;

Landai Produksi Meski Kemarau Basah

Yoga 07 Oct 2022 Tempo

Serikat Petani Indonesia (SPI) memperkirakan melandainya produksi gabah mendatang disebabkan oleh penurunan kualitas tanah karena kurangnya bahan organik dan meningkatnya ancaman hama penyakit. Ketua Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi SPI, Muhammad Qomarun najmi mengatakan, kurangnya bahan organik pada tanah dapat menyebabkan pemupukan tidak efektif. Sementara ancaman hama saat menghambat produksi gabah di beberapa wilayah Indonesia. "Potensi penurunan produksi bisa sampai 10 % karena tidak efektifnya pupuk dan meningkatnya ancaman hama penyakit," ujar dia kepada Tempo, kemarin. Saat ini pun, menurut dia, kendati produksi gabah per luasan tanah masih relatif stabil dan meningkat karena adanya periode La Nina, kenaikannya tak setinggi musim kemarau basah sebelumnya. Selain karena hama, lesunya pertumbuhan produksi gabah disebabkan oleh adanya banjir di beberapa wilayah. Qomarun najmi juga melihat produksi menurun akibat sebagian petani beralih dari menanam padi ke komoditas lainnya, misalnya jagung. "Karena pada periode awal masa pandemi Covid-19 harga gabah murah banget. Sedangkan harga jagung lebih tinggi," ujar dia. Pemerintah perlu memberi jaminan pasar dan harga gabah untuk memacu semangat petani memproduksi gabah. Petani juga perlu mendapat pendidikan dan pelatihan penggunaan pupuk organik hingga pengendalian hama terpadu untuk meningkatkan produksi.

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santosa, membenarkan bahwa kenaikan produksi beras pada periode La Nina yang berlangsung sejak 2020 tidak setinggi periode sebelumnya. Bahkan pada tahun lalu produksinya turun. Berdasarkan catatan AB2TI, produksi padi turun 7,7 % pada 2019 karena periode El Nino. Memasuki La Nina pada 2020, produksi naik tipis 0,09 %. Masih pada periode kemarau basah, produksi gabah turun 0,42 % pada 2021 ujar Andreas, yang juga guru besar Fakultas Pertanian IPB. Padahal, 20 tahun terakhir, fenomena La Nina membuat produksi meningkat sangat tajam, dengan angka kenaikan terendah sebesar 4,7 % pada 2007. Andreas menduga turunnya produksi itu dipicu oleh menurunnya minat petani menanam padi. Pasalnya, ia mencatat, sejak Agustus 2019 hingga Juni 2022, harga gabah di tingkat usaha tani anjlok. Sebelum kembali melonjak pada Juli 2022, Andreas mengatakan asosiasinya mengusulkan pemerintah segera menaikkan HPP dari Rp 4.200 menjadi Rp 6.000 per gabah kering panen. (Yoga)

Melacak Potensi Window Dressing Sahan Teknologi

Hairul Rizal 06 Oct 2022 Kontan (H)

Saham emiten di sektor teknologi masih jadi bandul pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang tahun 2022. Buktinya, sejumlah saham emiten teknologi masih menghiasi papan laggard di Bursa Efek Indonesia (BEI). Salah satu alasannya, saham-saham teknologi berpotensi terkena arus window dressing akhir tahun ini. Apalagi, banyak saham teknologi yang valuasi harganya terbilang sangat murah. Martha Christina, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai, peluang saham teknologi rebound di akhir tahun 2022 cukup terbuka. Terutama, saham teknologi big caps seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Program Insentif Pajak Terkait Covid Disoal BPK

Hairul Rizal 06 Oct 2022 Kontan (H)

Insentif pajak yang diberikan pemerintah kepada wajib pajak dalam rangka Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) maupun non PC PEN mendapat rapor merah dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hasil pemeriksaan sementara lembaga audit negara tersebut mengungkap adanya masalah dalam pemberian sejumlah insentif pajak dengan nilai jumbo. Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Sementara (IHPS) Semester I 2022, ditemukan sejumlah masalah terkait pengelolaan insentif dan fasilitas perpajakan tahun lalu senilai Rp 15,31 triliun. Insentif perpajakan yang disoal BPK antara lain, pertama, pemberian fasilitas pajak pertambahan nilai (PPN) non PC-PEN kepada pihak yang tidak berhak. Akibat salah sasaran itu, negara harus kehilangan potensi penerimaan pajak sebesar Rp 1,31 triliun. Atas temuan itu, BPK meminta Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak segera memutakhirkan sistem pengajuan insentif wajib pajak. Antara lain dengan menambahkan persyaratan kelayakan penerima insentif dan fasilitas perpajakan sesuai ketentuan.

