah. Total penerbitan SBN sejak awal tahun ini hingga 25 Agustus 2022 telah mencapai Rp590,06 triliun. Selain seri FR (fixed rate), pemerintah juga menerbitkan seri SPN (surat perbendaharaan negara) yang merupakan instrumen dengan tenor kurang dari satu tahun. Adapun, seri FR memiliki tenor lebih panjang. SUN seri acuan menjadi pilihan investor lantaran tergolong likuid. Harga dan yield SUN seri tersebut menjadi acuan dalam perdagangan surat utang. Vice President Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan seri acuan dengan tenor 10 tahun selalu menjadi sasaran investor. Alasannya, seri ini menjadi yang paling likuid dan menjadi pembanding seri acuan negara lain. Dengan demikian, pasar saat ini tak hanya memperebutkan Seri FR0091 yang menjadi seri acuan tahun ini, melainkan seri acuan tahun depan yakni FR0096. SUN seri FR0091 sudah dilelang sebanyak 18 kali sepanjang tahun ini.


Pertahankan Kinerja Sehat : BNI Diperkuat Direksi Baru

Hairul Rizal 01 Sep 2022 Bisnis Indonesia (H)

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI membukukan tren kinerja dan ekspansi yang solid hingga Semester I tahun ini seiring dengan fokus pertumbuhan yang sehat pada nasabah top tier.Laba bersih emiten perbankan berkode saham BBNI ini pada Semester I/2022 mencapai Rp8,8 triliun, tumbuh 75,1% secara tahunan (yoy). Hal ini dihasilkan dari ekspansi kredit yang tumbuh 8,9% yoy sehingga mencapai Rp620,42 triliun. Kinerja penghimpunan dana masyarakat yang kuat, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp691,84 triliun, naik 7,0% yoy, di mana 69,2% di antaranya Current Account Saving Account (CASA). Laba bersih juga dihasilkan dari kontribusi non interest incomeyang pada Semester I/2022 mencapai Rp7,6 triliun, naik 11,0%. Hal itu didukung oleh transformasi digital yang terus dilakukan, terutama pada tiga Product Champion BNI, yaitu BNIDirect, BNI Mobile Banking, dan BNI Xpora. Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyatakan bahwa dengan tren pertumbuhan kinerja itu, BNI berhasil menembus total aset hingga Semester I/2022 senilai Rp946,49 triliun, naik 8,2% yoy. “Dengan bekal aset tersebut, BNI memiliki kemampuan untuk meminimalisir risiko yang dihadapi ke depan,” ujarnya, Rabu (31/08).

Pilihan Editor