IMF dan Kebijakan Adaptif-Seimbang
IMF memperbarui peringatannya tentang resesi dunia 2023. IMF juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 % ke 2,7 %. Hal menarik dari pernyataan ini adalah bagaimana IMF mencoba menjaga keseimbangan di antara pengendalian ekspektasi inflasi tanpa terlalu mengorbankan potensi pertumbuhan. Selain itu, IMF juga mencoba meredam announcement effect dengan menyeimbangkan prospek suram, harapan, dan solusi. Hal ini merupakan alternatif sikap ortodoksi Bank Sentral AS (TheFed) yang punya target ketat membawa kembali inflasi ke 2 %, apapun risikonya. Posisi IMF yang mengambil jalan tengah ini sesuai dengan prediksi bahwa pengambil kebijakan pada saat ketidakpastian tinggi lebih suka menghindari risiko (Arrow; 1965 dan Holcombe; 1989). Hal ini merupakan adaptasi kebijakan setelah melihat dunia yang baru saja dilanda pandemi Covid-19 serta diterpa krisis energi dan pangan akibat konflik Rusia-Ukraina.
Indonesia disebutkan IMF sebagai salah satu titik terang dunia. Begitu pula India. Melihat keduanya, ada persamaan karakter dari keduanya, yakni luas wilayah dan jumlah populasi kelas menengahnya, serta bagian dari perekonomian yang merupakan sektor non-traded (non-exportable) cukup besar walaupun tetap ada segmen yang berorientasi ekspor atau campuran antara ekspor dan dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahunan 5,44 % pada triwulan II-2022 didukung pertumbuhan sektor-sektor yang notabene adalah non-traded, seperti transportasi dan pergudangan (21,27 %), akomodasi dan makanan-minuman (9,76 %). Di tengah menguatnya dollar AS, surplus neraca dagang Indonesia yang sudah 28 bulan berturut-turut menginsulasi perekonomian dalam negeri, exchange rate passthrough, dan inflasi global. Sebagai akibatnya, laju depresiasi rupiah akibat menguatnya indeks dollar AS tidak terlalu cepat sehingga tidak terlalu jauh dari keseimbangan alamiahnya. Beberapa produk manufaktur di luar minyak nabati, seperti besi, baja, mesin perlengkapan elektrik dan perlengkapannya, serta kendaraan dan bagiannya, merupakan produk-produk yang tertinggi pertumbuhannya. (Yoga)
Batas Kenaikan Kurs Dollar AS adalah Langit
Sky’s is the limit. Istilah ini berlaku di pasar valuta asing. Tidak ada batasan jelas sampai level mana kurs dollar AS melejit versus euro, yen, pound sterling, termasuk rupiah. Penyebab kenaikan dollar AS bukan akibat kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS semata. Dollar AS juga dijadikan pelarian untuk mengamankan aset di tengah gejolak pasar global. Dollar AS turut menjadi ajang spekulasi untuk ambil untung. Cadangan devisa tinggi tidak cukup untuk mencegah kenaikan kurs dollar AS. Jepang dengan cadangan devisa 1,238 triliun dollar AS tetap mengalami kejatuhan yen. Posisi utang yang relatif aman juga tidak mencegah gejolak kurs. Jepang memiliki porsi utang 246 % terhadap PDB, pada Maret 2022, menurut Fitch. Namun, utang Jepang lebih banyak dalam denominasi yen. Kurs 1 dollar AS setara 148,73 yen pada 15 Oktober, anjlok dari 115,51 yen per dollar AS pada 3 Januari 2022.
Di balik gejolak kurs ada aksi spekulasi di pasar. Ini terlihat dari aksi short, istilah taruhan akan kejatuhan euro atau pound sterling terhadap dollar AS. Spekulasi ini amat disadari China. Kestabilan yuan (renminbi) yang lebih tinggi ketimbang yen, bukan karena kekuatan devisa semata. China tidak percaya penuh pada mekanisme pasar dan menghindari sistem kurs mengambang bebas. Ada langkah pengendalian kurs yang lebih ketat dibandingkan banyak negara di dunia.
”Pemerintah China akan mengambil langkah lanjutan untuk menstabilkan yuan,” kata Guan Tao, ekonom BOC International dan mantan pejabat di State Administration of Foreign Exchange (SAFE), dikutip Reuters (7/2). Bank Sentral China pada 29 September 2022 mengharuskan perusahaan perdagangan valuta menaikkan cadangan devisa dari nol menjadi 20 % untuk mengurangi minat berspekulasi. China juga melakukan persuasi hingga ancaman pada spekulan. Cadangan devisa China akhir September 3,029 triliun dollar AS (The Global Times, 7/10). Tetap saja kurs amblas dari 6,37 yuan per dollar AS pada 3 Januari 2022 dan kini 7,19 yuan per dollar AS. (Yoga)
Pangan Menjadi Komoditas Mewah
Dua penulis opini harian Kompas merespons peringatan Hari Pangan Sedunia dengan tema ”Jangan Ada yang Ditinggalkan” pada 16 Oktober lalu melalui dua tulisan (Kompas, 17/10). Direktur Lembaga Daya Dharma Jakarta dan Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Jakarta, Adrianus Suyadi, menulis, banyak orang Indonesia membuang makanan. Sisa makanan mendominasi jenis sampah di Indonesia, yakni 40 % dari semua jenis sampah seperti data Kementerian KLH 2020. Untuk mengatasi krisis pangan, pada tingkat individu dan keluarga diperlukan perubahan perilaku untuk lebih menghargai pangan, misalnya tak menyisakan makanan, tak membuang sampah makanan, mengurangi konsumsi makanan untuk binatang piaraan, dan lebih untuk sesama yang kekurangan makanan.