Inflasi Dongkrak Jumlah Masyarakat Miskin

Hairul Rizal 06 Oct 2022 Kontan

Lonjakan inflasi mengancam daya beli masyarakat. Bank Dunia (World Bank) mewanti-wanti dampak kenaikan inflasi, akibat lonjakan harga pangan dan energi, terhadap daya beli, terutama masyarakat miskin. Dalam laporan yang bertajuk East Asia and The Pacific Economic Update edisi Oktober 2022, World Bank menyebut bahwa masyarakat miskin merupakan kelompok masyarakat yang paling merasakan dampak inflasi tinggi. Apalagi, rumah tangga miskin selama ini cenderung membelanjakan pendapatannya untuk makanan. Sementara komoditas pangan merupakan salah satu pemicu inflasi saat ini. Berdasarkan perhitungan World Bank, masyarakat miskin Indonesia terdampak inflasi 0,8% lebih tinggi daripada orang kaya. Sebab, masyarakat miskin Indonesia lebih banyak mengeluarkan pendapatan untuk membeli makanan dan bahan bakar.

RI Membutuhkan Investasi Asing Setara 4,5% PDB

Hairul Rizal 06 Oct 2022 Kontan

Indonesia ingin menjadi negara berpenghasilan tinggi di tahun 2045 mendatang. Untuk mencapai visi tersebut butuh investasi yang sangat besar. "Indonesia membutuhkan foreign direct investment (FDI) hingga 4,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) untuk mewujudkan visinya menjadi high income country," ujar Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Rionald Silaban, kemarin.

Lagi, Satgas Waspada Investasi Bekukan 18 Platform Ilegal

Hairul Rizal 06 Oct 2022 Kontan

Ibarat rumput ilalang, penawaran investasi ilegal tak pernah habis dimakan waktu. Buktinya, Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih saja menemukan penawaran investasi ilegal yang merugikan masyarakat. Tongam L. Tobing, Ketua Satgas Waspada Investasi OJK menyebutkan, pada September 2022, SWI menemukan 18 entitas yang melakukan kegiatan penawaran investasi tanpa izin regulator alias ilegal. Temuan itu diperoleh SWI dari hasil crawling data. Ini merupakan pemantauan melalui big data center aplikasi SWI. Pemantauan dilakukan terhadap aktivitas penawaran investasi yang sedang marak di masyarakat melalui media sosial, website, dan Youtube. Adapun 18 entitas yang menawarkan investasi tanpa izin itu terdiri dari lima entitas yang melakukan money game, empat entitas menawarkan investasi tanpa izin, dan tiga entitas melakukan perdagangan aset kripto tanpa izin. Lalu dua entitas penyelenggara robot trading tanpa izin, satu entitas melakukan securities crowd funding tanpa izin, dan tiga entitas melakukan investasi ilegal lain.

Molor, Kehadiran Bursa Khusus Transaksi Kripto Belum Jelas

Hairul Rizal 06 Oct 2022 Kontan

Investor kripto di Tanah Air harus lebih bersabar menanti kehadiran bursa berjangka yang khusus melayani transaksi aset kripto. Hingga saat ini, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) belum bisa memastikan kapan bursa kripto Digital Exchange Futures (DFX) bakal beroperasi. Awalnya, bursa kripto ditargetkan akan meluncur pada kuartal I-2022. Namun, Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan PBK Bappebti Tirta Karma Senjaya mengatakan, DFX sebagai bursa kripto masih proses pendaftaran, dan perlu mengecek sistem yang terintegrasi dengan sistem seluruh pedagang kripto. Harapannya, kehadiran bursa kripto akan membuat pengawasan perdagangan kripto lebih efektif. "Tinggal cek data transaksi semua pedagang di bursa, aset di kustodian, dan dananya di kliring," ujar Tirta.