Guru Besar Universitas Santo Thomas Medan Posman Sibuea menulis, ancaman kelaparan ditingkat warga tak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan pendapatan, atau memberikan lapangan pekerjaan, yang diharapkan dapat meningkatkan akses pangan warga. Bangsa ini memerlukan upaya yang lebih dahsyat lagi, yaitu perubahan budaya. Tekanan krisis pangan bisa dikurangi saat kita menghentikan kebiasaan buruk: menyepelekan dan membuang makanan. Kita tak lagi berlimpah pangan. Perilaku itu harus dihentikan. Makanlah secukupnya. Harus ada perbaikan rantai pangan sehingga tak ada lagi pangan yang terbuang sia-sia. Perubahan budaya konsumsi perlu segera dilakukan. Makanan adalah barang mewah yang tak bisa lagi disia-siakan. Kita harus bisa mengukur kebutuhan secara seimbang. Di sisi lain, teknologi dibutuhkan agar produksi di tingkat petani bisa diketahui lebih dini dan didekatkan dengan konsumen sehingga rantai tidak panjang dan pangan tidak terbuang. (Yoga)
ULN per Agustus Turun Menjadi US$ 397,4 Miliar
Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2022 kembali turun. Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri per Agustus 2022 tercatat sebesar US$ 397,4 miliar atau turun US$ 2,8 miliar dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 400,2 miliar.
"Ini disebabkan oleh penurunan posisi utang luar negeri sektor publik (pemerintah dan bank sentral) maupun sektor swasta," kata Direktur Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan dalam keterangan, Senin (17/10).
Risiko Iklim Ancam Produksi Beras
Curah hujan tinggi akibat La Nina mengancam potensi kenaikan produksi beras nasional. Kondisi ini patut diwaspadai karena tren realisasi produksi beras Indonesia sepanjang Januari-September 2022 menunjukkan penurunan. BPS memperkirakan luas panen padi Indonesia sepanjang 2022 mencapai 10,61 juta ha. Angka itu mencakup data potensi produksi periode Oktober-Desember 2022. Luas ini meningkat 1,87 % dibandingkan tahun lalu yang mencapai 10,41 juta ha. ”Potensi kenaikan ini disebabkan terairinya kembali sejumlah lahan di sana. Sebelumnya, lahan-lahan itu tak terairi karena sumbernya rusak akibat banjir,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto saat konferensi pers, Senin (17/10). Potensi kenaikan lahan panen itu berdampak pada produksi beras. Data BPS menunjukkan, produksi beras tahun 2022 diproyeksikan naik 2,29 % jadi 32,07 juta ton.
”Potensi (kenaikan) tiga bulan tersebut perlu dijaga agar tidak turun akibat faktor iklim,” ujar Setianto. Potensi penambahan luas lahan panen itu berdampak pada potensi kenaikan produksi beras 15,12 % menjadi 5,9 juta ton. Agar realisasi produksi bisa mendekati angka proyeksi, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah menyatakan, factor iklim menjadi indikator yang patut diperhatikan. Sebelumnya, Kantor Meteorologi (Bureau of Meteorology) Australia memublikasikan, indeks kondisi iklim di Samudra Pasifik menunjukkan fenomena La Nina kuat hingga awal 2023 dan mereda pada Maret 2023. Data ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) menunjukkan, La Nina akan menyebabkan kondisi iklim yang lebih basah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. ASMC memperkirakan, curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia akan berada di atas normal hingga Desember 2022. Ketum Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia Guntur Subagja mengkhawatirkan tanah longsor yang dapat berimbas pada gagal panen. Pihaknya berharap gabah dibeli dengan harga wajar meski kadar airnya tinggi. (Yoga)
Kemenkeu Kaji Insentif Pajak Tahun Depan
Pemerintah tetap mengalokasikan anggaran subsidi pajak buat dunia usaha di tahun 2023. Saat ini, pemerintah tengah menimbang sektor usaha apa saja yang akan mendapat insentif perpajakan tahun depan.
Prioritas insentif akan diberikan ke sektor usaha yang bisa memberikan
multiplier effect
bagi perekonomian. Asal tahu, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023, pemerintah mengalokasikan anggaran insentif pajak sebesar Rp 41,5 triliun. Namun hingga saat ini, Kementerian Keuangan (Kemkeu) belum memerinci sektor yang akan mendapatkan insentif tersebut.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Direktorat Jenderal Pajak Neilmaldrin Noor mengatakan, bahwa alokasi insentif perpajakan 2023 akan diberikan pada kegiatan ekonomi strategis yang mempunyai
multiplier effect
kuat bagi perekonomian.
"Untuk saat ini sektor yang akan diberikan insentif masih dalam pembahasan internal Kementerian Keuangan dengan tetap mempertimbangkan perkembangan ekonomi dunia dan Indonesia," ujar Neilmaldrin kepada KONTAN, Selasa (17/10).
Pendanaan Energi Terbarukan Masih Kurang
Menurut penulis utama Indonesia Sustainable Finance Outlook (ISFO), Ichsan Hafiz, dalam acara ISFO 2023, Senin (17/10) di Jakarta, pengembangan sektor energi terbarukan di Indonesia membutuhkan Rp 3.779 triliun secara kumulatif dari 2020-2030 atau Rp 343,6 triliun per tahun. Namun, alokasi APBN hanya Rp 112,74 triliun per tahun. Indonesia perlu mencari sumber pendanaan baru. (Yoga)
Penjualan Real Estate Tinggi, Kinerja SMDM di Q3 Mendaki
Penjualan PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM) masih moncer hingga September 2022. Di sepanjang sembilan bulan tahun ini, pendapatan pra-penjualan (
marketing sales
) SMDM sudah tembus Rp 352,29 miliar.
Pencapaian ini naik 36,26% secara tahunan dari realisasi
marketing sales
SMDM pada September 2021 yang sebesar Rp 258,54 miliar. Segmen
real estate
jadi penopang kinerja SMDM pada kuartal III-2022.
Ferry Suhardjo, Direktur & Sekretaris Perusahaan Suryamas Dutamakmur mengatakan, segmen real estate berkontribusi 71,7% terhadap
marketing sales
SMDM di kuartal III-2022. Nilai
marketing sales
segmen
real estate
mencapai Rp 252,61 miliar.
MEMACU TRANSFORMASI BUMN
Korporasi milik negara diyakini mempunyai peran sentral untuk menopang perekonomian Indonesia di tengah berbagai ketidakpastian global. Korporasi milik negara diyakini mempunyai peran sentral untuk menopang perekonomian Indonesia di tengah berbagai ketidakpastian global. Tak hanya dividen besar yang disetorkan kepada negara, kiprah badan usaha pelat merah juga dapat diarahkan untuk memperkokoh ekonomi nasional. Apalagi, transformasi yang dilakukan oleh perusahaan pelat merah telah berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi nasional melalui berbagai peran strategis. Beberapa di antaranya yaitu keterlibatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi, pertambangan, kesehatan, perbankan, hingga infrastruktur. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, sejak 2019 instansinya terus melakukan transformasi perusahaan pelat merah secara menyeluruh. Dia mengklaim kini transformasi telah mencapai 80% dan ditargetkan rampung pada satu setengah tahun ke depan. Dampak nyata dari transformasi tersebut, kata Erick, adalah peningkatan pendapatan BUMN hingga 18,8% pada periode 2020-2021 menjadi Rp2.295 triliun. Laba korporasi pelat merah secara konsolidasi bahkan melesat 838,2% dari Rp13 triliun pada 2020 menjadi Rp124,7 triliun pada 2021. Optimisme serupa diusung Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan. Dia mengatakan efektivitas transformasi BUMN mampu membawa ekonomi nasional pulih lebih cepat dari terpaan pandemi Covid-19. Menurutnya, transformasi perusahaan milik negara ini telah dilakukan dengan mengubah konsep superholding menjadi subholding, sehingga lebih efisien dan tangguh.
BUMN Jadi Lokomotif Agen Pembangunan, BRI Dorong Pertumbuhan Domestik Lewat UMKM
Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan peran perusahaan BUMN untuk terus menjadi lokomotif agen pembangunan dengan tujuan menciptakan jutaan lapangan kerja. Hal tersebut disampaikan Erick pada pembukaan SOE International Conference yang diselenggarakan di Bali, Senin (17/10).Dalam sambutannya, Erick mengungkapkan BUMN didorong untuk terus bertransformasi dan pada saat bersamaan menciptakan value bagi masyarakat serta menjalankan peran menjadi agen pembangunan. “Salah satu upaya menjalankan peran agen pembangunan, kami menginisiasi beberapa program seperti pembiayaan ultra mikro serta menyelesaikan Proyek Strategis Nasional lainnya untuk menciptakan jutaan lapangan kerja bagi masyarakat,” ujar Erick.Erick Thohir menjelaskan bahwa ke depan BUMN akan terus melakukan program-program yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Utama BRI Sunarso bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dicapai melalui fokus kepada driver pertumbuhan domestik dengan cara mendorong UMKM, yang dapat mendorong penciptaan lapangan kerja. “Di sinilah BRI yang core businessnya UMKM harus lebih berperan aktif, karena 97% lapangan pekerjaan di Indonesia berasal dari UMKM,” imbuhnya.