Bank Permata Mengucurkan Pembiayaan Syariah ke LINK

Hairul Rizal 06 Oct 2022 Kontan

PermataBank menandatangani perjanjian pembiayaan syariah kepada PT Link Net Tbk (LINK) dengan total keseluruhan fasilitas sebesar Rp 1,5 triliun. Pembiayaan investasi kepada LINK menggunakan produk pembiayaan syariah dengan akad musyarakah mutanaqisoh (MMQ) dengan jangka waktu pembiayaan maksimal 5 tahun.

DERU OTOMOTIF ZONDER INSENTIF

Hairul Rizal 06 Oct 2022 Bisnis Indonesia (H)

Bahan bakar pelaku industri otomotif untuk memacu penjualan menipis, lantaran insentif perpajakan untuk sektor ini telah berakhir pada 30 September 2022. Selama ini, insentif fiskal berupa pajak penjualan barang mewah (PPnBM) ditanggung pemerintah menjadi suntikan tenaga bagi sektor otomotif di tengah pelemahan daya beli masyarakat akibat pandemi Covid-19. Hal itu tercermin realisasi penjualan kendaraan yang terus meningkat. Tanpa insentif pajak, harga sejumlah produk kendaraan pun langsung menanjak. Namun rupanya, hal itu tak menyurutkan optimisme pelaku usaha lantaran menilai pasar otomotif di Indonesia masih potensial. Business Innovation and Marketing & Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy mengatakan Honda perlu menaikkan harga untuk mobil segmen low cost green car (LCGC), Brio Satya. Menurutnya, kenaikan harga LCGC mulai dari 0,6% hingga 0,9%. Sementara itu, Sekretaris Umum Gabungan Industri Otomotif Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara optimistis berakhirnya insentif PPnBM DTP tidak akan berpengaruh besar pada pasar otomotif. Alasannya, produsen mobil sudah mempersiapkan diri jika insentif fiskal itu berakhir. Menurutnya, pelaku otomotif percaya diri melihat pertumbuhan ekonomi yang membaik pada kuartal kedua yang diharapkan berlanjut pada kuartal selanjutnya.


Sentimen Resesi Global Menguat

Hairul Rizal 06 Oct 2022 Bisnis Indonesia

Ketidakpastian tengah mendera ekonomi secara global. Sinyal resesi menguat di banyak negara. Kondisi ini sangat mungkin menekan kinerja pasar ekuitas, termasuk di Indonesia. Harus disadari, performa indeks harga saham gabungan atau IHSG berada dalam tren bearish. Sejak menembus level all time high pada 13 September 2022 di angka 7.318,02, indeks komposit terus melemah bahkan sempat terperosok ke level di bawah 7.000. Pada perdagangan kemarin, Rabu (5/10), IHSG memang naik tipis sebanyak 3,13 poin ke level 7.075,38 atau tumbuh 0,04% dari hari sebelumnya. Penguatan indeks sejatinya didorong oleh saham-saham emiten batu bara yang memang sedang berada dalam periode terbaiknya. Di sisi lain, sejumlah saham blue chip yang selama ini menjadi motor penggerak pasar justru kedodoran. Lima dari 10 saham big caps terpantau melemah kendati aktif diperdagangkan. Penguatan indeks komposit kemarin juga belum mampu mengompensasi koreksi akumulatif pasar selama bulan berjalan di periode Oktober. Dalam 5 hari terakhir, IHSG tercatat melemah 0,49% dan kesulitan menembus level psikologis ke 7.100. Kekhawatiran resesi global sa­ngat kentara memengaruhi per­sepsi pelaku pasar. Krisis fis­kal di Inggris, misalnya, berpe­luang terjadi akibat kebijakan pemangkasan tarif dasar pajak pendapatan, bea materai pajak tanah, serta pembebasan pajak 100% untuk in­vestasi pabrik dan mesin.


Pilihan Editor